Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas — Kota Sejuk yang Sunyi
Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka yaa..
Jay melangkah mendekati Niki dan melihat ujung jalan yang ditemui oleh Niki. Keluar jalannya membuat Jay bereaksi sedikit kaget dan membulatkan kedua matanya. “Bukan mempersingkat, tapi ini kita sudah tiba di kota Sejuk. Ini bagian belakang komplek rumahku.” gumam Jay membuat semuanya menatap ke arahnya.
“Sebelum itu kita harus keluar dengan wajah bersih dan tidak berantakan.”
Subuh datang tanpa warna. Langit masih abu-abu ketika mereka bersiap bergerak. Mereka tidak kembali melalui jalur masuk utama bunker. Jay justru mengikuti Niki ke sisi belakang ruangan, tempat tanah tampak sedikit berbeda–lebih kering, lebih padat.
“Aku nemu ini waktu jaga,” bisik Niki sambil berjongkok. Ia menarik akar kecil yang tampak seperti bagian alami dari dinding tanah. Terdengar bunyi geser pelan, sebagian dinding tanah runtuh tipis, memperlihatkan lorong sempit yang cukup untuk satu orang merangkak.
“Pintu tanah belakang,” ujar Niki pelan. “Prosesnya lebih cepat walau sedikit memutar.” Jay mengamati jalur itu sebentar lalu mengangguk. “Kita keluar lewat sini.”
Satu per satu mereka masuk ke lorong sempit itu. Tanahnya lembab, akar-akar menggantung rendah, dan udara terasa lebih pengap. Arsya merangkak sambil memastikan Lyno tepat di belakangnya. Lorong itu tidak panjang, tapi cukup untuk membuat nafas terasa berat. Ujungnya perlahan memperlihatkan cahaya kebiruan subuh. Begitu keluar, mereka tidak lagi berada di tepi sungai, melainkan di sisi lain hutan, lebih dalam dan lebih tinggi dari jalur sebelumnya. “Kemarin karena gelap, aku tidak bisa melihat selain hutan,” lanjut Niki pelan. “Namun yang pasti ujungnya itu cukup mempersingkat jalan kita menuju Kota Sejuk.”
Jay melihat kabut pagi masih menggantung rendah ketika Jay melangkah lebih dulu melewati semak terakhir.
Ia mengikuti arah yang ditunjukkan Niki, beberapa langkah lagi—dan pepohonan benar-benar terbuka, aspal, pagar besi. Serta deretan rumah dua lantai dengan halaman kecil.
Jay berhenti mendadak. Matanya membulat, “Bukan mempersingkat…” gumamnya pelan. Semua langsung mendekat. Jay menatap lurus ke depan, ke sebuah rumah bercat abu-abu dengan balkon kecil di lantai dua.
“Itu…” nafasnya tertahan sesaat. “Kita sudah tiba di Kota Sejuk. Ini bagian belakang komplek rumahku.”
Sunyi.
Arsya menoleh cepat ke arahnya. “Rumahmu?”
Niki juga tampak terkejut. “Serius?”
Jay mengangguk pelan, gerbang belakang komplek itu setengah terbuka. Tidak ada suara tembakan, tidak ada jeritan, tidak ada derap liar. Terlalu sepi. “Kalau ini belakang komple…” gumam Regan, “berarti kita benar-benar masuk dari titik paling tidak terduga.”
Jay masih menatap rumah itu, banyak kenangan di sana. Sebelum semuanya hancur. Sebelum eksperimen, sebelum perburuan.
Ia menarik nafas panjang dan akhirnya berbalik ke mereka. “Sebelum itu,” katanya tegas, kembali ke mode waspada, “kita harus keluar dengan wajah bersih dan tidak berantakan.”
“Niki langsung mengerti, “kalau ada tentara, kita terlihat seperti pengungsi. Kalau ada kelompok lain, kita terlihat lemah.”
“Asa, Domi—rapikan pakaian kalian. Jangan terlihat seperti baru keluar dari tanah,” tambah Jay. Arsya cepat-cepat mengusap wajah Lyno dengan sisa air di botol, membersihkan lumpur di pipinya. Regan merapikan jaketnya, menepuk-nepuk debu dari celana. Jay sendiri mengusap wajahnya, mengatur ekspresi.
Tenang,
Bukan buronan, melainkan seseorang yang tahu kemana ia melangkah. Arsya memperhatikan perubahan itu. “Kita masuk sebagai apa?” tanyanya pelan. Jay menatap komplek rumahnya lagi. “Sebagai warga yang selamat.” ia melangkah maju beberapa langkah, tapi tidak langsung masuk. Karena ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Tidak ada kendaraan terparkir di jalan, tidak ada bendera evakuasi, serta tidak ada pos jaga. Namun di salah satu atap rumah ujung jalan, ada sesuatu yang bergerak, bukan Kanihu melainkan sosok manusia yang sedang memegang kilau laras senjata panjang.
Jay memundurkan langkahnya sekali, dan dua kali. Membuat yang berada di belakang memundurkan langkahnya juga. “Siap-siap, ada manusia yang membawa senjata tajam. Kita sekarang bertujuan masuk kedalam rumahku saja. Rumahku tidak jauh dari gerbang belakang.”
“Kita ikut kamu saja, Jay,” bisik Arsya disetujui oleh semuanya. Mereka langsung berjalan santai, diam-diam dan ketika sosok itu lengah mereka dengan langkah cepat berlari dan berhasil sampai di halaman kecil milik rumah Jay.
Jay mulai membuka pintu belakang rumahnya dengan pelan ketika sudah mengintip bahwa keadaan rumah tidak ada siapapun.
Dengan perhitungan cepat dan tanpa menarik perhatian dari atap tadi, Jay memberi isyarat halus agar mereka bergerak rendah dan cepat menyusuri pagar belakang. Untungnya, akses menuju rumahnya memang dari sisi belakang komplek.
Pintu dapur, masih terkunci. Jay mengeluarkan kunci kecil dari tali lehernya.
Klik.
Pintu terbuka, mereka masuk satu per satu, lalu menutupnya kembali pelan. Hening. Jay berdiri beberapa detik, membiarkan matanya menyesuaikan diri. Tidak ada barang berserakan atau tanda penjarahan. Sofa masih pada tempatnya. Foto keluarga masih tergantung rapi di dinding. Tirai tertutup setengah. Hanya ada kesan tergesa. Seperti seseorang pergi cepat… tapi bukan karena kekacauan di dalam rumah.
Arsya dan Lyno bergerak ke arah dapur. Wastafel bersih. Piring sudah di cuci. Tidak ada bau busuk. “Seperti ditinggalkan mendadak.” gumam Arsya.
Niki membuka kulkas perlahan. Lampunya masih menyala—berarti listrik masih aktif. “Wahh..” bisiknya pelan. Ada beberapa botol air. Telur gulung yang diisi dengan daging sudah matang hanya beku, roti kemasan, kue kering yang sudah di taro di tempat bekal. Sayur yang mulai layu tapi belum rusak. Beberapa makanan beku di freezer. “Ini surga kecil,” komentar lirih.
Asa dan Domi langsung terlihat sedikit lebih hidup. Jay berjalan perlahan menuju ruang tamu. Tangannya menyentuh sandaran sofa, debu tipis, tidak terlalu lama ditinggalkan.
Ada amplop, dengan namanya. Tulisan tangan yang sangat ia kenal..
Jay.
Nafasnya tercekat sesaat, ia mengambil amplop itu perlahan, Arsya yang menyadari perubahan ekspresinya mendekat. “Apa itu?” Jay belum menjawab. Ia membuka amplop tersebut, kertas di dalamnya hanya satu lembar. Tulisan cepat, tergesa.
Jay membaca ulang Isi pesan itu dalam diam.
“Jay, anak kami.. Jika kamu sudah tiba di rumah, Ibu sudah menyiapkan bekal untukmu. Kami akan di evakuasi menuju kota Abadi yang aman bagi kami para warga. Ibu dan ayah memiliki harapan jika kamu selamat dari wabah ini. Kami buru-buru pergi, karena waktu kami hanya sebentar, jaga dirimu baik-baik nak. Kami sayang Jay, putraku.”
Tangannya sedikit bergetar saat menurunkan kertas itu, bukan karena takut melainkan karena lega. Mereka hidup, di evakuasi dan pergi ke Kota Abadi. Harapan itu nyata.
“Niki, masukan langsung cemilan itu ke dalam tasku, yang rapi.” ujar Arsya lalu dia melangkah pelan menuju lantai dua, ia ingin melihat apakah ada pakaian ganti untuk dirinya.
Setelah mendapatkan pakaian bersih ia mengenakannya di kamar orang tua Jay, sedikit tidak sopan namun mau bagaimana lagi, dirinya merasa risih dengan pakaian basah. Setelah keluar, ia mendengar suara berisik di balik pintu putih.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri tanda like dan vote ya.. kita lanjut jam 16.00pm