Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Haesung ke Korea
"My Star!" teriak Da-Bin sangat histeris menyambut bintangnya kembali.
Haesung berjalan gontai sambil menyeret kopernya. Gaya yang anggun dan kaca mata hitam yang menutupi matanya membuat Haesung semakin memukau. Siapa pun yang melihat pasti langsung mengerumuni nya itu sebabnya Haesung, mengunakan masker untuk menutup sebagian wajahnya agar tidak dikenali.
"My Star ... My Love ... Aku senang kamu akhirnya kembali. Aku sepi tanpa dirimu say!"
Da-Bin mengambil alih koper Haesung.
Haesung tidak memperdulikan Da-Bin dia berjalan lebih dulu menuju mobil. Da-Bin yang diabaikan manyun, tapi tetap mengerjakan tugasnya sebagai asisten.
Da-Bin menyeret koper ke belakang bagasi mobil untuk dimasukkan. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam yang duduk di samping Haesung.
Mobil Alphard pun melaju meninggalkan bandara.
"My Star?" Da-Bin coba memanggil Haesung yang lama tertidur. Entah pria itu tidur atau hanya memejamkan mata saja.
"My Star kenapa kau selalu seperti ini? Kamu selalu saja pergi ketika bertengkar dengan ayahmu. Kamu membuat kita semua panik," ujar Da-Bin.
"Park Sung Jin panik?" tanya Haesung dia melepas kacamatanya lalu menatap Da-Bin.
Sedetik bibirnya tertarik ke atas, senyum sinisnya terlukis ketika mendengar semua orang panik termasuk ayahnya. Namun, baginya sang ayah tidak akan sepeduli itu padanya.
Masih Haesung ingat, sebelum ia pergi ke Indonesia dia bertengkar dengan Park Sung Jin hanya karena Haesung berselisih dengan Mirae ibu tirinya. Dan Park mengusirnya saat itu, sang ibu tiri yang juga seorang artis membuat keduanya tidak pernah akur. Mirae yang seakan ketakutan pamornya tenggelam oleh anak dari suaminya.
Namun, bukan cuma itu ... Perselisihan usia juga penyebab hubungan mereka yang tidak harmonis. Mirae dan Haesung berselisih lima tahun, bisa dibilang Mirae masih sangat muda untuk jadi ibunya.
"My Star ... Please ... jangan seperti ini. Aku sedih melihatmu begini, tapi jika kamu pergi itu sama saja kamu membuat Mirae menang," ujar Da-Bin.
Kening Haesung mengkerut.
"Selama kamu tidak ada Mirae begitu senang. Kamu tahu apa yang dia lakukan?" Da-Bin menghadap Haesung.
"Dia bilang di depan media jika kalian tidak akur. Dan kamu pergi karena tidak mau punya pesaing seperti dirinya. Kurang ajar banget kan? Dari ucapannya itu sudah sangat jelas jika dia menginginkan kamu out ... dari industri hiburan." Da-Bin terlihat sangat kesal.
"Apa hebatnya dia, dia hanya berdiri di belakang ayahku. Tanpa Park Sung Jin tidak akan ada yang mau menjadikannya artis," kesal Haesung.
"Betul, apa yang kamu bilang My Star," tutur Da-Bin. "Makanya, kamu jangan kabur terus. Kamu kalahkan nanti dia di atas panggung One Stars."
"Dia juga ikut?" Haesung terkejut mendengar ucapan Da-Bin jika Mirae ikut serta di acara konsernya.
"Ya," jawab Da-Bin sedikit gugup.
"Siapa yang melibatkannya?"
"Park Sung Jin," jawab Da-Bin ragu.
Haesung terdiam. Dia bersandar pada dinding kursi, sambil memalingkan wajahnya ke arah jalanan.
Jika ditanya kenapa?
Tentu saja, Haesung sangat marah. Dia tidak pernah suka dengan Mirae. Tapi sang ayah malah melibatkan Mirae dalam konsernya.
Di dalam mobil tidak ada lagi pembicaraan. Mobil melaju dengan tenang, sebelum akhirnya sebuah telepon masuk ke ponselnya Da-Bin.
Da-Bin yang setengah tidur pun terkejut, dia reflek bangun sambil mengucek mata lalu mencari ponselnya. Tanpa sadar ponselnya digenggam Haesung.
"My Star Kenapa kamu tidak bilang ponselku ada padamu."
"Antar aku ke apartemen," ujar Haesung ketika Da-Bin hendak mengambil ponsel itu.
Haesung sudah membaca pesan dari Manager Min, agar Da-Bin membawa Haesung ke kantor agensi tapi Haesung menolak. Dia ingin pulang ke apartemen setidaknya untuk istirahat setelah perjalanan yang cukup lama. Tubuhnya lelah, Haesung butuh ketenangan bukan Omelan.
"Tapi siapa yang menghubungiku tadi?" tanya Da-Bin setelahnya. Haesung tidak menjawab dia melempar ponsel itu pada Da-Bin.
Da-Bin menangkapnya, lalu mengecek ponselnya. Napas Da-Bin berhembus pelan setelah tahu jika Haesung sudah membaca pesan itu, yang menyebabkan dia ingin cepat pulang.
"Tapi ... Manager Min menyuruhku untuk membawamu ke kantor."
"Aku bilang ke apartemen."
"Tapi ...."
"Jika dia ingin bertemu denganku, datang saja ke apartemen," ucap Haesung membuat Da-Bin tak dapat bicara.
Da-Bin akhirnya mengalah, dia menyuruh sopir untuk mengantarkannya ke apartemen x . Selang beberapa menit merekapun tiba di penthouse king. Da-Bin langsung turun dari mobil ia menuju ke pintu apartemen miliknya. Sedangkan Da-Bin pria itu masih sibuk mengangkat koper milik Haesung.
"Menyebalkan sekali ..." Da-Bin merengek manja ketika Min kembali menghubunginya.
"Gimana ini, apa yang harus aku katakan padanya," kata Da-Bin yang terus memperhatikan ponselnya.
"Ya Tuhan ... Pasti aku dimarahi lagi. Sudahlah aku jawab saja, mau dijawab atau tidak tetap saja marah," umpat Da-Bin lalu menjawab panggilan itu.
"Hai, Manager Min," sapanya pada sambungan telepon.
"Di mana kalian!" Min membentak. "Kenapa kalian belum sampai, ini sudah satu jam."
"Da-Bin katakan kemana kamu membawa Haesung!" teriakan dibalik ponsel genggam itu sungguh memekakkan telinga Da-Bin.
"OH My God! Manager Min ... bisa tidak bertanya itu satu-satu. Aku pusing dengarnya apalagi ya, suara mu itu ... Uuuh ... Lala kaya bebek sedang berenang."
"Da-Bin aku tidak bercanda!" sentak Min. Da-Bin langsung diam.
"Ok, tapi aku pun tidak bercanda," sela Da-Bin.
Da-Bin menghela napas panjang lantas berkata. "My Star ingin aku mengantarnya ke apartemen."
"Kamu tidak ingat apa kataku?" Min terdengar marah.
"Ingat. Tapi dia ingin pergi ke apartemennya. My Star bilang, jika kau ingin bertemu datang saja ke penthouse king."
"Ck!" umpat Min.
"Sudah, aku harus membawa koper masuk ke dalam." Da-Bin menutup sambungan teleponnya, lalu masuk ke dalam penthouse.
Sementara di tempat lain, Min seperti orang kegerahan dia mengumpat dan menggerutu. Haesung bukannya datang ke kantornya yang malah pulang ke apartemen.
Namun, tidak dengan seorang pria yang duduk di belakangnya. Dia terlihat tenang sambil membersihkan arloji di tangannya.
"Ada apa Min?" tanya Park Sung Jin yang sudah berada di kantor setelah Min kabari jika Haesung akan pulang.
Min berbalik. Dengan ragu ia berkata "Haesung tidak pulang ke sini dia pulang ke apartemen," jawab Manager Min.
Park Sung Jin menghela nafas, lantas bersandar santai pada sofa sambil menopang kakinya. Satu tangan dia letakan di atas sofa.
"Biarlah, mungkin dia ingin istirahat," ujar Park Sung Jin.
Manager melangkah maju ke arah Park lalu duduk di samping Tuan Park.
"Tapi ... bagaimana jika Haesung bertanya tentang lima tahun lalu? Dia sepertinya sudah mulai teringat." Min terlihat takut.
"Kenapa harus takut? Bukankah buktinya sudah dikubur? Tidak akan ada yang terungkap apapun itu, dan soal gadis itu ... Dia tidak mungkin kembali," ujar Park Sung Jin dengan tenang.
Min hanya mengangguk saja, tapi hatinya tidak setenang itu. Jika bukan karena Tuan Park kejadian lima tahun lalu tidak akan semulus itu.
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏