NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: TURUN DARI LANTAI 100

"Aku duluan. Kau yang ikuti aku, Tuan Shen."

Kalimat itu keluar dari mulut bocah tujuh tahun yang bahkan kakinya tidak menyentuh lantai lima menit lalu.

Dua pengawal Shen Mo yang baru menerobos masuk saling pandang. Wajah mereka pucat. Seumur hidup mereka mengabdi di Yucheng, belum pernah ada orang yang berani menyuruh Shen Mo mengikuti.

Apalagi seorang anak kecil.

Shen Mo tidak marah. Sebaliknya, senyum tipis di bibirnya melebar setengah mili. Senyum yang membuat pengawalnya lebih takut daripada saat ia marah.

"Menarik," gumam Shen Mo.

BRAK! BRAK! BRAK!

Suara tembakan mulai terdengar dari koridor luar. Bukan satu dua, tapi rentetan. Disusul teriakan dan alarm yang meraung memekakkan telinga. Lampu utama lantai 100 berkedip-kedip, lalu padam, digantikan lampu darurat merah yang berputar-putar.

Sistem keamanan Crown Tower dilumpuhkan total.

"Tuan! Mereka sudah di lantai 98! Vane... Tuan Vane mematikan akses kartu kita!" teriak pengawal paling depan, Leo, sambil mengokang pistolnya. Darah merembes dari bahunya. "Kita harus lewat tangga darurat barat!"

"Koridor barat itu kuburan," potong Chen tanpa menoleh. Bocah itu sudah berdiri di depan dinding kaca raksasa setinggi 4 meter. Jari kecilnya menempel di kaca yang berembun karena hujan di luar. "Sudah kubilang. Ada dua penembak jitu di titik buta kamera 7 dan 9. Kalau kita lewat sana, kita mati sebelum sampai lantai 99."

Chen menoleh ke Shen Mo.

"Katrol pembersih kaca. Sekarang. Timer peledak lift utama sisa 19 detik."

Shen Mo menatap bocah itu lekat. Di tengah kepungan, di tengah pengkhianatan orang kepercayaannya sendiri, otak pria itu bekerja dengan kecepatan gila.

Vane mengkhianati. Blackwood menyerbu. Dan bocah ini... bocah ini tahu semua sebelum pengawalnya sendiri tahu.

"Leo, Jax, tahan pintu. Jangan biarkan satu pun masuk sampai aku bilang," perintah Shen Mo, suaranya kembali dingin mutlak. "Kalau Vane muncul, tembak kakinya. Jangan matikan. Aku mau dia bisa bicara."

"Siap, Tuan!"

Shen Mo melangkah lebar ke arah dinding kaca. Dengan satu hentakan, ia menarik tuas darurat manual di bawah meja kerjanya. Tuas yang bahkan Leo tidak tahu ada.

KRRRTTT...

Dinding kaca raksasa itu terbuka perlahan, bukan seperti pintu, tapi seperti gerbang hanggar. Angin hujan Yucheng yang brutal langsung menerobos masuk, membawa air dan bau petir.

Di luar, tergantung menggoyang-goyang diterpa angin kencang, sebuah platform katrol pembersih kaca dari baja. Tali baja setebal lengan anak kecil berderit.

Tinggi di sini 400 meter dari tanah. Di bawah hanya kabut hitam dan lampu-lampu kota yang terlihat seperti kunang-kunang.

Leo pucat melihatnya. "Tuan! Angin malam ini 60 km/jam! Katrol itu tidak diuji untuk dua orang dalam badai!"

Shen Mo tidak menjawab. Ia melepas mantel mahalnya, menyisakan kemeja hitam yang basah dalam sekejap karena hujan.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah Leo bayangkan.

Ia berlutut. Satu lutut di depan Chen, agar matanya sejajar dengan mata bocah itu.

"Beratmu berapa?" tanya Shen Mo.

"22 kilo," jawab Chen cepat.

"Takut ketinggian?"

"Tidak."

"Bagus."

Shen Mo mengulurkan tangannya, bukan untuk menggendong manja, tapi untuk mengikat.

Ia mengambil sabuk pengaman industri dari platform katrol, melilitkannya dengan cepat dan efisien di tubuh kecil Chen, lalu mengaitkannya ke tubuhnya sendiri. Lilitan militer. Kencang. Tidak akan lepas bahkan jika tali baja putus.

Wajah mereka hanya berjarak 10 senti. Napas Chen yang hangat bercampur napas Shen Mo yang dingin.

Untuk pertama kalinya, Chen melihat mata Shen Mo dari jarak sedekat ini. Hitam pekat, tapi di dalamnya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan mata ayahnya di foto polaroid itu.

Rasa bersalah yang sudah dipendam 10 tahun.

"Kau pegang foto itu yang erat," bisik Shen Mo, suaranya hampir tenggelam oleh angin badai. "Jangan sampai hilang. Kalau hilang, aku tidak akan bisa temukan dia lagi."

Chen mengangguk. Tangannya yang kecil menggenggam foto ayahnya di dalam saku sampai basah oleh keringat.

10... 9... 8...

Hitungan mundur peledak lift di kepala Chen terus berjalan.

Shen Mo mengangkat Chen dalam satu gerakan, melompat ke platform katrol yang berderit keras.

"DOR!"

Tepat saat mereka melompat keluar, pintu ruang kerja jebol.

Bukan didobrak. Diledakkan.

Ledakan dari lift utama yang diprogram Vane.

Api dan serpihan kayu mahoni berusia ratusan tahun beterbangan. Leo dan Jax terlempar.

Platform katrol di luar berayun liar terkena hentakan ledakan. Tali baja memekik.

Chen dan Shen Mo meluncur turun dengan kecepatan gila di sisi luar Crown Tower yang licin oleh hujan.

400 meter. 350 meter. 300 meter.

Angin menampar wajah Chen seperti pisau. Hujan menusuk mata. Tapi bocah itu tidak memejamkan mata.

Matanya terbuka lebar, menghafal.

Di lantai 87, ia melihat pantulan kaca - ada bayangan penembak jitu di dalam.

Di lantai 75, ia melihat kabel listrik cadangan Yucheng masih menyala - artinya Vane belum matikan total.

Di lantai 60, ia melihat satu jendela terbuka di ruang arsip - tempat arsip kematian ibunya disimpan.

Otak fotografisnya merekam semua dalam 1 detik.

"Di lantai 60 ada jendela arsip terbuka!" teriak Chen di telinga Shen Mo, melawan badai. "Vane lupa kunci!"

Shen Mo tidak bertanya bagaimana Chen bisa lihat dalam kecepatan seperti itu. Ia hanya menarik tuas rem katrol dengan paksa.

KRIEEET!

Platform berhenti mendadak di lantai 60. Bergoyang hebat.

Shen Mo menendang jendela arsip itu hingga pecah berantakan. Ia melompat masuk sambil tetap menggendong Chen yang terikat di dadanya.

Mereka mendarat di dalam ruang arsip yang gelap dan berdebu. Berkas-berkas beterbangan.

Chen terengah-engah, tapi matanya langsung menyapu ruangan.

Di pojok, ada satu lemari besi kecil dengan label: KEMATIAN WARGA SIPIL - YUCHENG BARAT - 2026.

Arsip ibunya.

Shen Mo melepas ikatan sabuk pengaman itu. Chen langsung lari ke lemari itu.

Tapi sebelum Chen sempat membukanya, suara pelan dan familiar terdengar dari pintu arsip yang gelap.

Tepuk tangan. Pelan. Mengejek.

"Wow. Luar biasa. Raja Yucheng turun dari lantai 100 pakai katrol jemuran. Pemandangan langka."

Vane berdiri di sana. Tangan kanannya memegang pistol, mengarah tepat ke kepala Chen. Di belakangnya, dua orang berseragam Blackwood dengan topeng tengkorak hitam.

Wajah Vane yang biasanya menunduk hormat pada Shen Mo, kini tersenyum miring penuh kemenangan.

"Selamat datang di lantai 60, Tuan Shen. Dan selamat datang, anak jenius. Aku sudah tunggu kalian di sini sejak 10 menit lalu. Karena aku tahu... bocah ini pasti akan minta arsip ibunya."

Vane mengokang pistolnya.

"Sayang sekali, arsip itu sudah aku bakar tadi pagi. Sama seperti aku akan bakar kalian berdua malam ini."

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!