NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 23

Minggu-minggu berlalu, dan waktu di jantung Borneo tidak lagi diukur oleh detik jam, melainkan oleh tinggi bayangan pohon dan fase bulan.

Pagi itu, Andi benar-benar menyelesaikan kursi ulinnya. Kursi itu tidak memiliki desain minimalis modern ala apartemen Jakarta; bentuknya sedikit miring mengikuti kontur alami kayu, namun saat Siska mendudukinya di tepi kebun bibit, ia merasa itu adalah kursi paling ergonomis yang pernah ia miliki.

"Bagaimana?" tanya Andi, berdiri dengan tangan di pinggang, wajahnya penuh serbuk gergaji. "Tidak ada garansi lima tahun, tapi aku yakin kursi ini akan tetap ada saat cucu-cucu Dedi tumbuh dewasa nanti."

Siska menghela napas lega, menyandarkan punggungnya. "Ini sempurna, Ndi. Rasanya seperti dipeluk oleh hutan."

Di saat yang sama, dari arah hutan utara, terdengar suara riuh rendah tawa anak-anak. Tak lama kemudian, Mahesa muncul bersama rombongan "pasukan kecilnya". Mereka tidak membawa sensor digital kali ini, melainkan kalung-kalung dari anyaman rotan dan cat alami dari buah-buahan hutan.

"Kalian harus lihat ini," Mahesa menghampiri teras dengan wajah yang lebih cerah sepuluh tahun dibanding saat ia masih menjadi kepala divisi teknologi. "Kami baru saja menobatkan 'Penjaga Lembah'."

"Siapa itu?" tanya Siska penasaran.

Dedi, yang berjalan di depan, menyahut dengan bangga. "Itu pohon ulin paling besar di bukit belakang, Bu! Pak Mahesa bilang dia sudah ada di sana sejak zaman kerajaan. Jadi kami tidak memanggilnya 'Sub-Blok A1' lagi. Namanya sekarang Si Mbah Jagat."

Mahesa terkekeh. "Aku mencoba menjelaskan tentang penanggalan karbon, tapi Siti bilang pohon itu terlihat seperti kakek buyut yang sedang bermeditasi. Jadi, Si Mbah Jagat-lah namanya. Kami sudah memetakan sepuluh pohon induk lainnya dengan nama-nama yang mereka pilih sendiri. Ada 'Ratu Kanopi', 'Si Jangkung', dan 'Benteng Hijau'."

Andi berjalan mendekat, menyerahkan segelas air dingin pada Mahesa. "Jadi, databasemu sekarang berisi nama-nama legendaris, Ma?"

"Jauh lebih mudah diingat daripada serial number, Ndi," jawab Mahesa tulus. "Dan yang paling penting, anak-anak ini sekarang merasa memiliki pohon-pohon itu. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh 'Si Mbah Jagat' atau 'Ratu Kanopi'."

Sore itu, mereka bertiga duduk bersama di atas jembatan ulin yang mereka bangun beberapa waktu lalu. Air sungai di bawah mereka mengalir jernih, memantulkan warna jingga yang mulai memudar.

Tiba-tiba, Siska mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku bajunya. Itu adalah surat yang datang bersama helikopter pasokan pagi tadi.

"Dari Jakarta?" tanya Andi pelan.

Siska mengangguk. "Laporan tahunan yayasan. Mereka bilang Arlan kini menjadi model restorasi hutan terbaik di Asia Tenggara. Banyak investor yang ingin datang untuk 'belajar'."

Mahesa dan Andi terdiam. Bayangan masa lalu tentang rapat-rapat panjang dan kamera wartawan sempat melintas.

"Lalu, apa jawabanmu, Sis?" tanya Mahesa.

Siska meremas amplop itu pelan, lalu menatap hamparan hijau yang kini sedang bersiap menuju malam. "Aku akan membalasnya. Aku akan bilang bahwa mereka boleh belajar, tapi syaratnya satu: mereka harus datang tanpa jas, tanpa sepatu kulit, dan harus siap belajar dari Dedi dan Siti. Karena di sini, bukan kita gurunya."

Andi tersenyum, menggenggam tangan Siska. "Dan bilang pada mereka, tempat ini sudah tidak punya CEO lagi. Hanya ada tukang kayu, guru desa, dan tukang kebun."

Mereka bertiga tertawa, suara mereka menyatu dengan suara alam yang kian riuh. Malam itu, di bawah lindungan Si Mbah Jagat dan ribuan pohon lainnya, kisah mereka bukan lagi tentang menyelamatkan dunia, tapi tentang bagaimana dunia telah menyelamatkan mereka.

Kehidupan terus berlanjut, sederhana dan abadi, di antara desau angin Borneo yang tak pernah berhenti berbisik.

Beberapa bulan kemudian, sebuah helikopter sewaan mendarat di lapangan desa yang biasanya dipakai anak-anak bermain bola. Tiga orang turun dengan koper-koper mahal dan wajah yang tampak canggung saat sepatu pantofel mereka langsung tertanam dalam lumpur sisa hujan semalam.

Mereka adalah perwakilan konsorsium besar yang datang untuk melihat "keajaiban Arlan". Namun, mereka tidak disambut oleh protokoler atau spanduk selamat datang. Mereka disambut oleh Mahesa yang hanya mengenakan kaos oblong bergambar Si Mbah Jagat dan sandal jepit yang sudah tipis.

"Pak Mahesa? Anda terlihat... berbeda," ujar salah satu direktur muda dengan nada ragu.

Mahesa hanya tersenyum simpul sambil memanggul tas rotannya. "Di sini oksigennya terlalu banyak, jadi saya lupa caranya memakai dasi. Mari, jalan kaki ke kamp tidak sampai tiga kilometer. Kalau beruntung, kita bisa melihat jejak macan dahan yang lewat tadi pagi."

Para tamu itu saling pandang, wajah mereka pucat seketika.

Sepanjang perjalanan, Mahesa tidak bicara soal grafik pertumbuhan atau efisiensi karbon. Ia justru memperkenalkan setiap pohon yang mereka lewati layaknya memperkenalkan anggota keluarga. "Ini Si Jangkung, dia sedang agak sensitif karena musim kering tahun ini terlambat," atau "Hati-hati, akar Ratu Kanopi sedikit licin di sebelah sini."

Sampai di kebun bibit, mereka mendapati Siska sedang duduk di tanah, tertawa bersama ibu-ibu desa sambil memilah daun-daun herbal. Tangannya kotor oleh humus, dan wajahnya terpapar sinar matahari hingga kecokelatan. Tidak ada sedikit pun aura CEO yang dulu ditakuti di ruang rapat Sudirman.

"Ibu Siska?" Direktur muda itu terpana. "Kami membawa dokumen kerja sama baru. Nilainya cukup untuk membangun sepuluh laboratorium tercanggih di sini."

Siska berdiri, membersihkan tangannya pada kain lusuh. Ia menerima dokumen itu, namun tidak membacanya. Ia justru menyerahkannya pada Siti, yang sedang berdiri di sampingnya.

"Siti, menurutmu apa kita butuh laboratorium baru di dekat sungai?" tanya Siska lembut.

Siti menggeleng tegas. "Nanti ikan-ikannya takut, Bu. Dan kalau ada bangunan besar, Si Mbah Jagat tidak bisa melihat matahari lagi."

Siska menoleh kembali pada tamunya. "Kalian dengar sendiri. Di sini, pemegang saham mayoritasnya adalah mereka yang akan tinggal di sini seratus tahun lagi. Bukan saya, bukan Anda."

Sore harinya, Andi menjamu mereka di atas jembatan ulin buatannya. Alih-alih menyajikan katering hotel, ia menyajikan ikan sungai bakar dan sambal ulek buatan warga desa. Para tamu itu awalnya ragu, namun aroma kayu bakar dan kesegaran ikan itu akhirnya meruntuhkan pertahanan mereka.

"Berapa biaya pembangunan jembatan ini, Pak Andi?" tanya salah satu arsitek yang ikut dalam rombongan. "Strukturnya sangat... organik."

Andi terkekeh sambil mematahkan kayu bakar. "Biayanya? Dua minggu berkeringat, beberapa lilitan ijuk, dan izin dari sungai ini sendiri. Kalau Anda ingin membangun sesuatu di sini, lupakan rumus-rumus di kantor. Belajarlah bagaimana cara menjadi bagian dari hutan, bukan penguasanya."

Malam itu, saat helikopter kembali menjemput, para tamu itu pergi dengan perasaan aneh. Mereka datang untuk membeli ide, tapi mereka pulang dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli: kesadaran bahwa mereka kecil di hadapan alam yang megah.

Siska, Andi, dan Mahesa berdiri di tepi sungai, melihat lampu helikopter yang semakin menjauh dan mengecil di cakrawala.

"Mereka pikir kita gila," gumam Mahesa.

"Mungkin," sahut Andi sambil merangkul Siska. "Tapi setidaknya kita adalah orang gila yang paling bahagia di dunia malam ini."

"Ayo masuk," ajak Siska. "Besok Dedi janji mau menunjukkan tempat bunga bangkai yang akan mekar. Kita tidak boleh terlambat."

Ketiga sahabat itu pun berbalik, masuk kembali ke dalam kehangatan pondok mereka, meninggalkan kebisingan dunia luar untuk selamanya. Di jantung Borneo, sejarah baru sedang ditulis—bukan dengan tinta, melainkan dengan akar yang menghujam dalam ke bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!