Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Perjamuan di Atas Luka
Malam di The Velvet Manor selalu terasa seperti sedang menunggu badai yang tak kunjung datang. Aula makan kecil di sayap pribadi keluarga von Raven malam ini diterangi oleh ratusan lilin putih yang diletakkan di atas penyangga perak setinggi manusia.
Cahaya api yang menari-nari menciptakan bayangan panjang dan tajam di dinding beludru merah darah. Aroma mawar hitam yang hampir layu bercampur dengan bau rempah-rempah mahal dari hidangan yang tersaji di atas meja mahoni panjang.
Aira duduk di kursi kebesarannya. Ia mengenakan gaun malam dari sutra hitam dengan potongan punggung yang sangat rendah hingga memperlihatkan kulit porselennya yang halus.
Ia menyesap anggur merahnya perlahan, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya yang terasa panas. Matanya yang hijau zamrud menatap lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh.
Di sampingnya, Kael berdiri tanpa kemeja. Otot-otot dadanya yang bidang berkilat di bawah cahaya lilin, dihiasi dengan goresan merah dari ujung pedang Isabella—satu-satunya momen di mana tubuh Aira bergerak secara naluriah. Namun sekarang, kesadaran Aira pulih sepenuhnya. Ia sedang memegang kendali.
Kael memegang botol anggur perak dengan tangan yang gemetar halus. Ia merasa terhina dipaksa menjadi pajangan bernyawa di meja makan. Di seberang meja, Dante dan Julian duduk dengan formalitas yang mencekam. Dante memegang pisau peraknya dengan kuat, sementara matanya yang biru es terus mengawasi Kael yang berada sangat dekat dengan Aira.
"Anggur lagi, Nyonya?" suara Kael berat dan parau. Ia membungkuk sedikit untuk menuangkan minuman.
Otot dadanya yang panas hampir bersentuhan dengan bahu telanjang Aira.
Aira tidak menoleh. Ia memberikan smirk tipis yang meremehkan.
"Kau terlalu lambat, Kael. Tuangkan dengan benar atau aku akan menyuruh Zane menggantikan posisimu dengan cara yang jauh lebih memalukan."
Julian terkekeh pelan. Ia menyesap anggurnya, matanya berkilat penuh rencana manipulatif.
Sejak awal, Julian merasa cemburu melihat bagaimana perhatian Aira terus tertuju pada fisik Kael. Ia ingin membuktikan bahwa dialah yang paling mengerti sang Nyonya.
"Mungkin Kael butuh sedikit 'bantuan' untuk menenangkan sarafnya, Nyonya," ujar Julian sambil meletakkan gelasnya.
Ia berdiri dan melangkah memutari meja, mendekati kursi Aira. Julian tidak berhenti di samping Kael; ia justru berdiri tepat di belakang Aira.
Tanpa peringatan, dan tanpa izin sepatah kata pun, Julian mengulurkan tangannya yang halus. Ia mulai membelai bahu telanjang Aira, jemarinya merayap turun menuju tulang selangka wanita itu dengan gerakan yang sangat intim. Julian mengira Aira akan gemetar atau memohon seperti biasanya.
"Jika Anda mencari hiburan fisik yang berkualitas, Nyonya..." bisik Julian tepat di telinga Aira, aromanya yang harum melati memenuhi indra penciuman Aira.
"Saya rasa saya bisa memberikan sentuhan yang jauh lebih 'halus' daripada otot-otot kasar ini."
Suasana di aula makan itu seketika membeku. Dante berdiri dari kursinya dengan wajah yang siap membunuh.
Kael mengepalkan tinjunya. Namun, kali ini, tidak ada memori otot yang bekerja. Tidak ada naluri Isabella yang mengambil alih. Ini adalah keputusan murni dari jiwa Aira.
Aira merasakan amarah yang dingin membakar dadanya. Ia muak diperlakukan seperti barang. Ia muak dilecehkan secara mental oleh pria-pria ini.
Tanpa menoleh, tangan kanan Aira menyambar pergelangan tangan Julian. Ini bukan gerakan pedang yang presisi, melainkan cengkeraman penuh kebencian. Dengan satu sentakan kuat yang lahir dari rasa frustrasinya, ia memutar tangan Julian dan menghantamkan wajah pria itu ke atas meja makan.
BRAK!
"AAKH!" Julian mengerang kesakitan saat hidungnya menghantam kayu mahoni yang keras.
Aira berdiri dari kursinya. Ia tidak menggunakan teknik bertarung; ia hanya menggunakan amarahnya. Ia merenggut rambut cokelat Julian, menarik kepala pria itu ke belakang hingga Julian terpaksa mendongak menatapnya dengan mata yang membelalak karena rasa sakit yang nyata.
"Beraninya kau..." desis Aira. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang lahir dari keputusasaan untuk bertahan hidup.
"Sejak kapan kau merasa punya hak untuk menyentuhku tanpa izin, Julian?"
Aira mengambil garpu perak dari atas meja, lalu dengan gerakan yang sangat perlahan, ia menekan ujung garpu itu ke pipi Julian.
Darah mulai merembes, mengotori taplak meja putih yang mahal.
"Kau hanyalah pelayan," Aira menekankan kata itu dengan penuh hinaan.
"Kau pikir karena kau meracik tehku, kau bisa menguasai tubuhku? Kau salah besar. Jika kau menyentuhku lagi tanpa izin, aku akan memastikan tanganmu tidak akan pernah bisa memegang apa pun lagi."
Julian terengah-engah, matanya berair karena rasa sakit, namun ia menatap Aira dengan pandangan yang benar-benar baru.
Ia menyadari bahwa wanita ini bukan lagi Isabella yang ia kenal, tapi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: seorang wanita yang sedang membangun taringnya sendiri.
Aira melepaskan rambut Julian dengan jijik. Di pojok ruangan, Isabella asli hanya tersenyum diam. Ia mulai menyukai cara Aira beradaptasi.
Aira tiba-tiba melepaskan rambut Julian dengan jijik. Ia berdiri tegak, merapikan gaunnya, lalu menatap Dante dan Kael yang masih terpaku seolah melihat hantu.
Aira mulai tertawa. Sebuah tawa yang renyah namun dingin, menggema di aula makan yang sunyi itu. Tawa yang membuat bulu kuduk mereka berdiri karena kegilaan yang tersirat di dalamnya.
"Kelemahanku... ketakutanku selama beberapa hari terakhir ini..." Aira berhenti tertawa, namun smirk-nya masih terukir tajam.
"Apakah kalian benar-benar berpikir aku selemah itu? Itu semua hanyalah ujian, sayangku. Aku hanya ingin menguji sejauh mana anjing-anjingku akan menggonggong saat majikannya berpura-pura kehilangan taringnya."
Aira melangkah mendekati Dante, menatap mata biru es pria itu dengan keberanian yang belum pernah ada sebelumnya.
"Dan ternyata... kalian benar-benar mengujiku saat aku bertingkah seperti itu. Kalian mulai berani menyentuhku, memerintahku, bahkan mencurigaiku. Kalian gagal dalam ujian kesetiaan yang paling dasar."
Dante menundukkan kepalanya, napasnya tertahan. Kael mengepalkan tangannya, merasa dipermainkan sekaligus makin terobsesi.
Aira melangkah mendekati Julian yang masih merintih di lantai, memegang hidungnya yang patah. Aira merendahkan tubuhnya, membiarkan aroma mawar hitam dari tubuhnya menyelimuti Julian yang gemetar. Ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh pria itu.
"Sakit, Julian? Itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit saat aku menyadari bahwa anjing kesayanganku mencoba menggigit tanganku."
Aira berdiri tegak kembali, menatap mereka semua dengan smirk yang kini menjadi permanen di wajahnya.
"Mulai detik ini, Isabella yang 'lemah' telah mati. Dan kalian... kalian harus belajar kembali bagaimana cara bernapas tanpa izinku. Jika kalian merindukan belaianku, maka tunjukkan bahwa kalian layak mendapatkannya. Karena aku tidak akan lagi memberikan kelembutan pada pria-pria yang tidak tahu di mana tempat mereka berdiri."
Aira berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan aura dominasi yang begitu pekat hingga keempat pria itu merasa seolah-olah seluruh oksigen di aula telah ikut pergi bersamanya.
Di balik tirai, Isabella asli tersenyum lebar, matanya berkilat bangga melihat Aira akhirnya benar-benar menjadi penguasa di neraka ini.
Lanjuutt