NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

"bang, ini daftar warga panti." ungkap salah satu pria bertato itu.

Arus mengambil lembaran itu, saat membaca ia mengerutkan keningnya.

"ada 3 anak kecil baru dan 1 lansia lagi..!" tanya arus.

Bukan tak senang, dengan orang orang itu.

Tapi, arus marah dengan keluarga mereka. Bagaimana bisa mereka membiarkan anak kecil dan lansia terlantar hingga harus di ungsikan ke panti.

"benar bang, kami menemukan anak anak di pinggir jalan sedang mengamen. Sedangkan satu lansia itu di antar langsung oleh anaknya yang mengatakan tak bisa mengurus orang tuanya"

arus menjatuhkan diri ke tempat duduknya, sambil memijit kepala.

"terlihat seperti apa anak yang mengantarkan ibunya itu" tanya arus.

" usianya mungkin 30 tahunan, dia datang menggunakan mobil.".

"apa dia lelaki...?"

beberapa pria bertato itu mengangguk.

brak....

Arus langsung mengebrak meja di depannya, bahkan sampai tas miliknya sedikit terangkat.

"orang zaman sekarang, apa dia tak tau lelaki memiliki tanggung jawab penuh ke orang tuanya. Dari yang kalian ceritakan seharunya dia berkecukupan, tak mungkin bahkan mengurus ibunya saja tak mampu. Padahal jika dia merawatnya dengan benar, dia tak perlu menunggu 24 jam, dia hanya perlu meluangkan sedikit waktu setelah kerja"

melihat arus yang berbicara panjang, para pria bertato itu menunduk. Tak ada yang berani menatap arus secara langsung.

"lalu bagaimana bang, apa kita kembalikan ibu itu ke anaknya."

arus menggeleng...

"tak usah, jika begitu. Kasihan ibu itu..."

setelah beberapa perbincangan, para pria itu pun keluar.

Sedangkan arus langsung mengambil laptop di tas dan membukanya.

Sedangkan Alya kini hanya melamun di dalam kamarnya, dia bingung mau menjawab pertanyaan arus tadi pagi.

"apa tentang kucing ...." batin Alya.

Namun buru buru Alya menggeleng, bahkan dia tak tau kucing itu di bawa ke mana oleh arus. Bahkan dia sendiri tak berani membayangkan nasip kucing itu mengingat sifat arus.

Tok tok tok....

Suara pintu terdengar.

Alya menoleh....

"siapa...?" tanyanya.

"ly.... Ini kakak, apa boleh masuk"

Alya beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu, setelah pintu terbuka.

Terlihat seorang wanita yang tersenyum ke arahnya.

"eh kak Lia, masuk kak"

ternyata itu adalah Lia, keponakan sekaligus teman Alya.

Walau lia lebih tua 1 tahun darinya, tapi mereka sudah dekat dari kecil.

"gak usah, kakak ke sini mau ngajak kamu ke warung biar gak bosen. Kamu mau ikut gak..?"

"ke warung...? Ayok kak, kebetulan sejak pagi aku bosen gak ada yang di kunyah juga."

setelah pamit ke orang tuanya, mereka akhirnya pergi berdua.

"kak, katanya kakak mau di lamar kak Anhar Minggu depan..?"

Lia mengangguk...

"katanya si gitu, tapi gak tau juga. Mereka diskusinya sama orang tuaku jadi aku kurang tau tanggal pastinya."

"kok gitu, biasanyakan diskusi sama calon juga" tanya Alya sambil memilih jajanan setelah sampai di warung.

"entahlah, tapi aku mah ngikut aja.."

"buk rokok satu" suara pria.

Mendengar suara familiar ini Alya langsung menoleh, melihat arus yang lagi lagi membawa seekor kucing namun kali ini dengan warna yang berbeda.

Wanita itu hanya memperhatikan arus, sedangkan pria itu sama sekali tak memperdulikan keberadaan Alya.

setelah mendapatkan apa yang di mau, arus pergi begitu saja.

Penjaga toko hanya bisa menggeleng.

"kasihan pak dewangga, punya anak sebesar itu tapi masih ngerepotin. Apa lagi uangnya di buat beli rokok" ucap penjaga warung.

"buk apa arus selalu beli rokok...?" tanya Alya sambil memberikan jajanan yang telah ia pilih ke penjaga warung.

"gak sering si, mungkin 3 kali dalam satu Minggu lah. Tapi walau jarang, harga rokok juga lumayan mahal, bisa sampai 60 ribu kalok di kampung kayak gini. Apa lagi arus belum kerja, jadi kasihan pak dewangga yang harus membiayai anak sebesar dia."

sedangkan Alya hanya mengangguk tipis...

"jadi berapa buk.." tanyanya.

"10 ribu..."

Alya pun membayar, saat hendak pergi dia tiba tiba teringat dengan binatang yang arus bawa.

"maaf buk, ibukkan selalu di sini.."

penjaga warung itu mengangguk.

"memang kenapa nak"

"apa arus selalu bawa kucing...?"

ibu warung terdiam cukup lama....

"gak selalu kucing si nak, kadang dia bawa anjing, tupai, bahkan pernah beberapa kali dia bawa ular. Ibu sendiri gak tau hewan hewan itu mau di buat apa, yang ibu takut hewan hewan itu di jual di pedagang sebelah pasar yang jual daging berbagai hewan. Apa lagi Minggu lalu waktu ibu belanja ibu ngeliat dia keluar dari toko itu"

sampai saat di jalan pulang, Alya terdiam memikirkan perkataan ibu warung tadi.

"apa arus Setega itu" batinnya.

"ada pa ly, kenapa malah melamun. Hati hati nanti ke sandung." ucap Lia.

Alya hanya menggeleng...

"apa kamu masih mikirin arus" tanya Lia.

Alya meresponnya dengan anggukan.

"udahlah, bukan kakak mau ikut campur sama urusanmu. Tapi kakak tau kamu dari dulu gak menyukai arus, tapi tiba tiba kamu malah bilang suka sama dia. Kalok begini kakak jadi curiga kamu di ancam sama dia, kalok memang bener bilang aja gak papa, biar kakak datangi arus itu."

"emang kakak berani..?"

Lia tersenyum sambil menggeleng...

"kakak memang gak berani, tapi kan masih ada om sama Tante. Masih ada orang tua kakak yang pasti bela kamu"

Alya menggeleng...

"gak ada ancaman kok kak, aku ngomong itu atas kemauan dan kesadaranku seratus persen."

"tapi ly, kita udah kenal sejak kecil. Kakak tau kamu sukanya sama Bagas, gak mungkin kamu beralih hati tiba tiba kan, apa lagi waktu kamu ngedenger Bagas mau ngelamar aja kamu sampai lompat lompat"

mereka menghentikan, percakapan itu dulu, karena mereka sudah sampai ke rumah Alya.

Setelah masuk kamar, baru Lia duduk di sebelah Alya lagi.

"ly, kalok kamu memang udah gak mau sama Bagas. kan masih ada banyak pria yang ngelamar, kamu bisa milih salah satu. Asal bukan arus"

mendengar ini, Alya jadi teringat dengan mimpi mimpinya selama ini.

"jika petunjuk ini ke arah orang lain aku juga tak akan memilihnya kak" tentu Alya hanya membatin.

Bahkan saat berbicara dengan keponakannya ini Alya terus mengalihkan topik agar tak menyangkut ke arah hubungannya dengan arus.

Saat malam, Alya kembali melakukan ibadah berharap di berikan petunjuk, bahkan air matanya tak dapat tertahan di tengah sujudnya kali ini.

Setelah melakukan ini, Alya kembali tidur.

"aku gak sengaja, aku benar-benar gak sengaja" ungkap Alya di ranjang rumah sakit.

"gak sengaja...? udah jelas kamu sendiri yang minum obat penggugur kandungan, terus kamu mau fitnah siapa..? Laras lagi...? apa kamu gak capek terus ngefitnah dia terus...!"

"Bagas, aku bener benar gak tau kalok ada obat penggugur kandungan di minuman itu, kalok tau aku pasti gak akan minum..." Alya sampai turun dan berlutut.

"udahlah, kamu tau. Tindakanmu ini udah termasuk pembunuhan, walau kamu yang mengandung tapi di sana itu bukan hanya anakmu seorang, itu juga anakku. Mulai sekarang kita cerai saja, dan tunggu polisi datang untuk menjemput" tegas Bagas yang langsung meninggalkan Alya.

Alya hanya bisa menangis sesenggukan di pinggir ranjang rumah sakit itu.

"aku bukan pembunuh, aku juga sayang anakku" gumamnya.

"buat apa menangis, semua sudah terjadi. Kalok kamu bukan pelakunya kenapa takut, kalok kamu berani aku akan menyiapkan pengacara"

suara ini membuat Alya mendongak, sosok arus terlihat berdiri di depannya.

"Alya... Alya...."

mendengar ini Alya membuka matanya, di depannya ada sang ibu.

Alya langsung terbangun, dan memeluk ibunya dengan erat. Sambil menangis.

Sang ibu mengelus punggung anaknya itu pelan.

"ada apa... Apa mimpi itu kembali..?" tanya sang ibu.

Alya melepaskan pelukannya, lalu mengangguk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!