⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAMPANG
Dulu, Raka mikir ngabisin duit itu gampang banget.
Tapi sekarang pikirannya berubah total. Udah setengah bulan berlalu, persiapan berdirinya pabrik mobil pada dasarnya udah kelar, tapi duit yang kepakai ternyata kagak nyampe 10 Triliun Rupiah! Masalah utamanya, durasi Kartu Cashback 10x Lipat miliknya udah kedaluwarsa. Alhasil, sekarang dia bingung nyari celah buat bakar duit gede-gedean.
Di ruang rapat direksi, Raka ngamuk sejadi-jadinya.
"Ngabisin duit gitu doang masa nggak becus sih?! Dasar beban lu semua!"
Semua petinggi saling lirik dengan wajah melongo. Diomelin bos di perusahaan raksasa mah udah makanan sehari-hari, tapi diomelin gara-gara kurang banyak ngabisin duit? Asli, ini mah bener-bener absurd!
"Pak Tirta, gua tanya sama lu. Desainer top tuh standar gajinya berapa sebulan?" Raka menahan emosinya, menatap tajam ke arah Pak Tirta.
Pak Tirta menjawab dengan sangat serius, "Desainer otomotif yang bener-bener jenius, pasaran gajinya di angka 100 Juta Rupiah, Bos."
Raka menunduk pelan, wajah tampannya memancarkan aura sultan yang bikin iri semua om-om di ruangan itu.
Dia mengangkat dua jarinya santai. "Gaji dia 200 Juta Rupiah per bulan. Terus bayar cash di muka buat setahun penuh!"
"Hah?!" Ruang rapat kembali riuh. Ada beberapa direktur yang diam-diam ngedumel di belakang, memprotes kenapa bukan gaji mereka aja yang dibayar lunas setahun di muka.
Raka tentu aja ngerti isi kepala mereka. Sekumpulan eksekutif ini kan aslinya lintah darat korporat yang gila harta. Kalau gaji mereka yang dibayar setahun full di muka, yang ada mereka malah langsung minggat bawa lari duitnya, emang sudi mereka kerja keras lagi?
Tapi jujur aja, orang-orang ini adalah tulang punggung Grup Adiyaksa. Perusahaan bisa lumpuh kalau mereka nggak ada, makanya Raka nggak boleh ngasih celah sedikit pun buat mereka kabur.
"Kalian nggak usah ngerasa insecure. Kalau target tahun ini kecapai, bonus akhir tahun kalian semua bakal gua kali lipat. Gua jamin kesejahteraan kalian nggak bakal kalah saing sama desainer-desainer itu!"
Semua direksi langsung kicep dan adem. Mereka ini kan karyawan lama yang udah banting tulang diperas tenaganya demi Grup Adiyaksa, wajar kalau mereka cemburu pas bosnya kelihatan jor-joran manjain anak baru.
"Urusan cat buat bodi supercar kita udah dipesen belum?"
"Lagi diproses sourcing, Bos," jawab Pak Tirta.
Raka mikir sebentar, lalu memutuskan, "Gua mau cat bodinya pakai cat yang sama persis kayak pabrikan Lamborghini! Harganya nggak masalah, pokoknya spesifikasinya harus paling dewa! Lu langsung terbang dan nego sama pabrik supplier-nya!"
Pak Tirta mulai nggak tenang, dia berdiri dan nanya, "Berarti posisi kita beneran main di segmen ultra-luxury nih, Bos?"
Raka membalas santai, "Ya dari awal target kita emang segmen high-end! Nama brand-nya aja udah dipatenken: 'Skandinavia'. Kurang elit apa coba kedengarannya?"
Skakmat. Pak Tirta kehabisan kata-kata, tapi insting bisnisnya masih nekat ngeyel, "Tapi kalau cost materialnya digenjot setinggi itu, profit margin-nya bakal jauh di bawah ekspektasi, Bos Raka."
Raka malah tersenyum miring, mendadak berubah mode jadi filsuf dadakan. "Bro, kalian ini salah paham deh. Kita bikin supercar mewah ini, emangnya buat nyari cuan?"
"Iya lah, Bos," jawab para direksi serempak sambil manggut-manggut.
Raka mencibir dalam hati. Bangsat, jujur amat sih lu pada!
"Sini gua kasih tau ya. Tujuan utama kita bikin mobil ini BUKAN buat nyari cuan, tapi buat mewujudkan MIMPI!"
"Pfft!" Ada direktur yang keceplosan nahan ketawa, sambil bisik-bisik, "Halah, bacot standar pengusaha kalau lagi ngeles."
Raka pura-pura nggak denger dan lanjut orasi: "Gini ya, kalau lu ngelakuin sesuatu cuma berpatokan murni pada ambisi material, lu bakal gampang stres dan malah gagal nyampe ke target lu. Paham?"
Para petinggi cuma bisa melongo. Mereka setengah paham setengah pusing, tapi entah kenapa argumen itu kedengarannya masuk akal dan damage-nya berasa.
Denger wejangan Raka, mereka mendadak merasa kerdil. Pantesan aja bosnya bisa duduk di kursi CEO raksasa, ternyata pola pikir dan kedalaman filosofisnya beda dimensi.
"Satu lagi. Semua sparepart dan komponen mesin wajib pakai grade tertinggi! Pesen impor langsung dari luar negeri, dan shipping-nya harus kilat!" Raka lanjut merinci detail produksinya. "Pengiriman wajib pakai kargo udara! Kalau antrean maskapai lambat, carter pesawat kargo pribadi sekalian! Nggak usah mikirin argo, tagihannya suruh Finance yang beresin!"
"Terus buat mekanik perakitannya. Kalau teknisi lama kurang kompeten, langsung pecat ganti baru! Lu buka loker nasional, bajak teknisi perakitan mobil yang udah pro pakai gaji selangit! Intinya lu bajak mekanik andalan dari pabrikan-pabrikan raksasa. Gua nggak perlu ajarin teknisnya kan? Pokoknya selama duit lu kenceng dan lu ngasih tawarannya nggak pelit, mereka pasti mau pindah haluan ke tempat kita!"
Mendengar instruksi brutal itu, Pak Tirta akhirnya paham. Di balik tampang Raka yang sok idealis, bosnya ini aslinya punya taktik kotor yang sangat terstruktur. Pak Tirta bener-bener kagum dibuatnya.
"Eh, Risa mana?" Raka tiba-tiba celingukan mencari sekretaris pribadinya.
"Hadir, Bos!" Risa tergopoh-gopoh masuk dari luar pintu, nyaris kesandung karpet. "Ada yang bisa dibantu, Pak Raka?"
Raka nggak marah, malah ngomong dengan nada datar, "Malam ini kita bakal lembur rapat panjang. Lu tolong pesenin Pop Mie Pedas Dower buat semua direktur di ruangan ini. Bumbunya masukin full. Buat gua pesenin satu juga, ekstra Bon Cabe level 30, paham?"
"S-Siap, paham Bos! Ada tambahan lain?"
"Oh ya, uang lembur hari ini gua yang bayar pakai duit pribadi. Lu urus sekarang juga, transfer ke rekening mereka masing-masing dengan rate 800 ribu Rupiah per jam! Gih laksanain sekarang."
"Baik, Bos!"
Risa pamit undur diri, sementara semua jajaran direksi di ruangan itu mematung berjamaah. Ini plot twist macam apa lagi?!
Bukan cuma tarif lembur mereka yang mendadak meroket tak wajar dari 80 ribu jadi 800 ribu per jam, tapi menu makan malamnya itu lho yang mindblowing.
Pop Mie harga cenggo? Bos sultan hartanya triliunan masa seleranya makanan minimarket?!
"Ngapain lu pada ngeliatin gua?!" tegur Raka pas sadar dipelototin sekumpulan om-om direksi. "Udah gua traktir Pop Mie gratis aja masih banyak gaya lu."
"Tadi kita bahas sampai mana?"
"Soal sparepart... dikirim pakai kargo udara. Terus mekanik pro dibajak dari pabrik gede... eh maksudnya, di-hire pakai gaji tinggi." jawab salah satu direktur gelagapan.
"Bagus." Raka mengangguk puas dengan daya ingat mereka.
"Oh ya, Pak Tirta. Nanti bakal turun lagi satu batch duit ke lu. Bikin seragam custom buat semua karyawan pabrik kita. Spesifikasinya wajib fireproof, waterproof, dan anti cairan kimia! Bahannya harus premium, desainnya harus modis, dan yang paling penting: HARGANYA HARUS MAHAL!" Raka menatap tajam Pak Tirta sampai pria itu buru-buru mengangguk setuju.
"Oh iya, panggil satu artis buat jadi Brand Ambassador mobil kita." Raka mendadak kepikiran cara baru buat menghamburkan duit.
Bahkan sebelum ada yang memberi usul, dia langsung menetapkan pilihannya: "Nggak usah repot-repot casting. Gua udah punya target yang pas. Diana Putri yang lagi syuting film kita itu cocok banget dijadiin BA."
"Wah, dia kan aktris papan atas yang lagi trending parah, Bos! Nanti minta rate card BA-nya kemahalan lho!" protes salah satu direktur.
"Yaelah, lu mikir Pak Raka bakal takut kehabisan duit apa?" cibir direktur lain.
Selesai meeting, Raka menyempatkan diri menelepon Diana Putri.
"Halo, Diana. Gimana? Ada minat buat nyambi jadi Brand Ambassador di anak perusahaan Grup Adiyaksa yang lain nggak?" Kali ini, nada bicara Raka kedengaran jauh lebih kalem.
Tentu aja Diana Putri langsung kegirangan kegatelan. "Mau dong, Bos Raka! Pasti mau banget!"
Alasan utama kenapa dia nempel terus sama Raka kan emang gara-gara ngeliat potensi cuan dan jaringan bisnis bos sultan ini. Kalau dia bisa jadi BA buat anak perusahaannya yang lain, dia bakal dapat cipratan duit yang fantastis, plus exposure iklannya bisa makin mendongkrak status sosialnya.
"Terus soal harganya..."
"Aduh, gampang itu mah, Bos! Aku kan udah dapet fee selangit buat syuting film Bapak. Anggap aja kerjaan BA ini gratisan, sekalian sedekah buat Pak Raka."
"LU NGOMONG APA BARUSAN?!" Raka mendadak ngegas dan ngamuk. "Seumur-umur gua transaksi, gua pantang nerima barang gratisan!"
Bagi Raka, yang namanya diskon, promo, atau gratisan itu adalah bentuk penghinaan paling fatal buat harga diri seorang dewa kekayaan!
"E-Eh, iya Bos, maaf..." Diana Putri langsung ciut ketakutan. "Terus menurut Bos Raka, pantesnya di angka berapa?"
"SEPULUH MILIAR RUPIAH!" Tiga kata yang meluncur dari mulut Raka itu sukses bikin jantung Diana Putri mau copot.
"Ya Tuhan, bayarannya setara sama gaji main film layar lebar... Aku mana pantes dapet segitu gede..." Tapi karena takut Raka bakal ngamuk lagi kalau ditolak, Diana Putri akhirnya cuma bisa pasrah dan mengiyakan.