NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Setelah kata SAH menggema di KUA yang sederhana tanpa dekorasi mewah, tanpa resepsi, tanpa pesta, dan tanpa tamu, Alena resmi menjadi Nyonya Aditya Pradana.

Tidak ada pelukan. Tidak ada senyum bahagia. Aditya hanya mengangguk singkat pada penghulu, menandatangani buku nikah dengan pulpen Montblanc hitamnya, lalu langsung berdiri dan keluar. Ia masuk ke mobil Alphard hitam di kursi depan, membuka laptopnya, dan langsung sibuk membalas email. Seolah-olah yang baru saja ia lakukan hanyalah menandatangani kontrak tender proyek, bukan akad nikah.

Alena masih berdiri dengan kebaya cream sederhana yang ia beli di Tanah Abang, menggenggam buku nikah dengan tangan yang dingin dan gemetar.

Alena diantar oleh asisten pribadinya Aditya, Rendra.

Sepanjang perjalanan dari KUA menuju rumah mewah di Pondok Indah, suasana di dalam mobil itu sangat sunyi dan canggung. Sean duduk di jok belakang paling ujung, memakai headset hitam dengan volume yang sangat keras. Setelah ijab kabul tadi, Sean sama sekali tidak mengucapkan satu patah katapun. Tidak ada ucapan selamat, tidak ada tatapan benci, bahkan tidak ada tatapan sama sekali. Ia benar-benar menganggap Alena tidak ada, seperti patung.

Alena yang duduk di tengah mencoba mencairkan suasana dengan suara lembut.

"Sean, nanti kita makan malam bareng ya nak... Ibu masakin kesukaan kamu..."

Sean tidak menjawab. Ia hanya memperbesar volume headsetnya dan menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang berlalu lalang. Hatinya masih panas karena ia merasa dikhianati, Papanya menikah lagi hanya demi kontrak.

Rendra yang melihat dari kaca spion hanya bisa menghela napas pelan, merasa tidak enak pada Alena.

Setelah 45 menit perjalanan yang terasa seperti 4 jam, mobil Alphard itu akhirnya masuk ke gerbang besar rumah keluarga Pradana. Rumah megah tiga lantai dengan pilar-pilar besar dan taman yang luas.

Aditya sudah sampai duluan dengan mobil lain dan langsung masuk ke ruang kerjanya di lantai tiga. Pintu itu tertutup rapat.

Rendra membukakan pintu untuk Alena. "Bu Alena, silakan. Saya antar ke kamar Ibu."

Sean turun tanpa menunggu, langsung masuk ke kamarnya di lantai dua dan membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. BRAK!

Rendra mengantar Alena ke sebuah kamar di lantai dua, tepat di sebelah kamar utama Aditya.

"Bu Alena, ini kamar Ibu," kata Rendra sambil membuka pintu.

Alena melangkah masuk dan langsung terdiam. Kamar itu cukup besar dan mewah lengkap dengan isinya. Ranjang king size dengan sprei putih lembut, lemari walk-in closet yang besarnya seperti toko baju, meja rias dengan lampu-lampu, sofa kecil, dan kamar mandi dengan bathtub marmer dan shower kaca. Dari jendela kaca besar, terlihat taman belakang yang indah.

Sebagai istri seorang CEO, semuanya sudah disiapkan.

"Semua pakaian, tas, sepatu, perhiasan, sudah disiapkan di dalam walk-in closet, Bu. Ini pesan dari Pak Aditya," jelas Rendra.

Alena membuka walk-in closet itu. Di dalamnya tergantung puluhan gamis branded, dress elegan, tas Hermes, Chanel, sepatu hak tinggi yang harganya mungkin puluhan juta. Semua masih ada labelnya.

Pak Aditya meminta Bu Alena memikirkan penampilan ibu, Meskipun ibu dan pak aditya menikah kontrak, namun bapak Aditya tidak mau jika orang menggunjing sikapnya terhadap istri. Jadi Ibu harus terlihat pantas sebagai istri CEO Pradana Group," lanjut Rendra dengan nada hati-hati.

Alena mengangguk pelan, masih terpesona sekaligus canggung.

"Dan satu lagi, Bu. Mohon maaf sebelumnya," Rendra melanjutkan dengan suara lebih pelan. " Bu Alena dilarang membawa barang-barang miliknya dari kontrakan karena menurut Pak Aditya itu tidak pantas berada di rumah mewahnya. Koper Ibu yang tadi dari kontrakan, atas perintah Pak Aditya sudah saya amankan di gudang belakang. Ibu pakai saja semua yang sudah ada di kamar ini." Imbuh Rendra.

Jleb

Hati Alena seperti ditusuk. Jadi mukena kesayangannya yang sudah ia jahit sendiri, gamis-gamis lamanya, dan foto kecil Sean waktu bayi yang ia simpan di dalam dompet lusuh itu dianggap sampah yang tidak pantas?

Alena menunduk, menahan perih yang luar biasa. "Iya, Pak Rendra. Saya mengerti."

Setelah Rendra pergi, Alena duduk di tepi ranjang yang terlalu empuk itu. Ranjang itu dingin.

Menjelang maghrib, Alena tidak mau hanya diam dan meratapi nasib. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang ibu. Ia lantas turun ke dapur.

Di dapur, chef pribadi sudah bersiap dengan bahan-bahan impor.

"Bi, malam ini biar saya yang masak sendiri tanpa bantuan chef ya. Saya mau masak makanan kesukaannya Sean," kata Alena dengan senyum yang ramah.

Ia memasak dengan sepenuh hati. Ayam goreng kremes yang renyahnya tahan lama, sambal bawang yang pedasnya pas, sayur asem yang segar, dan tempe goreng tepung. Makanan kesukaannya Sean sejak kecil. Aroma masakan rumahan itu memenuhi dapur mewah yang biasanya hanya beraroma steak wagyu dan truffle.

Jam 7 malam, makan malam siap di meja makan panjang yang bisa muat 12 orang. Aditya turun sebentar, tapi ia hanya duduk di ujung meja sambil membuka laptopnya. Wajahnya tetap dingin, tidak ada pembelaan apapun dari Aditya ke Alena. CEO dingin itu hanya memantau lewat laptopnya, sesekali mengetik dengan cepat.

Sean turun dengan langkah malas dan muka ditekuk.

"Apaan ini? Ayam goreng lagi? Bosen gue!" kata Sean ketus, mendorong piringnya dengan kasar.

"Sean, ini kesukaan kamu waktu kecil..." Alena mencoba lembut.

"Gue udah bukan anak kecil! Gue muak di rumah ini! Semuanya palsu! Pernikahan kontrak, kasih sayang palsu! Papa cuma peduli sama kerjaan!" teriak Sean.

Aditya hanya diam mendengarkan,kendati tanganya sibuk dengan keyboard laptopnya namun telinganya fokus dengan apa yang terjadi di meja makan.

Braaakkkk

Praaaang

piring uang berisi makanan berhamburan dilantai,Alena terkejut dan menghela nafas panjang.

"Sean inikah yang saya ajarkan selama ini! Kamu bersikap kurang ajar dan kamu tidak menghargai makanan,kamu membuat kekacauan.Bersihkan kekacauan yang kamu buat Sean!" sentak Alena.

Aditya hanya mendengarkan dan sesekali ekor matanya melirik kearah meja makan.Tidak ada pembelaan, tidak ada nasihat iya hanya sibuk dengan laptopnya seolah tak terjadi apapun didepan matanya.

Sean yang merasa tidak dihargai, berdiri dan mengambil kunci Ducati merahnya dan pergi dengan wajah murungnya.

Tak selang beberapaama terdengar suara Brum! Ducati merah itu meraung keras dan melesat keluar dari garasi menuju arena balap liar di Senayan.

Alena panik. Aditya hanya menutup laptopnya pelan, lalu naik ke lantai tiga. Di dalam ruang kerjanya, Aditya menelepon Rendra, "Pantau Sean. Laporkan keberadaannya."

Aditya hanya memantau lewat laptopnya dan menunggu laporan dari asistennya.

Alena tidak bisa tinggal diam. Ia berlari ke kamarnya, mengganti gamisnya dengan jaket kulit hita, celana jeans hitam, dan boots. Ia juga memakai helm full face hitam. Entah siapa yang menyiapkan semua itu dikamarnya,namun Alena tak mau memikirkan itu sekarang.Ia gegas mengambil kunci Kawasaki ZX-25R hijau milik Aditya di garasi.

Sebelum pergi, karena Alena tidak tahu jalan ke arena balap liar, dia meminta seseorang ikut mendampinginya. Ia menelepon Pak Jono, ojek langganan baik hatinya dari kontrakan, untuk ikut dengan motor maticnya.

Di arena balap liar Senayan yang gelap, berisik, dan penuh asap knalpot, puluhan motor sudah berkumpul. Sean sudah berada di garis start, siap melawan Rival, musuh bebuyutannya dengan Ninja hitam yang selama ini sulit dikalahkan oleh Sean. Taruhan malam itu 10 juta.

Tiba-tiba, suara motor sport hijau meraung memasuki arena dengan sliding yang keren. Semua menoleh.

Seorang wanita berjaket kulit hitam turun dengan gerakan keren dan melepas helmnya.

"Ck! Mau apa dia kesini!" decak Sean mulai tak enak hati.

"SEAN! TURUN!" teriak Alena.

Sean hanya mendengkus pelan mendengarnya,ia terpaku karna semua mata kini tertuju kepadanya.

Teman-teman Sean tertegun. "Gila, cewek siapa itu? Keren banget!"

Alena berjalan ke tengah arena, menatap Rival dengan berani. "Saya tantang kamu! Saya dan saya mau kita taruhan! Kalau saya menang dari balapan ini, Sean harus pulang dan balapan malam ini bubar! Kalau saya kalah saya akan kasih kamu uang dua kali lipat dari uang taruhan ini!' ucap Alena dengan lantang dan tegas.

Satu arena heboh!

Rival tertawa meremehkan, "Oke Tante, gue layanin!"

Lampu start menyala. Brum!

Balapan dimulai! Rival melesat duluan, tapi Alena dengan teknik cornering yang super mulus dan keren berhasil menyalip di tikungan terakhir! Ia melesat melewati garis finish duluan!

Alena bener-bener menang! Dia berhasil mengalahkan lawan Sean yang selama ini sulit dikalahkan oleh Sean!

Semua terdiam, lalu bersorak gila! "GILA! TANTE ITU MENANG!"

Rival turun dengan shock dan menyodorkan uang taruhan 10 juta. "Nih, Tante menang..."

Alena tidak mengambil uang taruhan itu sama sekali. Ia mendorong uang itu kembali dengan tegas.

"Saya tidak butuh uangnya. Saya hanya butuh anak saya pulang," kata Alena dengan suara keren dan berwibawa.

Lalu Alena berjalan ke arah Sean dan dengan cepat mengambil kunci motor Ducati merah Sean dari tangannya.

"Sean, motor kamu biar Pak Jono yang bawa pulang," kata Alena sambil memberikan kunci itu ke orang suruhan Alena, yaitu Pak Jono yang sejak awal Alena minta ikut mendampinginya.

"Dan kamu, sekarang membonceng saya. Pulang!"

"Apa?! Gue bonceng lo? Jangan ngaco Lo,mau mempermalukan gue!" Sean menggerutu keras, wajahnya merah padam karena malu.

Tapi ia tidak punya pilihan lain dengan sangat terpaksa, Sean naik ke jok belakang Kawasaki hijau Alena.

Sepanjang jalan pulang dari Senayan ke Pondok Indah, Sean terus menggerutu di dalam hati.

"Brngsek! Sialan! malu-maluin... gengsi gue hancur..." gerutunya tiasa henti.

Tapi di dalam hatinya, ada suara lain yang jauh lebih jujur. Gumaman dalam hati yang tidak ia ucapkan.

_Gue akui ibu tiri gue jago juga, sial. Tekniknya bersih banget tadi. Gue harus belajar trik dari dia nih buat ngalahin Rival_

Gumaman itu hanya ada di dalam hatinya.

Dan dari kaca spion motor sportnya, Alena melihat pantulan itu. Dari kaca spion, Alena melihat senyum tipis dari bibir Sean. Senyum tipis yang tulus, malu-malu, tapi penuh kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan. Senyum sang berandal yang akhirnya luluh.

Alena tersenyum kecil di balik helmnya. Ia menggeber motornya dengan keren, akhirnya dia berhasil membawa Sean pulang.

Di rumah, Aditya masih memantau lewat laptopnya dan mendapatkan laporan video dari asistennya Rendra, Aditnya terdiam menatap layar. Di layar itu, istri kontraknya yang ia larang bawa barang kontrakan, baru saja menang balapan liar dengan keren.

*Bersambung*

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!