Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Jejak Forensik
Matahari baru saja condong ke barat ketika derap kuda cepat memecah ketenangan pesanggrahan.
Ki Lurah Wirapati turun dengan wajah pucat. Keringat membasahi pelipisnya, meski angin sore bertiup cukup kencang.
“Ndara Tabib!” Ia berlari menuju pendopo. “Ada mayat! Ndara harus lihat sekarang!”
Sawitri meletakkan lontar di pangkuannya. Cakrawirya yang sedang duduk di sampingnya langsung sigap berdiri. Jatmiko yang sejak tadi menguping dari balik pilar ikut mendekat.
“Di mana?” tanya Sawitri singkat.
“Kediaman Ki Demang Suryanegara. Di wilayah utara.” Wirapati terengah. “Ki Demang ditemukan tewas di kamarnya. Tidak ada luka. Tapi... lidahnya biru.”
Sawitri mengerutkan kening. “Lidah biru?”
“Nggih, Ndara. Para tabib desa bingung. Mereka bilang ini kena kutukan.”
“Kutukan tidak pernah meninggalkan jejak forensik.” Sawitri bangkit. “Ayo.”
Kediaman Ki Demang Suryanegara terletak di pinggiran utara Kadipaten, dikelilingi kebun kelapa dan sawah yang luas.
Rumah joglo itu tampak sunyi. Para pelayan berkumpul di halaman, berbisik-bisik dengan wajah takut. Beberapa wanita menangis tersedu.
Sawitri melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Cakrawirya dan Jatmiko mengikuti. Wirapati di belakang.
Di ruang tengah, jenazah Ki Demang terbaring di atas dipan. Kain putih menutupi tubuhnya, hanya menyisakan wajah.
Sawitri menyibak kain itu.
Wajah Ki Demang tenang. Tidak ada tanda kekerasan. Matanya terpejam rapat. Tapi bibirnya...
Bibirnya membiru. Biru gelap, hampir kehitaman.
Sawitri menekan leher jenazah. Tidak ada denyut. Ia membuka kelopak mata. Pupil sudah melebar, kornea mulai keruh.
“Sudah berapa lama ditemukan?”
“Tadi pagi, Ndara,” jawab seorang pelayan tua dengan suara bergetar. “Ki Demang tidak keluar untuk sarapan. Kulo panggil, tidak sahut. Pas kulo buka pintu... beliau sudah seperti ini.”
Sawitri mengangguk. Ia mengeluarkan alat-alatnya dari tas kulit.
“Semua keluar. Kecuali Wirapati dan...” Ia menoleh ke Cakrawirya dan Jatmiko. “Kalian bisa tinggal, tapi jangan bersuara.”
Jatmiko mengangkat kedua tangan. “Siap, Dokter.”
Sawitri memeriksa tubuh Ki Demang dari ujung kepala hingga kaki.
Tidak ada luka tusuk. Tidak ada memar. Tidak ada tanda pencekikan.
Ia membuka mulut jenazah dengan hati-hati. Lidah membiru, tapi tidak membengkak. Di sudut mulut, ada sedikit busa kering.
Sawitri mengambil jarum perak. Ia menusukkannya ke gumpalan busa itu, lalu mengamati perubahan warna.
Jarum berubah menjadi keabu-abuan.
“Reaksi alkaloid,” gumamnya. “Tapi bukan arsenik. Bukan strychnine.”
Ia menekan perut jenazah. Tidak ada tanda keracunan makanan biasa. Kemudian ia memeriksa telapak tangan.
Di sela-sela jari kanan, ada sisa-sisa makanan yang mengering. Seperti pasta halus.
Sawitri mengeruknya dengan pinset, mencium baunya.
“Aroma amis. Tapi bukan ikan biasa.” Ia mendekatkan sampel itu ke hidung lagi. “Ada bau aneh. Seperti... seperti...”
Matanya membelalak.
“Tetrodotoxin.”
Cakrawirya mengerutkan kening. “Apa itu?”
“Racun dari ikan buntal.” Sawitri menatapnya. “Sangat langka. Sangat mematikan. Dalam dosis kecil saja bisa melumpuhkan saraf dan menyebabkan kematian dalam hitungan jam.”
Ia menunjukkan sisa pasta di jari korban.
“Ini adalah daging ikan buntal yang diolah. Lihat, teksturnya halus, seperti disaring. Hanya orang yang sangat ahli yang bisa mengolah ikan buntal tanpa ikut mati.”
Jatmiko bersiul pelan. “Ikan buntal? Aku dengar itu makanan terlarang di istana. Hanya koki khusus yang berani memasaknya.”
Sawitri menoleh. “Koki istana?”
“Nggih. Konon Sultan sendiri pernah mencicipinya. Tapi setelah itu, beliau melarang keras karena terlalu berbahaya.” Jatmiko mendekat. “Racun ini hanya ada di dapur istana.”
Cakrawirya menatapnya tajam. “Kau yakin?”
“Aku dengar dari ibuku. Dia pernah bercerita tentang seorang koki yang dieksekusi karena gagal mengolah ikan buntal.” Jatmiko mengangkat bahu. “Tapi itu cerita lama.”
Sawitri kembali ke jenazah. Ia membuka pakaian korban, memeriksa seluruh tubuh.
Tidak ada luka. Tidak ada tanda kekerasan.
“Dia makan racun ini tanpa sadar. Mungkin dicampur dalam makanan atau minuman.” Sawitri menunjuk perut. “Gejala muncul dalam 30 menit hingga beberapa jam. Pertama, mati rasa di mulut dan lidah. Lalu mual, muntah, kejang. Akhirnya kelumpuhan otot pernapasan.”
Ia berdiri. “Dia mati karena tidak bisa bernapas. Lidah biru karena kekurangan oksigen.”
Wirapati mencatat dengan tangan gemetar. “Ndara... ini pembunuhan?”
“Jelas.” Sawitri menutup kembali kain jenazah. “Dan pelakunya tahu persis apa yang dia lakukan. Ikan buntal tidak bisa didapat di pasar biasa. Harus dipesan khusus dari pedagang laut. Dan pengolahannya butuh keahlian.”
Cakrawirya melipat tangan. “Jadi kita cari orang yang punya akses ke ikan buntal dan tahu cara mengolahnya.”
“Dan yang punya motif membunuh Ki Demang.” Sawitri menatap Wirapati. “Siapa saja yang diuntungkan dengan kematiannya?”
Wirapati mengerutkan kening. “Ki Demang Suryanegara adalah saudagar kaya. Beliau punya banyak utang piutang. Tapi putra tunggalnya sudah meninggal beberapa bulan lalu. Sekarang... pewarisnya adalah keponakannya, Raden Mas Dananjaya.”
Sawitri mengingat nama itu. “Dananjaya? Yang dituduh membunuh Raden Mas Danuarga?”
“Leres, Ndara. Tapi dia kabur sebelum sempat diadili.” Wirapati menghela napas. “Sekarang dia muncul lagi? Atau mungkin dia yang—”
“Belum tentu.” Sawitri memotong. “Dananjaya mungkin buronan, tapi apakah dia punya akses ke racun ikan buntal?”
Cakrawirya angkat bicara. “Aku akan perintahkan anak buahku menyelidiki siapa saja yang pernah membeli ikan buntal di pelabuhan. Dan siapa koki istana yang pulang beberapa hari terakhir.”
Jatmiko tersenyum. “Aku bisa bantu dari dalam istana. Aku kenal beberapa abdi dalem yang suka bergosip.”
Sawitri mengangguk. “Lakukan. Semakin cepat kita dapat petunjuk, semakin kecil kemungkinan pelaku kabur.”
Ia melangkah keluar ruangan. Di halaman, para pelayan masih berkumpul dengan wajah takut.
Sawitri berhenti. Menatap mereka satu per satu.
“Siapa yang terakhir kali melihat Ki Demang hidup?” tanyanya.
Seorang pria muda dengan pakaian pelayan mengangkat tangan ragu.
“Kulo, Ndara. Saya yang mengantar makan malam semalam.”
“Apa yang beliau makan?”
“Nasi, sayur lodeh, dan... dan sate ikan, Ndara. Beliau suka sekali sate ikan.”
Sawitri menatapnya tajam. “Sate ikan? Ikan apa?”
“Kulo tidak tahu, Ndara. Yang masak Mbok Ranti, juru masak pribadi Ki Demang.”
“Di mana Mbok Ranti sekarang?”
Pelayan itu menoleh ke sekeliling. “Kulo tidak melihat beliau sejak tadi pagi, Ndara.”
Sawitri berpaling ke Wirapati. “Cari Mbok Ranti. Sekarang.”
Pencarian Mbok Ranti tidak membuahkan hasil.
Rumahnya di belakang kediaman Ki Demang kosong. Perabotan masih rapi, tapi tidak ada tanda-tanda kepergian mendadak.
Namun di dapur, Sawitri menemukan sesuatu.
Di sudut rak bumbu, tersembunyi di balik gentong, ada sebuah cobek kecil berisi sisa pasta putih.
Sawitri mengambilnya. Mencium baunya.
Sama persis dengan sisa di jari Ki Demang.
“Ini racunnya.” Ia menyerahkan cobek itu pada Wirapati. “Bungkus hati-hati. Ini bukti.”
Cakrawirya memeriksa sekeliling. “Dia kabur. Atau...”
“Atau dia sudah tidak hidup.” Sawitri menatapnya. “Pelaku biasanya menyingkirkan saksi.”