NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang membutakan

"Bagaimana?" tanya Freya pada Bunga. Saat ini mereke bertiga berada di kafe, karena mereka janjian untuk membahas informasi tentang Rania.

"Rania balikan dengan Adrian," jawab Bunga, lalu memperlihatkan rekaman yang ia dapatkan. Freya dan Balqis menatap rekaman tersebut dengan seksama.

"Lihat deh ekspresi Adrian," ucap Balqis sambil menunjuk Adrian saat ia berjalan ke arah kasir. "Senyumnya licik gitu gak sih?"

"Dia tersenyum karena rencananya berhasil," jawab Bunga sambil menghela napas.

"Di sini Rania kelihatan bahagia banget. Kita harus apa supaya dia sadar kalau Adrian gak sebaik itu?" keluh Freya.

"Kita biarkan dulu mereka kembali. Kita lihat sampai sejauh mana Adrian memanfaatkan Rania," ungkap Balqis sambil mengunyah kentang goreng.

"Saat ini kita pantau saja dari jauh. Sebagai sahabat, kita harus melindungi Rania, walaupun anaknya keras kepala," sambung Freya lalu menyeruput teh hijau pesanannya.

"Baiklah. Nanti gue hubungi mata-mata kita untuk terus memantau Adrian," ucap Bunga yang langsung diangguki Freya dan Balqis.

~~

"Bagaimana ya tanggapan mereka kalau gue balikan dengan Adrian?" gumam Rania, memikirkan sahabat-sahabatnya yang tidak menyukai Adrian. Tanpa ia sadari, sahabat-sahabatnya sudah mengetahui masalahnya.

"Rania?" ucap Lara, membuat Rania sedikit terkejut.

"Eh, Lar."

"Lamunin apa, Ran?" tanya Lara sambil menarik bangkunya, lalu duduk di samping Rania.

"Gak ada kok," jawab Rania.

"Kantin yuk," ajak Lara.

"Gue lagi malas, Lara," balas Rania, menolak halus ajakan Lara.

"Atau gue pesanin, gak?" tawar Lara.

"Gak usah, Lar. Kalau gue mau, gue bisa sendiri kok," ucap Rania yang tidak ingin merepotkan.

Lara pun mengangguk paham. "Ya udah, gue duluan ya," ucapnya lalu beranjak dari duduknya.

"Iya."

Rania menatap kelas yang tampak sunyi. Angin pagi masuk melalui jendela kelas, membuat Rania yang kurang tidur mulai terpejam.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada yang mengelus kepala Rania dengan lembut hingga membuat tidurnya terganggu.

Rania perlahan membuka mata.

"Aku ganggu ya?" ucap Adrian sambil tersenyum pada Rania, lalu menarik bangku dan duduk di sampingnya.

"Gak, aku ketiduran ternyata," gumam Rania. "Kamu sudah lama di sini?" tanyanya.

"Sepuluh menitan mungkin," jawab Adrian.

"Kenapa gak bangunin aku?"

"Aku lihat kamu tidur nyenyak,, jadi gak tega bangunin kamu," ucap Adrian sambil merapikan rambut Rania yang sedikit berantakan. "Kamu sudah makan?" tanya Adrian.

"Belum," jawab Rania sambil menggeleng.

"Aku bawain kamu roti sama susu," ucap Adrian, lalu mengeluarkan roti dan susu dari tasnya.

"Wah makasih," ucap Rania tersenyum antusias.

Adrian lalu menyuapi Rania dengan telaten. Rania tersenyum menerima roti dari sang kekasih.

~~

"Hai, Lara," sapa Bunga pada Lara yang sedang menikmati jajannya di kantin.

Lara menoleh dan tersenyum lalu membalas, "Hai."

"Lo lihat Rania?" tanya Freya yang tidak melihat Rania keluar dari kelas.

"Rania gak keluar kelas, lagi malas katanya. Tadi sempat gue ajak ke kantin," jawab Lara.

"Kami duduk di sini ya? Gak ada tempat kosong nih," ucap Balqis. Hanya tempat di samping Lara yang kosong, selebihnya sudah terisi penuh.

"Iya, silakan," jawab Lara santai.

Freya, Balqis, dan Bunga duduk bersama Lara, dan tak lupa memesan makanan.

"Bdw, gue belum tahu nama kalian?" ucap Lara yang ingin akrab dengan mereka.

"Astaga iya iya, gue lupa kenalan sama lo. Kenalin, gue Bunga Gealiy." ucap Bunga.

"Gue Balqis Kalisa."

"Freya Felisha."

"Nama kalian cantik-cantik, seperti orangnya," ucap Lara memuji kecantikan mereka bertiga.

"Kita memang cantik, terima kasih pujiannya Lara, dan lo juga cantik," ucap Bunga dengan percaya diri, lalu mengibaskan rambutnya.

"Centil amat sih," ucap Freya sambil geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya, membuat Lara terkekeh. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.

"Kita ke kelas lo ya habis makan," ucap Balqis pada Lara.

"Boleh," balas Lara.

"Ngapain, Qis?" tanya Bunga.

"Kalian tau sendiri nanti," jawab Balqis sambil mengedipkan matanya.

Mereka berdua paham maksud Balqis, sedangkan Lara pura-pura tidak melihat mereka saling memberi kode. Lara pun tidak berniat ingin tahu.

~~

"Hai, Ran," sapa Bunga menyapa Rania yang sedang bersama Adrian.

Adrian yang melihat kedatangan sahabat-sahabat Rania hanya bisa menatap mereka sambil menghela napas.

"Hai," balas Rania. "Tumben kalian kemari?"

"Mau nyamperin lo aja," balas Bunga.

"Kalian pacaran?" tanya Lara pada Rania yang terlihat begitu dekat dengan Adrian. Rania tak langsung menjawab. Ia melirik Adrian. Adrian yang paham langsung mengangguk.

"Iya," jawab Rania dengan senyum tipis.

Lara sedikit terkejut, tapi dia sebisa mungkin tidak memperlihatkannya. "Oh, selamat ya, Kak," ucap Lara sambil melirik sekilas ke Adrian yang dibalas dengan anggukan. Rania gak salah nih pilih cowok, batin Lara.

"Ran, buku lo udah gue kasih ke Tante Raisa. Lo kan kerja tugas kelompok kemarin, jadi gue titip aja ke Tante Raisa," ucap Freya dengan nada menyindir.

"Kerja kelompok? Kerja kelompok apa, Ran?" sahut Lara bingung. Perasaannya dia tidak ada tugas kerja kelompok.

"Loh, kok lo gak tau, Lar? Kalian kan satu kelas, masa gak tau," ucap Bunga sengaja mengompori.

"Gue serius gak tahu," ucap Lara bingung.

Sementara Rania hanya menatap tajam sahabat-sahabatnya. Dia tahu mereka sedang menyindirnya.

Sedangkan Adrian yang seperti tidak dianggap oleh mereka mulai merasa kesal, tapi ia berusaha tetap tenang.

"Rania, aku ke kelas dulu ya," ucap Adrian sambil berdiri dari duduknya.

"Iya, makasih rotinya," balas Rania sambil tersenyum.

Adrian hanya mengangguk lalu keluar dari kelas Rania. Namun sebelum itu, dia melirik sinis ke arah sahabat-sahabat Rania, sedangkan yang dilirik hanya membalas dengan senyum miring.

"Lara, gue keluar dulu ya. Gue ada kepentingan sama bestie gue ini," ucap Rania.

Tanpa menunggu balasan Lara, ia langsung menarik sahabat-sahabatnya keluar dari kelas.

“Kayaknya sahabat-sahabat Rania gak mendukung kalau dia pacaran sama Kak Adrian,” gumam Lara sambil memperhatikan gerak-gerik mereka.

~~

"Apa-apaan sih, tarik-tarik?" ucap Bunga kesal pada Rania yang menariknya sampai ke taman yang jarang ada orang lalu-lalang.

"Lo semua apa-apaan sih? Lo niat mempermalukan gue di depan Lara, hah!" bentak Rania.

"Permalukan apaan sih, lo?" ucap Freya.

"Masih ngeles lagi," ucap Rania kesal.

"Lo tuh yang bohong ke Tante Raisa. Lo gak ada kerja kelompok, kan? Lo cuma pergi jalan bareng dia dengan alasan kerja tugas kelompok," ucap Balqis yang malas menyebut nama Adrian, dan itu membuat Rania kaget. Dari mana mereka tahu dia jalan dengan Adrian?

"Kalau iya kenapa? Ini urusan gue. Kalian gak usah ikut campur," ucap Rania kesal.

"Tega lo, Ran, bohong sama mommy lo sendiri," ucap Freya sambil menggelengkan kepala. "Gue gak tau bagaimana perasaannya kalau tahu anaknya rela bohong demi jalan sama cowok yang gak jelas," sambungnya.

"Adrian itu bukan cowok yang gak jelas, ya! Kalian jangan asal ngomong," bantah Rania.

"Kalau dia cowok yang baik, dia bakal minta izin ke Tante Raisa buat ngajak lo jalan," sahut Bunga.

Rania menghela napas kasar, menatap mereka tajam. "Kalian gak usah ikut campur urusan gue!"

"Tega lo, Ran. Demi laki-laki brengsek itu, lo gak mau dengerin sahabat lo sendiri," bentak Freya sambil menunjuk Rania.

"Apa salahnya sih kalau gue pacaran sama Adrian? Heran gue sama kalian. Apa di antara kalian ada yang suka sama Adrian?" tuduh Rania.

"Gue cuma mau yang terbaik buat sahabat gue. Dan lo gak lupa kan kelakuan Adrian di masa lalu?" balas Balqis. "Dan satu lagi, lo jangan nuduh kita sembarangan. Sorry ya, level kita bukan dia. Kita juga bisa pilih mana yang baik dan mana yang pura-pura baik."

"Sadar, Ran, sadar. Dia cuma memanfaatkan lo." ucap Bunga mulai melembut sambil mengusap-usap punggung Rania, tapi Rania langsung menepis tangan Bunga.

"Gue gak akan ninggalin Adrian, titik," ucap Rania penuh tekanan. Tanpa menunggu jawaban sahabat-sahabatnya, ia pergi begitu saja.

"Keras kepala banget sih tuh orang," ucap Freya dengan nada kesal. Entah harus bagaimana lagi agar Rania bisa lepas dari Adrian.

"Walaupun begitu, kita tetap harus bantuin dia. Cowok brengsek itu gak boleh merasa menang," ucap Balqis, yang langsung mendapat anggukan dari Freya dan Bunga.

~~

Tanpa disadari oleh mereka bertiga, Ivan dan Rivan melihat pertengkaran mereka yang membicarakan Adrian—teman mereka.

"Insting sahabat gak pernah meleset, ya." ucap Ivan yang mendengar nasihat sahabat Rania.

"Iya, lo betul. Mereka tahu kalau si Adrian gak serius sama Rania," ucap Ivan setuju dengan pendapat Rivan.

"Gue heran deh, cewek secantik Rania dimanfaatkan oleh si brengsek Adrian," ucap Rivan.

"Gak juga heran sama tuh anak," balas Ivan. "Oh ya, lo tahu rencana Adrian?"

"Gak. Dia sengaja gak ngasih tahu kita," jawab Rivan.

"Kalau dia tahu Rania dekat dengan sahabat-sahabatnya dan mereka membelanya, tambah besar kepala tuh anak," ucap Ivan yang disetujui oleh Rivan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!