Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Jejak Kepemilikan dan Sangkar Kaca
Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan sentakan pelan di area parkir bawah tanah apartemen mewah. Mesin mobil dimatikan, namun ketegangan di dalam kabin penumpang belakang sama sekali tidak mereda. Udara terasa begitu tebal dan panas, dipenuhi oleh deru napas yang saling memburu.
Gilang melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan. Dada pria itu naik turun dengan cepat, menempel erat pada dada Nadin. Mata hitam Gilang yang biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini sepenuhnya digelapkan oleh kabut gairah dan amarah yang belum padam. Pria itu menatap bibir Nadin yang membengkak kemerahan akibat ciuman brutalnya, lalu pandangannya naik menatap mata Nadin yang berkaca-kaca karena kekurangan oksigen.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gilang mundur dan membuka pintu mobil. Dia keluar lebih dulu, lalu menarik tangan Nadin dengan gerakan yang tidak menerima penolakan.
Nadin terpaksa melangkah keluar dengan terburu-buru. Sepatu hak tingginya nyaris membuatnya tersandung di atas lantai beton area parkir, namun cengkeraman tangan Gilang di pinggangnya menahannya agar tidak jatuh. Gilang setengah menyeret Nadin menuju lift pribadi yang langsung mengarah ke lantai teratas.
Di dalam kotak besi yang melesat naik dengan kecepatan tinggi itu, keheningan terasa sangat menyiksa. Nadin menyandarkan punggungnya ke dinding lift yang dingin. Dia menundukkan kepala, tidak berani menatap pantulan Gilang di pintu lift yang terbuat dari baja mengkilap. Nadin bisa merasakan tatapan Gilang terus mengulitinya, memperhatikan setiap inci tubuhnya yang dibalut gaun sutra merah darah.
Pintu lift terbuka. Gilang langsung menarik Nadin keluar, melangkah lebar melewati ruang tengah penthouse yang gelap, dan langsung menuju kamar utama.
Begitu mereka masuk ke dalam kamar, Gilang menendang pintu di belakangnya hingga tertutup rapat dengan suara debuman yang sangat keras. Suara itu membuat Nadin tersentak kaget. Sebelum Nadin sempat mengatur napasnya, Gilang sudah mendorong tubuhnya hingga punggung Nadin menabrak dinding dingin di dekat pintu lemari pakaian.
"Gilang, hentikan. Anda menyakiti saya," protes Nadin dengan suara bergetar. Tangannya berusaha mendorong dada bidang pria itu menjauh.
"Menyakitimu?" geram Gilang dengan suara parau yang sangat rendah. Pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Nadin dengan satu tangannya dan menahannya di atas kepala Nadin. "Aku sedang membersihkanmu, Nadin. Pria bajingan itu menatap punggungmu seolah dia bisa menelanjangimu di tengah ballroom. Aku sangat membencinya."
Tangan kiri Gilang yang bebas turun menyentuh bahu Nadin. Jari-jari pria itu mencengkeram tali tipis gaun merah yang Nadin pakai. Dengan satu tarikan kasar yang dipenuhi tenaga, tali gaun sutra itu putus. Bunyi kain robek terdengar sangat nyaring di dalam kamar yang hening.
Gaun merah darah seharga ratusan juta yang membalut tubuh Nadin seketika merosot jatuh ke lantai marmer, menumpuk di sekitar pergelangan kaki Nadin bagaikan genangan darah. Kini Nadin hanya mengenakan pakaian dalam berwarna hitam, kalung berlian raksasa di lehernya, dan cincin ruby yang melingkar di jari manisnya.
Kontras antara kulit putih Nadin, perhiasan bernilai triliunan rupiah yang menyilaukan, dan pakaian dalam hitam yang minim membuat kewarasan Gilang benar-benar putus. Di mata Gilang, Nadin terlihat seperti dewi kehancuran yang diciptakan khusus untuk meruntuhkan seluruh kendali dirinya.
"Hanya aku yang boleh melihatmu seperti ini," bisik Gilang dengan napas terengah di depan bibir Nadin. "Hanya aku."
Gilang menundukkan kepalanya, kembali meraup bibir Nadin dengan ciuman yang memabukkan. Kali ini, tidak ada lagi ruang untuk protes. Ciuman Gilang menuntut balasan. Pria itu melepaskan pergelangan tangan Nadin, membiarkan tangan wanita itu bebas. Insting bertahan hidup Nadin perlahan terkalahkan oleh gelombang sensasi fisik yang diciptakan oleh sentuhan Gilang. Kedua tangan Nadin perlahan merambat naik, mengalung di leher pria itu, meremas rambut hitam Gilang yang sudah berantakan.
Gilang menyelipkan lengannya di bawah lutut Nadin, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, lalu membawanya menuju ranjang raksasa di tengah ruangan. Gilang merebahkan Nadin di atas seprai sutra abu-abu yang dingin, disusul oleh tubuh besarnya yang langsung menindih mengurung Nadin.
Pria itu membuang kemeja putihnya sendiri ke lantai dengan tidak sabar. Dada keras Gilang yang berotot dan panas bersentuhan langsung dengan kulit Nadin. Sentuhan itu terasa membakar, menciptakan aliran listrik yang menjalar ke setiap saraf di tubuh Nadin.
Hukuman malam itu dieksekusi dengan intensitas yang sangat menakutkan sekaligus memabukkan. Gilang tidak membiarkan Nadin beristirahat sedetik pun. Setiap kali Nadin memejamkan mata, Gilang akan memberikan gigitan pelan di tulang selangka atau rahangnya, memaksa wanita itu untuk terus menatap matanya.
"Katakan siapa pemilikmu," tuntut Gilang di sela-sela napas mereka yang memburu liar. Keringat membasahi dahi pria itu, menetes jatuh mengenai pipi Nadin.
Nadin menggelengkan kepalanya, air mata frustrasi mengalir dari sudut matanya. Dia tidak ingin mengatakannya. Dia tidak ingin mengakui kekalahan mutlak ini.
"Katakan, Nadin," desak Gilang lebih keras, memperdalam sentuhannya hingga Nadin melengkungkan punggungnya dan mengeluarkan erangan panjang yang tidak bisa dia tahan.
"Anda," isak Nadin akhirnya, suaranya pecah berkeping-keping di udara. "Anda pemilik saya, Gilang."
Mendengar pengakuan itu, Gilang menggeram puas. Pria itu menyatukan bibir mereka kembali, menelan habis semua isakan dan rintihan Nadin. Di bawah bayang-bayang malam dan kemewahan penthouse tersebut, Nadin kembali ditarik jatuh ke dalam pusaran gairah yang kelam, di mana ego dan harga dirinya dilebur menjadi satu dengan keringat dan keputusasaan, hingga akhirnya kesadarannya benar-benar memudar ditelan kelelahan yang luar biasa.
Cahaya matahari pagi terasa sangat menusuk saat menembus kelopak mata Nadin.
Nadin terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri dan tubuh yang terasa seolah baru saja dilindas oleh truk bertonase besar. Seluruh ototnya berteriak memprotes setiap kali dia mencoba bergerak. Dia membuka matanya perlahan, mengedipkan pandangannya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.
Nadin menyadari bahwa dia sendirian di atas ranjang. Selimut tebal berwarna putih telah menutupi tubuhnya hingga sebatas dada. Tangan kanannya terulur untuk mengusap pelipisnya yang pusing. Saat tangannya bergerak, kilauan cahaya merah memantul dan menyilaukan matanya.
Cincin ruby seharga tiga puluh miliar itu masih melingkar erat di jari manisnya. Bahkan, kalung berlian raksasa itu juga masih menempel di lehernya. Gilang sama sekali tidak melepaskan perhiasan itu darinya semalaman. Sensasi logam dingin yang terus menempel di kulitnya itu membuat dada Nadin terasa sesak.
Nadin memaksakan diri untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Dia menoleh ke arah ruang ganti. Pintu ruang ganti itu terbuka. Gilang Mahendra melangkah keluar dari sana, sudah berpakaian sangat rapi dengan setelan jas biru gelap yang mewah. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, wajahnya terlihat segar dan tanpa dosa, seolah pria ini bukanlah monster yang sama yang telah menghancurkan kewarasan Nadin semalaman penuh.
Gilang berjalan mendekati ranjang sambil mengancingkan jasnya. Mata hitam pria itu menatap Nadin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau sudah bangun," sapa Gilang dengan nada suara yang sangat tenang dan datar.
Nadin tidak membalas sapaan itu. Dia menarik selimutnya lebih erat, berusaha menutupi jejak-jejak kemerahan yang memenuhi leher dan bahunya. Dia menatap Gilang dengan sorot mata lelah.
"Saya akan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit sekarang," ucap Nadin dengan suara serak dan kering. Dia berniat menyingkap selimutnya, namun langkah Gilang menghentikannya.
Gilang berdiri tepat di sisi ranjang. "Kau tidak akan pergi ke rumah sakit hari ini."
Gerakan Nadin terhenti seketika. Dia mendongak, menatap wajah pria itu dengan kepanikan yang mulai merayap naik ke tenggorokannya. "Apa maksud Anda? Ini sudah jadwal rutin saya. Arya membutuhkan saya di sana."
"Adikmu dikelilingi oleh belasan perawat dan dokter spesialis terbaik di negara ini. Dia tidak membutuhkanmu untuk duduk mematung di samping ranjangnya," potong Gilang dingin. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Selain itu, aku tidak ingin dokter muda itu melihat wajahmu hari ini. Dia perlu belajar bahwa apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah bisa dia lihat lagi sesuka hatinya."
"Anda menghukum Arya karena kecemburuan Anda yang tidak berdasar?" Nadin meninggikan suaranya, melupakan rasa takutnya demi adiknya. "Dokter Adrian hanya melakukan pekerjaannya!"
"Aku tidak menghukum adikmu. Perawatannya tetap berjalan seperti biasa," jawab Gilang tenang, sama sekali tidak terpancing oleh kemarahan Nadin. "Aku hanya menghukummu. Mulai hari ini, jadwalmu berubah."
"Berubah bagaimana?" tanya Nadin curiga.
"Bangun, mandi, dan pakai pakaian kerja yang pantas. Kau punya waktu tiga puluh menit," perintah Gilang tanpa basa-basi. "Hari ini kau akan ikut aku ke kantor. Ke markas besar Mahendra Corp."
Mata Nadin membelalak lebar. Dia menatap Gilang seolah pria itu baru saja berbicara menggunakan bahasa alien. "Ke kantor Anda? Untuk apa? Saya adalah wanita simpanan Anda, Gilang. Jika saya muncul di kantor Anda, seluruh karyawan Anda akan bergosip. Reputasi perusahaan Anda bisa hancur."
Gilang tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat arogan. "Tidak ada satu pun karyawan di perusahaanku yang berani bergosip tentang diriku jika mereka masih ingin melihat matahari terbit besok pagi. Reputasiku tidak dibangun di atas opini orang-orang rendahan, Nadin."
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas kasur di sisi tubuh Nadin.
"Bastian Wirawan baru saja mengajukan revisi proposal desain yang sangat agresif untuk merebut proyek Menara Selatan dari tanganku pagi ini," jelas Gilang, nada suaranya berubah menjadi sangat serius dan mematikan. "Dia sengaja memancing emosiku. Dan aku tidak berniat membiarkan bajingan itu menang. Kau sudah memperbaiki cetak biru awalku kemarin. Sekarang, aku membutuhkan otak arsitekmu untuk menghancurkan proposal Bastian secara langsung di ruang rapat dewan direksi siang ini."
Nadin terdiam kaku. Dia akhirnya memahami niat Gilang. Pria ini tidak hanya puas memamerkannya di acara sosialita. Gilang berniat membawanya masuk ke dalam arena pertarungan yang sesungguhnya. Gilang ingin menggunakan kecerdasan Nadin sebagai senjata, sekaligus menunjukkan kepada dunia bisnis bahwa wanita yang diincar oleh Bastian Wirawan kini berdiri tunduk di pihak Mahendra Corp.
"Tiga puluh menit, Nadin," ulang Gilang dengan suara rendah sebelum pria itu menegakkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Nadin tidak punya pilihan. Dengan sisa tenaga yang ada, dia beranjak dari ranjang, mandi dengan cepat, dan memilih pakaian dari dalam lemari raksasa itu. Dia memilih setelan kerja berupa kemeja sutra putih berlengan panjang yang dikancingkan hingga ke leher untuk menutupi jejak-jejak Gilang, dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan lebar dan sepatu hak tinggi hitam. Dia memoles wajahnya dengan riasan tipis sekadar untuk menutupi wajah pucatnya.
Cincin ruby di jarinya dan kalung berlian di lehernya tidak dia lepaskan. Gilang pasti akan marah besar jika dia berani melepas tanda kepemilikan tersebut.
Empat puluh menit kemudian, mobil Maybach hitam itu tiba di pelataran sebuah gedung pencakar langit raksasa yang seluruh fasadnya terbuat dari kaca gelap. Di bagian puncak gedung, terpasang logo Mahendra Corp yang terlihat sangat megah dan mengintimidasi. Ini adalah jantung dari kerajaan bisnis Gilang Mahendra.
Dimas membukakan pintu mobil. Gilang turun lebih dulu, merapikan jasnya, lalu menunggu Nadin keluar. Saat Nadin berdiri di sampingnya, Gilang tidak merangkul pinggang wanita itu seperti semalam. Di dunia profesional ini, Gilang berjalan selangkah di depan, memancarkan aura seorang raja yang tidak tersentuh. Nadin berjalan di belakangnya, didampingi oleh Dimas.
Begitu pintu kaca otomatis lobi utama terbuka, suasana yang tadinya sibuk seketika berubah menjadi sunyi senyap. Ratusan karyawan yang sedang berlalu lalang menghentikan langkah mereka. Mereka menundukkan kepala dengan penuh hormat saat Gilang melangkah melewati lobi. Tidak ada yang berani berbisik, tidak ada yang berani menatap langsung ke arah mata sang CEO.
Namun, Nadin bisa merasakan ribuan tatapan mata mencuri pandang ke arahnya dari sudut-sudut ruangan. Mereka pasti bertanya-tanya siapa wanita yang berani berjalan tepat di belakang sang manusia es yang tidak pernah menolerir kehadiran orang asing di kantornya ini. Tatapan penasaran itu membuat Nadin merasa seperti sedang berjalan telanjang di tengah keramaian.
Mereka masuk ke dalam lift khusus direksi yang berdinding kaca transparan. Lift melesat naik hingga ke lantai enam puluh, lantai tertinggi di gedung tersebut yang diperuntukkan khusus bagi jajaran eksekutif puncak.
Pintu lift terbuka. Lorong di lantai ini dilapisi oleh marmer putih bersih dan dijaga oleh beberapa petugas keamanan berjas hitam. Gilang berjalan melewati deretan meja asisten yang langsung berdiri menunduk hormat, lalu pria itu mendorong pintu ganda ruang kerjanya yang luar biasa luas.
Ruang kerja CEO itu lebih besar dari seluruh luas apartemen Nadin sebelumnya. Dinding kacanya memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari atas awan. Di tengah ruangan terdapat meja kerja kayu eboni yang sangat besar, dan di sisi kanan terdapat sebuah meja gambar arsitektur yang persis sama dengan yang ada di penthouse.
"Meja itu milikmu mulai sekarang," ucap Gilang sambil menunjuk meja gambar tersebut dengan dagunya. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya sendiri dan meletakkan tas kerjanya. "Dimas akan membawakan semua salinan proposal milik Wirawan Group dalam waktu sepuluh menit. Pelajari kelemahan struktur bangunan mereka. Cari celah di mana anggaran mereka akan membengkak. Aku ingin presentasi lengkap darimu pada pukul dua siang nanti."
Nadin berdiri di tengah ruangan yang dingin itu. Dia menatap meja gambar di sudut sana, lalu menatap Gilang yang sudah duduk di kursi kebesarannya, langsung sibuk membaca dokumen tanpa memedulikan Nadin lagi.
Rantai yang mengikat Nadin kini telah berubah bentuk. Gilang tidak lagi hanya mengurungnya di dalam kamar tidur. Sang predator ini telah membangunkan sebuah sangkar kaca yang jauh lebih besar dan transparan di puncak menara ini. Nadin kini terjebak dalam jaring obsesi Gilang yang paling dalam, tidak hanya sebagai objek pelampiasan nafsu, tetapi juga sebagai pion utama dalam permainan kekuasaan pria itu yang tidak mengenal belas kasihan.
(Mungkin disini banyak yang tidak suka sikap Gilang, tapi Author meluruskan sikapnya sesua judul novel ini)