Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Gertakan Sang CEO dan Pengorbanan Seorang Sahabat
Dewa mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang sempat hilang akibat rasa syok. Tatapannya tertuju pada dua berkas tebal di atas meja kayu kafe tersebut. Tulisan 'Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak' seolah menari-nari mengejek ketidakberdayaannya. Di hadapannya, Nadia masih duduk anggun dengan punggung tegap, menatapnya tanpa kedipan seolah menantikan jawaban pasti.
"Enggak, Nadia. Ini gila. Gue, maksud saya, saya enggak bisa setuju sama hal konyol kaya gini!" tegas Dewa sambil mendorong berkas dokumen tersebut kembali ke arah Nadia.
Nadia tidak memindahkan posisi berkas itu. Ia hanya melihat tangan Dewa yang mendorong kertas-kertas tersebut, lalu kembali menatap mata Dewa dengan dingin.
"Alasanmu menolak apa, Bimo?" tanya Nadia santai, suaranya tenang tanpa ada nada emosi.
"Ya jelas saya tolak! Pernikahan itu bukan main-main, bukan kontrak kerja proyek yang ada masa berlakunya satu tahun terus selesai begitu saja!" Dewa menepuk meja pelan, mencoba menegaskan penolakannya. "Lagipula, saya ini pria bebas. Saya enggak mau terikat sama aturan-aturan konyol yang kamu buat di dalam kertas ini."
Nadia menyilangkan kakinya, mengamati reaksi Dewa dengan sangat cermat. "Di dalam dokumen itu sudah dijelaskan, kebebasanmu tidak akan terganggu. Kamu tetap bisa menjalani hidupmu seperti biasa, asal tidak mencoreng nama baik Nugroho Group di muka publik selama satu tahun."
"Tetap saja enggak bisa!" potong Dewa cepat. "Saya enggak mau nikah cuma gara-gara status di atas kertas. Cari pria lain saja, Nadia. Di luar sana banyak cowok kaya dan berpendidikan yang pasti antre mau diajak nikah kontrak sama kamu."
"Saya tidak punya waktu untuk mencari orang lain dan memulai proses dari awal," sahut Nadia tegas. "Kakek saya ingin melihat saya menikah minggu depan. Namamu sudah disetujui oleh Kakek dan orang tuamu. Proses ini yang paling cepat dan efisien."
"Efisien kamu bilang?" Dewa tertawa hambar, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mikirin perasaan orang lain enggak sih? Ini pernikahan, Nadia! Bukan transaksi jual beli saham perusahaan!"
Nadia menatap Dewa lurus-lurus. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di pancaran matanya.
"Saya menjalankan bisnis, Bimo. Dalam bisnis, efisiensi dan hasil akhir adalah yang utama. Perasaan tidak ada hubungannya dengan kesepakatan ini," balas Nadia dengan nada datar yang teramat dingin.
Dewa menyandarkan tubuhnya di kursi, melipat tangan di dada dan mencoba kembali ke mode berandalan yang ia perankan sebelumnya. Ia berharap sikap cueknya bisa membuat Nadia menyerah.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Jawaban saya tetap enggak. Saya enggak bakal tanda tangan, dan kamu enggak bisa memaksa saya. Perjodohan ini batal!" gertak Dewa percaya diri.
Nadia menatap Dewa beberapa detik dalam keheningan. Kemudian, ia mengambil ponsel pintarnya dari dalam tas, mengusap layarnya sebentar, lalu meletakkannya tepat di samping cangkir tehnya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu itu, Bimo?" tanya Nadia pelan.
"Seratus persen yakin! Saya bukan cowok yang bisa kamu atur-atur pakai selembar kertas," sahut Dewa mantap.
Nadia mengetuk jemarinya di atas meja, menimbulkan suara ketukan berirama pelan. "Baiklah kalau itu keputusannya. Tapi sebelum kamu benar-benar melangkah keluar dari kafe ini, ada baiknya kamu memikirkan nasib Wira Perkasa Group."
Dewa mengerutkan dahi. Nama perusahaan milik ayah Bimo itu tiba-tiba disebut oleh Nadia. Jantung Dewa mendadak berdesir tidak enak.
"Maksud kamu apa bawa-bawa perusahaan ayah saya?" tanya Dewa, ketegangannya mulai merayap naik.
"Kamu pasti tahu bahwa Nugroho Group adalah penyedia dana utama sekaligus pemegang lisensi distribusi untuk tiga proyek manufaktur terbesar yang sedang dikerjakan oleh perusahaan ayahmu saat ini," tutur Nadia sangat tenang namun terdengar begitu mematikan.
Dewa menelan ludahnya yang terasa pahit. Selama berteman erat dengan Bimo sejak masa SMA, Dewa tahu betul betapa kerasnya perjuangan ayah Bimo mempertahankan bisnis keluarga mereka. Bimo sering bercerita bahwa proyek manufaktur tahun ini adalah pertaruhan hidup dan mati bagi Wira Perkasa Group.
"Terus kenapa kalau Nugroho Group pemegang lisensinya?" cecar Dewa, mencoba menutupi kecemasannya.
"Sederhana," jawab Nadia singkat. Ia memajukan sedikit tubuhnya, menatap Dewa dengan sorot mata mengintimidasi. "Jika pernikahan ini batal karena penolakan dari pihakmu hari ini, saya akan menganggap keluarga Wira Perkasa tidak memiliki komitmen dan niat baik untuk menjalin hubungan kemitraan yang strategis dengan keluarga Nugroho."
Dewa membelalakkan matanya. "Maksud kamu... kamu mau batalin kerja sama bisnis cuma gara-gara masalah perjodohan pribadi ini?"
"Tepat sekali," sahut Nadia tanpa ragu. "Besok pagi, tim hukum saya akan mengirimkan surat pemutusan hubungan kerja sama secara sepihak untuk seluruh proyek yang sedang berjalan. Denda penalti dan pembatalan investasi akan langsung mengeksekusi aset perusahaan ayahmu."
Dewa tersentak kaget hingga beranjak sedikit dari duduknya. "Kamu gila, Nadia! Itu tindakan sewenang-wenang! Perusahaan ayah Bimo... Maksud saya ayah saya, bisa bangkrut kalau kamu putus kerja samanya secara mendadak!"
"Memang," balas Nadia dingin tanpa mengedipkan mata. "Estimasi kerugian yang harus ditanggung Wira Perkasa Group bisa mencapai puluhan miliar. Dan kita berdua tahu, perusahaan ayahmu tidak akan sanggup menahan beban finansial sebesar itu dalam waktu singkat. Kebangkrutan adalah kepastian."
Dewa menatap wanita di depannya dengan rasa tidak percaya yang meluap-luap. Di balik wajah cantiknya yang bak dewi, Nadia adalah sosok pebisnis tak berhati, yang sanggup menghancurkan hidup orang lain hanya demi mencapai tujuannya sendiri.
"Kamu jahat banget, Nadia... Ini enggak ada hubungannya sama bisnis! Kenapa kamu tega ngancam keluarga saya kaya gini?" nada suara Dewa bergetar menahan amarah yang membumbung tinggi.
"Ini bukan ancaman, Bimo. Ini adalah konsekuensi," jawab Nadia tegas. "Kamu punya pilihan. Menyelamatkan bisnis dan nama baik keluargamu dengan menandatangani kontrak satu tahun ini, atau menolak dan melihat perusahaan ayahmu hancur dalam hitungan hari."
Dewa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Benaknya bergejolak hebat. Ia hanyalah Dewa, anak yatim piatu yang miskin, yang datang ke kafe ini hanya untuk membantu Bimo menggagalkan perjodohan konyol. Namun kini, nasib seluruh keluarga Bimo, keluarga sahabat terbaiknya yang sudah menganggapnya seperti saudara sendiri, berada penuh di ujung jemarinya.
Jika ia menolak dan kabur, Bimo dan keluarganya akan hancur secara finansial. Ayah Bimo yang sudah tua dan ramah itu bisa terkena serangan jantung jika perusahaannya bangkrut begitu saja. Dewa tidak akan pernah sanggup melihat orang-orang yang sangat baik padanya menderita gara-gara keputusannya.
"Bagaimana, Bimo? Waktu saya tidak banyak," desak Nadia sambil melirik jam tangan mewahnya yang melingkar cantik di pergelangan tangan. "Tanda tangan sekarang, atau saya hubungi tim hukum saya detik ini juga untuk memproses pemutusan kerja sama."
Dewa memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa bersalah, panik, dan tertekan bercampur aduk meremas dadanya. Bayangan kebaikan Bimo yang selalu membantunya sejak masa-masa sulit di SMA berkelebat cepat di ingatan Dewa. Ia tahu, ia tidak punya pilihan lain. Pengorbanan ini harus ia ambil demi membalas budi dan melindungi sahabat terbaiknya, meskipun ia harus terjebak dalam pusaran pernikahan kontrak yang gila ini.
Dewa menghembuskan napas berat yang terasa sangat sesak dari dadanya, lalu perlahan membuka matanya. Tatapannya menatap Nadia dengan kepasrahan yang mendalam namun penuh kekesalan.
"Oke... Oke, stop!" seru Dewa dengan nada suara parau. "Jangan sentuh perusahaan ayah saya. Jangan putuskan kerja sama itu."
Nadia menarik sudut bibirnya tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. "Jadi, kamu menyetujuinya?"
Dewa mengepalkan tangannya sekali lagi di atas meja, menatap surat kesepakatan itu dengan tatapan nanar.
"Ya... Saya setuju. Saya bakal ikutin semua permainan gila kamu ini," sahut Dewa pasrah, merelakan dirinya terjerat dalam perangkap sang CEO dingin demi keselamatan sahabatnya.