Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Mas Bagas ngapain di hotel...?
Suzan menoleh ke sumber suara, dan ternyata di belakangnya ada Bintang.
"Bi...Bintang...maksud saya pak... Bintang..." ucap Suzan.
"Ini kan bukan di tempat kerja, panggil Bintang saja..." ujar Bintang.
"Oh ... I...iya..." sahut Suzan.
"Kamu ngapain di sini...? Alma mana...?'' tanya Bintang.
"Ehm... Dia lagi ngambil mobil di parkiran..." jawab Suzan lalu kembali menoleh ke arah di mana dia tadi melihat Bagas, Namun dia tidak melihatnya lagi di sana.
"Mas Bagas ke mana...?'' ucap Suzan dalam hati.
"Kamu sedang mencari siapa...?'' tanya Bintang.
"Oh nggak...nggak mencari siapa- siapa..." Suzan terlihat gelisah.
Bintang menatap wajah Suzan beberapa saat. Iya, Bintang bukan sebulan atau dua bulan mengenal Suzan, tapi bertahun- tahun. Bintang paham betul ekspresi wajah Suzan jika dia sedang gelisah ataupun ada yang mengganggu di pikirannya.
"Kamu kenapa...?'' tanya Bintang.
"Oh...nggak...nggak papa..." jawab Suzan.
Dan dari jawaban Suzan, Bintang tahu kalau perempuan yang ada di depannya sedang tidak bicara jujur.
"Kamu ada apa nyamperin aku...?'' tanya Suzan.
"Nih..." Bintang memberikan ponsel Suzan yang ketinggalan di ruang meeting, namun pandangan Bintang masih tertuju pada wajah Suzan.
"Ponselmu tertinggal di meja tadi..." ucap Bintang.
"Oh... Ya ampun... Iya... Aku lupa...makasih ya..." sahut Suzan yang memang sama sekali tidak sadar kalau ponselnya tertinggal di ruang meeting.
"Tin...tin...." terdengar klakson mobil dari depan lobby.
Suzan pun menoleh ke sumber suara. Dan ternyata itu adalah Alma.
"Bintang...aku duluan ya..." ucap Suzan.
"Ya hati- hati..." jawab Bintang.
Suzan segera naik ke mobil. Namun di sepanjang perjalanan Suzan nampak melamun.
"Beb... Kamu kenapa sih diam aja dari tadi...? Hem... Aku tahu nih... Kamu pasti lagi mikirin Bintang kan...? Ya kan...?'' tanya Alma sambil mengemudi.
Suzan berdecak.
"Aku tahu perasaan kamu beb... Siapapun yang tiba- tiba ketemu sama mantan, pasti perasaannya tidak menentu. Pastilah bayang-bayang kenangan masa lalu terus menari- nari di ingatan..." ucap Alma sambil terkekeh.
"Aku yakin , Bintang punya perasaan yang sama kayak kamu. Hanya saja dia lebih ke pura- pura nggak perduli. Sok cool, padahal hatinya pasti berdebar- debar..." sambung Alma kembali terkekeh.
"Apaan sih Alma, lebay deh, siapa juga yang mikirin Bintang, ngaco kamu..." sahut Suzan sedikit kesal karena Alma terus meledeknya.
"Masa...? Ah yang bener...? Trus tadi Bintang ngapain nyamperin kamu...?'' tanya Alma.
Suzan menghela nafas.
"Ponsel aku ketinggalan di ruang meeting. Trus Bintang membawakan ponsel itu..." jawab Suzan.
"Oh...Jadi ponselmu ketinggalan... Eh tapi beneran ketinggalan atau kamu sengaja meninggalkannya di sana, biar Bintang kejar kamu trus kasih ponsel itu sama kamu...?'' tanya Alma.
"Alma ih..." Suzan mencubit lengan Alma.
"Aduh...duh..."
"Sukurin... Mau aku cubit lagi...?" ucap Suzan yang kesal pada sahabatnya.
"Eh jangan...jangan...iya...iya...maaf..." sahut Alma sambil mengusap lengannya.
"Ya udah, kamu cerita dong kenapa dari tadi diam aja..." ucap Alma.
Suzan kembali menghela nafas. Lalu dia mulai bercerita pada Alma kalau dia melihat Bagas keluar dari lift dengan buru- buru dan keluar lewat pintu lobby sebelah timur.
"Hah...? Yang bener beb...? Kamu nggak salah lihat kan...?'' Alma nampak tidak percaya kalau ada Bagas di hotel itu.
"Nggak Alma... Aku yakin aku nggak salah lihat..." jawab Suzan.
"Tapi tadi kan Fikri bilang kalau suamimu lagi membeli sesuatu di mall, kenapa dia ada di hotel...?'' tanya Alma.
"Ya makanya itu, aku jadi kepikiran, ngapain coba mas Bagas di hotel..." sahut Suzan penuh tanda tanya.
Alma diam sambil fokus menyetir.
"Alma..." ucap Suzan.
"Hem ...''
"Aku jadi curiga deh..." ucap Suzan.
"Curiga kenapa...?'' tanya Alma.
Lagi- lagi Suzan menghela nafas.
"Tadi kita ketemu sama Sonia juga kan di hotel itu..." ucap Suzan.
Alma mengangguk sambil fokus ke jalan.
"Trus...?" tanya Alma menoleh sekilas ke arah Suzan lalu kembali menatap ke arah depan.
"Kamu ingat apa yang dikatakan oleh Sonia tadi..?'' tanya Suzan.
"Yang mana....?'' Alma balik bertanya.
"Ya ampun Alma, tadi kan Sonia bilang dia abis ketemu sama seseorang, dia bilang dia sangat bahagia. Kamu lihat sendiri kan wajahnya bahagia banget dan dia terus tersenyum. Aku jadi curiga Alma, mungkin nggak sih seseorang yang Sonia temui itu suamiku...?'' tanya Suzan dengan dada naik turun.
"Jadi maksud kamu, Sonia itu selingkuh sama suamimu...?'' tanya Alma sambil menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di tempat parkir perusahaan Hartanto Group.
"Nggak tahulah Alma... tapi aku merasa ada sesuatu yang suamiku sembunyikan dariku..." sambil menekan kepalanya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Aku harus menemui mas Bagas sekarang juga, aku harus tanya, apa yang sudah dia lakukan di hotel. Kalau sampai dia macam- macam di belakang aku, aku nggak akan diam Alma..." Suzan yang hendak turun dari mobil namun segera dicegah oleh Alma.
"Beb...beb....tunggu beb...kendalikan dirimu..." Alma memegangi tangan Suzan.
"Sabar...kamu harus sabar dulu..." sambung Alma.
"Aku nggak bisa sabar Alma...aku nggak bisa... Aku lihat sendiri, suamiku keluar dari lift hotel yang sama di mana kita ketemu Sonia. Trus ngapain suamiku di hotel itu...? Sedangkan dia nggak ada jadwal buat ketemu klien di hotel itu . Kenapa dia nggak langsung kembali ke perusahaan bersama Fikri tadi...." ucap Suzan yang terlihat begitu gelisah dan tidak bisa tenang.
Suzan menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Aku harus nanya ke dia, dia ngapain di hotel itu, trus dia nemuin siapa di sana...? Dan aku yakin Alma, dia pasti ketemuan sama Sonia. Mas Bagas pasti ada main sama perempuan itu...." sambung Suzan dengan air mata yang mulai turun di kedua pipinya.
"Kau tahu Alma, Sonia juga memakai cincin yang waktu itu ditemukan oleh bi Marti di saku celana mas Bagas. Pantas saja mas Bagas nggak kasih cincin itu ke aku, pasti dia ngasih cincin itu ke Sonia hik...hik..." Suzan menangis.
Alma mengusap punggung Suzan ikut merasakan sedih.
"Suami aku selingkuh, Alma hik...hik..." Suzan terus menangis.
"Beb... Kamu harus tenang..." ucap Alma.
"Aku paham apa yang kamu rasakan beb... Tapi kamu nggak boleh gegabah. Kamu belum punya bukti yang valid..." sambung Alma.
"Kamu nggak bisa langsung menuduh suami kamu selingkuh hanya karena kamu melihat dia ada di hotel. Atau karena Sonia memakai cincin yang sama yang dibeli oleh suamimu. Itu semua nggak bisa dijadikan bukti kalau suamimu selingkuh beb..." lanjut Alma sambil memegang pundak Suzan.
"Apa lagi akhir- akhir ini kamu bilang suamimu tidak menunjukkan tanda- tanda yang mencurigakan. Justru dia malah semakin menunjukan sisi keromantisan dan perhatiannya sama kamu dan juga Alvaro. Kalau kamu tiba- tiba menuduh dia selingkuh, itu akan terkesan aneh beb..." ucap Alma berusaha memberikan pengertian pada Suzan.
"Dan kalaupun suamimu beneran selingkuh, dia nggak akan mengaku karena kamu nggak ada bukti..." sambung Alma.
Suzan menghela nafas. Iya, Suzan sadar kalau apa yang diucapkan oleh Alma memang ada benarnya.
"Lalu aku harus bagaimana, Alma... Apa yang harus aku lakukan...?'' tanya Suzan yang tidak punya cara untuk mencari bukti.
"Seperti waktu itu... Kamu harus memata- matai suamimu sampai kamu bisa mendapatkan bukti yang kuat..." jawab Alma.
Alma lalu menghela nafas.
"Tapi aku harap, suamimu tidak melakukan sesuatu yang membuat hatimu hancur beb..." Alma mengusap lengan Suzan.
Iya, tentu saja Alma tidak mau jika sahabatnya itu kembali merasakan patah hati. Dulu ketika Bintang memilih untuk putus dari Suzan karena dia merasa tidak sanggup untuk segera menikahinya, hati Suzan sangat hancur. Suzan patah hati hingga dia sakit karena laki- laki yang sangat dia cintai tidak mau memperjuangkannya. Hanya karena takut tidak dapat membahagiakan Suzan, Bintang memilih mundur.
Dan saat itu Alma tidak ingin hal yang sama terjadi pada Suzan. Alma tidak bisa membayangkan jika Bagas benar- benar telah mengkhianati Suzan. Pasti hati Suzan akan lebih hancur lagi.
"Tapi bagaimana caranya, kemarin saja aku tidak berhasil memata - matai dia kan...?" tanya Alma.
Iya, Suzan tentu saja masih ingat saat dia curiga pada sang suami gara- gara salah sebut nama ketika mereka sedang bercinta. Saat dia mematai matai dengan memasang aplikasi pelacak di ponsel Bagas, justru ketahuan olehnya.
"Pakai cara lain, kamu bayar orang buat memata- matai suamimu..." jawab Alma.
Suzan terdiam beberapa saat, lalu dia mengangguk tanda setuju dengan ide Alma.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Hai sayang...." Bagas masuk ke ruang kerja Suzan di saat Suzan sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Suzan menoleh ke arah Bagas yang sedang berjalan ke arahnya. Bagas mengecup kening Suzan seperti biasanya ketika dia bertemu dengannya. Namun tidak seperti biasa, Suzan terlihat biasa saja bahkan tidak ada senyum di bibirnya. Iya, tentu saja sampai detik ini banyak sekali pertanyaan dalam benak Suzan tentang keberadaan sang suami di hotel Dahlia beberapa waktu lalu.
"Kamu dari mana saja mas...? Kok kamu nggak balik ke kantor bareng Fikri...?'' tanya Suzan dengan nada jutek.
Mendengar pertanyaan Suzan, Bagas tersenyum. Iya, dia tidak tahu kalau sang istri sedang kesal.
"Maaf ya sayang..." Bagas merangkul pundak Suzan sambil mengecup kepalanya.
"Aku tanya, kamu dari mana mas...? Kok kamu perginya lama. Nggak ngasih kabar ke aku. Kan kita sudah janji, ke mana pun kamu pergi, atau aku yang pergi, kita akan selalu kasih kabar..." tanya Suzan.
"Iya...iya sayang... Maaf ya.... Aku nggak kasih kabar sama kamu, karena..."
"Karena apa....?'' tanya Suzan.
"Karena aku punya kejutan buat kamu..." jawab Bagas sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam kepada Suzan.
"Apa ini...?'' tanya Suzan sambil menatap sang suami.
Bagas kembali tersenyum.
"Buka saja , nanti kamu akan tahu apa isinya..." jawab Bagas sambil tersenyum menatap wajah Suzan.
Suzan tidak langsung menerima benda tersebut dari tangan Bagas, namun dia diam beberapa saat karena teringat sesuatu yang dikatakan oleh Fikri.
"Pak Bagas sedang membeli sesuatu untuk bu Suzan..."
"Sayang..." panggil Bagas karena Suzan melamun.
"Oh....i...iya...."
Suzan lalu mengambil kotak berwarna hitam tersebut dari tangan Bagas lalu membukanya pelan- pelan. Dan ternyata isinya adalah jam tangan yang sangat indah berhias berlian.
"Mas...." ucap Suzan sambil menatap keindahan jam tangan tersebut.
"Gimana...? Kamu suka nggak...?'' tanya Bagas sambil menatap wajah cantik Suzan yang terkesan saat melihat jam tangan tersebut.
Suzan lalu menatap wajah Bagas.
"Ini..."
"Iya sayang, itu hadiah kejutan buat kamu..." lagi- lagi Bagas tersenyum.
"Dalam rangka apa...?'' tanya Suzan.
"Memangnya kalau mau kasih hadiah ke istri harus di acara special...?'' sahut Bagas.
Suzan tersenyum.
"Ya nggak juga sih, tapi aku nggak nyangka aja kamu tiba- tiba kasih hadiah kejutan ini buat aku..." ucap Suzan.
"Tapi kamu suka nggak...?'' tanya Bagas.
Suzan mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, aku suka... Jam tangannya sangat cantik..." jawab Suzan.
"Iya.. cantik seperti kamu..." sahut Bagas lalu mengecup pipi Suzan.
"Kamu beli di mana jamnya...?'' tanya Suzan.
"Di toko berlian langganan kita sayang..." jawab Bagas.
Suzan mengangguk.
"Makasih ya ...." ucap Suzan. Bagas mengangguk dan kembali mengecup pipi Suzan.
"Mas...kamu beli parfum baru...?'' tanya Suzan mencium aroma parfum lain di tubuh Bagas.
"Hah....? Oh...nggak kok..." jawab Bagas sedikit gugup.
"Tapi wangi parfum kamu beda..." ucap Suzan sambil menatap wajah sang suami yang gugup.
"Oh iya...iya...aku ingat..." jawab Bagas.
Lalu Bagas menceritakan Suzan bahwa tadi saat di mall dia ditawari parfum oleh sales. Mereka bilang sedang ada promo. Bagas pun mencoba parfum tersebut di kemejanya. Namun karena dia tidak cocok dengan aromanya, Bagas tidak jadi membeli parfum tersebut.
"Oh gitu ya..." ucap Suzan.
"Iya sayang..." jawab Bagas.
"Kamu pasti bohong mas... Kalau kamu mau membeli parfum, kenapa yang kamu coba parfum cewek...?" ucap Suzan dalam hati sambil menatap wajah sang suami.
Bersambung....