Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Kecil di Bahu Sang Penyair
Hutan kristal di perbatasan Kota Gerbang Langit perlahan meredup seiring bayang-bayang senja yang mulai berganti dengan malam. Suhu udara di Benua Abadi turun drastis, menciptakan embun beku yang menempel di sisa-sisa reruntuhan es. Di tengah keheningan jalan setapak berbatu giok putih, Ji Mo-Xian berjalan tenang dengan langkah yang teratur, ditemani oleh Lin Su yang mengawasi keadaan sekitar dengan waspada.
Namun, di tengah perjalanan mereka menuju pusat kota, indra pendengaran Ji Mo-Xian yang luar biasa tajam mendadak menangkap suara dengkuran halus dan getaran kecil dari balik semak-semak kristal di sisi kiri jalan.
Ji Mo-Xian menghentikan langkahnya. Ia sedikit memiringkan kepala, mengarahkan perhatiannya ke arah semak belukar yang memancarkan pendar cahaya keemasan redup.
"Tuan Muda, ada apa?" bisik Lin Su cemas, segera merapatkan posisinya di belakang sang tuan muda. "Apakah ada penyergapan dari murid Sekte Phoenix Es?"
"Bukan," jawab Ji Mo-Xian tenang. Ia melangkah perlahan mendekati semak kristal tersebut dan berlutut satu kaki. Dengan gerakan lembut, ia membuka dedaunan kristal yang bercahaya.
Di balik semak itu, terbaring seekor makhluk kecil yang tampak kelelahan. Makhluk tersebut menyerupai seekor rubah berbulu hitam legam sehalus sutra malam, dengan ekor bercabang sembilan yang berujung keperakan. Yang paling unik, di dahi makhluk kecil itu terdapat sebuah garis tipis tertutup yang menyerupai mata ketiga. Ukurannya tidak lebih besar dari kucing dewasa, membuatnya terlihat sangat anggun sekaligus rapuh.
Rubah kecil itu membuka matanya perlahan—matanya berwarna biru galaksi yang sangat mirip dengan pendar cahaya dari mata dewa naga air di dalam tubuh Ji Mo-Xian. Ia terluka di bagian kaki belakangnya, tampaknya akibat terjebak dalam jebakan spiritual yang dipasang oleh para pengawal sekte di perbatasan hutan.
Meskipun baru saja bertarung menghadapi para pengawal sekte, Ji Mo-Xian tidak menunjukkan aura permusuhan. Ia mengulurkan tangan kanannya perlahan, membiarkan rubah kecil itu mencium aroma Qi miliknya.
Alih-alih menggigit atau lari ketakutan, rubah bayangan itu justru mendengkur pelan, lalu merangkak maju dan menyandarkan kepalanya di telapak tangan Ji Mo-Xian. Gelombang resonansi spiritual yang hangat langsung mengalir di antara mereka; rubah itu mengenali esensi pelindung dewa naga di dalam diri sang pendekar buta.
Ji Mo-Xian tersenyum tipis. Ia menyalurkan sedikit energi penyembuhan dari seruling gioknya ke kaki rubah yang terluka, menyembuhkan luka robek itu dalam sekejap.
"Rupanya kita mendapat teman perjalanan baru," gumam Ji Mo-Xian lirih. Ia mengangkat rubah kecil itu dan meletakkannya dengan lembut di atas bahu kanannya. Rubah itu langsung melingkarkan tubuhnya yang hangat di leher Ji Mo-Xian, memejamkan mata dengan nyaman.
Lin Su membelalakkan matanya takjub melihat pemandangan itu. "Wah... Tuan Muda! Rubah itu sangat cantik! Bulunya hitam legam seperti malam, dan ia terlihat sangat nyaman di bahu Anda."
"Dia bukan sekadar rubah biasa, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian sambil bangkit berdiri, melanjutkan langkahnya menuju Kota Gerbang Langit. "Kehadirannya akan menjadi mata ketiga kita di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan."
Rubah bayangan itu mendengkur pelan di bahu Ji Mo-Xian, mengepakkan ekornya yang berujung perak seolah menyetujui ucapan sang tuan. Bersama sang pelayan setia dan rubah misterius yang anggun, sang penyair kematian melangkah mantap memasuki malam di Benua Abadi.