NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:99k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya Bersedia, Bu.

Reyna terpaku di kursinya. Tenggorokannya mendadak terasa menyumbat, seolah udara di ruangan itu tersedot habis.

​"Terima kasih atas waktunya, kami mencari kandidat yang lebih siap dan berkarakter tegas. Kamu tidak bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, hasil wawancara ini resmi kami nyatakan kurang memuaskan," ucap wanita tanpa senyum sedikit pun.

​Kata-kata itu menghantam Reyna seperti pukulan keras tepat di dadanya. Tanpa jeda, tanpa kesempatan kedua. Proses yang ia persiapkan dengan penuh harapan selama beberapa hari runtuh seketika dalam waktu kurang dari lima belas menit.

​Dengan sisa kekuatan dan harga diri yang ada, Reyna berdiri, membungkuk sopan dan mengulas senyum tipis yang terpaksa. "Baik, Pak, Bu. Terima kasih banyak atas kesempatan dan masukannya," balasnya.

​Reyna melangkah keluar dari gedung tersebut dengan tungkai yang terasa amat berat, udara siang Kota Bandung yang mulai menyengat langsung menyambar wajahnya. Pintu kaca besar di belakangnya tertutup rapat, seolah mengunci rapat-rapat impian yang baru saja ia rajut.

'Aku ​gagal, bahkan sebelum aku memulainya,' batin Reyna.

​Rasa kecewa yang membuncah membuat dadanya sesak. Reyna menundukkan kepala, enggan menatap lalu lalang pekerja kantor yang tampak berlalu-lalang dengan percaya diri. Ia memeluk map dokumennya erat-erat, menahan bulir bening yang sudah mendesak di sudut matanya.

​Daripada langsung memesan ojek online atau naik angkutan umum dalam kondisi emosi yang kacau, Reyna memilih untuk berjalan kaki menyusuri trotoar menuju halte bus terdekat yang berjarak beberapa ratus meter dari gedung tersebut. Setiap hentakan sepatu pantofelnya di atas ubin trotoar seolah memantulkan rasa kekecewaan yang dalam.

​Deretan kendaraan yang merayap di jalan raya menyuarakan klakson riuh. Namun, suara-suara itu terdengar samar di telinga Reyna, langkah kakinya makin memelan saat rasa lelah fisik dan mental menyergap bersamaan.

​Tepat lima puluh meter sebelum halte bus, langkah Reyna benar-benar terhenti. ​Di sebelah kirinya, berdiri sebuah bangunan ruko dua lantai dengan desain interior yang didominasi kayu hangat dan kaca transparan. Sebuah cafe es krim kue yang tampak baru dibuka, cafe tersebut bernama Modern Cream Cafe, aroma manis wafel panggang dan susu vanila berembus halus keluar dari pintu kayunya yang terbuka separuh.

​Namun, bukan aroma manis atau tempatnya yang sejuk yang menarik perhatian Reyna, melainkan sebuah papan pengumuman berdiri dari kayu yang dipajang di dekat pintu masuk cafe tersebut. Dimana, tempat itu sedang membuka lowongan pekerjaan.

Reyna berdiri mematung di atas trotoar yang berdebu, matanya menatap lekat-lekat tulisan di papan kayu bercat kapur putih yang terpajang di depan cafe tersebut.

​Ada bisikan gengsi yang menyengat kecil di balik benaknya, Reyna sudah bekerja sebagai staf administrasi dan tentu saja selanjutnya ia ingin kembali bekerja sebagai staf administrasi. Namun, kenyataan pahit bahwa tabungannya kian menipis dan kegagalannya di wawancara kerja tadi pagi membakar habis seluruh sisa ego yang ia miliki.

​'Aku butuh bertahan hidup! Pekerjaan apapun harus aku lakukan, asalkan itu halal,' batin Reyna meneguhkan hati.

​Reyna menghela napas panjang dan berjalan menuju cafe tersebut. Sesampainya di depan cafe , Reyna pun mendorong pintu kaca cafe tersebut, hembusan pendingin udara bercampur aroma manis gula karamel dan wafel hangat langsung menyambut inderanya. Di dalam cafe yang berinterior minimalis itu, seorang wanita paruh baya berwajah ibu-ibu yang ramah sedang mengelap meja konter.

​"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Mau pesan es krim?" sapa wanita itu lembut.

​Reyna mendekati konter, membenahi letak kemeja putihnya. "Selamat siang, Bu. Maaf mengganggu waktunya... Saya lihat papan pengumuman di depan, apa lowongannya masih terbuka?" tanyanya sopan.

​Wanita paruh baya itu tertegun sejenak dan menatap Reyna dari ujung kepala hingga ujung kaki, penampilan Reyna yang sangat rapi dan formal menggunakan kemeja putih serta rok bahan hitam jelas tidak mencerminkan seseorang yang melamar kerja di cafe.

"Iya, lowongannya masih tersedia, Mbak. Apa Mbak mau kerja disini?" tanya wanita paruh baya itu.

"Iya, Bu. Ini berkas-berkas untuk persyaratannya," ucap Reyna.

"Tapi, kerjanya sebagai, karyawan dapur sekaligus kasir... tidak masalah, Mbak?" tanya wanita itu.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa bekerja apa saja," jawab Reyna.

"Untuk gajinya, di tahun pertama satu juta delapan ratus dan jika cafe ramai, nanti bakal ada bonus. Apa tidak masalah?" tanya wanita itu lagi.

"Maaf sebelumnya, Bu. Kalau boleh tahu, untuk jam kerjanya?" tanya Reyna.

"Dari jam sebelas siang sampai jam tujuh malam, dan hari senin libur," jawabnya.

"Saya bersedia, Bu." Jawab Reyna.

"Tenang saja, nanti akan ada karyawan lainnya. Jadi kalian kerja berdua," ucap wanita tersebut dan melihat berkas yang diserahkan Reyna.

"Nama kamu Reyna?" tanyanya.

"Iya, Bu. Nama saya Reyna," jawab Reyna.

"Saya terima berkas ini, oh ya perkenalkan saya Kiki," ucap wanita paruh baya bernama Kiki itu.

"Kapan saya bisa bekerja, Bu?" tanya Reyna.

"Kamu bisa kerja mulai besok, karena sekarang libur. Jadi, cafe tutup, saya pun datang cuma untuk mengecek dan membersihkan saja, karena cafe-nya baru buka selama dua minggu, jadi perlu di cek lagi," ucap Bu Kiki.

Langkah kaki Reyna terasa jauh lebih ringan saat meninggalkan cafe tersebut, udara siang Bandung yang tadinya terasa membakar dan mengimpit dadanya pasca kegagalan wawancara di gedung jangkung tadi, kini berganti menjadi embusan angin yang menyejukkan.

​Meski gajinya tidak sebesar penghasilannya saat menjadi staf administrasi dan pekerjaannya menuntut fisik untuk terus berdiri menyajikan makanan manis, ada rasa syukur yang membuncah hebat di dasar hatinya. Di tengah keputusasaan dan tabungan yang kian menipis, Tuhan masih memberinya jalan untuk bertahan hidup.

​Begitu sampai di kontrakan kecilnya, Reyna segera melepas sepatu pantofelnya yang terasa makin menekan jemari kakinya. Ia mengganti kemeja putih formalnya dengan kaos santai, lalu duduk menyandar di tepi kasur busa tipisnya.

Reyna mengambil ponselnya dan berniat untuk memberitahu Agnia, namun ia langsung menghentikan niatnya itu.

"Kayaknya... aku nggak usah kasih tahu Agnia deh, aku cuma nggak percaya diri aja," gumam Reyna.

.

Keesokan harinya, alarm dari ponsel Reyna berdering tepat pukul delapan pagi. Udara dingin yang merembes lewat celah ventilasi kamar tak sedikit pun menyurutkan langkahnya, hari ini adalah hari pertamanya bekerja.

​Meski jam operasional cafe baru dimulai pukul sebelas siang, Reyna memilih untuk bangun lebih awal. Ia ingin merapikan kontrakannya, meminum segelas air hangat dan mematangkan mentalnya. Ini adalah lembaran baru, sebuah dunia kerja yang amat bertolak belakang dengan empat tahun pengalamannya di ruang arsip dan meja administrasi yang tenang.

​Reyna berdiri di depan cermin berbingkai plastik yang menggantung di dinding kamar, ia mengenakan celana kain hitam yang nyaman, kaus polos berwarna gelap dan sepatu kets putih sederhana. Tidak ada kemeja putih atau sepatu pantofel yang menekan jemari kakinya seperti kemarin. Sebelum berangkat, ia mengikat rambut panjangnya menjadi ponytail yang rapi.

​"Semangat, Reyna. Kamu pasti bisa," gumam Reyna pada bayangan di cermin seraya menyunggingkan senyum tipis.

.

.

.

Bersambung.....

1
Rizky Manik
Dikta junior segera hadir
Ayunda
hah kurng gizi kok bisa
lia juliati
selamat selamat🙏
Aidil Kenzie Zie
selamat ya Rey dan Dikta 🥰🥰🥰
Felycia Fernandez
Kenapa ya semua pemeran perempuan di novel kalau mau ketahuan hamil dibawa ke RS pasti gak mau,nunggu pingsan dulu buat orang sibuk baru ketahuan hamil 🤣🤣🤣
kayak bandel aja jadi seperti merepotkan orang2 aja 🤣🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: ada koq yang mandiri. kek nov lain yang kubaca. dia sadar sendiri, beli tespack sendiri juga test sendiri baru dikasih tau ama suaminya. mandiri bgt kan🤣🤣
total 1 replies
lia juliati
udah tau sakit tp ga mau kasih tau suami ..... masih aja kaya gitu
Syifa Fauziah
😍😍
Aidil Kenzie Zie
Dikta junior sama Reyna junior bakalan launching buah kerja kerasnya pak Dokter 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
lah si Dikta ditinggal molor 🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
wahhhhhhh, gejala awal akibat bergadang tanpa baju iniiiii🤣🤣🤣
lia juliati
😍
Felycia Fernandez
jadi pengen liat 😭
Sastri Dalila
😅🤗🤭
Sastri Dalila
🤭🤭
Sastri Dalila
🤗🤗
Sastri Dalila
🤭😅
Aidil Kenzie Zie
lah Nia ngga ngaca dulu apa y🤔🤔🤔🤭🤭🤭🤭wong punya suami sama-sama ganas 🤫🤫🤫
Valen Angelina
wkwkwkk gini2 klo suami istri liburan ya gtu gak jauh2 dari ranjang😂😂😂
Rizky Manik
agnia sok bilangin orang ya Rey, padahal dia juga olahraga🤣🤣🤣
lia juliati
mantabs
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!