Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Ujian Terakhir
Pagi hari di Sekte Naga Perak terasa berbeda dari hari sebelumnya. Udara pegunungan masih dingin, namun suasana di halaman latihan dipenuhi ketegangan.
Dua belas peserta yang tersisa berdiri berbaris rapi di depan arena. Mereka adalah orang-orang yang berhasil melewati dua ujian sebelumnya.
Namun hanya sepuluh orang yang akan diterima menjadi murid Sekte Naga Perak.
Di depan mereka, Han Jiseok berdiri dengan wajah tenang seperti biasa.
“Ini adalah ujian terakhir,” katanya dengan suara tegas.
Semua peserta langsung fokus mendengarkan.
“Pada ujian ini, kalian akan bertarung sekali lagi. Namun kali ini lawan kalian akan ditentukan oleh sekte.”
Beberapa murid sekte kemudian membawa sebuah kotak kayu berisi papan nama para peserta.
Han Jiseok mengambil dua papan nama pertama.
“Pertarungan pertama: Hwang Min melawan Baek Jin.”
Dua pemuda itu langsung maju ke arena.
Pertarungan mereka berlangsung sengit. Kedua orang itu sama-sama kuat, namun akhirnya Hwang Min berhasil menang dengan tebasan cepat yang membuat lawannya jatuh keluar arena.
Sorakan kecil terdengar dari beberapa murid sekte.
Pertarungan berikutnya juga tidak kalah seru. Para peserta menunjukkan teknik terbaik mereka untuk membuktikan kemampuan.
Beberapa kemenangan terjadi dengan cepat, namun beberapa pertarungan berlangsung sangat lama.
Akhirnya Han Jiseok mengambil dua papan nama lagi.
Ia membaca dengan suara jelas.
“Goo Yoon… melawan Jin Ryuk.”
Suasana langsung menjadi sunyi.
Semua orang menoleh ke arah dua orang itu.
Goo Yoon berjalan maju dengan langkah tenang seperti biasanya.
Sementara Jin Ryuk melangkah dengan percaya diri, jubah merahnya bergerak pelan tertiup angin.
Ia tersenyum tipis saat melihat Goo Yoon.
“Akhirnya kita bertemu di arena,” katanya.
Goo Yoon tidak menjawab.
Namun tatapannya menunjukkan bahwa ia siap.
Han Jiseok mengangkat tangannya.
“Mulai!”
Begitu pertarungan dimulai, Jin Ryuk langsung bergerak.
WHOOSH!
Gerakannya jauh lebih cepat dibanding lawan-lawan Goo Yoon sebelumnya.
Pedangnya menyerang dari berbagai arah.
CLANG!
CLANG!
Goo Yoon menangkis serangan itu dengan pedang kayunya, namun ia bisa merasakan tekanan yang jauh lebih kuat.
‘Dia berbeda…’ pikir Goo Yoon.
Jin Ryuk tersenyum.
“Kau cukup cepat. Tapi itu saja tidak cukup.”
Ia kemudian mengubah gerakan pedangnya.
Serangannya menjadi lebih tajam dan sulit diprediksi.
Beberapa kali Goo Yoon hampir terkena serangan.
Para penonton mulai berbisik.
“Jin Ryuk sangat kuat.”
“Dia murid keluarga pendekar terkenal.”
Namun Goo Yoon tetap tenang.
Ia mengingat kembali latihan panjangnya di pegunungan.
Ia menutup pikirannya dari semua suara.
Hanya fokus pada satu hal.
Gerakan lawannya.
Tiba-tiba Goo Yoon bergerak.
Langkahnya berubah menjadi lebih ringan.
Pedang kayunya bergerak cepat.
TOK!
Pedangnya menangkis serangan Jin Ryuk dengan sudut yang aneh.
Gerakan itu membuat pedang Jin Ryuk sedikit terpental.
Jin Ryuk terkejut.
“Apa itu tadi?”
Namun Goo Yoon tidak berhenti.
Ia melangkah maju dan menyerang untuk pertama kalinya.
WHOOSH!
Serangan itu sangat sederhana.
Namun sangat cepat.
Jin Ryuk berhasil menangkisnya, tetapi ia terpaksa mundur dua langkah.
Para penonton langsung terkejut.
“Itu pertama kalinya Jin Ryuk mundur!”
Jin Ryuk kemudian tertawa kecil.
“Bagus… akhirnya menarik.”
Aura di sekelilingnya terasa berubah.
Ia memegang pedangnya lebih erat.
“Kau memang berbeda dari yang lain.”
“Kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi.”
Angin di arena berhembus lebih kuat.
Pertarungan antara mereka baru saja memasuki tahap yang sebenarnya.
Dan bagi Goo Yoon, ini adalah pertama kalinya ia menghadapi lawan yang benar-benar seimbang.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/