Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 19
Usai akad, kedua mempelai dan rombongan keluarga meluncur dalam iring-iringan mobil menuju gedung Atmaja Building Center yang terletak di sisi selatan ibukota. Resepsi pernikahan Bram dan Zenna akan diselenggarakan di topfloor ballroom yang terletak di lantai 33.
Pesta itu akan dimulai pukul tujuh malam. Pasangan pengantin dan keluarga diberikan waktu bebas hingga matahari terbenam, dan beberapa kamar suite di Hotel Majapahit milik Atmaja Group yang ada di gedung itu sudah dibuka bagi anggota rombongan yang ingin beristirahat sebelum dan setelah pesta.
"Kamar Anda, Tuan Bram dan Nyonya Zenna. Sekali lagi, selamat atas pernikahan Anda. Selamat istirahat," ucap pegawai hotel laki-laki yang mengantar kedua mempelai dengan ramah.
Bram mengangguk dan memasuki kamar. Zenna mengikuti dengan langkah pelan dan hati berdebar.
Kamar suite itu luas dan mewah dengan dekorasi etnik ala kerajaan kuno. Tetapi Zenna tak begitu menaksir sekitar. Ia sempat berdiri mematung di dekat pintu dengan bingung. Jantungnya bertalu kencang dan ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Kamu mau berdiri di situ sampai pesta dimulai?" Bram menoleh dan mengangkat alisnya saat menyadari istrinya itu tak bergerak sedikit pun.
Zenna mengerjap dan meremas kedua tangannya dengan gugup. "Eh... aku..."
"Sebaiknya kamu istirahat," kata Bram datar. "Kamar tidur ada di balik pintu itu. Toilet di sebelah sana."
Bram lantas duduk di salah satu kursi berukir di ruang tengah dan sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Kamu sendiri... tidak istirahat?" tanya Zenna kikuk.
"Pekerjaanku banyak. Lebih baik kucicil selagi bisa," sahut Bram tanpa mendongak sedikit pun.
Zenna terdiam beberapa saat, kemudian berjalan menuju kamar dengan kepala tertunduk.
Kamar tidur itu sudah didekorasi selayaknya kamar pengantin baru. Lilin-lilin aromaterapi dan bunga-bunga ditata sedemikian rupa. Selimut yang dilipat menyerupai dua angsa bercengkerama menghias permukaan tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman.
Zenna duduk di ujung ranjang dan merasakan tekstur seprai dengan tangannya. Lembutnya kain linen itu tak setara dengan lembutnya usapan jemari Bram yang menghapus air matanya di acara akad beberapa saat lalu...
Apa yang kupikirkan...? Zenna menepuk pipinya sendiri, lalu menghela napas panjang.
Tak seharusnya ia terbawa perasaan. Pernikahan ini terjadi karena wasiat. Meski Bram sudah berjanji untuk memberinya kebahagiaan dan perlindungan, bukan berarti suaminya itu bersedia melakukan segalanya untuknya--atau dengannya.
"Aku akan memenuhi tanggung jawabku sesuai wasiat itu sebagai suamimu di atas kertas, tapi jangan pernah kamu berharap lebih. Tak akan pernah ada cinta kasih. Tak akan ada sentuhan intim. Aku tak akan sudi menyatu denganmu. Apa kamu mengerti?!"
Kata-kata tajam Bram di malam pembacaan wasiat itu kembali mengetuk kesadaran Zenna. Tetapi hatinya sama sekali tak terluka. Ia malah tersenyum di balik cadarnya.
Tentu aku paham pemikiranmu, Bram. Dan sama sekali tak ada yang salah dengan itu... aku juga bersedia menikahimu demi menebus dosaku. Bukan untuk semata menyatu denganmu...
Aku akan berbakti padamu, menjalankan tugasku sebagai istri--kecuali untuk hal yang berbau intim.
Zenna memeluk dirinya sendiri. Diam-diam menyelami sensasi hati dan tubuhnya sendiri.
Jujur saja, ia tak siap jika harus kembali mengalami persetubuhan. Pengalaman kelamnya di masa lalu masih meninggalkan trauma berat bagi fisik dan jiwa--yang mungkin tak akan pernah pulih sampai usianya padam.
Keputusan untuk tak ada penyatuan badani itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi dalam pernikahan ini... dan itu sangat melegakan hati.
Zenna bangkit dan melepas cadarnya sambil bersenandung riang. Langkah dan hatinya begitu ringan ketika ia menuju area pantry dan bersiap menyiapkan minuman untuk melegakan tenggorokan.
"Aku ingin minum teh, Bram. Kamu mau minum apa?" tanya Zenna lembut.
Bram menoleh sejenak, alisnya berkerut.
"Tak perlu repot. Aku bisa mengambil minum sendiri."
Zenna tertawa renyah.
"Tentu kamu bisa. Tapi aku sekarang adalah istrimu. Dan aku ingin menyiapkan minuman untuk suamiku yang sedang bekerja keras di hari pernikahannya. Apa aku salah?"
Kerutan alis Bram makin dalam. Jelas ia berusaha menilik maksud di balik sikap manis Zenna yang begitu tiba-tiba.
"Jangan salah paham. Aku cuma ingin menjalankan tugasku sebagai istri dengan baik. Bukan berarti aku minta sesuatu sebagai balasannya--sama sekali tidak seperti itu," timpal Zenna halus, seakan pikiran Bram adalah buku yang terbuka. "Kita tetap berjalan di kesepakatan awal. Pernikahan yang hanya formalitas. Tak ada keintiman. Tapi bukan berarti tak boleh ada pengabdian, kan? Kamu sendiri sudah berjanji melindungi dan membahagiakanku. Maka tak ada salahnya aku juga ingin memberimu sesuatu yang baik tapi tetap dalam batasan... boleh, kan?"
Bram terdiam sejenak. Kemudian ia mengangguk.
"Baiklah. Terserah kamu."
Zenna tersenyum cerah.
"Oke. Jadi kamu mau minum apa, Bram?"
"Kopi hitam. Tanpa gula. Terima kasih."
Zenna dengan cekatan menyeduh teh dan kopi, lalu menyajikannya di meja dekat kursi tempat Bram berkutat dengan pekerjaannya, lengkap dengan sepiring kue dan buah yang ditemukannya di kulkas.
"Kalau kamu butuh bantuanku untuk mengurus pekerjaanmu, katakan saja," kata Zenna yang duduk di sebelah Bram sambil mengunyah sebutir ceri merah. "Aku punya pengalaman sebagai sekretaris direktur. Mungkin aku bisa membantumu..."
Ekspresi cerah Zenna memudar saat mengingat momen-momen itu--ketika ia bekerja keras di sisi Rendy hampir sepanjang waktu... hingga terjadi malam petaka itu.
"Aku tahu," kata Bram usai menyeruput kopinya. "Jujur aku juga punya niatan seperti itu... aku ingin kamu membantuku mengurus Atmaja Group. Bagaimanapun, perusahaan ini adalah warisanmu. Tapi aku tak akan memaksa kalau kamu tak mau."
Zenna menarik napas dalam untuk menenangkan batinnya yang sedikit berkecamuk.
"Aku mau," ucap Zenna pelan. "Lebih baik aku punya kesibukan daripada tidak melakukan apa-apa setelah menikah..."
Bram mengangguk. "Baik. Nanti akan kuatur agar kamu bisa membantuku di kantor."
"Nanti? Sekarang juga bisa," Zenna meletakkan cangkir tehnya dan memandang Bram tenang. "Beritahu aku apa yang bisa kukerjakan. Akan kukerjakan sekarang."
Bram kemudian menelepon pegawainya dan meminta laptop di kantor pribadinya yang terletak di lantai sembilan gedung untuk diantar ke kamar suite-nya di lantai dua puluh segera.
Pasangan pengantin baru itu menghabiskan sore dengan mengurus data-data bisnis dan berdiskusi seputar kendala yang mereka temukan dalam beberapa laporan. Mereka begitu larut dalam pekerjaan hingga tak menyadari nuansa langit yang semula terang kini telah meremang.
"Maghrib," gumam Zenna, kaget saat adzan mengumandang dari aplikasi di ponselnya. "Sholat dulu yuk, Bram."
Keduanya mengambil wudhu bergiliran dan melaksanakan sholat berjamaah di ruang tengah, dengan Bram sebagai imam.
Itu adalah ibadah pertama bersama mereka sebagai suami-istri. Bram melantunkan ayat suci dan doa dengan sangat khusyuk dan indah. Hati Zenna pun bergetar tanpa bisa dia cegah.
Usai salam dan doa, Zenna pun mencium tangan Bram--lagi-lagi dengan jemari gemetar.
"Zenna..."
Bram menggenggam tangan Zenna, membuat istrinya itu terpaku.
"Ada yang harus kusampaikan padamu."
Jantung Zenna kembali berdebar kencang.
"Apa itu, Bram...?"
Bram memandang Zenna lekat dan lama sebelum berkata, "Di pesta resepsi nanti, akan ada banyak tamu yang hadir. Sebagian besar di antaranya merupakan para pengusaha dan tokoh penting di negeri ini. Salah satunya adalah Rendy Wangsa, CEO Wangsa Group, mantan kekasih gelapmu yang keji itu. Apa kamu siap?"
***