NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Panas, Kita Justru Dekat

Perjalanan pulang terasa sangat berbeda dari tadi pagi. Matahari sudah berada tepat di atas kepala, panasnya menyengat dan memantul gerah dari aspal jalan. Angin yang menerpa wajah pun tidak lagi sejuk—justru terasa hangat dan kering.

Aku melirik spion sekilas. Cila masih duduk diam di belakang, tenang seperti biasa. Namun, baru beberapa menit melaju, ada yang tidak beres.

“Eh, bentar,” gumamku pelan.

Motor terasa aneh. Tarikannya mendadak berat dan oleng. Aku langsung memperlambat laju, lalu menepi ke bahu jalan yang berdebu. Aku turun, menunduk melihat ban belakang Si 73.

Kempes total. Sebuah paku payung tertancap telak di sana.

“...Wah, parah,” desahku pelan. Aku menghela napas panjang, menoleh ke arah Cila yang sudah turun dari motor sambil mengerutkan kening.

“Kenapa, Ren?” tanyanya.

“Ban bocor,” jawabku singkat sambil menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.

Seketika kepalaku penuh dengan pikiran buruk. Panas terik, jalan kaki, lelah setelah MPLS, dan sekarang harus mendorong motor tua ini. Aku merasa gagal.

“Duh… bisa-bisa dia kapok jalan bareng aku,” batinku cemas. Aku menatap Cila lagi, merasa sangat tidak enak hati. “Maaf ya, Cil… kayaknya harus dorong dulu cari tambal ban. Kamu kalau mau naik taksi duluan nggak apa-apa kok.”

Cila tidak langsung menjawab. Dia menatapku diam, lalu tiba-tiba... dia justru tersenyum kecil.

“Ih, nggak apa-apa kali,” katanya santai.

Aku sedikit kaget. Bukannya kesal atau mengeluh panas, dia malah terlihat biasa saja. Bahkan, ada kesan seolah dia sedang menahan tawa melihat mukaku yang tegang.

Akhirnya aku mulai mendorong motor pelan di pinggir jalan. Aspal terasa membara di bawah sol sepatu. Napasku mulai berat, bukan cuma karena beban motor, tapi karena rasa bersalah yang masih mengganjal.

“Maaf ya… jadi harus jalan panas-panasan gini,” kataku lagi, memastikan dia baik-baik saja.

Cila berjalan di sampingku, langkahnya santai mengikuti irama dorongan motorku. “Santai aja kali, Ren,” balasnya ringan. “Lucu juga kalau dipikir-pikir. Jarang-jarang, kan, kita begini?”

Aku meliriknya heran. “Lucu?”

Dia mengangguk kecil, senyumnya masih belum hilang. “Iya. Kamu panik banget tadi. Lucu liat mukanya.”

Aku meringis, sedikit malu tapi juga lega. “Ya gimana… ini kan pertama kali aku bonceng kamu sekolah, malah kejadian begini.”

Cila tertawa kecil, suara tawa yang entah kenapa membuat rasa lelah di kakiku mendadak hilang. Suasana yang tadinya terasa berat karena rasa bersalah, perlahan jadi lebih ringan.

Kami terus berjalan beberapa menit di bawah naungan pohon-pohon peneduh jalan yang jarang, sampai akhirnya terlihat papan kayu kusam di pinggir jalan. *Tambal Ban.*

“Tuh, di sana!” kata Cila sambil menunjuk dengan semangat.

Aku mengangguk cepat, lalu mendorong motor sedikit lebih bertenaga. Kami sampai di sebuah bengkel kecil pinggir jalan. Hanya warung kayu sederhana dengan tumpukan ban bekas, tapi bagiku itu adalah penyelamat.

Aku berhenti, menyeka keringat di dahi, lalu menghela napas lega. “Untung ketemu.”

Hari itu memang panas luar biasa. Tapi entah kenapa, saat aku melirik Cila yang sedang mengipasi wajahnya dengan tangan sambil tersenyum ke arahku, semuanya tidak terasa seburuk yang kubayangkan. Kebiasaan baru ini... ternyata punya tantangannya sendiri, dan aku tidak keberatan menjalaninya bersamanya.

***

Sesampainya di tempat tambal ban, aku langsung menghampiri tukangnya yang sedang sibuk dengan tumpukan ban bekas.

“Bang, tambal ban,” kataku.

“Oh iya, Dek,” jawabnya singkat tanpa menoleh, lalu langsung mulai mengecek ban belakang Si 73.

Aku menoleh ke sekitar, mencari tempat yang layak untuk Cila beristirahat. Namun, area bengkel ini sangat sempit, tidak ada satu pun bangku di situ.

“Bang, di sini nggak ada tempat duduk, ya?” tanyaku sedikit kuatir.

Tukang tambal ban itu menunjuk ke seberang jalan dengan tangannya. “Itu, di sana aja. Ada bangku di bawah pohon peneduh.”

Aku mengikuti arah tangannya. Benar saja, ada sebuah bangku kayu sederhana yang terlindungi pohon rindang.

“Cil, kita ke sana aja yuk,” ajakku.

Cila mengangguk, lalu berjalan bersamaku menyeberang jalan yang masih terasa panas. Setelah dia duduk dan sedikit berteduh, aku pamit sebentar ke warung kelontong kecil tak jauh dari situ. Aku membeli dua botol minuman dingin yang berembun, lalu kembali menghampirinya.

“Nih,” kataku sambil menyerahkan satu botol dingin itu.

Cila menerimanya, tapi ekspresinya sedikit berubah. Ada guratan tidak enak hati yang muncul di wajahnya.

“Kayaknya kalau sama kamu, aku nggak usah bawa uang jajan deh, Ren,” ujarnya pelan sambil menatap botol di tangannya.

Aku tersenyum kecil, paham arah bicaranya. “Anggap aja ini permintaan maafku. Sudah bawa kamu ke situasi kayak gini, panas-panasan dorong motor,” jawabku santai.

“Ya tapi kan aku juga numpang di motor kamu,” balasnya cepat, seolah tidak mau berhutang budi terlalu banyak.

Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya duduk di sampingnya, membuka tutup botolku, lalu meneguk air dingin itu pelan. Kerongkonganku terasa segar seketika. Beberapa detik kami hanya terdiam, ditemani suara kendaraan yang sesekali lewat.

Aku melirik ke arahnya, rasa ragu itu muncul lagi. “Mmm… tapi kamu nggak kapok, kan, gara-gara kejadian ini?” tanyaku akhirnya, memastikan ketakutanku tidak jadi nyata.

Cila menoleh, lalu mendengus pelan.

“Yang bikin kapok itu bukan itu,” katanya tegas. “Tapi rasa nggak enak karena kamu selalu bayarin aku.”

Aku langsung menunduk sedikit, merasa tersindir sekaligus bingung mau jawab apa. “Mmm… iya, maaf.”

Cila yang sedang meneguk minumannya tiba-tiba langsung tertawa kecil. Suaranya renyah di tengah siang yang terik.

“Haha… perasaan dari tadi kamu minta maaf mulu deh. Kenapa sih?”

Aku ikut tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepala. Ketahuan sekali kalau aku sedang gugup. “Hehe… gimana ya…”

Cila menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, seolah habis melihat tingkah konyol. “Udah, santai aja. Aku nggak masalah kok sama motornya.”

Aku diam sebentar, meresapi kalimatnya. Lalu tanpa sadar, aku ikut tersenyum lebih lepas. Panas siang itu memang masih terasa menggigit kulit, tapi duduk di bawah pohon rindang ini, ditemani minuman dingin dan obrolan jujur dari Cila… entah kenapa, rasanya jauh lebih dari sekadar menyenangkan.

***

Beberapa menit berlalu.

Suara alat dari tempat tambal ban terdengar samar dari seberang jalan. Aku sesekali melirik ke arah motor, memastikan semuanya baik-baik saja. Cila duduk santai di sampingku, memainkan botol minumannya yang sudah setengah kosong.

“Kayaknya udah hampir selesai,” kataku pelan.

Cila ikut menoleh. “Iya, tadi aku lihat sudah dipasang lagi.”

Aku mengangguk, lalu berdiri. “Yuk.”

Kami menyeberang kembali ke tempat tambal ban. Tukangnya sedang memasang kembali ban ke posisi semula, tangannya cekatan.

“Udah, Dek. Aman ini,” katanya sambil menepuk-nepuk ban.

Aku menghela napas lega. “Siap, Bang. Berapa?”

“Sepuluh ribu aja.”

Aku langsung mengeluarkan uang dari saku, lalu menyerahkannya. “Makasih ya, Bang.”

“Iya, hati-hati di jalan,” balasnya singkat.

Aku mengangguk, lalu mendorong motor sedikit menjauh. Setelah itu, aku menyalakan mesin. Suaranya kembali halus seperti tadi.

Aku menoleh ke arah Cila. “Naik.”

Cila mengangguk, lalu duduk di belakang. Tangannya kembali memegang sisi jaketku, pelan. Aku menarik gas, motor mulai melaju lagi di jalan yang masih terasa panas.

Perjalanan kali ini lebih tenang. Tidak banyak bicara, tapi terasa… lebih dekat.

Sesampainya di depan rumahnya, aku memperlambat laju, lalu berhenti seperti tadi. Mesin dimatikan. Cila turun, melepas helm, lalu mengembalikannya padaku.

“Makasih ya… meskipun sempat drama,” katanya sambil tersenyum kecil.

Aku tertawa pelan. “Iya… maaf juga.”

Cila menggeleng. “Udah, jangan minta maaf lagi.”

Aku hanya tersenyum.

Dia berbalik, membuka pagar, lalu melangkah masuk. Sebelum benar-benar masuk, aku mengingatkan dan mengajak:

“Eh Cila, besok pagi ikut lari nggak? Kan tadi pagi nggak jadi,” tanyaku.

Cila mengangguk. “Kabarin aku aja kalau kamu siap.”

Dia masuk. Aku masih diam beberapa detik di atas motor, menatap pintu yang sudah tertutup. Hari ini memang tidak berjalan mulus. Tapi entah kenapa… justru terasa lebih berkesan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!