Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pengkhianatan dan Rasa Malu sang Putri
Malam itu, sebelum tragedi di hotel memuncak, Edward sebenarnya sudah menerima sinyal bahaya. Di bawah perintahnya, jaringan intelijen yang jauh lebih besar dari sekadar Rey—tim Zollern Security yang tersebar di seluruh London—telah melaporkan pergerakan Eleanor sejak ia menginjakkan kaki di lobi hotel.
"Sir, Nona Eleanor terlihat tidak stabil setelah meminum sampanye dari Tuan Miller. Dua pria asing membopongnya ke lantai atas, tapi asistennya, Tata, tidak terlihat bersama mereka," lapor suara di seberang telepon.
Mendengar itu, rahang Edward mengeras. Ia tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa ini bukan sekadar pertemuan bisnis. Dengan kecepatan tinggi, Edward memacu mobilnya, melibas jalanan London seolah nyawanya sendiri yang terancam. Baginya, mendapatkan informasi tentang Eleanor semudah membalikkan telapak tangan; setiap gerak-gerik wanita itu adalah prioritas utama dalam radarnya.
Pagi Harinya – Mansion Pribadi Edward. Sinar matahari menyengat mata Eleanor. Setelah perdebatan "tanggung jawab" yang memalukan dengan Edward tadi, Eleanor buru-buru kabur dari mansion itu begitu Edward berangkat ke kantor. Di dalam taksi menuju rumahnya, pikiran Eleanor berkecamuk hebat.
Ia menyentuh bibirnya, lalu meraba tubuhnya sendiri. 'Kenapa aku tidak merasa sakit di bagian bawah? Bukankah biasanya setelah berhubungan...' Eleanor menggelengkan kepalanya kuat-kuat, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Tapi memori tentang dirinya yang duduk di atas perut Edward dan menciumi dada bidang pria itu dengan rakus terasa sangat nyata.
"Oh Tuhan, Eleanor... kau benar-benar sudah gila karena obat itu," rintihnya pelan, menutupi wajah dengan kedua tangan. Ia merasa sangat bersalah. Ia pikir ia telah menodai harga diri Edward Zollern. Karena rasa malu yang di ujung tanduk itu, Eleanor memutuskan—untuk sementara waktu—ia akan bersikap manis dan tidak akan membantah pria itu sebagai bentuk penebusan dosa.
Kantor Pusat Zollern Group – Pukul 11 Pagi. Di lantai teratas, suasana ruangan Edward terasa mencekam. Di atas meja kerjanya yang bersih, sudah tersedia dua map tebal berisi identitas lengkap dua pria semalam, termasuk riwayat panggilan telepon dan transaksi bank mereka.
"Mereka adalah orang bayaran kelas teri, Sir," lapor Rey yang berdiri tegap. "Tapi jejak uangnya sangat jelas. Dana dikirim melalui akun anonim di New York, namun alamat IP-nya terdaftar atas nama manajer pribadi Nona Lyodra."
Edward menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah dokumen itu. Ia tidak terkejut. Lyodra selalu menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Miller, pengusaha paruh baya itu?" Tanya Edward dingin.
"Dia mengaku hanya diminta mengatur pertemuan sebagai balas budi kontrak model di masa lalu. Dia tidak tahu soal obat itu, tapi dia tetap merasa bersalah karena meninggalkan Nona Eleanor sendirian," tambah Rey.
"Hancurkan Miller. Tarik semua investasi Zollern dari perusahaannya sore ini juga," ucap Edward tanpa ragu. "Dan untuk Lyodra... jangan sentuh dia dulu. Aku ingin dia melihat bagaimana 'targetnya' justru menjadi ratu di sampingku sebelum aku benar-benar memusnahkan kariernya."
Tiba-tiba, ponsel pribadi Edward bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenali.
Eleanor: "Tuan Zollern... saya sudah sampai di rumah. Terima kasih untuk semalam. Dan... soal kejadian itu, saya minta maaf. Saya akan mengikuti jadwal makan malam yang Anda minta mulai besok."
Edward menatap layar ponselnya, dan untuk pertama kalinya, sebuah senyum kemenangan yang tulus muncul di bibirnya. Ia tahu Eleanor sedang merasa bersalah setengah mati.
"Dia benar-benar percaya dia memperkosaku," gumam Edward pelan. "Lucu sekali."
Edward segera mengetik balasan: "Bagus. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Pakai gaun yang kukirimkan kemarin. Dan Eleanor... jangan terlambat, atau aku akan menagih 'tanggung jawab' tambahan di dalam mobil."
Edward meletakkan ponselnya, merasa sangat puas. Baginya, tidak masalah jika ia harus berbohong sedikit tentang kejadian semalam. Jika rasa bersalah bisa membuat Eleanor yang liar menjadi manis dan penurut, maka Edward akan memainkan peran sebagai "korban" itu selama yang ia butuhkan.
Sekarang, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan pada Lyodra bahwa permainannya tidak hanya gagal, tapi justru mempercepat penyatuan dua kekuatan besar di Inggris ini.