NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 - DAFTAR PERTAMA

Lily tidak langsung menghubungi Hendra.

Bukan karena tidak percaya, tapi karena kalau H adalah Hendra, menghubunginya sekarang dan memberitahu bahwa dia tahu adalah cara paling cepat untuk membuang satu-satunya keunggulan yang ada. Dan kalau H bukan Hendra, kalau itu Bu Hendrawati atau seseorang yang namanya kebetulan disingkat dengan huruf yang sama. Menuduh Hendra tanpa konfirmasi adalah kesalahan yang tidak bisa ditarik kembali.

Lily berbaring di kasurnya dengan mata terbuka dan memetakan kemungkinan-kemungkinan.

Hendra: tahu nama Pak Syarif, tahu jadwal pertemuan, tahu isi percakapan-percakapan yang mereka lakukan. Kalau dia memberikan informasi ke Reinaldo, dia punya akses ke hampir semua jalur yang sedang dibangun Lily.

Bu Hendrawati: tahu nama Lily dari dokumen notaris, tahu bahwa Lily menolak tanda tangan, dan yang lebih penting tahu bahwa Lily menerima dokumen dari arsip lamanya. Kalau dia melaporkan itu ke Reinaldo, Reinaldo tahu Lily sudah punya pernyataan Tante Sari delapan tahun lalu.

Dua kemungkinan. Satu huruf. Tidak cukup.

Lily bangun dari kasur, mengambil buku catatannya, dan menambahkan satu halaman baru.

Di bagian atas: H.

Di bawahnya, dua kolom. Kiri: Hendra. Kanan: Hendrawati.

Lalu dia menulis apa yang dia tahu tentang masing-masing informasi apa yang mereka punya, kapan mereka mendapatkannya, dan apa konsekuensinya kalau masing-masing yang memberikan informasi ke Reinaldo.

Ketika dia selesai, dia menatap kedua kolom itu.

Kolom kanan lebih berbahaya secara langsung. Kalau Bu Hendrawati melaporkan bahwa Lily punya pernyataan Tante Sari, Reinaldo akan tahu bahwa senjata itu ada dan akan bergerak untuk menetralisirnya.

Tapi kolom kiri lebih berbahaya secara fundamental. Kalau Hendra yang melaporkan, maka seluruh strategi yang sudah dibangun empat minggu ini sudah bocor dari dalam.

Kamis pagi, Lily melakukan sesuatu yang tidak dia rencanakan sebelumnya.

Setelah sarapan selesai dan rumah kembali ke ritme hariannya, Lily mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Hendra. Bukan soal Sinta atau soal file yang dia terima. Pesan yang lebih kecil dari itu. [Om Hendra, kamu pernah kenal seseorang bernama Wirawan? Pengacara.]

Sepele. Pertanyaan yang terlihat seperti konfirmasi kecil.

Balasan datang cepat. [Kenal nama, tidak kenal orangnya. Kenapa?]

Lily menimbang jawaban itu.

Tidak kenal orangnya. Tapi nama Pak Wirawan ada di dokumen internal firma yang Sinta kirim. Firma yang kolomnya ada nama Hendra juga kalau H adalah Hendra.

Seseorang yang terlibat dengan firma itu pasti tahu lebih dari kenal nama saja.

Lily menyimpan ponsel dan tidak membalas.

Siang itu, dia mengirim pesan yang berbeda ke Bu Hendrawati. [Bu Hendrawati, ada satu hal yang saya perlu klarifikasi dari dokumen yang Ibu berikan. Bisa hubungi saya hari ini?]

Balasan datang dalam setengah jam.[Tentu. Ada apa?]

[Di pernyataan itu, ada nomor KTP pembuat pernyataan. Apakah Ibu menyimpan salinan KTP-nya juga waktu itu?]

Pertanyaan yang terlihat seperti verifikasi teknis.

Tapi yang sebenarnya Lily ukur adalah seberapa cepat Bu Hendrawati menjawab dan apa yang ada di jawabannya.

Bu Hendrawati membutuhkan dua puluh menit. [Maaf, saya perlu cek arsip dulu. Mungkin ada, mungkin tidak... prosedur waktu itu tidak selalu menyertakan salinan KTP untuk akta pernyataan. Saya kabari kalau sudah ketemu.]

Dua puluh menit untuk menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang, kalau dia pengacara yang memberikan informasi ke Reinaldo, seharusnya sudah dia ketahui dengan pasti sudah dia persiapkan jawabannya.

Bukan waktu yang dicurigai. Lebih ke waktu yang terasa seperti orang yang genuinely perlu mengecek.

Lily menutup ponselnya.

Bukan cukup untuk menyimpulkan. Tapi cukup untuk mulai memiringkan timbangan ke arah yang satu.

Malam itu Lily ke ruang rahasia dengan satu tujuan yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Dia tidak duduk di kursi kayu. Dia berdiri di tengah ruangan, di titik yang terasa seperti pusat gravitasinya, tempat cahaya dari sudut atas jatuh paling rata.

"Aku perlu kamu bantu berpikir soal sesuatu," katanya.

Cermin beriak.

"Bukan soal dokumen. Bukan soal gambar masa lalu. Aku perlu bicara soal cara manusia."

Cahaya ruangan itu berubah bukan dramatis, hanya penyesuaian kecil yang membuat udara terasa lebih perhatian.

"Ada dua orang yang mungkin memberikan informasi tentang aku ke pihak yang salah. Satu orang yang aku percaya dari awal, satu orang yang mulai aku percaya belakangan. Cara membedakan mana yang berbohong dan mana yang tidak, aku sudah coba. Tapi ada sesuatu yang rasanya masih kurang."

Cermin tidak menampilkan gambar langsung.

Yang muncul adalah kalimat, pelan seperti biasanya.

Orang yang berbohong untuk bertahan hidup dan orang yang jujur karena bertahan hidup... keduanya bisa terlihat sama dari luar. Yang membedakan bukan apa yang mereka katakan. Tapi apa yang mereka lakukan waktu tidak ada yang melihat.

Lily berdiri dengan kalimat itu.

"Aku tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan waktu tidak ada yang melihat."

Belum.

"Cara untuk melihat itu?"

Kalimat baru.

Beri mereka sesuatu yang mahal untuk disimpan. Orang yang setia akan menyimpannya. Orang yang tidak setia akan menggunakannya.

Lily mengerti.

Jumat pagi, Lily mengirim dua pesan yang berbeda.

Ke Hendra. [Om, Pak Syarif bilang ada perkembangan soal rekening Mama. Rencananya mau diajukan permohonan akses darurat ke pengadilan minggu depan. Rabu.]

Ke Bu Hendrawati. [Bu Hendrawati, Pak Syarif sudah siapkan langkah berikutnya. Kami akan presentasikan semua bukti yang ada ke pengadilan minggu depan. Selasa.]

Dua jadwal yang berbeda. Dua informasi yang Lily buat-buat. Tidak ada permohonan akses darurat, tidak ada presentasi bukti minggu depan. Pak Syarif tidak tahu soal pesan-pesan ini.

Yang akan Lily perhatikan adalah apakah ada sesuatu yang berubah di pergerakan Reinaldo dalam tiga hari ke depan. Dan kalau ada, perubahan itu bereaksi ke jadwal yang mana.

Kalau Reinaldo bergerak untuk mengantisipasi Selasa, berarti Bu Hendrawati yang melaporkan.

Kalau dia bergerak untuk mengantisipasi Rabu, artinya Hendra.

Lily menyimpan ponsel dan pergi ke dapur untuk mulai menyiapkan makan pagi.

Di luar jendela, pagi Jumat berjalan seperti pagi-pagi lainnya di jalan ini. Motor yang melintas, suara penjual tempe di kejauhan, langit yang belum sepenuhnya terang.

Semuanya terlihat biasa.

Tiga hari, pikir Lily. Jawabannya ada dalam tiga hari.

Tapi tiga hari terasa terlalu lama ketika jam sebelas siang, Bibi Rah menyelipkan kertas di bawah talenan panci dengan tulisan yang lebih singkat dari biasanya:

Ada orang di luar rumah dari tadi pagi. Parkir di ujung jalan. Ganti-ganti posisi tapi selalu di jarak yang sama.

Lily membaca. Meremas kertas. Membuangnya ke tempat sampah di bawah wastafel.

Seseorang sedang memantau rumah ini.

Berarti Reinaldo tidak menunggu tiga hari.

Reinaldo sudah bergerak.

Bersambung ke Bab 32...

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!