Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di sela-sela waktu istirahat mengajar, Adnan mengeluarkan ponselnya.
Ia tak sabar ingin membagikan kabar gembira ini kepada istrinya.
Dengan senyum yang masih mengembang, Adnan menghubungi ponsel istrinya, Kinan.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Adnan lembut begitu sambungan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam, Mas. Ada apa? Apa bekalnya tidak enak?" tanya Kinan sedikit cemas dari seberang telepon.
"Bukan, justru sebaliknya. Masakanmu juara! Sayang, apa besok kamu masak cumi lagi? Ada yang pesan," ujar Adnan dengan nada antusias.
Adnan menceritakan bagaimana teman-teman sesama pengajar di pondok baru itu sampai mengantre ingin mencicipi cumi hitam buatannya.
Mendengar pujian itu, hati Kinan menghangat. Rasa percaya dirinya perlahan tumbuh.
Kinan tersenyum tipis, merasa sangat dihargai karena kemampuannya di dapur kini diakui oleh orang-orang terhormat.
"Iya Mas, Kinan buatkan. Kebetulan bahan-bahannya masih ada sedikit, nanti aku minta asistenku untuk belanja lagi. Berapa, Mas?" tanya Kinan siap dengan catatan kecilnya.
Adnan memanggil temannya yang memesan tadi, Ustadz Yusuf, yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Ustadz, ini istri saya tanya mau berapa porsi?"
Ustadz Yusuf menoleh dengan wajah berseri-seri. "Wah, jadi ya? Kalau begitu, aku pesan sepuluh porsi sekalian buat orang rumah. Tolong ya, Ustadz Adnan!"
Adnan kembali bicara ke ponselnya. "Sepuluh porsi, Sayang. Bisa?"
Kinan tertegun sejenak. Sepuluh porsi bukan jumlah yang sedikit, apalagi ia juga harus mengurus desain perhiasan dengan asisten kiriman Tuan Aris. Namun, melihat semangat suaminya, ia tak tega menolak.
"Bisa, Mas. Insya Allah besok pagi sudah siap semuanya," jawab Kinan mantap.
Dapur rumah yang kini terasa lebih hidup itu dipenuhi dengan aroma sisa sarapan.
Kinan melihat catatan di tangannya—sepuluh porsi cumi hitam bukan jumlah yang sedikit untuk dikerjakan sendiri di sela-sela kesibukan mendesain perhiasan.
Kinan meminta asistennya untuk membantunya ke pasar sebentar.
Ia menatap dua asisten kiriman Tuan Aris, Mbak Siska dan Mbak Tia dengan perasaan sungkan.
Seharusnya mereka membantunya menggambar, bukan menemaninya belanja bahan dapur.
"Mbak, maaf. Apa bisa bantu saya ke pasar sebentar? Saya harus menyiapkan pesanan teman-teman Mas Adnan," tanya Kinan ragu.
Mendengar permintaan itu, kedua asisten tersebut tersenyum ramah dan tanpa ragu mereka menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, Bu Kinan. Tugas kami di sini adalah memastikan pekerjaan Ibu lancar, apa pun itu bentuknya," jawab Mbak Siska dengan tulus.
Kinan menunduk sedikit, merasa tidak enak hati. "Maaf ya, malah saya yang merepotkan. Harusnya kalian membantu saya di meja gambar, tapi sekarang malah harus ikut ke pasar yang becek."
"Jangan bilang begitu, Bu. Kami justru senang bisa keluar sebentar melihat suasana pasar. Lagipula, kami penasaran dengan bahan rahasia cumi hitam Ibu yang bikin heboh satu pondok itu," canda asisten satunya lagi, membuat suasana menjadi cair.
Mereka pun berangkat menggunakan mobil fasilitas dari kantor.
Sesampainya di pasar, pemandangan kontras terjadi.
Kinan yang kini tampil anggun dan bersih, berjalan didampingi dua asisten yang sigap membawakan keranjang belanjaan.
Para pedagang yang dulu mungkin mengenalnya sebagai wanita jalanan, kini menatapnya dengan penuh hormat dan segan.
Kinan memilih cumi-cumi segar dengan tinta yang masih utuh, serta bumbu-bumbu dapur kualitas terbaik.
Dengan bantuan asistennya, belanjaan yang biasanya memakan waktu lama kini selesai dalam sekejap.
Keranjang belanjaan yang penuh dengan cumi segar, cabai, dan rempah-rempah kini sudah berjajar di atas meja dapur yang bersih. .
Selesai belanja, momen seru saat kedua asisten itu ikut membantu Kinan memasak di dapur dimulai dengan tawa kecil.
Mbak Siska dan Mbak Tia, yang biasanya berkutat dengan laptop dan berkas kontrak, kini harus memakai celemek.
Mereka tampak canggung saat memegang pisau untuk mengupas bawang merah, sementara Kinan dengan sangat cekatan membersihkan cumi agar tintanya tidak pecah.
"Duh, Bu Kinan, jari saya jadi hitam semua!" seru salah satu asisten sambil tertawa melihat tangannya terkena tinta cumi.
"Pelan-pelan, Mbak. Justru tinta ini yang bikin gurih," sahut Kinan sambil tersenyum tulus.
Suasana dapur yang biasanya sunyi kini ramai dengan obrolan ringan dan denting spatula.
Kinan mengajari mereka teknik menumis bumbu agar aromanya keluar sempurna.
Tak terasa, aroma sedap yang sangat kuat mulai memenuhi seisi rumah.
Satu jam telah selesai proses memasak itu. Kuali besar di atas kompor kini berisi cumi hitam yang pekat, kental, dan sangat menggoda selera.
"Ini sudah matang. Kita biarkan dingin dulu ya, Mbak. Menunggu nanti malam ditaruh di wadah agar bumbunya lebih meresap ke dalam daging cuminya," instruksi Kinan sambil mematikan kompor.
Kedua asisten itu mengelap keringat di dahi mereka dengan perasaan puas.
Mereka tidak menyangka bahwa membantu memasak bisa seseru ini.
"Sekarang, mari kita kembali ke tugas utama," ucap Mbak Siska sambil merapikan celemeknya.
Kinan mencuci tangannya hingga bersih, memastikan tidak ada bau amis yang tertinggal.
Ia menarik napas dalam, membuang rasa lelah fisiknya. Setelah itu, Kinan kembali menggambar di meja kerjanya yang kini sudah dilengkapi dengan lampu sorot yang terang.
Di sampingnya, kedua asisten itu mulai menyalakan laptop untuk memindahkan sketsa manual Kinan ke dalam bentuk digital.
Jemari Kinan kembali menari di atas kertas, menggoreskan desain anting panjang yang terinspirasi dari bentuk tetesan air mata yang berubah menjadi permata—sebuah simbol dari perjalanannya sendiri.
Deru mesin mobil Adnan terdengar memasuki halaman saat langit mulai berubah jingga.
Adnan melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-sisa kelelahan mengajar, namun rasa penat itu seolah menguap saat ia mencium aroma rempah yang sangat kuat dan menggoda dari arah dapur.
Adnan pulang dan terkejut melihat 10 porsi bekal sudah berjajar rapi di atas meja makan panjang. Kotak-kotak itu tertata sangat presisi, lengkap dengan nasi gurih yang pulen dan cumi hitam yang mengkilap di atasnya.
Di sampingnya, terdapat dua asisten Tuan Aris yang sedang merapikan beberapa berkas desain dan laptop mereka.
"Masya Allah, sudah jadi sebanyak ini?" tanya Adnan takjub, matanya berbinar menatap barisan bekal tersebut.
Kinan yang sedang mengelap meja menoleh dengan senyum cerah.
"Sudah, Mas. Dibantu para tim juga tadi."
Melihat kehadiran Adnan, kedua asisten berpamitan.
Mereka merapikan tas dan peralatan kerja mereka dengan sigap.
"Ustadz Adnan, kami mohon pamit dulu. Pekerjaan desain hari ini sudah kami kirimkan ke pusat, dan urusan dapur juga sudah beres," ucap Mbak Siska dengan sopan.
"Sampai bertemu besok pagi, Bu Kinan."
"Terima kasih banyak ya, Mbak. Maaf sudah merepotkan sampai ikut ke dapur," sahut Kinan sambil mengantar mereka sampai ke pintu depan.
Setelah asisten itu pergi, Adnan mendekati Kinan dan merangkul bahunya pelan.
Ia menatap deretan kotak bekal itu dengan rasa bangga yang luar biasa.
"Kamu hebat, Sayang. Dalam satu hari bisa jadi desainer, sekaligus koki untuk sepuluh orang," bisik Adnan kagum.
"Besok teman-teman di pondok pasti akan berebut mendapatkan kotak-kotak ini."
Kinan menyandarkan kepalanya di dada Adnan, merasakan ketenangan yang dulu hanya menjadi mimpi baginya.
"Selama itu bisa membantu Mas di tempat kerja baru, aku akan melakukannya dengan senang hati."
Kinan mendekati Adnan yang masih terpaku menatap deretan kotak bekal itu.
Wajahnya memancarkan ketulusan yang luar biasa. Meski hatinya pernah tersayat oleh perlakuan orang-orang di pesantren lama, ia tidak membiarkan dendam menguasai dirinya.
"Mas, kita ke Abah yuk. Aku sudah menyisihkan sebagian untuk Abah," ucap Kinan lembut sambil menunjukkan satu wadah khusus yang isinya lebih lengkap dan ditata paling cantik.
$Aku ingin Abah juga merasakan masakan menantunya, meskipun mungkin Abah masih kecewa pada kita."
Mendengar ajakan itu, raut wajah Adnan berubah drastis. Adnan terdiam, ia takut jika istrinya akan diusir dari pondok lagi seperti kejadian memilukan tempo hari. Bayangan caci maki warga dan tatapan dingin ayahnya sendiri masih membekas jelas di benaknya.
Ia tidak ingin melihat Kinan terluka untuk kesekian kalinya.
"Sayang, apa kamu yakin?" tanya Adnan pelan, suaranya penuh keraguan.
"Mas tidak ingin kamu dihina lagi. Abah sedang sangat keras hati sekarang."
Kinan tersenyum tipis, diraihnya tangan suaminya yang masih tampak tegang.
"Kalau aku diusir, kan ada Mas. Mas pasti akan melindungiku, kan? Lagipula, kita datang dengan niat baik untuk berbakti. Masalah diterima atau tidak, itu urusan Abah dengan Allah."
Ketegaran Kinan meruntuhkan tembok kekhawatiran di hati Adnan.
Ia menarik napas panjang, mencoba membuang rasa sesak di dadanya.
Keberanian istrinya justru menjadi tamparan kecil baginya untuk tetap tegar sebagai seorang lelaki.
"Baiklah, Mas mandi dulu ya, setelah itu kita ke Abah," jawab Adnan akhirnya dengan anggukan mantap.
"Siapkan saja bekalnya, kita berangkat sebelum Isya agar tidak terlalu malam."
Kinan mengangguk cepat, wajahnya berseri-seri. Ia segera membungkus wadah untuk Abah dengan kain batik yang rapi.
Sementara itu, Adnan melangkah ke kamar mandi, hatinya berkecamuk antara rasa rindu pada ayahnya dan ketakutan akan penolakan yang mungkin kembali mereka terima di gerbang pesantren lama.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅