Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Desa Ghoib
"Buka bajumu!" perintah Kalandra pada Edwin.
"Aku? Buka baju?" Tanya Edwin dengan bingung meskipun ia mengerti arah tujuan Kalandra.
"Iya! Cepet, ini darurat." Perintah Kalandra.
Edwin pun segera melepas jaket dan bajunya hingga ia kini bertelanjang dada. Sementara Kalandra melepas jaket tipis yang di gunakan oleh gadis itu dan menyingsing kaos si gadis hingga ke bagian bawah dada. Ia juga menyingsingkan lengan kaos si gadis sependek mungkin.
"Kamu peluk dia, Win. Setelah itu aku balut kalian dengan emergency blanket supaya suhu tubuhnya bisa kembali stabil." Kata Kalandra.
"Iya, Bang." Jawab Edwin yang segera menjalankan apa yang diinstruksikan oleh Kalandra.
Setelah membalut tubuh Edwin dan gadis yang ada di dalam pelukan Edwin dengan menggunakan dua buah emergency blanket, Kalandra kembali memonitor rekan - rekan yang sedang dalam perjalanan untuk menyusulnya.
"Win, kamu tunggu di sini. Tunggu rekan - rekan yang lain datang menjemput. Pertahankan posisi seperti itu, ya." Kata Kalandra sembari mengemas tasnya.
"Iya, Bang. Abang mau kemana?" Tanya Edwin.
"Aku mau mencari temannya yang katanya masuk ke dalam sana." Jawab Kalandra sambil menunjuk hutan lebat yang di maksud oleh si Gadis.
"sendirian, Bang?" Tanya Edwin.
"Iya, mudah - mudahan belum terlambat." Jawab Kalandra.
"Sepuluh menit lagi mereka semua sampai. tiup peluit untuk memberitahukan tempatmu." pesan Kalandra yang di jawab anggukan mengerti oleh Edwin.
"Bang, hati - hati. Kami akan menunggu di sini." Kata Edwin yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
"Oh iya, kalau sampai matahari terbenam nanti aku belum balik, kalian harus turun." Kata Kalandra.
"Terus, Bang Kal gimana?" Tanya Edwin.
"Tenang aja, aku pasti nyusul turun." Jawab Kalandra.
Dengan langkah pasti dan tanpa rasa takut, pria itu masuk ke dalam hutan yang lebih lebat lagi. Berbekal golok di tangan, ia menebas setiap ranting yang menghalangi jalan. Ia terus melangkah, tubuhnya seolah tertarik ke suatu tempat yang membuat langkahnya tak mau berhenti.
Setelah lima belas menit menyusuri Hutan, Kalandra pun menghentikan langkahnya. Ia cukup terkejut kala melihat suasana Hutan yang sangat kontras. Ia yakin jika waktu senja yang menemaninya tadi karena suasana hutan yang mulai gelap akibat cahaya matahari yang tak mampu menerobos masuk. Tapi ini?
"Kenapa bisa seterang ini?" Batin Kalandra sambil mengamati sekitarnya.
"Apa ini desa ghoib yang ada di Gunung ini?" Lirih Kalandra saat mengingat urban legend yang di percaya oleh warga sekitar kaki gunung.
Sayup - sayup ia mulai mendengar suara orang - orang yang terdengar riuh. Kalandra pun berusaha mendatangi sumber suara yang ia dengar. tak begitu jauh melangkah, ia pun keluar dari hutan dan di hadapkan dengan pasar yang nampak sangat ramai.
Orang - orang di sana memakai pakaian khas zaman kuno yang sering kali di gambarkan dalam cerita, buku dan film. Kalandra terdiam sesaat. Ya, dia yakin jika sekarang dia berada di dimensi lain.
Ada rasa takut yang perlahan menguasai hati. Namun, ia berusaha untuk menghalau. Ada nyawa yang harus segera ia selamatkan. Dengan niat yang tulus, Kalandra mulai memantapkan hatinya.
"Ya Allah, tolong mudahkan jalanku untuk menyelamatkan korban dan membawanya kembali ke keluarganya. Lindungilah aku dan dia dari segala macam mara bahaya dan gangguan yang menyesatkan, ya Allah." Doa Kalandra.
Setelah berdoa, dengan mantap ia mulai berbaur di dalam pasar itu. Penampilannya yang mencolok, tentu menarik perhatian warga sekitar. Banyak warga yang memandangnya dengan tatapan aneh. Namun Kalandra, berusaha untuk biasa saja. Ia akan mengangguk ramah saat netranya tak sengaja bertemu pandang dengan warga desa ghoib itu.
Netra Kalandra kemudian tertuju pada seorang gadis berhijab yang menggunakan jaket berwarna marun. Gadis itu nampak bingung dan duduk sendirian di depan bekas warung yang sudah tutup. Kalandra segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri gadis itu.
"Assalamualaikum." Sapa Kalandra yang membuat gadis itu terjingkat karena kaget.
"Astaghfirullah!" Serunya sambil mengusap dada.
"Wa- Waalaikumsalam." Jawabnya dengan terbata - bata.
Anehnya, tatapan gadis itu bukanlah ke arah Kalandra, melainkan di belakang tubuh pria tampan itu. Gadis itu seperti sedang melihat sesuatu yang ada di belakang Kalandra. Ia bahkan sampai mendongak kala melihat itu.
"Hey! Hey! Kamu kenapa?" Tanya Kalandra sambil melambai - lambaikan tangannya di dekat wajah si Gadis.
"I-itu, anu. Itu siapa?" Tanyanya sambil menunjuk ke belakang dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Siapa? Gak ada siapa - siapa." Jawab Kalandra sambil menoleh kebelakang. Memang tak ada siapa - siapa di belakangnya saat ini.
"Itu, Laki - laki tinggi besar dengan memakai pakaian khas kerajaan. Di pundaknya bertengger burung Rangkong yang besar." Kata si Gadis yang tak mengalihkan pandangannya dari balik tubuh Kalandra.
Deegh!
Jantung Kalandra berdebar kala mendengar ucapan si Gadis. Hari ini, sudah dua orang yang bicara seperti itu padanya. Tak hanya gadis di hadapannya saat ini, Pemimpin Operasi SAR pun mengatakan hal yang demikian.
"Kalian gak akan ngambil aku, kan? Tolong jangan bawa aku." Kata Gadis itu dengan wajah ketakutan.
"Hey, istighfar - istighfar." Kata Kalandra sambil menepuk pelan pipi gadis di hadapannya.
"Tolong jangan bawa aku, aku cuma mau pulang." Lirihnya dengan suara bergetar.
"Jangan takut, Oke. Aku akan mengantarmu pulang." Kata Kalandra sambil menangkup wajah gadis di hadapannya agar bisa fokus memandang ke arahnya.
Jantung Kalandra tiba - tiba berdegub semakin kencang kala mata mereka saling bertemu pandang beberapa detik. Ada perasaan aneh yang tiba - tiba menyusup di hatinya kala mata bulat yang di naungi dengan bulu mata yang panjang dan lentik itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Astaghfirullah." Lirih Kalandra sambil melepaskan tangannya yang menangkup wajah gadis cantik itu.
"Kamu dari Universitas W?" Tanya Kalandra yang di jawab anggukan oleh si Gadis.
"Ayo, aku antar kamu pulang." Ajak Kalandra kemudian.
"Kamu siapa?" Tanyanya.
Kalandra pun menunjukkan name tag yang menandakan jika dia adalah anggota SAR. Gadis itu pun mengamati name tag yang di tunjukan oleh Kalandra.
"Ini beneran?" Tanyanya dengan tatapan penuh harap.
"Iya. Ayo kita pulang." Ajak Kalandra.
"Alhamdulillah." Ucapnya. Wajahnya menunjukkan senyuman bahagia dan kelegaan.
"Terima kasih karena sudah datang menolongku, Bang." Kata gadis yang berjalan sedikit di belakang Kalandra.
"Iya. Kita harus segera keluar dari sini." Kata Kalandra. Entah mengapa, hatinya mengatakan untuk berjalan lebih cepat lagi.
Setengah berlari, gadis itu mengikuti langkah lebar Kalandra. Dengan tenaga yang sudah terkuras, ia merasa kesulitan saat harus mengimbangi langkah besar pria tegap di depannya.
"Bang, tunggu, Bang." Kata si Gadis yang membuat langkah Kal terhenti.
"Bang, aku gak mampu mengimbangi langkah Abang. Aku capek banget." Katanya dengan nafas yang tersengal - sengal.
Kalandra pun mmberbalik dan menghampiri gadis yang berjongkok beberapa langkah di belakangnya. Ia kemudian memberikan air minum pada gadis itu.
"Minum dulu." Kata Kalandra yang ikut berjongkok di samping si Gadis.
Gadis itu pun menenggak air minum pemberian Kalandra hingga tandas karena kehausan.
"Siapa namamu?" Tanya Kalandra.
"Naina, Bang." Jawabnya.
"Kita harus segera keluar dari sini. Kita istirahat nanti, setelah keluar dari sini. Bertahan sebentar lagi ya, Nai." Pinta Kalandra.
"Ayo." Ajak Kalandra yang sudah kembali berdiri. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Naina.
Naina segera menyambut tangan Kalandra dan berdiri. Ia tentu tak akan menyia - nyiakan pertolongan dari Kalandra.
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk