Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Lampu-lampu kota New York berkilat bagaikan rantai permata di balik jendela kaca mobil sports milik Irysh Whitman. Suasana di dalam ini kabin mobil yang mewah itu terasa kontras dengan keheningan malam; hembusan pendingin udara beradu dengan ocehan tanpa henti dari gadis berkulit porselen di balik kemudi.
Sejak mereka melangkah keluar dari bar elit tempat mereka makan malam tadi, Irysh tidak berhenti mengoceh. Celotehannya yang tadinya riang mendadak berubah menjadi tumpahan emosi yang luar biasa seru dan meledak-ledak.
Parrie Rose, yang duduk di kursi penumpang samping pengemudi, hanya bisa menatap sahabat barunya itu dengan rasa syok yang tak terbendung.
Rupanya, seluruh aksi nekat Irysh belakangan ini—termasuk aksinya yang begitu bersemangat membantu Parrie meremukkan motor sport edisi terbatas milik Glenmore Ford di parkiran kampus tadi sore—bukan sekadar dorongan solidaritas biasa.
Ada amarah terpendam dan dendam membara pada sosok pria yang sedang Irysh umpat habis-habisan sepanjang jalan.
"Pria sampah! Pria bajingan tidak tahu diri!" maki Irysh seraya memukul roda kemudinya gemas, matanya menatap lurus ke jalanan malam. "Kau tahu, Parrie? Aku merasa puas sekali melihat motor si Glenmore itu hancur tadi! Rasanya seperti aku baru saja menghantamkan martil besi itu tepat ke wajah Marvel!"
Parrie mengedipkan matanya beberapa kali, sedikit tersentak mendengar nama yang baru saja meluncur dari bibir Irysh. "Marvel...?"
"Ya! Marvel bajingan itu!" Irysh mendengus kasar, membuang napas panjang yang sarat akan rasa sesak. "Dia sama sekali tidak pernah mengejarku, Parrie! Aku lelah... aku sudah sangat lelah mengejar pria Narsistik dan angkuh seperti dia! Dan puncak kegilaan itu terjadi satu bulan lalu... Terakhir kali aku melihatnya, pria brengsek itu sedang tidur di atas ranjang yang sama dengan Jessica!"
Parrie membelalakkan matanya kecil. "Tidur dengan Jessica...?"
"Malam itu juga kami putus! Aku berteriak padanya, memaki wajah sok cantik itu, dan langsung melangkah pergi tanpa memberi dia kesempatan sedikit pun untuk bicara!" Irysh tertawa sinis, sebuah tawa hampa yang dipenuhi rasa pahit yang teramat sangat.
Namun, detik berikutnya, raut wajah angkuh Irysh mendadak runtuh. Kedua matanya berkaca-kaca dipenuhi air mata yang menahan luka.
Irysh mencengkeram kemudi mobilnya lebih erat. "Tapi kau tahu apa bagian paling bodohnya, Parrie? Beberapa hari setelah malam terkutuk itu... aku baru tahu kalau aku masuk ke dalam jebakan murahan yang dirancang oleh Jessica. Pria sampah itu sebenarnya dijebak, dia tidak pernah menyentuh Jessica sedikit pun! Dan aku... aku percaya begitu saja pada pemandangan busuk itu tanpa mau mendengar satu kata pun penjelasan dari mulutnya!"
Gadis Whitman itu mengusap sudut matanya dengan kasar, membuang wajah ke samping sejenak.
"Argh! Tidak, tidak... aku tidak mau menceritakannya lagi! Rasanya sesak sekali, Parrie... Sungguh menyiksa saat kita sangat mencintai seorang pria, tapi rasa bersalah dan kebodohan yang kita buat sendiri justru menjadi tembok raksasa yang tinggi yang menghalangi kita untuk memilikinya!"
Kata-kata Irysh meluncur bagaikan anak panah tajam yang meluncur lurus menembus dada Parrie.
DEG.
Parrie membeku di tempat duduknya. Perasaan sesak dan ngilu seketika merayap naik menjejali tenggorokannya. Kalimat yang baru saja diucapkan Irysh terasa begitu relevan—begitu menampar tepat di ulu hatinya yang sedang menyembunyikan rahasia berdarah tentang keluarga Ford dan Kaetos Ashford.
Irysh melirik Parrie sebentar, menatap mata teduh sahabatnya itu dengan pandangan yang begitu tulus dan penuh peringatan.
"Kau... jangan sampai jadi gadis bodoh seperti aku, ya Parrie," bisik Irysh dengan suara yang mendadak melunak dan bergetar tulus. "Jika suatu hari nanti kau dan Kaetos memiliki tembok tinggi yang memisahkan kalian... katakan kejujuran padanya. Jangan pernah menyembunyikan apa pun. Aku sangat yakin, jika Kaetos memiliki cinta yang jauh lebih besar padamu daripada ketakutanmu sendiri, dia tetap akan percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutmu. Jangan contoh kebodohanku yang gengsi dan lari begitu saja, oke?"
Parrie menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Tenggorokannya kaku. Ia hanya sanggup menganggukkan kepalanya perlahan, mencoba mengukir senyuman tipis untuk menenangkan Irysh.
Namun di dalam hatinya yang paling dalam... perkataan Irysh meremukkan jiwanya. Omongan tulus itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Parrie akan posisinya.
Apakah Kaetos benar-benar akan tetap memercayai dan mencintaiku jika dia tahu aku adalah darah daging dari pria yang merusak jiwanya?
Di tengah kecamuk pikiran yang menyiksa itu, ponsel pintar di dalam genggaman Parrie mendadak bergetar halus.
Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenali. Nama Nyonya Tessa O'Conner Ashford tertera jelas di sana.
Melihat nama ibu kandung Kaetos memanggilnya di jam delapan malam seperti ini, rasa panik dan cemas seketika melilit perut Parrie. Dengan jemari yang gemetar tipis, Parrie menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"S-selamat malam, Nyonya Tessa..." sapa Parrie pelan dan sangat sopan.
Dari seberang saluran telepon, suara anggun dan penuh kehangatan milik ibu Kaetos menyapa pendengarannya. Nyonya Tessa menyapa dengan lembut, mengutarakan niatnya untuk mengundang Parrie menghadiri jamuan makan malam keluarga di mansion Ashford malam ini.
Beliau bahkan mengatakan dengan sangat manis bahwa ia sangat merindukan sosok Parrie dan ingin mengobrol banyak hal.
Namun, alih-alih merasa bahagia atau terharu... hati Parrie justru disergap oleh rasa takut dan kecurigaan yang luar biasa.
Dengan nada suara yang sehalus mungkin, dipenuhi permohonan maaf yang terdengar sangat tulus, Parrie terpaksa menolak ajakan makan malam tersebut. Ia beralasan bahwa tubuhnya sedang tidak fit dan ada tugas perkuliahan mendesak yang harus ia selesaikan bersama Irysh malam ini.
Nyonya Tessa di seberang sana terdengar sedikit kecewa, namun tetap memaklumi dengan penuh kelembutan sebelum mematikan sambungan telepon.
Setelah panggilan itu terputus, Parrie menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
Gadis itu terlalu takut.
Otaknya yang terpapar oleh klise-klise melodrama drama televisi yang sering ia tonton dulu langsung menyimpulkan skenario terburuk.
Di dalam pikirannya, telepon mendadak dari seorang ibu kaya raya dari dinasti penguasa seperti keluarga Ashford biasanya bukanlah undangan makan malam biasa.
Itu adalah ajakan bertemu secara terselubung untuk memberikan peringatan keras—sebuah gertakan halus agar gadis miskin seperti dirinya sadar diri dan segera menjauhi putra mahkota mereka.
Parrie menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil yang dingin. Ia sangat sadar diri akan siapa dirinya. Sebelum semua kerumitan ini terjadi, ia hanyalah seorang mantan karyawan biasa di salah satu butik mewah milik Nyonya Tessa.
Seorang gadis miskin tanpa latar belakang, yatim piatu yang tidak memiliki jaminan apa pun di dunia ini.
Walaupun selama ini Nyonya Tessa selalu bersikap begitu baik, lembut, dan penuh kasih sayang padanya saat ia masih bekerja sebagai karyawan biasa... Parrie yakin, jika hal itu sudah berkaitan dengan masa depan dan hubungan asmara putra kesayangan keluarga Ashford, kata 'menerima dengan baik' untuk gadis miskin sepertinya adalah sebuah hal yang mustahil.
Pintu toleransi itu pasti sudah di-black-list rapat-rapat oleh keluarga Ashford.
Kau tidak boleh terlalu percaya diri, Parrie... batin Parrie meratapi nasibnya sendiri dalam keheningan malam.
Mana mungkin keluarga sekelas Ashford sudi menerima wanita miskin yang tidak punya apa-apa... apalagi jika mereka tahu darah siapa yang mengalir di tubuhku.
Mobil sports Irysh terus melaju membelah jalanan New York yang dingin, membawa dua gadis yang sama-sama tenggelam dalam pusaran rasa sakit, rasa bersalah, dan ketakutan akan cinta yang begitu membakar jiwa mereka.