NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Setelah Felix pergi, meninggalkan Arif dan Gea yang masih berdiri memperhatikan Zyan, pegawai bengkel yang sedang memperbaiki mobil Gea.

Arif melangkah menuju kursi meja di pojokan. Gea mengalihkan tatapannya. "Mau ke mana?" tanyanya.

"Mau nunggu di sana," jawab Arif. dia sempat terhenti sejenak sebelum kembali melangkah menuju meja itu,

Karena merasa lelah, Gea mengikuti Arif, dia menuju kursi yang kini ditempati Arif. dia duduk tepat di depan arif, lalu Gea berbicara, "Rif, gue mau nanya," ucapnya dengan tatapan serius.

"Mau nanya apa?" Arif menaikkan alisnya.

"Lo sama Laras, udahan?"

Arif terdiam. Tatapannya masih tertuju pada Gea, sementara itu, pertanyaan hadir. "Kok Gea tahu gue udahan sama Laras?" gumamnya dalam hati.

"Rif, lo ada masalah apa sih? Kok bisa udahan gitu aja tanpa penjelasan? Emang lo nggak sayang sama Laras?" Gea kembali bertanya karena merasa sikap Arif tidak masuk akal.

"Eumm, bukan gue nggak sayang..." Ucap Arif terhenti karena Gea langsung berbicara,

"Terus, kanapa, apa karena Laras ga cantik?"

"Diem dulu, belum selesai ngomongnya."

"Yaudah, lanjut."

Arif berpikir sejenak, merasa bingung harus bicara apa. dia menghela napas. "Papa sama Mama melarang buat pacaran," ucapnya.

"Kan lo bisa, nggak harus bilang sama orang tua lo. Lagian Laras kelihatannya makin aneh semenjak udahan, Jangankan dia, gue sendiri aja rasanya aneh. Setahu gue lo itu nggak kayak gitu, tapi sekarang kok beda? Lo malah mempermainkan Laras," Gea menatap lekat ke arah Arif.

"Gue nggak bermaksud buat nyakitin, atau mempermainkan, tapi kenyataannya karena orang tua gua. terus Harus gimana lagi? " Arif terhenti, dia menghrla napas,"Lagian gue putusin dia sebelum dia makin sayang," ucap Arif menatap Gea, dia begitu serius,

"Justru lo salah besar. Yang ada Laras udah sayang sama lo. Harusnya lo pertahankan, bukan udahan," Gea terlihat kesal.

"Kok lo yang marah-marah sih?"

"Maaf. Lagian sih lo salah, harusnya lo ngobrol baik-baik biar nggak jadi beban pikiran laras."

"Iya, gue salah. Gue minta maaf kalau gue udahan sama Laras."

"Lho, kok malah bilang ke gue? Harusnya minta maaf sama Laras."

"Oh iya, lupa."

"Yaudah gini aja, gue hubungin dia. Kita ketemu di Pixelresto sekalian makan bareng," Gea menatap Arif, Wajahnya terlihat sedikit senyum,

"Jangan di situ. Gimana kalau di Baresto?"

Gea menatap Arif lekat. Pikirannya berputar, sedangkan Arif mulai merasa cemas. Sebenarnya dia tidak mau ke Pixelresto karena takut bertemu dengan Sasa.

Gea lalu berbicara, "Yaudah kalau gitu, gue hubungi dulu Laras." ucapnya

Gea mengambil telepon genggamnya lalu menghubungi Laras. Panggilan menyambungkan, namun Laras sama sekali tidak mengangkatnya.

"Nggak diangkat, Rif," Gea menggerakkan ponselnya, lalu kembali mencoba menelepon Laras.

Panggilan kembali menyambungkan, Tak lama kemudian, telepon terhubung dengan Laras. Gea menempelkan ponsel ke telinganya. "Laras," ucapnya.

"Ada apa, Gea?" Suara Laras terdengar dari telepon,

"Lo bisa ketemu nggak?"

"Kapan?"

"Sekarang. Kita ketemuan di Baresto, gimana?"

"Emang mau bahas apa sih? Gue lagi males keluar rumah."

"Laras, ini penting banget. Gue tahu lo lagi kesel, badmood, hancur. Justru itu gue mau ngajakin lo biar tenang. nyelesain masalah Lo,"

"Yaudah, gue ke sana."

"Oke, gue tunggu," ucap Gea, lalu mematikan panggilan tersebut. dia menatap Arif, dan kembali berbicara, "Laras otw. Kita pergi sekarang aja, gimana?" ucapnya.

"Kita mau pergi pakai apa?"

Gea mengalihkan tatapannya kepada Zyan. Terlihat mobilnya sudah selesai diperbaiki. Zyan sedang duduk di bagian depan mobil sambil melepas lelah.

"Pakai mobil gue aja, kayaknya udah selesai tuh," ucap Gea tersenyum,

"Lho, bukannya mau naikin mesin dulu?" tanya Arif dengan alis terangkat.

"Kata Zyan barangnya lagi nggak ada. Kalau udah ada, nanti dia kabarin. Yaudah ayo, jangan banyak tanya. Kita selesain dulu masalah lo sama Laras. Jangan ditunda nanti malah makin dalam, gue nggak mau sahabat gue bermusuhan." Gea berdiri lalu melangkah menuju mobilnya.

Di depan mobil, langkah Gea terhenti. dia menatap Zyan yang sedang meminum air mineral. lalu Zyan berbicara. "Body Udah selesai. Kalau soal mesin nggak bisa sekarang," ucapnya.

"Oke, nanti kabarin aja kalau udah ada barangnya."

"Siap."

Gea masuk ke dalam mobil. dia menyalakan mesin sementara Zyan yang tadinya duduk di depan mobil mulai bergerak menjauh.

Gea membunyikan klakson lalu melajukan kendaraannya keluar dari bengkel. Di luar, Arif sudah menunggu.

Mobil dihentikan. Arif melangkah dan berlali masuk, sampai dia kembali menutup pintu. Gea pun kembali melajukan kendaraannya meninggalkan bengkel,

***

Sementara itu, Laras dengan penampilan yang terlihat cantik dan segar sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu taksi yang dipesannya.

Tatapannya sesekali tertuju ke layar ponsel, memantau aplikasi taksi online. Di layar terlihat posisi mobil yang sedang melaju menuju lokasinya.

Tak lama, mobil berhenti di depan Laras. Kaca jendela samping depan terbuka, menampakkan sopir yang berbicara, "Mbak Laras, ya?" tanyanya.

"Iya." Laras membuka pintu belakang lalu masuk ke dalam.

"Kita mau ke mana, Mbak?" tanya sopir sambil melirik ke arah spion tengah.

"Ke Baresto, Mas."

"Baik, Mbak," ucapnya lalu mulai melajukan kendaraan.

Laras yang duduk di kursi belakang, tatapannya terpaku pada telepon di tanganya, di layar itu sama sekali tidak terlihat notifikasi atau pun panggilan.

Meski dia mencoba melupakan, bayangan Arif tetap hadir di pikirannya. dia merasa kecewa. tapi Hati kecilnya masih ingin Arif mengakuinya sebagai pacar dan hadir di hidupnya.

dia menghela napas kasar. Sopir taksi mengemudi langsung berbicara, "Mbak kenapa?" tanya

"nggak kenapa-napa kok, Mas," jawab Laras sambil mendongak.

"Dari muka Mbak, kelihatan kayak lagi ada masalah."

"Enggak ada. Ih, kepo banget sih Masnya."

Mobil itu berhenti mendadak. Sopir itu langsung menoleh. "Bukan kepo, Mbak. Lagian muka Mbak kelihatannya kayak lagi sedih," ucapnya sambil melihat langsung ke belakang.

"Kok berhenti, Mas?" tanya Laras heran. Tatapannya lekat ke arah sopir.

"Ini udah sampai, Mbak."

Laras melirik ke jendela. Di luar sudah terlihat Baresto. Laras tersenyum malu. dia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.

"Mbak, jangan kebanyakan ngelamun, nanti kerasukan setan," ucap sopir itu dari balik kaca.

Laras yang sedang menutup pintu hanya menatap ke arah kaca depan tanpa berkata apa-apa, taksi itu kembali melaju pergi.

di pinggir jalan, Laras berdiri kini mengalihkan tatapnya ke Baresto. lalu dia melangkah menuju ke pintu depan dan berlalu masuk ke restoran,

di dalam, Langkahnya sempat terhenti, Dari salah satu meja, Gea melambaikan tangan. "Laras, sini!" Panggilnya dengan keras.

Laras sempat memperhatikan sosok yang duduk bersama Gea. Arif hanya terlihat punggungnya, membuat Laras tidak langsung mengenalinya.

Laras melangkah menuju meja itu, Saat di depan meja, tatapnya melihat Arif, Laras terdiam sejenak.

dia berniat berbalik pergi, namun Arif menarik tangannya. "Laras, tunggu," ucap Arif dengan erat tanganya memegang,

"Ngapain sih!" Laras mencoba menarik tangannya.

"Mau ke mana? Kita selesain sekarang masalah kalian," ucap Gea menatap Laras.

"Maaf, sebenarnya aku nggak mau udahan," Arif menatap Laras sambil tetap memegang tangannya.

Laras menghela napas. "Lepasin!" ucapnya menggerakan tanganya,

sampai tangan terlepas, Laras menerik kursi dan berlalu duduk, dia menatap Gea sambil berbicara. "Kalian mau ngapain sih?" tanyanya,

"Dengerin dulu, Lagian ngapain sih pake musuhan segala," Gea menatap Laras.

"Iya, iya. Yaudah cepetan. Kalau tahu gini nggak bakalan mau datang ke sini," Laras terlihat kesal.

"Maafin laras, aku nggak mau musuhan. Aku salah mutusin buat nggak pacaran." Ucap Arif terhenti karena Laras langsung berbicara.

"Terus ngapain? Kalau lo nggak mau, bilang aja gue jelek, nggak sesuai sama keinginan lo!" Laras terlihat emosi, tatapannya tajam ke Arif.

"Nggak, bukan begitu. Kamu udah sempurna banget, sesuai banget. Tapi Papa bilang jangan dulu pacaran, jadi aku putusin buat nggak pacaran. Papa mau aku sukses dulu. Lagian aku nggak mau kamu makin sayang, aku ingin kita temenan dulu, setelah itu pacaran lagi," ucap Arif menatap Laras.

"Yaudah, kalau mau kamu begitu," jawab Laras sinis.

"Jangan emosi. Arif kan udah bilang, udah jelasin masalahnya," Gea menatap Arif lalu beralih ke Laras. "Oh iya Laras, lo mau makan nggak?"

"Enggak," jawab Laras.

"Kalau minum?" Gea kembali bertanya dengan alis terangkat.

"Enggak, gue mau pulang aja," jawab Laras. dia langsung berdiri dan berlalu pergi.

"Laras, tunggu!" panggil Gea sambil berdiri dari kursi itu.

Namun Laras tetap melangkah meninggalkan Baresto. Walaupun Arif sudah menjelaskan, Laras tetap tidak bisa menerima kenyataan itu.

Arif menghela napas panjang. dia merasa bersalah. Dalam hati dia pun masih sayang, tapi kata maaf ternyata tidak cukup.

"Sabar, Rif. Nanti juga kalian bakal baikan lagi," ucap Gea sambil tersenyum menatap Arif.

1
Haikal Nto
suka,,,jadi penisirin
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!