Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Cinta yang Besar
Hujan turun tipis sejak pagi.
Rumah itu kembali dipenuhi orang, tapi tidak seramai hari-hari pertama setelah pemakaman.
Empat puluh hari sudah sejak Biru berpulang. Tapi bagi Ishani, luka itu masih terasa basah, seperti baru saja terjadi kemarin.
Foto Biru diletakkan di meja kecil, dibingkai sederhana. Senyumnya masih sama, tenang dan hangat, seolah waktu tidak pernah benar-benar bergerak.
Ishani duduk di kursi dengan tangan bertumpu di atas perutnya yang semakin membesar. Lantunan doa terdengar pelan namun merdu, setiap kalimatnya mengalir yang naik perlahan menuju langit.
Isak tangis tertahan masih terdengar dari beberapa kerabat. Ishani tidak menangis.
Air matanya seperti sudah habis beberapa minggu lalu. Atau mungkin ia hanya terlalu lelah untuk kembali runtuh.
Ia menunduk, mendengarkan setiap kalimat doa. Sebentar lagi ia akan melahirkan. Pikirannya melayang kembali ke hari ketika ia pertama kali mengetahui tentang kehamilan itu.
Hari ketika dunia mereka terasa begitu penuh. Hari ketika Biru terlihat paling bahagia. Hari ketika ia memiliki begitu banyak mimpi untuk mereka bertiga.
Flashback On
Sore itu biasa saja. Tidak terlalu cerah, tapi juga tidak mendung. Biru pulang lebih cepat dari biasanya. Tas kerjanya disampirkan begitu saja di sofa. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyumnya langsung muncul saat melihat Ishani.
“Kenapa kamu dari tadi senyum-senyum terus?” tanyanya sambil membuka kancing jam tangan.
Ishani menggeleng, mencoba terlihat santai. Padahal jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Di balik punggungnya, ia memegang sesuatu.
Testpack dengan dua garis biru yang jelas.
“Aku mau kasih tahu Mas sesuatu.”
Biru mendongak, menatapnya dengan alis sedikit terangkat. “Serius banget.”
Ishani mendekat dan menyerahkan benda kecil itu. “Aku hamil.”
Biru menatap testpack itu lama. Terlalu lama. Sampai Ishani sempat berpikir ia tidak senang. Lalu bahunya bergetar. Biru tertawa tertahan sambil mengusap wajahnya sendiri. “Ini beneran?”
Ishani mengangguk. “Aku sampai ulang tiga kali.”
Biru menarik Ishani ke dalam dekapannya. Erat sekali. Seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan.Hembusan napasnya terasa hangat di leher Ishani.
“Kamu tahu…,” bisiknya pelan. “Aku sangat bahagia.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi aku juga takut.”
Ishani tersenyum kecil di bahunya. “Aku juga.”
Biru melepaskan pelukannya. Matanya berkaca-kaca. “Kalau aku tidak ada, kamu harus kuat.”
Bibir Ishani langsung mengerucut. “Kok ngomongnya gitu.”
Biru tertawa pelan, lalu mengecup bibirnya singkat. “Cuma jaga-jaga.”
Ia menundukkan kepala, menempelkan tangannya di perut Ishani yang masih rata.
“Halo,” katanya kikuk. “Ini Ayah.”
Ia tersenyum sendiri. “Jangan nakal sama Ibu ya. Ayah akan selalu jaga kalian.”
Ishani mengelus rambutnya lembut.
Di hari-hari pertama kehamilan Ishani, Biru berubah. Tanpa disadari. Ia jadi lebih peka terhadap hal-hal kecil.
Bunyi sendok jatuh membuatnya langsung menoleh. Ishani bersin sedikit saja, ia langsung berdiri. “Kamu nggak apa-apa?”
Ishani tertawa. “Aku hamil, bukan pecah.”
Biru bangun lebih pagi dari biasanya. Suara air mendidih dan denting sendok di dapur menjadi suara pertama setiap pagi.
Sebelum berangkat kerja, ia selalu mencium kening Ishani. Lalu menempelkan bibirnya ke perut itu.
“Selamat pagi,” bisiknya. “Ayah kerja dulu. Jaga Ibu.”
Ia mencatat semuanya di ponsel.
Jam Ishani mual. Makanan yang ditolak. Bau yang membuatnya pusing. Ia bahkan mengganti parfum karena aroma lamanya membuat Ishani muntah.
Ia memindahkan barang-barang di rumah agar lebih mudah dijangkau. Ia membaca buku tentang kehamilan. Membuka forum. Mencari artikel. Kadang wajahnya terlihat sangat serius saat menjelaskan sesuatu.
“Kata buku ini kamu tetap harus bergerak. Olahraga ringan,” katanya suatu hari.
Ishani tersenyum geli. “Kan kamu yang paling sering ngelarang aku gerak.”
Biru menggaruk tengkuknya. “Ya… tapi itu beda.”
Di siang hari ia sering menelepon. Kalau tidak diangkat, ia akan mengirim pesan.
Jangan lupa makan. Kalau mual, makan sedikit-sedikit tiap satu jam.
Saat Ishani muntah, Biru ikut berjongkok di depan kloset. Mengusap punggungnya perlahan.
Ia tidak banyak bicara. Ia hanya ada di sana. Kadang, saat Ishani tertidur di sofa, Biru duduk di lantai sambil memijit kakinya.
“Sayang…,” katanya suatu sore.
“Apa?”
“Aku ingin anakku punya Ayah.”
Ishani menarik kakinya. “Kenapa Mas selalu ngomong yang nggak-nggak? Anak kita punya Ayah. Mas kan Ayahnya.”
Biru tersenyum tipis. “Tapi kamu tahu kan aku dibesarkan tanpa Ayah.”
Nada suaranya berubah lebih pelan. “Aku nggak mau anakku merasakan kosong yang sama.”
Ia menatap Ishani lama. “Aku juga nggak mau kamu sendirian.”
Ada sesuatu di matanya saat itu, sesuatu yang membuat Ishani tiba-tiba tidak nyaman. Seolah Biru sedang berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ishani berdiri. “Ya nggaklah. Kami kan punya Mas.”
Ia berjalan pergi sebelum Biru bisa melanjutkan kalimatnya.
Malamnya, Ishani terbangun. Biru masih terjaga. “Mas kenapa?”
“Lagi jagain kamu.”
Ishani tertawa pelan. “Berlebihan.”
“Mungkin.” Ia menatap Ishani lama.
“Tapi kalau suatu hari aku nggak bisa melakukan ini lagi… setidaknya kamu tahu aku pernah menjaga kalian sepenuh hati.”
Ishani membalikkan badan, memunggunginya. Ia tidak ingin mendengar kalimat seperti itu lagi.
Sebulan kemudian, Ishani menemukan Biru tergeletak di kamar.
Gagal jantung.
Biru terbaring di ranjang dengan baju operasi tipis. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajahnya pucat, tapi ia masih tersenyum. “Aku kelihatan mau pergi liburan ya?” candanya.
Ishani tersenyum meski tenggorokannya terasa tercekat. “Jangan banyak bicara.”
Tangannya menggenggam tangan Biru yang terasa dingin. “Simpan tenaga.”
Biru mengangguk. Lalu menoleh ke arah perut Ishani. Tangannya menyentuhnya pelan. Hati-hati sekali.
“Kalau nanti aku tidak keluar…” bisiknya. “Kamu harus kuat. Demi dia.”
“Tolong jangan bicara begitu, Mas,” suara Ishani pecah.
“Aku cuma ingin kamu siap.”
Perawat datang.
Waktu tiba-tiba berjalan terlalu cepat. Biru mencium kening Ishani sebelum didorong menuju ruang operasi. “Doakan aku.”
“Selalu,” jawab Ishani.
Tapi sejak saat itu, Biru tidak pernah benar-benar melewati masa kritisnya. Ia tidak pernah benar-benar sadar lagi. Hingga napas terakhirnya.
Flashback Off
Ishani mengusap air matanya. Saat itu ia tidak benar-benar mengerti. Ia hanya merasa dikelilingi cinta yang begitu besar, tanpa tahu bahwa waktunya terbatas.
Baru sekarang ia sadar. Cinta sebesar itu meninggalkan ruang kosong yang sama besarnya.
Di depan sana, Langit masih melantunkan doa. Suaranya tenang. Tapi saat ia melihat bahu Ishani bergetar, ada jeda kecil dalam napasnya. Jari-jarinya menggenggam tasbih sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Ia lalu melanjutkan doa.
Ishani mengangkat wajahnya. Pandangan mereka beradu. Dan untuk sesaat, dadanya sesak. Garis rahang itu. Cara alisnya sedikit mengerut saat membaca doa. Untuk sesaat, Ishani seperti melihat Biru duduk di sana.
Air matanya kembali jatuh.
Langit menundukkan wajahnya. Rahangnya mengeras sedikit. Ia tahu tatapan itu bukan benar-benar untuknya.
Ia hanya bayangan yang mengingatkan Ishani pada orang yang mereka rindukan.
Matanya terpejam sejenak, memaksa dirinya tetap fokus pada doa.
Ishani masih menatapnya. Pria yang diwasiatkan Biru padanya.
“Aku ingin kamu dan anakku tidak sendirian.”
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.
“Iya, Mas…” lirihnya dalam hati. “Kami tidak akan sendirian.”
Ia mengusap air matanya perlahan. “Dia akan menjaga kami. Mas yang tenang di sana.”
Ishani menarik napas panjang. Ia akan menjalankan wasiat Biru. Bukan karena ia telah melupakan suaminya. Bukan karena cintanya memudar. Tapi karena cinta Biru terlalu besar untuk diabaikan.Dan kadang, cinta yang besar meninggalkan tanggung jawab yang sama besarnya.
Ishani menunduk kembali. Tanpa benar-benar tahu bahwa menjalankan wasiat itu perlahan akan mengubah hidup mereka semua.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!