Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Xiūliàn di Gua Angin
Fajar di Gunung Puncak Angin selalu dibuka oleh suara Qingming —burung pegunungan kecil berwarna abu-abu yang bersiul pada nada tertentu, seolah-olah memanggil matahari untuk bangun. Fengyin telah mendengar suara ini selama tiga belas tahun, tapi hari ini berbeda. Hari ini, setiap nada Qingming terdengar seperti dentangan jam, menghitung mundur ke momen yang akan mengubah segalanya.
Dia duduk di batu meditasi—sebongkah granit datar yang telah mengikuti Gu Yanqing sejak zaman sebelum Dinasti Wuji Chao, katanya—dengan punggung lurus dan tangan berbentuk segel di pangkuan. Yuèyǐng Pèi menggantung di dadanya, hangat, berdenyut selaras dengan detak jantung yang tidak biasa tenang.
"Pikiran kosong," suara Gu Yanqing datang dari belakang, tapi Fengyin tidak perlu melihat untuk tahu posisi guru itu. Tiga belas tahun melatih bersama telah menciptakan kesadaran spasial yang hampir mistis. "Bukan 'kosong karena dipaksa'. Tapi kosong karena penuh. Seperti mangkuk yang sudah terisi air jernih—tidak ada ruang untuk keruh."
Fengyin mengangguk pelan, tapi tidak menjawab. Percakapan akan datang nanti. Sekarang, hanya ada napas.
Masuk melalui hidung, mengisi paru-paru, menurun ke perut, berkumpul di bawah pusar—di Dantian , lautan energi yang Gu Yanqing katakan ada pada setiap manusia, tapi hanya sedikit yang tahu cara mengaksesnya.
Tahan. Tiga detak jantung.
Keluarkan melalui mulut, perlahan, seolah-olah meniup lilin yang tidak ingin dipadamkan.
Ulangi.
Di kejauhan, di lembah yang tersembunyi kabut pagi, terdengar suara gemuruh air terjun Yínliú —nama yang diberikan Gu Yanqing pada aliran yang telah menjadi bagian dari latihan Fengyin sejak usia enam tahun. Tapi hari ini, gemuruh itu terdengar berbeda. Lebih... dekat . Seolah-olah air itu naik, mendaki gunung, datang untuk menyaksikan.
"Jangan dengarkan," bisik Gu Yanqing, seolah membaca pikiran muridnya. "Jangan lihat. Jangan rasa. Hanya... ada ."
Fengyin mencoba. Benar-benar mencoba. Tapi ada sesuatu yang mengganggu—bukan dari luar, tapi dari dalam. Sesuatu yang bergerak di dalam dadanya, di kedalaman yang tidak pernah dijelajahi. Enam titik cahaya, berputar lambat, menunggu pintu untuk dibuka.
Tiga jam berlalu. Matahari naik, mencapai zenit, mulai turun. Fengyin tidak bergerak. Tubuhnya mati rasa—kaki yang disilangkan terasa seperti batu, punggung yang lurus terasa seperti akan patah. Tapi di dalam, di tempat yang tidak terikat oleh fisik, dia terbang.
Melihat Dàojiàn—jalur-jalur energi yang Gu Yanqing gambarkan seperti sungai-sungai kecil di dalam tubuh. Ada dua belas jalur utama, menghubungkan Dantian ke seluruh anggota tubuh. Dan di ujung masing-masing, ada pintu . Pintu yang selama ini tertutup, terkunci, menunggu kunci yang tepat.
"Kunci itu adalah pengakuan," Gu Yanqing pernah berkata. "Pengakuan bahwa kamu siap. Bahwa kamu menerima tanggung jawab yang menyertai kekuatan. Bahwa kamu, Chen Fengyin, memilih untuk menjadi Tiānzé Zhě—bukan karena takdir memaksamu, tapi karena kamu memilihnya."
Hari ini, di dalam meditasi yang dalam, Fengyin membuat pilihan itu.
Aku siap, bisiknya pada dirinya sendiri. Aku menerima. Aku memilih.
Dan pintu-pintu itu terbuka.
Pertama adalah Fēng—Angin, elemen yang paling dekat dengan hatinya. Pintu di kedua telapak tangan meledak terbuka, dan energi putih-perak mengalir masuk, mengisi pembuluh darah dengan sensasi seperti ribuan kupu-kupu mengepakkan sayap. Fengyin merasakan tubuhnya menjadi ringan, begitu ringan sehingga dia bisa—dia benar-benar bisa —mengangkat beberapa inci dari batu meditasi, melayang di udara tanpa usaha.
Kedua adalah Shuǐ—Air, elemen yang pertama kali beresonansi dengannya di bawah air terjun Yínliú . Pintu di kedua mata terbuka, dan energi biru-tua mengalir ke otak, membuat penglihatannya menjadi tajam begitu luar biasa sehingga dia bisa melihat—bisa benar-benar melihat—setiap butiran debu yang melayang di udara gua, setiap titik kelembaban yang menempel pada dinding batu.
Ketiga adalah Huǒ—Api, elemen yang paling berbahaya. Pintu di jantung terbuka, dan energi merah menyala-nyala mengalir ke seluruh tubuh, membuat darahnya menjadi panas, begitu panas sehingga uap tipis mulai mengepul dari kulitnya. Bukan karena sakit—tapi karena hidup . Karena api adalah kehidupan, adalah detak, adalah keberanian untuk terus berada di dunia ini.
Keempat adalah Tǔ—Tanah, elemen yang paling stabil. Pintu di kedua kaki terbuka, dan energi kuning-keemasan mengalir ke tulang-tulang, membuatnya menjadi kuat, begitu kuat sehingga dia merasa bisa berdiri di tengah badai, di tengah gempa, di tengah kehancuran dunia, dan tetap tidak goyah.
Keempat elemen dasar. Jingjie Interval. Level yang dicapai oleh Dàshī seperti Gu Yanqing.
Tapi Fengyin belum selesai.
Karena ada dua pintu lagi. Dua pintu yang tidak ada di tubuhnya—tapi di jiwanya . Pintu yang tidak bisa dibuka dengan latihan atau teknik. Pintu yang hanya bisa dibuka dengan pengorbanan.
"Berhenti!"
Suara Gu Yanqing memecah konsentrasi, membuat Fengyin terjaga dari meditasi dengan kejutan yang hampir menyakitkan. Dia membuka mata—dan melihat dunia dalam warna yang berbeda. Lebih tajam. Lebih hidup. Lebih nyata .
"Kamu sudah membuka empat," kata Gu Yanqing, wajahnya pucat di cahaya senja yang masuk dari mulut gua. "Itu sudah cukup untuk hari ini. Untuk minggu ini. Untuk bulan ini. Jangan memaksakan Guāng dan Yǐng—mereka akan datang ketika waktunya tepat, bukan ketika kamu menginginkannya."
Fengyin ingin protes. Merasakan kekosongan di dua tempat dalam jiwanya, kekosongan yang meminta untuk diisi, adalah sensasi yang hampir tidak bisa ditahan. Seperti haus di tengah gurun, seperti lapar setelah berpuasa berminggu-minggu.
Tapi dia melihat sesuatu di mata Gu Yanqing yang membekukan protesnya di tenggorokan. Ketakutan. Bukan ketakutan pada kekuatan Fengyin—tapi ketakutan untuknya .
"Baik, Shifu," kata Fengyin, menggunakan gelar yang jarang digunakan—gelar yang lebih formal, lebih hormat .
Gu Yanqing mengangguk, seolah-olah ini adalah jawaban yang diharapkan. Tapi ketegangan di bahunya tidak hilang.
Minggu-minggu berikutnya adalah ujian.
Bukan ujian fisik—Fengyin sudah melewati batas-batas fisik bertahun-tahun lalu. Tapi ujian kontrol . Belajar mengendalikan empat elemen yang kini mengalir bebas di dalam tubuhnya, tanpa membiarkan mereka menguasai dirinya.
Fēng adalah yang paling sulit. Angin tidak suka dibatasi. Angin ingin bebas, ingin melayang, ingin membawa Fengyin terbang ke langit dan tidak pernah turun. Setiap kali dia memanggilnya—sebuah gerakan tangan, sebuah keinginan—angin datang dengan gembira, terlalu gembira, menciptakan pusaran kecil yang hampir menghancurkan peralatan masak di gua.
"Angin adalah teman," kata Gu Yanqing, setelah menyelamatkan panci kesayangannya dari terbang ke jurang. "Tapi bahkan teman terbaik bisa menjadi berbahaya kalau tidak tahu batas."
Shuǐ lebih kooperatif, tapi lebih licin . Air mengikuti bentuk wadahnya, kata Gu Yanqing, tapi air juga bisa merembes melalui celah terkecil, bisa menembus batu paling keras dengan kesabaran dan waktu. Fengyin belajar bahwa mengendalikan air bukan tentang memaksa—tapi tentang membimbing . Membiarkan air mengalir ke arah yang diinginkan, seolah-olah itu adalah ide air sendiri.
Huǒ adalah yang paling berbahaya. Api tidak mengenal teman atau musuh—api hanya mengenal makan . Setiap kali Fengyin memanggilnya, dia harus siap untuk segera memadamkannya. Satu kali, lengan bajunya terbakar karena dia terlalu fokus pada api di telapak tangannya dan lupa pada api yang merambat ke kain. Gu Yanqing harus menggunakan Shuǐ untuk menyelamatkannya, dan tidak berbicara dengannya selama dua hari—hukuman yang lebih menyakitkan dari cambuk apapun.
Tǔ adalah yang paling menenangkan . Tanah tidak terburu-buru. Tanah tidak menuntut. Tanah hanya ada , stabil, kuat, setia. Fengyin menemukan dirinya memanggil Tǔ ketika frustrasi dengan elemen lain—seolah-olah tanah adalah tempat pulang, tempat istirahat, tempat untuk mengingat bahwa kekuatan sejati adalah ketenangan.
Selama periode ini, dunia di luar gua mulai menyadari keberadaan mereka.
Pertama adalah Lao Zhang, pengumpul jamur liar yang telah mengenal Gu Yanqing sejak dua puluh tahun lalu—meski "mengenal" adalah kata yang terlalu kuat untuk menggambarkan pertemuan-pertemuan singkat di lereng gunung, di mana barang dagangan ditukar dengan ramuan-ramuan sederhana. Lao Zhang adalah pria berusia enam puluhan dengan punggung bungkuk akibat tahun-tahun membawa keranjang berat, tapi matanya masih tajam seperti elang. Dia datang pada minggu kedua, membawa berita.
"Ada orang asing di lembah bawah," kata Lao Zhang, suaranya rendah seolah-olah takut didengar oleh batu-batu. "Bukan pedagang. Bukan petani. Mereka mengenakan hitam, dan bertanya tentang 'orang tua dengan tongkat yang bisa mengendalikan elemen'."
Gu Yanqing dan Fengyin saling memandang.
"Berapa banyak?" tanya Gu Yanqing.
"Tiga. Mungkin empat. Mereka berkemah di tepi sungai, menunggu sesuatu." Lao Zhang menggigit bibir. "Aku tidak mengatakan apa-apa, Tuan Gu. Aku tidak pernah mengatakan apa-apa. Tapi... mereka punya uang banyak. Banyak sekali. Dan beberapa penduduk lembah..."
"Sudah bicara," selesaikan Gu Yanqing, bukan pertanyaan.
Lao Zhang mengangguk malu. "Maafkan kami, Tuan Gu. Kami hanya petani. Kami tidak tahu—"
"Kamu tidak perlu minta maaf," kata Gu Yanqing, meletakkan tangan di bahu pria tua itu. "Kamu sudah melakukan lebih dari yang bisa kuminta. Pergi sekarang. Jangan kembali selama beberapa bulan. Dan Lao Zhang..." dia berhenti, mengambil sesuatu dari dalam jubah—sebuah kantong kecil berisi koin perak. "Ini untuk cucumu. Yang sakit paru-paru. Ramuan yang kuberikan minggu lalu harus diminum setiap pagi, tidak boleh dilewatkan."
Lao Zhang menatap kantong itu dengan mata berkaca-kaca. *"Tuan Gu, aku tidak bisa—"
"Ambil," kata Gu Yanqing tegas, tapi lembut. "Dan hidup. Itu yang paling penting. Hidup."
Setelah Lao Zhang pergi, Fengyin menatap guru dengan pertanyaan di mata.
"Mereka datang," kata Gu Yanqing, tidak perlu ditanya. "Lebih cepat dari yang kuduga. Xie Wuyou pasti merasakan sesuatu ketika kamu membuka empat elemen. Jejak energi yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya, meski di gunung ini."
"Aku akan pergi," kata Fengyin. *"Aku akan menyerahkan diri—"
"Jangan bodoh," potong Gu Yanqing, tapi tidak marah. Hanya lelah. "Mereka tidak tahu persis di mana kita. Hanya area umum. Dan mereka tidak akan menyerang langsung—tiga atau empat prajurit tidak cukup untuk melawanku, meski aku tua. Mereka akan mengintai. Menunggu. Mengirim laporan. Dan kemudian..." dia berhenti, tidak perlu menyelesaikan.
"Dan kemudian pasukan yang sesungguhnya akan datang," kata Fengyin.
"Ya."
"Berapa waktu yang kita punya?"
Gu Yanqing menatap ke luar gua, ke langit yang gelap tanpa bintang—tanda badai akan datang.
"Setahun. Mungkin dua. Tergantung pada seberapa cepat Xie Wuyou menganggap ini prioritas." Dia menoleh ke Fengyin, mata tua yang tajam. "Cukup waktu untukmu menguasai empat elemen. Cukup waktu untuk membuka Guāng dan Yǐng. Tapi tidak cukup waktu untuk santai. Tidak cukup waktu untuk normal ."
Fengyin mengangguk. Dia sudah lupa apa artinya "normal". Sudah lupa bagaimana rasanya bangun tanpa merasakan tanggung jawab seperti batu di punggung.
NPC kedua muncul pada bulan berikutnya: Xiao Mei, gadis kecil dari desa terdekat yang terjatuh ke jurang saat mencari rumput obat untuk ibunya yang sakit.
Fengyin yang menemukannya—atau lebih tepatnya, Fēng yang menemukannya. Dia sedang berlatih mengendalikan angin untuk "melihat" jauh, membiarkan aliran udara membawa informasi tentang bentuk, suhu, gerakan. Dan dia merasakan sesuatu yang salah di lembah barat. Sesuatu yang kecil, yang panik, yang terluka.
Dia menemukan Xiao Mei di tepi sungai gunung, kaki kanannya patah, hipotermia mulai menyerang. Gadis itu tidak lebih dari sepuluh tahun, dengan wajah yang pucat tapi masih bisa tersenyum ketika melihat penyelamatnya.
"Kakak adalah malaikat?" tanyanya, suaranya lemah.
"Bukan," kata Fengyin, membungkuk untuk memeriksa lukanya. "Hanya... pendaki."
Dia menggunakan Tǔ untuk membuat bidai darurat dari batu dan tanah liat—bukan penggunaan yang elegan, tapi fungsional. Menggunakan Huǒ untuk membuat api kecil, menghangatkan tubuh gadis itu. Menggunakan Shuǐ untuk membersihkan luka, dan Fēng untuk mengeringkannya dengan cepat.
Xiao Mei menatap dengan mata lebar. "Kakak... kakak seperti Dàshī dalam dongeng."
"Jangan bilang siapa-siapa," kata Fengyin, setengah bercanda, setengah serius.
"Tidak akan," janji Xiao Mei. "Tapi... kakak bisa datang ke desaku? Ibu sakit. Sangat sakit. Tabib bilang tidak ada obat. Tapi kalau kakak bisa..."
Fengyin menatapnya. Melihat harapan di mata yang masih polos, masih percaya bahwa dunia punya tempat untuk keajaiban.
"Aku bukan tabib," kata Fengyin perlahan. "Aku tidak bisa menyembuhkan penyakit. Hanya luka. Hanya..." dia berhenti, melihat kekecewaan yang mulai muncul di wajah gadis kecil itu.
Tapi kemudian dia teringat sesuatu. Ramuan yang Gu Yanqing buat untuk cucu Lao Zhang. Ramuan yang, menurut guru, hanya "memperkuat tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri"—bukan sihir, bukan keajaiban, hanya... bantuan.
"Tunggu di sini," kata Fengyin. "Aku akan kembali."
Dia berlari ke gua, menjelaskan pada Gu Yanqing yang awalnya menolak—"Terlalu berisiko. Terlalu terlihat. Terlalu—" —tapi akhirnya menyerah ketika Fengyin menatapnya dengan mata yang sama seperti tiga belas tahun lalu. Mata anak kecil yang berkata: Aku akan melakukan ini, dengan atau tanpa izinmu.
Mereka pergi ke desa Xiao Mei—Desa Qinghe, kampung nelayan kecil di tepi danau gunung. Fengyin mengenakan jubah tua Gu Yanqing, menutupi wajah dengan kerudung, berusaha terlihat seperti tabib pengembara biasa.
Ibu Xiao Mei menderita penyakit paru-paru—bukan penyakit yang bisa disembuhkan oleh ramuan, tapi bisa diperbaiki. Gu Yanqing memeriksa, meramu, memberikan instruksi. Dan ketika mereka pergi, meninggalkan sebungkus obat yang cukup untuk tiga bulan, ibu Xiao Mei sudah bisa bernafas lebih mudah. Sudah bisa tersenyum. Sudah bisa memeluk putrinya.
"Terima kasih," kata Xiao Mei di perbatasan desa, menatap Fengyin dengan mata yang kini tahu terlalu banyak. "Aku tahu kakak bukan tabib biasa. Aku tahu kakak menyembunyikan sesuatu. Tapi aku juga tahu... kakak baik. Kakak adalah Dàshī sejati. Bukan karena kekuatan. Tapi karena hati."
Fengyin berlutut, sejajar dengan gadis kecil itu, dan menepuk kepalanya.
"Jaga ibumu," katanya. "Dan suatu hari, kalau kamu melihat seseorang membutuhkan bantuan—meski itu berisiko, meski itu sulit—ingatlah perasaan hari ini. Dan lakukan yang sama."
Xiao Mei mengangguk dengan serius yang lucu untuk usianya. "Aku akan jadi Dàshī juga! Dàshī yang menyembuhkan, bukan yang bertarung!"
Fengyin tersenyum—senyum pertama yang benar-benar tulus dalam waktu yang lama. "Itu adalah jenis Dàshī yang paling dibutuhkan dunia."
Ketika mereka kembali ke gua, Gu Yanqing berbicara dengan nada yang berbeda. Lebih... manusiawi .
"Kamu membuatku bangga hari ini," katanya, sederhana, tanpa embel-embel.
"Aku melanggar aturan," kata Fengyin. "Aku terlihat. Aku terdeteksi."
"Ya," kata Gu Yanqing. "Tapi kamu juga melakukan yang benar. Dan kadang-kadang..." dia berhenti, mencari kata-kata, "...kadang-kadang, yang benar lebih penting dari yang aman. Itu adalah pelajaran yang tidak bisa kujarkan dengan kata-kata. Hanya dengan contoh. Dan hari ini, kamu memberikan contoh itu padaku."
Fengyin menatap guru dengan terkejut. Tiga belas tahun, dan ini pertama kalinya Gu Yanqing mengakui bahwa muridnya bisa mengajarkan sesuatu pada gurunya.
"Kita punya waktu," lanjut Gu Yanqing. "Setahun, mungkin dua. Cukup untuk membuka dua elemen terakhir. Cukup untuk membuatmu siap."
"Siap untuk apa?" tanya Fengyin—pertanyaan yang sama seperti tiga belas tahun lalu, tapi dengan jawaban yang berbeda.
"Siap untuk menjadi dirimu sendiri," kata Gu Yanqing. "Bukan Tiānzé Zhě yang ditakdirkan. Bukan murid Gu Yanqing yang terlatih. Tapi Chen Fengyin. Pemilih kebenarannya sendiri. Pelindung yang dia pilih untuk dilindungi. Pembunuh yang dia pilih untuk dibunuh."
Dia berhenti, menatap ke luar, ke langit yang mulai bersih dari awan badai.
"Dan siap untuk kehilangan," tambahnya pelan. "Karena itu adalah bagian yang tidak bisa kujarkan padamu. Bagian yang harus kamu alami sendiri. Kehilangan... adalah harga kekuatan. Harga tanggung jawab. Harga menjadi lebih dari manusia biasa."
Fengyin tidak menjawab. Dia hanya berdiri di samping guru, menatap matahari terbenam yang sama, dan merasakan empat elemen mengalir di dalamnya—siap, menunggu, hidup .
Dua elemen lagi. Guāng dan Yǐng. Cahaya dan Bayangan.
Dia akan membukanya. Dia tahu itu sekarang. Bukan karena Gu Yanqing menginginkannya. Bukan karena takdir menuntutnya.
Tapi karena dia memilih untuk menjadi kuat. Kuat enough untuk melindungi. Kuat enough untuk tidak kehilangan lagi.
(Bersambung...)