Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAKEK ITU
Terus dibelai lembut rambutku sambil berbaring diatas kedua pahanya. Tanpa sepatah katapun. Hanya merasakan setiap sentuhannya. Meski dalam mimpi namun terasa seperti nyata.
Lalu sosok itu memintaku untuk bangun dari pangkuannya hanya dengan mengangkat kepalaku menggunakan kedua tangannya.
Dan sosok itu berkata saat aku sudah duduk di sampingnya, "Bangunlah Nisa..."
--------------------
Aku terbangun dari tidurku. Aku membuka kedua mata dengan perlahan.
Aku segera duduk di atas kasurku, aku melihat sekeliling, tapi kali ini aku tidak merasakan takut ataupun merinding. Dan aku menatap ke arah kaca di depanku.
Aku tersenyum tipis sambil melihat wajahku, kemudian menatap foto almarhumah ibu.
"Bu, ternyata perewangan Ibu sangat lembut. Aku... Kayak merasa Ibu hadir..." ucapku pelan. Meskipun aku sadar bahwa sosok itu bukanlah ibu, tapi entah mengapa aku merasakan kasih sayang yang mirip dengan kasih sayang almarhumah ibuku.
Aku segera beranjak keluar kamar, berjalan perlahan, bersiap untuk makan nasi putih dan minum air putih saja sesuai apa yang bapakku ajarkan.
Aku melihat sebentar ke arah kamar bapak, dan pintunya masih tertutup. Bapak belum bangun, masih tidur lelap sepertinya.
Singkat cerita aku segera makan sahur untuk memulai tirakat puasa mutih di hari pertama ini. Tepat hari kelahiranku. Sabtu dengan weton Wage. Aku makan nasi putih pun tidak banyak, hanya lima suap. Dan juga air putih yang ku minum hanya lima teguk saja.
Setelah itu, karena aku tidak lagi merasa mengantuk. Aku segera ambil air wudhu. Dan kulaksanakan sholat tahajud dua roka'at. Dilanjutkan aku membaca Al-Qur'an sampai tiba waktu sholat shubuh.
Dan entah mengapa, ibadah sholat tahajud, membaca Al-Qur'an, dan sholat shubuh di hari pertama ini terasa lebih tenang. Terasa lebih khusyuk. Mungkin memang begini efek berpuasa mutih jika niatnya memang murni untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
--------------------
Pagi harinya, aku lihat bapak tak berangkat ke kebun. Bapak bersantai di teras rumah, sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat. Masih dengan sebatang rokok kretek kesukaannya dan juga segelas kopi hitam pahit.
Aku yang ingin masak untuk bapak, baru sadar kalau sayuran dan lauk sudah habis. Aku segera minta izin ke bapak untuk belanja ke pasar di desa sebelah.
"Pak, Nisa ke pasar dulu ya, mau belanja. Sayuran sama lauknya habis." ucapku sambil berjalan ke teras rumah.
"Iya, hati-hati..." jawab bapak.
Aku segera mengambil sepeda di samping rumah, dan langsung mengayuhnya perlahan meninggalkan rumah.
Singkat waktu, aku sampai di pasar. Sudah seperti biasanya pasar tradisional pasti sudah ramai meski masih pagi sekali. Semua pedagang mulai menjual dagangannya. Dan juga beberapa masih menyiapkan lapaknya. Dan semua orang yang datang ke pasar mulai membeli apapun kebutuhan mereka masing-masing.
Aku berhenti di depan lapak jualan Bu Inah, tetanggaku.
"Eeeh... Nisa... Mau belanja apa?" tanyanya sambil masih melayani pembeli lain.
"Ya kayak biasanya aja Bu..." jawabku sambil melihat-lihat seluruh dagangannya.
"Itu bayam ada, jagung ada, sama apalagi?" tanyanya.
"Bayamnya dua ikat aja Bu, kalo jagungnya tiga buah aja, terus... Apalagi ya..." jawabku sambil memilah beberapa jenis sayuran lain.
"Terongnya murah aja Nis, masih sama harganya." ucap Bu Inah saat aku memilih beberapa buah terong.
"Terongnya setengah kilo aja Bu. Sama buat sambelan juga sepuluh ribu aja." jawabku.
Bu Inah langsung dengan cekatan membungkus bahan untuk sambal, dan juga terong. Lalu membungkus bayam dan jagung pesananku.
Saat aku menunggu Bu Inah menghitung total belanjaku, aku menoleh ke sebelah kiri, dan aku agak merasa aneh dengan seorang kakek tua yang berdiri diam di tengah jalan pasar.
Kakek itu diam sambil tersenyum menatapku...