NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Retak

Keheningan di gudang itu terasa lebih berat daripada teriakan tadi. Bau debu yang tadinya menyesakkan, kini bercampur dengan aroma amis darah dari buku jari Arka dan bau tajam keramik yang hancur. Laras masih terduduk di kursi lipat, menatap kakinya yang telanjang dan kotor. Ia merasa seperti baru saja ditelanjangi secara mental. Selama dua puluh tujuh tahun hidupnya, ia tidak pernah membiarkan siapa pun melihatnya sehancur ini apalagi seorang pria asing yang merupakan prototipe dari semua pria yang ia benci. "Kamu punya tisu?" suara Arka memecah kesunyian. Suaranya tidak lagi menggelegar, hanya terdengar lelah, seolah tenaganya sudah habis terbuang bersama guci yang ia hancurkan.

Laras tersentak, lalu merogoh tas kecilnya yang tergeletak di lantai. Ia mengeluarkan sebungkus tisu basah yang selalu ia bawa. Tanpa suara, ia menyodorkannya pada Arka.

Arka menerima tisu itu, jemarinya yang gemetar menyentuh jemari Laras sekejap. Dingin. Mereka berdua sama-sama kedinginan di tengah cuaca malam yang seharusnya hangat. Arka mulai menyeka darah di buku jarinya dengan kasar, seolah ingin menghapus bukti bahwa ia baru saja kehilangan kendali.

"Jangan terlalu keras," gumam Laras. "Nanti malah nggak berhenti darahnya."

Arka berhenti sejenak, menatap lukanya, lalu tertawa getir. "Luka begini nggak ada apa-apanya dibanding apa yang bakal terjadi kalau Ayah lihat guci ini pecah. Ini guci antik koleksi pemilik hotel. Ayah bakal bilang aku ceroboh, nggak becus menjaga emosi, nggak layak jadi pemimpin.

" Laras menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya. "Dan Ibuku bakal bilang aku perempuan nggak tahu malu karena duduk di gudang tanpa alas kaki dengan kebaya robek. Dia bakal bilang harga diriku sudah jatuh ke lantai."

Mereka saling pandang. Di bawah lampu neon yang berkedip, dua orang asing ini menyadari satu hal yang mengerikan: mereka tidak punya pilihan selain kembali ke luar sana. Ke dunia yang menuntut mereka untuk sempurna lagi. "Kita nggak bisa di sini selamanya," kata Arka sambil berdiri. Ia mencoba merapikan jas mahalnya, mengibas debu dari lengannya, meski noda kusam itu tetap membekas. "Orang tua kita pasti sudah mencari. Kalau mereka menemukan kita di sini, dalam kondisi seperti ini... urusannya bakal makin panjang."

Laras melihat ke arah pintu yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, musik masih mengalun. Tawa-tawa palsu masih berdenting. Ia merasa seperti seorang prajurit yang dipaksa kembali ke medan perang tanpa senjata.

"Sepatuku patah, Arka," Laras menunjuk sepatu hak tinggi merah marunnya yang mengenaskan di sudut ruangan. "Gimana aku bisa keluar kalau jalanku pincang?"

Arka terdiam, matanya menyisir gudang itu. Ia melihat sebuah kotak kardus berisi sandal jepit plastik yang biasanya digunakan oleh staf hotel untuk berwudhu atau ke toilet. Ia mengambil sepasang yang paling bersih.

"Pakai ini dulu," Arka menyodorkannya. "Tutupi pakai kain kebayamu yang panjang. Asal kamu nggak jalan terlalu cepat, nggak bakal ada yang sadar."

Laras menatap sandal jepit biru itu, lalu menatap Arka. Ada sesuatu yang ironis; seorang manajer sukses dan anak konglomerat harus berurusan dengan sandal jepit murah di gudang pengap. Ia memakainya. Rasanya jauh lebih nyaman daripada sepatu jutaan rupiah miliknya, meski terlihat menyedihkan.

"Kancing kebayamu..." Arka ragu-ragu sejenak, tangannya menunjuk ke arah punggung Laras yang terbuka karena jahitan yang robek tadi. "Sini, biar aku coba kaitkan sebisa mungkin. Setidaknya supaya nggak terlihat melorot."

Laras membelakangi Arka. Ia bisa merasakan hawa hangat dari tangan Arka saat pria itu dengan kaku mencoba menyatukan kain brokat yang koyak. Tidak ada gairah di sana, hanya ada solidaritas antara dua orang tawanan yang sedang merencanakan pelarian.

"Maaf," bisik Arka saat kulit jarinya yang kasar tidak sengaja menyentuh punggung Laras. "Tanganku kaku.""Nggak apa-apa. Cepatlah."

Setelah merasa cukup "rapi" untuk standar kegilaan malam itu, mereka berdiri di depan pintu. Arka memegang gagang pintu, tapi ia berhenti sejenak. Ia menatap Laras.

"Dengar," kata Arka, suaranya kembali ke nada formal yang dingin, topengnya mulai terpasang kembali. "Di luar sana, kita nggak kenal. Kita cuma dua orang yang nggak sengaja berpapasan di lorong. Jangan ceritakan apa pun soal guci itu, atau soal aku yang... gemetar tadi." Laras membalas tatapan itu dengan keberanian yang sama. Topeng sinisnya juga kembali naik. "Dan jangan berani-berani bahas soal aku yang nangis atau soal sandal jepit ini. Di mata dunia, aku tetap Laras yang sombong dan susah diatur. Mengerti?"

Arka mengangguk. Ia membuka pintu sedikit, memastikan lorong itu sepi. "Ayo. Kamu duluan. Aku bakal keluar lewat pintu samping dua menit lagi."

Laras melangkah keluar, menyeret sandal jepitnya di balik kain kebaya merah marun yang megah. Ia berjalan tegak, kepalanya diangkat tinggi-tinggi, senyum tipis yang palsu kembali terukir di wajahnya. Saat ia kembali masuk ke aula, ibunya langsung menyambar lengannya.

"Laras! Dari mana saja kamu? Pak Baskoro mencari-cari! Dan astaga, kenapa kebayamu kelihatan kusut begini? Kamu nggak habis melantai di tanah, kan?"

Laras hanya tersenyum, senyum yang paling manis dan paling kosong yang pernah ia buat. "Cuma cari angin sebentar, Bu. Lorongnya agak sempit." Beberapa menit kemudian, ia melihat Arka masuk dari arah yang berbeda. Pria itu kembali menjadi pusat perhatian, menyalami para jenderal dan pengusaha dengan wajah yang seolah tidak pernah tersentuh kesedihan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik saku jasnya, tangan Arka masih dibalut tisu yang mulai memerah oleh darah.

Mereka berdua berada di ruangan yang sama, dikelilingi oleh ratusan orang, namun hanya mereka berdua yang tahu bahwa di balik etalase kesempurnaan ini, ada luka yang baru saja menganga lebar. Laras berdiri di dekat meja prasmanan, berusaha terlihat sibuk dengan piring kecil berisi kue-kue manis yang sebenarnya tidak ingin ia makan.

Ia bisa merasakan tatapan Ibunya dari kejauhan, memantau setiap gerak-geriknya seperti elang. Sandal jepit biru di balik kebayanya terasa seperti bom waktu. Setiap kali ia bergeser, ia harus memastikan kain jariknya tidak tersingkap. Satu inci saja kain itu terangkat, maka tamatlah riwayatnya sebagai "putri terhormat" keluarga. "Laras! Kamu di sini rupanya."

Suara itu berat, percaya diri, dan membawa aroma parfum maskulin yang terlalu menyengat. Laras menegang. Itu Doni. Laki-laki yang menurut ayahnya adalah 'calon masa depan yang prospektif'. Doni adalah tipe pria yang merasa dunia berputar di sekitar telunjuknya hanya karena ia punya beberapa mobil mewah dan otot hasil gimnasium. "Hai, Don," jawab Laras singkat, tanpa menoleh.

"Kamu pucat sekali. Sakit? Atau jangan-jangan lelah karena terlalu banyak 'bersembunyi'?" Doni mendekat, senyumnya meremehkan. Mata Doni mulai memindai penampilan Laras, dari riasan wajahnya yang sedikit berantakan hingga ke bagian bawah kebayanya. "Jalanmu tadi pincang, Ras. Kenapa? Kebaya itu terlalu menyiksa, ya? Atau... ada sesuatu yang kamu sembunyikan di balik kain panjang ini?" Laras mencengkeram piringnya kuat-kuat. "Bukan urusanmu, Doni."

"Oh, tentu jadi urusanku kalau calon tunanganku terlihat seperti orang yang baru saja bergulat di gudang," Doni tertawa, tawanya terdengar kasar di telinga Laras. Sengaja, Doni menyenggol gelas minumannya hingga sedikit isinya tumpah ke arah kaki Laras. "Waduh, maaf! Sini, biar kubantu lap."

Doni merendahkan tubuhnya, pura-pura ingin menyeka tumpahan air itu, tapi Laras tahu itu hanya taktik agar Doni bisa melihat apa yang ada di bawah kain kebayanya. Jantung Laras berdegup kencang. Ia ingin mundur, tapi ia terjepit di antara meja dan tubuh Doni.

Tepat saat tangan Doni hampir menyentuh ujung kain jarik Laras, sebuah sepatu pantofel mengkilap menghalangi pandangannya.

"Pak Doni, saya rasa kita punya urusan yang belum selesai soal tender di pelabuhan pekan lalu."

Itu suara Arka. Dingin, datar, dan penuh otoritas. Arka berdiri di sana, menjulang di samping Doni. Wajahnya kembali kaku seperti beton, seolah ledakan emosi di gudang tadi hanyalah mimpi buruk yang sudah ia hapus dari memorinya.

Doni mendongak, wajahnya berubah kesal karena interupsinya gagal. "Arka? Kita bisa bicara nanti, kan? Saya lagi bantu Laras."

"Sekarang, Doni," Arka menekankan kata-katanya. Ia tidak menatap Laras, tapi posisinya berdiri sangat strategis ia menutupi seluruh celah di mana orang bisa melihat kaki Laras. "Ayah saya menanyakan datamu. Kalau kamu mau kerja sama ini lanjut, sebaiknya kita bicara di pojok sana. Sekarang."

Doni mendengus, merasa terintimidasi oleh aura "Pria Baja" yang dipancarkan Arka. "Oke, oke. Galak sekali kamu malam ini, Ka."

Doni berdiri dan berjalan menjauh mengikuti isyarat tangan Arka. Sebelum benar-benar pergi, Arka menoleh sedikit ke arah Laras sangat tipis, hampir tidak terlihat oleh orang lain. Matanya tidak bicara soal cinta, tapi bicara soal peringatan .

Cepat pergi dari sini sebelum ada orang lain yang melihat. Laras menarik napas lega setelah mereka menjauh. Ia melihat punggung Arka yang tegak sempurna. Di bawah lampu kristal, pria itu tampak seperti pahlawan tanpa celah. Tapi Laras tahu, di bawah jas itu, punggung Arka penuh keringat dingin dan di saku jasnya ada tisu berdarah.

Pesta itu akhirnya mulai berakhir. Saat mobil-mobil mewah mulai berderet di lobi, Laras harus berdiri di samping orang tuanya untuk berpamitan dengan keluarga Arka.

"Terima kasih sudah datang, Pak Baskoro," ujar Ayah Laras sambil menyalami Ayah Arka. "Semoga anak-anak kita bisa lebih sering bertemu setelah ini."

Laras berdiri mematung. Di depannya, Arka berdiri di samping ayahnya. Mereka saling berhadapan dalam jarak satu meter. Untuk dunia, mereka adalah dua orang asing yang baru diperkenalkan.

"Senang bertemu denganmu, Laras," kata Arka, suaranya kembali formal, tangannya terulur untuk bersalaman. Laras menyambut tangan itu. Ia bisa merasakan tekstur kasar dari buku jari Arka yang terluka di bawah kulitnya. Ia menggenggamnya sekejap sebuah sandi rahasia bahwa mereka berdua selamat malam ini.

"Senang bertemu denganmu juga, Arka," jawab Laras datar.

Saat mobil keluarga Laras melaju meninggalkan hotel, ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Ia melepas sandal jepit birunya dan membiarkan kaki lecetnya menyentuh karpet mobil yang lembut. Di dalam kegelapan, ia melihat siluet gedung hotel yang makin mengecil.

Malam ini, satu rahasia besar telah terkubur di gudang pengap itu. Mereka tidak berteman, mereka tidak jatuh cinta. Mereka hanya dua orang tawanan yang baru saja menyadari bahwa penjara mereka memiliki tembok yang sama.

Dan perang yang sebenarnya, baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!