Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04| Seorang Iblis
Ara membasuh wajah lelahnya di toilet kantor, ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan dua menit lagi waktunya jam istirahat.
Ara mengelap wajah basahnya dan menatap dirinya di cermin toilet. Lalu ada dua karyawan dari divisi keuangan memasuki toilet.
“Hai Ara,” sapa mereka dengan senyuman.
“Hai juga,” balas Ara yang juga ikut tersenyum.
“Kau tahu tadi aku melihat tuan Jason membawa kekasihnya ke dalam ruangannya,” ujar salah satu dari mereka membuat Ara yang hendak memoleskan lip cream di bibirnya yang terlihat pucat terhenti.
Ara terdiam dan mendengarkan percakapan yang berlangsung di antara mereka berdua yang tengah memoleskan make up.
“Benarkah?” tanya yang satunya.
“Benar, bahkan sampai sekarang wanita itu belum keluar dari ruangan tuan Jason,” jawabnya membuat Ara ingin menangis, ia langsung menyelesaikan urusannya di dalam toilet.
Lalu ia berpamitan keluar terlebih dahulu. Ara melangkah ke arah lift dan menekan tombol di mana ruangan Jason berada, ia sangat gelisah dengan apa yang di dengarnya.
“Tuan Jason-nya ada?” tanya Ara kepada sekretaris Jason.
Sekretaris Jason mengernyit bingung menatap kehadiran Ara yang tiba-tiba.
“Ada, memangnya kau ada perlu apa?” tanyanya membuat Ara terdiam.
“Ada masalah yang sangat penting dan ini harus cepat ku beritahu kepadanya,” jelas Ara yang membuatnya sedikit ragu, tapi sekretaris Jason melangkah ke arah pintu ruangan Jason dan mengatakan kalau ada yang ingin menemuinya.
“Kau di suruh masuk!” serunya dengan nada kesal.
Ara langsung masuk ke dalam dan Ara mematung di tempatnya, ia melihat suaminya sedang berciuman dengan wanita yang di bawanya tadi.
Jason melirik ke arah Ara dan menghentikan cumbuannya. Ia menyuruh wanita itu untuk memberinya ruang berbicara berdua dengan Ara.
“Nanti aku akan ke apartemenmu, Heori sayang. Kau tidak perlu bersedih,” ucap lembut Jason menyayat hati Ara yang masih terdiam dan tak bergerak sama sekali.
Heori keluar dari ruangan Jason dan menatap kesal ke arah yang sudah mengganggunya.
“Ada perlu apa kau ingin menemuiku?” tanya Jason dengan suara dinginya, sangat berbeda saat berbicara dengannya dan wanita tadi.
Ara melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat menuju ke arah Jason yang di kursi kebesarannya.
Ara berdiri di samping Jason dan langsung menampar pipinya, Jason memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Ara dan pria langsung bangkit dari duduknya.
“Kau! Berani sekali tangan kotormu itu menamparku!” bentak Jason sambil memegang bahu Ara sangat erat dan kasar membuat sang istri meringis.
Tangan Jason seperti ingin menghancurkan tulang bahunya, Ara ingin menangis, tapi ia menahan sakitnya itu.
“Aku istrimu! Tak seharusnya kamu bersikap seperti itu kepada wanita yang bukan istrimu!” teriak Ara di depan wajah Jason dan membuat pria itu memejamkan matanya.
Jason menatapnya sangat dingin, membuat Ara sedikit merinding, ini kali pertamanya ia di tatap seperti itu.
“Dengarkan aku baik-baik! Kau hanya berstatus sebagai istriku, tapi kau tidak boleh mengurusi kehidupanku! Mau aku bersikap seperti apapun, itu terserahku! Kau tidak boleh protes! Ingat, kau hanya orang miskin yang di pungut oleh Ayahku, jadi jangan pernah berani melakukan hal yang barusan kepadaku! Atau kau akan sangat menderita dan tak akan pernah melupakan penderitaan itu!” ancam Jason sambil mendorong keras Ara, sehingga Ara terjatuh di lantai.
“Sekarang kau keluar dari ruanganku!” usir Jason yang membuat Ara langsung berdiri dan keluar dari ruangannya. Ara berjalan cepat sambil berusaha menghalau air mata yang hampir jatuh.
Ara melangkah cepat keluar dari gedung kantornya, ia memilih berada di taman belakang kantor yang memang jarang terdapat karyawan di sana. Tempat yang cocok untuknya menumpahkan segala emosinya.
Ara mulai menangis di sana, ia menangis begitu kencang. Ara yakin tidak akan ada yang melihatnya di sana. Ara merasakan seseorang mengusap punggungnya yang bergetar, Ara mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Marten, teman Jason.
“Kenapa kau menangis di sini?” tanya lembut Marten yang duduk di samping Ara.
“A—ku hanya kelilipan,” bohong Ara membuat Marten tertawa kencang.
“Kenapa kau tertawa seperti itu?” tanya heran Ara membuat Marten menghentikan tawanya dan menatapnya sambil tersenyum lembut kepadanya.
“Kau sangat lucu! Bagaimana mungkin orang kelilipan sampai seperti itu? Kamu tidak perlu berbohong kepadaku,” ujar Marten membuat Ara terdiam.
Tangan Marten terulur untuk mengusap pelan puncak kepalanya, Ara terdiam saat merasakan begitu lembutnya sikap Marten kepadanya.
“Kau bertengkar dengan Jason ya?” tebak Marten yang tidak di jawab oleh Ara. lelaki itu hanya tersenyum, karena ia sangat hafal dengan sifat Jason.
“Kau harus bersabar, sifatnya memang brengsek. Tapi, aku sangat yakin kau bisa membuatnya jatuh cinta kepadamu dan hanya kau lah orang yang tepat untuknya,” jelas Marten sambil menatap Ara yang masih terdiam.
Ara tidak tahu apa yang di katakan oleh Marten itu benar atau tidak.
“Aku tidak yakin,” lirih Ara membuat Marten menghela napas dengan kasar.
“Apakah kau melihat Jasob bersama Heori?” tanya Marten membuat Ara terkejut.
Marten yang melihat respon Ara, langsung mengerti dan menggelengkan kepalanya.
“Ternyata dia masih berhubungan dengan Heori,” gumam Marten.
“Maksudmu?” Ara mengernyitkan dahinya bingung.
“Heori adalah kekasih Jason, hubungan mereka baru berjalan satu bulan. Entahlah, aku juga tidak paham kenapa Jason bisa menerimanya sebagai kekasih, padahal selama ini dia tidak pernah mau berdekatan atau pun dengan wanita terlalu lama. Tapi, yang aku dengan Heori tidak berhenti mendekatinya dan akhirnya Jason pun menerimanya,” jelas Marten.
Ara cukup terkejut mendengarnya. Ara memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Marten.
“Apakah kau yakin sia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain?” tanya Ara membuat Marten tersenyum.
Marten menepuk pelan pundaknya dan berbisik di telinganya.
“Apakah kau sangat ingin mengetahuinya?” bisik Marten yang membuat Ara sedikit jengkel kepadanya.
“Kau sangat lucu dan cantik kalau sedang marah begini,” goda Marten yang membuat Ara langsung mencubit lengan kekarnya.
Ara tertawa kecil melihat Marten kesakitan, akibat ulahnya.
“Sudahlah! Kalau kau tak ingin memberitahuku, aku pergi saja!” kesal Ara yang bangkit dari duduknya berniat untuk pergi dari situ.
Marten langsung menahan lengannya membuat Ara kembali duduk di bangku taman.
“Kau ini sangat serius, tapi aku begitu senang sudah membuatmu kembali tertawa dan wajah cantikmu tidak hilang lagi,” ujar Marten membuat Ara semakin jengkel.
“Kau sangat pintar dalam hal menggoda tuan Park!” kata Ara dengan senyum sinisnya.
Namun Ara merasa cukup lega, karena Marten sudah berhasil membuatnya kembali terhibur, ia sangat berterimakasih kepada Marten.
“Terima kasih sudah menghiburku, Marten” ucap tulus Ara.
“Kalau kau ingin bercerita, ada aku yang akan selalu siap untuk menjadi pendengar ceritamu,” ucap tulus Marten membuat hati Ara begitu tenang.
“Hm, wanita murahan!” gumam seseorang yang memperhatikan Ara dengan Marten dari tadi.
Bersambung...