Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Provokasi Lorenzo di ujung telepon seakan menjadi pemantik yang membakar habis sisa kendali diri Tobias. Kata "pengganggu" dan desakan untuk "bersikap dewasa" dari pria asing itu terasa seperti penghinaan paling rendah yang pernah Tobias terima. Bagaimana bisa Amara, wanita yang dulu sujud di kakinya, kini membiarkan pria lain bicara seberani itu padanya?
"Oh, begitu?" desis Tobias, suaranya rendah dan tajam. "Jadi, kalau aku memberikan kebebasan yang ia minta, apakah Amara bersedia merilis pernyataan bersama untuk membersihkan nama Celestine dan menghapus semua unggahan sampah itu?"
Di seberang sana, keheningan mencekam menyelimuti. Lorenzo baru saja hendak membalas ketika Amara, yang sejak tadi berdiri mematung dengan mata terluka, merebut ponsel itu. Hatinya perih; Tobias ternyata lebih memilih melindungi nama baik "penyihir" itu daripada menghargai kenangan enam tahun pernikahan mereka.
"Jika itu yang kamu mau? Baik, aku turuti!" suara Amara bergetar oleh amarah yang tertahan. "Aku akan menghapus segalanya. Tapi jangan berani-berani kamu mangkir dari pengadilan besok!"
"Oke. Kita lakukan itu," sahut Tobias dingin sebelum sambungan terputus.
Amara melemparkan ponsel itu ke kursi, air matanya tumpah tak terbendung. "Brengsek! Bagaimana bisa aku sebodoh ini mencintai pria tanpa hati?" isaknya. Lorenzo segera merengkuhnya, mengusap punggungnya dengan penuh kasih. "Jangan menangis, Amara. Ini demi kebaikanmu. Dia akan menyesal telah kehilangan permata sepertimu."
Sementara itu, di rumahnya yang sunyi, Tobias meledak. Ia meraih botol wiski dan menghantamkannya ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Belum puas, vas bunga pemberian Amara, lampu meja, hingga layar TV menjadi sasaran amukannya. Ia, yang selalu dididik untuk stoik, kini kehilangan akal. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sertifikat pernikahan mereka yang jatuh di lantai. Kacanya retak tepat di tengah, memisahkan namanya dan nama Amara. Kehampaan mendadak menyergap. Besok, semuanya benar-benar berakhir.
Keesokan paginya, pukul 9 tepat, Tobias berdiri di depan pengadilan sipil dengan topeng dinginnya. Di dalam ruang sidang, Amara sudah menunggu, tampak anggun namun jauh. Lorenzo berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya dengan posesif. Pemandangan itu membuat darah Tobias mendidih, namun ia menahan diri.
"Silakan tanda tangani," instruksi hakim.
Amara membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu sedikit pun. Tobias menyusul, gerakannya lambat, matanya menatap goresan tintanya sendiri seolah berharap ada mukjizat yang membatalkan ini. Namun kenyataan berkata lain.
"Selamat, kalian resmi bercerai."
Amara segera berdiri dan melangkah keluar tanpa menoleh. Di tangga gedung, saat Lorenzo membantu Amara menuruni anak tangga, Tobias tak tahan untuk menyindir, "Kau benar-benar tidak sabar, ya? Akhirnya bisa jatuh ke pelukan pria lain."
Amara berhenti, menatapnya dengan mata sedingin es. "Jangan berlagak suci, Tobias. Kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan."
Tepat saat itu, ponsel Tobias berdering. Nama Celestine muncul. Dengan sengaja, Tobias menjawabnya di depan Amara. "Toby, postingan itu hilang! Kau melakukannya untukku!" seru Celestine di seberang sana.
"Ya," jawab Tobias singkat, matanya tetap terpaku pada Amara.
Amara mendengus muak. "Aku sudah menepati janjiku. Sekarang, kita adalah orang asing. Jangan pernah berani mencampuri urusanku lagi," tegas Amara sebelum menggandeng lengan Lorenzo dan pergi menjauh.
Tobias menatap punggung itu dengan rasa kehilangan yang mulai merayap pelan, sebuah kehampaan yang tak ia pahami. Ia bahkan menolak ajakan makan malam Celestine, merasa enggan untuk berpura-pura bahagia. Malamnya, ia berakhir di sudut bar yang remang-remang, mencoba menenggelamkan rasa sesaknya dalam gelas-gelas wiski.
Ponselnya kembali bergetar. Seorang staf dari Pulau Necker menelepon, menanyakan soal tiket liburan ulang tahun pernikahan yang dulu ia beli untuk Amara.
"Tidak akan ada check-in," ujar Tobias parau, suaranya nyaris hilang.
"Maaf, Tuan?"
Tobias menenggak habis minumannya, dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya menghilang. "Bakar saja tiketnya. Aku tidak akan membutuhkannya lagi. Selamanya."
Ia menutup telepon, menyadari bahwa bersama dengan hangusnya tiket itu, seluruh dunianya yang bernama Amara kini telah benar-benar menjadi abu.