"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Bab 16: Ujian di Skyview
Gedung Skyview Mall menjulang angkuh di pusat kota Tanjungbalai, sebuah monumen kaca yang kini menjadi simbol kegagalan properti terbesar di Sumatra Utara. Dindingnya yang dulu berkilau kini kusam, tertutup poster-poster diskon yang sudah robek dan debu yang menebal. Di dalamnya, suasana terasa seperti kuburan yang diterangi lampu neon redup.
Arka berdiri di lobi utama yang luas, mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika kaku oleh Ibu Fatimah. Tidak ada lagi garis-garis emas yang menari di sudut matanya. Tidak ada lagi angka-angka yang memberitahunya berapa suhu ruangan atau berapa rata-rata pendapatan pengunjung yang lewat.
Dunia terasa sangat... lambat. Dan menakutkan.
"Kau yakin ingin melakukan ini? Tanpa... benda itu?" Sarah berdiri di sampingnya, merapikan kerah kemeja Arka. Matanya memancarkan kecemasan yang dalam. Sarah tahu Arka baru saja kehilangan "keajaiban"-nya, dan baginya, membawa Arka ke pertemuan investor elit hari ini sama saja dengan mengirim domba ke kandang serigala.
Arka menggenggam tangan Sarah sejenak, merasakan hangatnya kulit manusia, bukan simulasi saraf. "Aku menghabiskan sepuluh tahun di jalanan tanpa bantuan AI, Sarah. Aku tidak butuh mesin untuk melihat bahwa gedung ini sedang sekarat karena pengelolanya tidak punya hati."
"Tapi Elina Clarissa... dia tidak akan memberimu ampun jika kau gagal," bisik Sarah.
Arka hanya mengangguk kecil, lalu melangkah menuju lift menuju lantai paling atas. Di saku celananya, ia meremas bros perak bengkok itu. Logamnya yang tajam menusuk kulit, memberikan rasa sakit yang membantunya tetap fokus.
Di lantai 35, ruangan rapat itu beraroma cerutu mahal dan kemunafikan. Elina Clarissa duduk di kursi utama, tampak seperti ratu di atas takhta es. Di sekeliling meja mahoni panjang, duduk lima pria paruh baya—para investor utama yang menguasai aliran dana di kota ini. Mereka adalah orang-orang yang hanya mengerti bahasa angka dan profit.
Pintu terbuka. Arka masuk sendirian.
Tawa kecil terdengar dari ujung meja. Pak Baskoro, seorang investor properti yang dikenal kejam, menatap Arka dari atas ke bawah. "Jadi, ini 'Arsitek' legendaris yang katanya bisa membangkitkan Skyview dari kubur? Elina, kurasa kau salah membawa orang. Dia lebih mirip kurir yang salah masuk gedung."
Elina tidak membela Arka. Ia justru menyandarkan punggungnya, menatap Arka dengan tatapan menguji. "Arka, perkenalkan dirimu. Dan tunjukkan pada mereka alasan mengapa aku tidak harus mendepakmu dari gedung ini sekarang juga."
Arka tidak langsung duduk. Ia berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota. Tanpa Sistem, ia tidak bisa melihat titik-titik kepadatan lalu lintas secara digital, tapi ia bisa melihat asap dari pabrik-pabrik di pinggiran kota, deretan ruko yang tutup, dan pelabuhan yang sepi.
"Skyview Mall gagal bukan karena lokasinya buruk," suara Arka bergema di ruangan yang sunyi itu. Suaranya tidak lagi datar seperti robot, melainkan bergetar dengan emosi yang nyata. "Gedung ini gagal karena kalian membangunnya sebagai 'Benteng', bukan sebagai 'Rumah'."
"Benteng? Apa maksudmu, Nak?" Pak Baskoro mendengus.
"Kalian memasang harga sewa yang hanya bisa dibayar oleh brand internasional. Kalian membuat satpam-satpam di depan bersikap seperti penjaga penjara bagi orang-orang berpakaian kusam. Kalian menciptakan ruang yang membuat 70% penduduk Tanjungbalai merasa tidak pantas untuk masuk," Arka berbalik, matanya tajam menatap para investor. "Kalian membangun kemewahan di atas rasa rendah diri orang lain. Dan di kota yang ekonominya sedang lesu, itu adalah bunuh diri bisnis."
"Bicara teori memang mudah," Elina menyela, suaranya sedingin es. "Tapi tunjukkan kepadaku datanya. Berapa proyeksi okupansi jika kita menurunkan harga sewa? Bagaimana kita menutup kerugian operasional?"
Arka terdiam. Jika Sistem masih ada, ia akan mengeluarkan tabel proyeksi dalam hitungan detik. Kepalanya akan berdenyut dengan algoritma probabilitas. Tapi sekarang, kepalanya kosong dari angka.
Ia menutup matanya. Ia mengingat kembali rute-rute kurirnya. Ia mengingat wajah pedagang pasar yang ingin menjual kerajinan tangan tapi tidak punya tempat. Ia mengingat anak-anak muda yang hanya ingin duduk minum kopi tanpa merasa dihakimi karena sepatu mereka yang butut.
"Aku tidak punya tabel proyeksi hari ini," ucap Arka jujur.
Para investor tertawa terbahak-bahak. Elina memejamkan matanya, tampak kecewa. "Arka, kau membuang waktuku."
"Tapi aku punya ini," Arka mengeluarkan tumpukan kertas kusam dari tasnya. Itu bukan laporan keuangan, melainkan ribuan surat pernyataan minat dari komunitas UMKM dan pedagang lokal yang ia kumpulkan semalam bersama para kurir.
"Ini adalah orang-orang yang selama ini kalian usir. Mereka adalah penggerak ekonomi asli Tanjungbalai. Rencanaku bukan membawa Gucci atau Prada ke sini. Rencanaku adalah mengubah lantai dasar menjadi pasar kreatif modern, di mana kurir logistikku menjadi penggerak utamanya."
Arka melangkah maju, menghantamkan tumpukan kertas itu ke meja rapat. "Kalian ingin angka? Aku beri kalian ribuan nyawa yang siap bekerja keras untuk menghidupkan gedung ini. Kalian bisa terus membiarkan gedung ini kosong dan menjadi monumen kegagalan kalian, atau kalian biarkan aku—seorang kurir yang tahu seluk-beluk jalanan—mengubahnya menjadi jantung kota."
Pak Baskoro berdiri, wajahnya merah padam. "Kau gila! Kau ingin mengubah Skyview menjadi pasar tumpah?"
"Aku ingin mengubahnya menjadi tempat di mana harga diri penduduk Tanjungbalai dihargai, Pak Baskoro," balas Arka tanpa berkedip. "Sesuatu yang tidak pernah Anda miliki dalam laporan keuangan Anda."
Suasana menjadi panas. Elina Clarissa berdiri, menatap Arka dengan intensitas yang mengerikan. Di dalam hatinya, ia mencari sosok 'Avatar AI' yang dulu ia kagumi. Ia tidak menemukannya. Yang ia lihat hanyalah seorang pria muda yang berdarah-darah mempertahankan idealismenya.
Dan anehnya, Elina merasa jantungnya berdegup lebih kencang melihat Arka yang sekarang.
"Cukup," Elina mengangkat tangannya. Ia menoleh ke arah para investor. "Beri dia waktu satu bulan. Lantai dasar dan lantai dua. Jika dalam tiga puluh hari okupansi tidak mencapai 50% dan arus kas tidak positif, Arka akan keluar dari sini—dan aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan pernah bisa bekerja lagi di industri apa pun."
"Elina, kau gila!" seru investor lain.
"Ini taruhanku," Elina menatap Arka. "Bagaimana, Arsitek? Masih punya nyali tanpa mesin di kepalamu?"
Arka meremas bros perak di sakunya hingga telapak tangannya berdarah. Perih itu terasa nikmat. Itu adalah bukti bahwa ia masih hidup.
"Satu bulan cukup untuk meruntuhkan kerajaan, Elina. Apalagi hanya untuk menghidupkan sebuah mal," jawab Arka tenang.
Arka keluar dari ruangan rapat dengan langkah lelah. Di lobi, Sarah sudah menunggunya dengan wajah pucat. Saat melihat Arka, ia langsung berlari dan memeluknya.
"Bagaimana?" tanya Sarah lirih.
Arka melepaskan pelukannya, menunjukkan telapak tangannya yang terluka karena remasan bros. "Kita punya waktu satu bulan, Sarah. Kita harus menggerakkan seluruh kurir. Kita tidak lagi mengirim paket orang lain... kita akan membangun rumah kita sendiri."
Malam itu, Arka duduk di lantai dasar mal yang gelap gulita. Ia tidak lagi melihat garis emas, tapi ia mulai membayangkan di mana panggung untuk pemusik jalanan akan diletakkan, di mana kedai kopi UMKM akan berdiri, dan di mana anak-anak panti asuhan bisa belajar tanpa rasa takut.
Ia adalah Arka Pramudya. Tanpa Sistem, ia memang lemah dalam menghitung data, tapi ia tak terkalahkan dalam memahami luka. Dan di kota yang penuh luka ini, luka itulah yang akan menjadi fondasi kekaisaran barunya.
"Hendra, Elina... kalian boleh memiliki sistem dunia ini," bisik Arka pada kegelapan mal. "Tapi aku memiliki jalannya."
Arka mematikan senternya. Di kegelapan itu, harga dirinya bersinar lebih terang dari algoritma mana pun.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.