NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Hanya Pengasuh.

Arthur duduk termenung di atas kursi kebesarannya. Pria itu teringat kembali dengan yang terjadi di rumah sakit pagi tadi.

Tidak ada hal serius yang terjadi pada Audrey kecil, justru bayi itu mengalami pertumbuhan yang sangat bagus. Dan berat badannya pun bertambah.

Andrea begitu telaten merawat bayi itu. Selalu memperhatikan asupan gizi, dan nutrisi. Sehingga tidak ada masalah dalam pertumbuhan Audrey.

Namun, yang menganggu pikiran pria tiga puluh tahun itu adalah, kini namanya dan Andrea tercantum pada buku periksa Audrey, sebagai ayah dan ibu bayi itu.

Untuk saat ini, mungkin dengan berucap, orang akan percaya jika Audrey memanglah putri Arthur. Tetapi tidak kedepannya. Bayi itu membutuhkan bukti hitam di atas putih, jika ia memang putri Arthur dan Andrea.

“Sayang, Apa ini saatnya aku menepati janji padamu?” Ucap Arthur sembari mengusap bingkai foto mendiang Audrey yang ia pajang di atas meja kerjanya.

Ingatan Arthur kembali ke masa lalu, dimana sang adik melarangnya untuk dekat dengan gadis lain selain dirinya.

Mendiang Audrey bahkan tak menyukai Celine. Karena menurutnya, wanita itu merebut perhatian Arthur.

“Apa sekarang kamu sudah ikhlas jika aku memiliki pasangan? Kamu memang adik yang terbaik. Bahkan, untuk pasangan hidupku pun kamu yang memilihkan. Aku janji, tidak akan mengecewakan mu lagi. Damailah disana bersama papa. Aku selalu merindukan kalian.”

Arthur kemudian menyandarkan punggung tegapnya, sembari memejamkan mata. Ia kembali teringat akan mendiang sang papa, yang pergi begitu saja tanpa kata perpisahan.

Lalu teringat akan sang adik, yang pergi dengan mengikat janji.

“Arth.”

Suara lembut seorang wanita membuat segala bayangan masa lalu Arthur menghilang. Pria itu membuka mata, mendapati sang sahabat telah berada di ruangannya.

“Cel, kapan kamu datang?” Pria itu kembali menegakkan tubuhnya. Kemudian bangkit menghampiri sahabatnya.

“Ayo kita duduk.” Arthur mengajak wanita itu duduk di atas sofa.

“Apa ada masalah? Kamu sampai tidak tau aku datang. Padahal aku sudah mengetuk pintu.” Jelas wanita satu anak itu.

“Maaf. Aku hanya sedikit lelah.” Tukas Arthur yang enggan menjelaskan lebih panjang.

“Hmm, makanya sekali-kali kamu libur. Jangan kerja terus.” Ucap Celine sembari mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas kain yang ia bawa.

“Tadi aku ada meeting di restoran favoritmu. Jadi, aku bungkus satu untukmu.” Jelas wanita itu lagi.

“Terimakasih, Cel. Kamu memang selalu baik.” Ucap Arthur terkekeh.

Arthur pun membuka kotak makan itu. Sepotong daging panggang, di lengkapi sayuran rebus, kentang goreng dan saos barbeque seperti meronta ingin segera berpindah ke dalam perut.

Namun, baru menusuk sepotong kentang, Arthur teringat dengan nasi goreng yang ia santap tadi pagi.

“Ada apa, Arth? Apa rasanya tidak enak? Padahal aku membeli di restoran favoritmu.” Ucap Celine yang melihat Arthur mengunyah dengan pelan makanan itu. Ia kemudian ikut mengambil sepotong kentang untuk mencicipinya.

“Ah, tidak. Aku hanya teringat sesuatu saja.” Ucap pria itu tersenyum.

Celine mengangguk. Ia kemudian membiarkan Arthur menikmati makan siangnya.

🍃🍃🍃

Sementara itu, Andrea kini tengah berada di lantai dasar gedung perkantoran Dinata Experience and Group.

Gadis itu datang atas perintah mama Daisy untuk membawakan makan siang untuk Arthur.

Membuang dan menarik nafas berulang kali, Andrea pun memberanikan diri bertanya kepada petugas resepsionis.

“Saya diminta mengantar makan siang, oleh nyonya Dinata untuk tuan Arthur, mbak.” Ucap Andrea saat petugas wanita itu menanyakan tujuan Andrea mencari pemilik perusahaan.

Andre pun menunjukkan foto dirinya dan mama Daisy. Seperti yang di katakan wanita paruh baya itu, jika sulit menemui Arthur.

Petugas wanita itu kemudian mengarahkan kemana Andrea harus pergi.

Dan disini lah sekarang ia berada, tepat di lantai dua puluh, gedung perkantoran itu.

Sampai di puncak bangunan itu, Andrea tak serta merta langsung bisa bertemu orang yang ia cari. Ia harus menjawab pertanyaan dari seorang wanita muda, yang menjabat sebagai sekretaris Arthur.

‘Astaga, aku hanya ingin bertemu Arthur Dinata, bukan mau bertemu pak Presiden.’ Gerutu gadis itu dalam hati. Rasanya ingin sekali ia melempar tas kain yang sedang di jinjingnya.

“Maaf, mbak. Tapi pak Arthur sedang ada tamu.” Ucap sekretaris yang Andrea lihat bernama Dona, dari papan nama yang terpajang di atas meja kerjanya.

“Sebentar saja, mbak. Aku harus memberikan ini.” Andrea menunjukkan tas kain yang ia bawa. Sesuai perintah mama Daisy, Andrea sendiri yang harus memberikan kepada Arthur, tidak boleh orang lain. Jika tidak, gadis itu dilarang tidur dengan Audrey malam ini.

“Mbak, tolong aku. Jika tidak, nyonya Dinata bisa marah padaku. Aku harus memastikan sendiri, tas ini sampai kepada tuan Arthur.” Andrea memasang wajah memelas. Meski hanya terpaksa. Supaya ia cepat bisa kembali pulang.

Merasa kasihan, Dona pun mengijinkan Andrea untuk mememui Arthur.

Baru akan mengetuk pintu, namun tangan Andrea menggantung di udara. Daun pintu yang sedikit terbuka, membuat suara orang di dalam sana, terdengar keluar.

“Aku hanya menganggapnya sebagai pengasuh Audrey, Cel. Lagi pula, kamu menolak ku, jika tidak, mungkin kamu yang aku jadikan ibu untuk Audrey.” Arthur pun terkekeh di akhir ucapannya.

Deg..

Bak terhantam batu besar. Dada Andrea seakan sesak mendengar ucapan Arthur. Jantungnya bergemuruh. Nafas pun memburu. Tangan gadis itu meremat tas kain yang ia bawa. Hilang sudah keinginannya untuk bertemu pria itu.

Hanya di anggap pengasuh Audrey, lalu untuk apa tadi pagi pria itu menyebut nama Andrea sebagai ibu bayi itu?

Perlahan gadis itu pun mundur. Ia tidak ingi menganggu obrolan dua orang di dalam sana. Karena Andrea tau, dengan siapa Arthur di dalam ruangannya.

“Mbak? Kenapa tidak jadi masuk?” Tanya Dona heran.

Kepala Andrea menggeleng. Ia pun melanjutkan langkahnya.

“Rea?” Thomas keluar dari dalam lift.

“Kakak.”

“Ada perlu apa kamu datang?” Tanya pria itu.

“A-aku di suruh membawa makan siang untuk tuan Arthur. Tetapi, sepertinya dia sudah makan siang.”

Thomas melihat tas kain yang di bawa sang adik. Ia juga melihat gadis itu mencengkeram dengan kuat tas itu.

“Kamu sudah bertemu dengannya?”

Kepala Andrea menggeleng. “Dia ada tamu.”

Thomas menatap Dona, meminta penjelasan pada wanita itu.

“Ibu Celine, pak.” Ucap wanita itu tanpa suara.

Thomas menghela nafas pelan. Ia kemudian meraih tas yang di bawa sang adik.

“Kamu datang dengan siapa?”

“Aku membawa mobil, kak.”

Thomas tau, adiknya sedang tidak baik-baik saja.

“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Ini buat aku saja.”

Andrea mengangguk. Ia kemudian meninggalkan tempat itu.

Setelah sang adik menghilang di balik pintu lift, Thomas pun berjalan menuju ruang atasannya.

“Pak, yang tadi itu siapa?” Tanya Dona ingin tau.

“Dia adikku.” Jawab Thomas singkat. Kemudian tanpa permisi memasuki ruangan Arthur.

“Apa kamu tidak memiliki sopan santun?” Tanya Arthur kepada asistennya itu.

Thomas tak menjawab. Ia kemudian meletakan tas kain yang berisi kotak makanan di hadapan Arthur.

“Kamu membelikan aku makan siang? Tapi aku sudah makan.” Ucap Arthur.

“Bukan aku, tetapi Rea.”

Alis Arthur bertaut. Ia tak mengerti maksud ucapan asistennya itu.

“Apa maksudmu?”

“Rea datang membawakan makan siang untukmu. Tetapi, sepertinya kamu sudah ada yang membawakan makan siang.” Ucap Thomas sembari menatap sinis ke arah Celine.

“Rea datang? Kamu tidak berbohong?”

“Dona.” Thomas memanggil rekan kerjanya.

“Iya, pak.”

“Tanyakan padanya jika kamu tak percaya padaku.” Entah kenapa, melihat wajah murung sang adik, Thomas menjadi tak sopan kepada atasannya.

“Apa ada yang mencariku?” Tanya Arthur kepada sang sekretaris.

“Iya, pak. Seorang gadis muda. Dia membawa tas itu. Katanya makan siang untuk bapak.” Jelas Dona.

“Kenapa kamu tidak menyuruhnya masuk?”

“Saya sudah mempersilahkan masuk, pak. Tetapi, nona itu berhenti di depan pintu. Dan tidak mau masuk.”

“Kapan dia datang?” Tanya Arthur kembali.

“Sekitar sepuluh menit yang lalu, pak. Maaf, tapi sepertinya nona tadi mendengar pembicaraan bapak dan ibu Celine. Karena itu dia tidak jadi masuk, padahal tadi dia memohon untuk di ijinkan masuk.”

Deg..

Arthur tersentak. Apa yang Andrea dengar, sehingga gadis itu tidak jadi masuk?

“Lalu dimana dia sekarang?”

Pria itu bangkit, dan hendak berjalan keluar ruangan.

“Adikku sudah pulang. Lain kali, tutup pintu dengan rapat, jika kamu sedang bersama orang penting.”

Thomas kemudian keluar dari ruangan itu. Dona yang tak mengerti pun ikut menyusul rekan kerjanya.

Sementara Arthur mematung di tempatnya. Apa benar yang Dona katakan? Andrea mendengar sesuatu?

“Arth, kamu baik-baik saja?”

“Ya. Aku tidak apa-apa, Cel.”

Arthur kembali duduk di sisi Celine. Ia kemudian meraih tas yang di letakkan oleh Thomas.

Makanan yang sama, yang seperti di bawakan oleh Celine. Namun, bedanya itu di buat di rumah. Terselip selembar kertas di bawah kotak makan itu.

“Cicipi lah, Arth. Ini buatan Rea.”

Arthur tau jika itu tulisan tangan sang mama.

‘Rea.’

.

.

.

Bersambung.

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!