NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TUJUH

## Bab 7: Satu-Satunya yang Tahu

Dari sekian banyak orang di hidupnya, hanya satu yang benar-benar tahu seluruh kebenaran tentang Wulan dan Raka—Feri, sahabat Bayu sejak SMA yang kini bekerja sebagai teknisi di sebuah bengkel motor tidak jauh dari kontrakan Wulan. Merekalah yang dulu membantu mengatur pernikahan siri itu, mencarikan penghulu, bahkan menjadi salah satu saksi di acara sederhana yang hanya dihadiri segelintir orang.

Senin sore itu, sepulang kerja, Bayu mampir ke bengkel Feri, sekadar melepas penat sambil menunggu waktu yang tepat untuk berkunjung ke kontrakan Wulan.

"Lo kelihatan capek banget akhir-akhir ini," kata Feri, sambil menyodorkan segelas kopi instan yang baru saja ia buat di pojok bengkel.

"Capek fisik, capek pikiran juga," jawab Bayu, duduk di kursi plastik sambil menyeruput kopinya. "Wulan mulai nanya-nanya soal kepastian, Fer. Katanya udah dua tahun, capek sembunyi-sembunyi terus."

Feri menghela napas, duduk di sampingnya. "Ya emang wajar sih dia mikir gitu, Bay. Lo juga harus mikirin, sampe kapan mau kayak gini terus?"

"Aku juga bingung, Fer," Bayu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, sekadar pelampiasan kegelisahan. "Di satu sisi, aku sayang Ayu. Beneran sayang. Tapi Raka juga anak aku, aku nggak mungkin ninggalin dia gitu aja."

"Terus rencana lo apa? Selamanya kayak gini?" Feri menatapnya lurus, nada suaranya terdengar lebih serius dari biasanya. "Gue tahu ini bukan urusan gue, tapi cepat atau lambat, ini bakal ketahuan, Bay. Nggak mungkin selamanya bisa ditutupin."

Bayu terdiam, menatap kopi di tangannya yang mulai mendingin. "Aku tahu, Fer. Tapi tiap kali mikirin gimana caranya ngomong ke Ayu, aku selalu mundur. Takut kehilangan dia."

"Tapi lo juga sekarang lagi kehilangan dia, Bay. Cuma dia yang belum sadar aja," kata Feri, kalimat yang entah kenapa terasa lebih menohok dari yang seharusnya.

Bayu tidak menjawab, hanya menghela napas panjang, membiarkan kata-kata Feri mengendap dalam pikirannya yang sudah terlalu penuh dengan berbagai pertimbangan yang tidak pernah benar-benar menemukan jalan keluar.

---

"Btw, gimana keuangan lo sekarang? Masih sanggup nanggung dua rumah tangga?" tanya Feri, mencoba mengalihkan topik ke hal yang lebih praktis.

"Berat, Fer, jujur aja," Bayu mengaku. "Gaji aku aja nggak cukup buat nutup semua kebutuhan Wulan sama Raka. Untungnya rekening bareng sama Ayu itu... ya, lumayan ngebantu."

Feri mengangkat alis. "Maksud lo, duit Ayu ikut kepake buat Wulan?"

Bayu terdiam sejenak, seolah baru menyadari betapa buruknya kalimat itu kalau diucapkan secara gamblang. "Bukan langsung gitu juga sih. Tapi ya... rekening bareng itu kan buat kebutuhan rumah tangga. Aku ambil buat kebutuhan aku sendiri, termasuk buat ke sana. Ayu nggak pernah curiga soalnya dia percaya penuh sama aku soal pengelolaan uang."

"Bay," Feri menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara prihatin dan sedikit kecewa. "Itu artinya lo pake duit istri lo buat nafkahin istri lo yang satunya lagi. Lo sadar itu, kan?"

Kalimat itu terasa seperti pukulan telak bagi Bayu, meski sebenarnya bukan hal baru—hanya saja, mendengarnya diucapkan langsung oleh orang lain, dengan begitu gamblang, membuat kenyataan itu terasa jauh lebih nyata dan lebih memalukan dari sekadar pikiran yang selama ini hanya berputar di kepalanya sendiri.

"Aku tahu, Fer," jawabnya pelan, hampir seperti bisikan. "Tapi aku nggak tahu harus gimana lagi. Kalau aku berhenti bantu Wulan, terus gimana nasib Raka?"

Feri tidak langsung menjawab, hanya menepuk pundak sahabatnya itu pelan. "Gue nggak bisa kasih solusi, Bay. Ini hidup lo, keputusan lo. Tapi cepat atau lambat, lo harus pilih. Nggak bisa terus-terusan jalan di dua jalur kayak gini."

---

Setelah dari bengkel Feri, Bayu melanjutkan perjalanan ke kontrakan Wulan, membawa beban pikiran yang terasa lebih berat dari biasanya. Kalimat-kalimat Feri terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan, membuatnya semakin sulit menepis rasa bersalah yang selama ini selalu berhasil ia dorong ke sudut paling gelap dalam pikirannya.

Sesampainya di kontrakan, Wulan menyambutnya dengan wajah yang tidak seceria biasanya.

"Bang, tadi ada tetangga yang nanya-nanya soal aku. Katanya penasaran kenapa nggak pernah kelihatan suami aku di rumah, cuma kamu doang yang sering ke sini," kata Wulan, nada suaranya terdengar cemas.

Bayu merasakan detak jantungnya sedikit meningkat. "Terus lo jawab apa?"

"Aku bilang suamiku kerja di luar kota, jarang pulang. Untung tetangganya percaya aja," jawab Wulan, meski raut wajahnya masih menyisakan kekhawatiran. "Tapi Bang, kalau kayak gini terus, lama-lama pasti ada yang curiga."

"Iya, aku tahu, Lan," Bayu duduk di sofa kecil ruang tamu, menggendong Raka yang menyambutnya dengan riang. "Aku lagi mikirin cara terbaik buat semua ini."

"Cara terbaik gimana maksudnya?" Wulan mendesak, duduk di sampingnya.

"Aku belum tahu persis, Lan. Tapi aku janji, aku bakal cari solusi. Cuma butuh waktu," jawab Bayu, meski di dalam hatinya sendiri, ia sama sekali tidak memiliki gambaran jelas tentang solusi seperti apa yang bisa menyelamatkan kedua rumah tangganya sekaligus tanpa harus kehilangan salah satunya.

Wulan menghela napas, memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan malam itu. Ia terlalu lelah untuk terus mendesak, dan sebagian dari dirinya masih berharap, entah bagaimana caranya, Bayu benar-benar akan menemukan jalan keluar yang bisa membuat semuanya baik-baik saja—meski jauh di lubuk hatinya, ia mulai merasakan firasat bahwa keseimbangan rapuh ini tidak akan bertahan lama lagi.

---

Malam itu, dalam perjalanan pulang menuju rumah Ayu, Bayu berhenti sejenak di pinggir jalan, menepikan motornya di sebuah area yang cukup sepi. Ia duduk termenung beberapa menit, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, membiarkan pikirannya berkecamuk sendiri tanpa ada seorang pun yang bisa melihat kerapuhan yang selama ini selalu ia sembunyikan rapat-rapat di balik senyum tenangnya.

*Sampai kapan aku bisa terus kayak gini?* batinnya, sebuah pertanyaan yang sudah lama ia hindari untuk benar-benar direnungkan secara mendalam.

Tidak ada jawaban yang datang malam itu, hanya rasa lelah yang semakin menumpuk, beban rahasia yang semakin berat untuk terus dipikul sendirian, dan bayangan wajah Ayu yang, entah kenapa, malam itu terasa lebih menghantui dari biasanya—seolah tubuhnya sendiri sedang memberi peringatan, bahwa apa pun yang ia bangun selama dua tahun terakhir, cepat atau lambat, akan runtuh dengan caranya sendiri.

Ia menyalakan kembali motornya, melanjutkan perjalanan pulang, menuju rumah tempat seorang istri yang masih tertidur dengan penuh kepercayaan menantinya, sama sekali tidak menyadari betapa dekatnya kehidupan mereka berdua dengan sebuah kehancuran yang, meski belum terlihat jelas bentuknya, sudah mulai merambat pelan-pelan, menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar terungkap.

---

*Bersambung ke Bab 8*

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!