NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Fajar Berdarah di Perut Bumi

Fajar merayap turun ke dasar Jurang Hitam bukan dengan kehangatan sang surya, melainkan dengan pendaran cahaya kelabu pucat yang perlahan mengusir pekatnya malam. Di tempat yang seolah dilupakan oleh para dewa Aethelgard ini, sinar matahari siang tidak akan pernah menyentuh tanah secara langsung. Tebing-tebing batu obsidian yang mengapit lembah menjulang begitu tinggi hingga puncaknya selalu tertutup oleh kabut salju abadi, mengunci dasar jurang dalam keadaan senjakala yang abadi.

Kesadaran Genevieve kembali dengan perlahan, ditarik oleh rasa dingin yang kembali menggigit ujung-ujung sarafnya. Tungku biologis alami yang ia gunakan semalaman—bangkai Serigala Salju raksasa itu—telah kehilangan seluruh sisa kehangatan nyawanya. Darah monster itu telah membeku sepenuhnya, mengubah otot-ototnya yang tadinya lentur menjadi balok es yang keras dan kaku. Genevieve membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk mengusir kristal es kecil yang menempel di bulu matanya.

Ia menarik napas panjang, dan seketika itu juga, rasa sakit yang membutakan meledak di dada kirinya.

Genevieve tersentak, refleks melengkungkan tubuhnya ke dalam. Tiga tulang rusuknya yang retak bergesekan, mengirimkan gelombang penderitaan yang begitu murni hingga pandangannya memutih selama beberapa detik. Ia menekan bibirnya rapat-rapat, menggigit bagian dalamnya hingga darah segar kembali mengecap di lidahnya, menolak untuk mengeluarkan satu pun erangan. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat bulu putih serigala yang telah kaku di sampingnya. Buku-buku jarinya memutih, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan agoni. Rasa sakit ini nyata, namun rasa sakit ini juga menjadi pengingat mutlak bahwa ia masih bernapas. Bahwa jantungnya masih berdetak menantang kematian.

Di sudut pandangannya, panel biru Sistem kembali muncul tanpa suara, menampilkan deretan huruf perak yang tidak membawa kabar baik.

**[Laporan Kondisi Fisik Harian Tuan Rumah]**

**[Status Keseluruhan: Kritis.]**

**[Integritas Tulang: Fisura pada rusuk kiri (Tingkat Nyeri: Tinggi). Pergelangan kaki kiri mengalami pembengkakan (Mobilitas turun 70%).]**

**[Kebutuhan Mendesak: Asupan kalori padat, hidrasi, dan insulasi termal. Tuan Rumah akan kehilangan kesadaran akibat hipotermia dalam 2 jam jika suhu inti tubuh tidak dinaikkan.]**

**[Energi Vital Tersisa: 15 Poin.]**

Genevieve menatap teks itu dengan pandangan sedingin es di sekitarnya. "Matikan peringatan suara dan visual kecuali ada bahaya langsung," bisiknya dengan suara parau yang nyaris menghilang diembus angin. Panel biru itu berkedip sekali seolah menurut, lalu memudar menjadi ikon kecil di sudut penglihatannya. Ia tidak membutuhkan mesin untuk memberitahunya bahwa ia sedang sekarat. Otot-ototnya yang berteriak sudah melakukan tugas itu dengan sangat baik.

Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, memakan waktu nyaris lima menit penuh hanya untuk bangkit, Genevieve memosisikan dirinya untuk duduk bersandar pada akar Pohon Pinus Besi raksasa yang menaunginya semalaman. Ia memandang ke sekeliling.

Pemandangan dasar Jurang Hitam di bawah cahaya fajar kelabu benar-benar menampakkan wajah aslinya. Ini bukanlah sekadar dasar jurang kosong, melainkan sebuah ekosistem purba yang beku. Pohon-pohon Pinus Besi tumbuh bergerombol, akar-akarnya yang sehitam arang mencengkeram tanah berbatu yang tertutup salju setebal dada manusia. Di kejauhan, ia bisa mendengar sayup-sayup suara air yang mengalir deras, kemungkinan besar sebuah sungai bawah tanah yang tidak pernah membeku, tersembunyi di balik formasi pilar-pilar es raksasa yang menggantung dari tebing.

Namun, fokus utama Genevieve tidak tertuju pada pemandangan itu. Pandangannya terkunci pada bangkai Serigala Salju di hadapannya.

Hewan itu sungguh masif. Kepalanya saja sebesar tubuh bagian atas Genevieve. Taring-taring yang kemarin malam hendak mencabik-cabiknya kini membeku dalam ekspresi raungan terakhir yang tertahan oleh racun. Monster ini hampir membunuhnya, tetapi hari ini, monster ini adalah kunci keselamatannya. Alam liar tidak mengenal moralitas; bangkai ini adalah mantel, makanan, dan senjatanya.

Genevieve memaksa dirinya bergerak. Ia merangkak keluar dari bawah perlindungan akar, mengabaikan rasa perih di lututnya yang tergores batu di balik salju. Ia menuju tumpukan serpihan peti mati pinusnya yang hancur. Matanya yang tajam memilah-milah reruntuhan kayu murahan itu. Ia tidak memiliki belati, tidak ada pedang, tidak ada alat pertahanan hidup dari baja tempaan Aethelgard. Ia hanya memiliki pikirannya.

Setelah membongkar tumpukan kayu dengan tangan kosong yang mulai membiru, ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah paku besi panjang yang patah dan memiliki tepian yang tergores sangat tajam akibat benturan keras dengan batu jurang, serta sebuah serpihan batu obsidian pipih bersudut runcing yang terlempar dari dinding tebing.

Ia memungut kedua benda itu. Batu obsidian di tangan kirinya, besi berkarat di tangan kanannya.

Genevieve menyeret tubuhnya kembali ke sisi bangkai serigala. Ia duduk bersimpuh di atas salju, memandang hamparan bulu putih tebal di bagian perut hewan itu. Menguliti hewan sebesar ini membutuhkan pisau tajam dan tenaga seorang pemburu berpengalaman. Ia tidak memiliki keduanya. Namun ia memiliki waktu yang semakin menipis dan tekad yang menolak untuk padam.

Pekerjaan mengerikan itu pun dimulai.

Genevieve menancapkan sudut runcing batu obsidian itu ke bagian kulit serigala yang paling tipis di dekat perut bawah. Batu itu menggores, tetapi tidak cukup dalam. Kulit hewan ajaib Aethelgard jauh lebih alot dari hewan biasa. Genevieve menggertakkan giginya. Ia menekan batu itu lebih kuat, meletakkan seluruh berat tubuh bagian atasnya pada tangannya, mengabaikan rusuknya yang seolah ditusuk ribuan jarum.

*Srett.* Sebuah robekan kecil berhasil tercipta. Napas Genevieve memburu, kepulan uap putih keluar dari bibirnya yang pucat pasi. Tanpa jeda, ia memasukkan paku besi tajamnya ke dalam robekan itu dan mulai merobeknya secara paksa. Ia menarik, mengiris, dan mengoyak. Darah yang setengah membeku menodai jari-jarinya, meresap ke sela-sela kukunya hingga tampak kehitaman.

Pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Setiap tarikan membuat otot bahunya menjerit. Setiap kali ia harus memutar posisi, pergelangan kakinya yang bengkak berdenyut menyakitkan. Namun, ekspresi Genevieve tetap datar dan fokus. Air mata fisiologis sesekali menggenang di sudut matanya akibat rasa sakit, namun ia segera mengedipkannya pergi. Tindakannya adalah perwujudan nyata dari emosi yang jauh lebih dalam dari sekadar kesedihan: kemarahan absolut untuk bertahan hidup. Ia melampiaskan setiap tetes kebenciannya pada Gideon, pada Silas, pada Nyonya Besar House Blackwood, ke dalam setiap robekan kulit serigala tersebut.

Setengah jam berlalu. Tangan Genevieve mati rasa sepenuhnya. Ia tidak lagi bisa merasakan jemarinya, namun otaknya terus memerintahkan ototnya untuk bergerak layaknya mesin yang rusak namun menolak untuk berhenti.

Dengan satu tarikan terakhir yang menghabiskan nyaris seluruh tenaga dari lengannya, ia berhasil memisahkan lembaran besar bulu serigala dari lapisan lemak dan dagingnya. Lembaran bulu putih itu kasar, tebal, dan sangat berantakan di bagian pinggirnya, dipenuhi noda merah gelap. Namun bagi Genevieve, itu adalah jubah seorang ratu.

Ia tidak membuang sedetik pun. Dengan tangan bergetar hebat, ia mengangkat lembaran bulu mentah dan berat itu, lalu membalutkannya ke sekeliling bahu dan tubuhnya. Sisa lemak serigala yang masih menempel di bagian dalam kulit langsung bersentuhan dengan gaun linennya yang robek, menempel pada kulitnya. Rasanya menjijikkan dan berbau anyir yang memualkan, tetapi insulasi yang diberikan oleh bulu tebal monster itu bekerja secara instan. Hawa dingin yang sedari tadi menusuk tulangnya perlahan terblokir.

**[Status Termal Diperbarui: Laju penurunan suhu tubuh terhenti. Insulasi eksternal tingkat sedang terdeteksi.]**

Genevieve bersandar lemas pada sisa bangkai yang terbuka itu. Dadanya naik turun dengan ritme yang berantakan. Ia selamat dari kedinginan, tetapi perutnya mulai bereaksi ganas. Rasa lapar yang merobek lambungnya menuntut haknya. Di dunia asalnya, gagasan untuk memakan daging mentah dari hewan buas yang baru saja dibunuh akan membuatnya memuntahkan isi perut. Tetapi di dasar neraka putih ini, kemewahan peradaban tidak berlaku.

Ia menatap daging merah gelap yang terekspos dari perut serigala. Tidak ada kayu bakar kering untuk membuat api. Tidak ada waktu. Menggunakan batu dan pakunya, ia mengiris sepotong daging seukuran telapak tangan dari bagian paha serigala yang tidak terkena racun di mulutnya. Daging itu keras, alot, dan berserat tebal.

Genevieve memegang potongan daging berdarah itu di depan wajahnya. Ia memejamkan mata, mematikan seluruh sisi kemanusiaannya yang rapuh, lalu menggigitnya keras-keras.

Daging mentah itu memberontak di dalam mulutnya. Rasanya dipenuhi dengan aroma besi yang menyengat dan amis darah yang luar biasa pekat. Ia harus mengunyah dengan rahang yang tegang selama berpuluh-puluh kali sebelum bisa menelannya. Ia memaksanya turun melewati tenggorokannya yang kering. Tubuhnya nyaris menolaknya seketika, gelombang mual menghantam ulu hatinya, namun Genevieve mencengkeram dadanya dan menekan rasa mual itu dengan kemauan keras. Ia mengambil gigitan kedua. Lalu ketiga. Ia memakan daging mentah itu dalam keheningan yang suram, seolah sedang menelan takdirnya sendiri.

Setelah menghabiskan potongan kecil daging itu, ia merasa energi kasar mulai mengaliri nadinya, menggantikan sisa-sisa kelemahannya.

Genevieve menggunakan salju bersih di sekitarnya untuk membersihkan mulut dan tangan dari noda darah berlebih. Ia mengambil sebagian salju dan membiarkannya mencair di mulutnya untuk mengatasi rasa hausnya. Rasa dingin es itu menyakiti giginya, namun air yang mengalir ke tenggorokannya adalah kehidupan.

Saat ia sedang membersihkan salju di bagian bawah bangkai serigala, tangannya yang terbalut sisa kain tiba-tiba menyentuh sesuatu yang ganjil.

Di bawah lapisan darah serigala yang sempat menetes ke tanah semalaman, salju tidak membeku kembali. Alih-alih es, Genevieve menemukan tanah berbatu yang terekspos, dan tumbuh melekat pada batu-batu hitam itu, terdapat sekumpulan lumut aneh. Lumut itu tidak berwarna hijau, melainkan memiliki rona biru keperakan yang sangat samar, nyaris berpendar di dalam keremangan cahaya fajar. Akar-akar halusnya tampak menyerap darah monster itu dengan kerakusan parasitik.

Mata Genevieve menyipit. "Sistem. Identifikasi flora ini."

Panel biru langsung muncul dengan informasi baru yang diolah dari data lingkungan Aethelgard.

**[Pemindaian Flora Selesai.]**

**[Nama Objek: Lumut Darah Beku (Frostblood Moss).]**

**[Kategori: Tumbuhan Obat Tingkat Rendah (Habitat Spesifik: Area dengan energi dingin ekstrem dan sisa darah magis).]**

**[Sifat dan Kegunaan: Ekstrak lumut ini memiliki sifat koagulan yang sangat kuat dan mempercepat regenerasi sel-sel kulit dan otot yang robek jika dioleskan secara topikal. Efek samping: Menyebabkan rasa panas terbakar pada area yang diaplikasikan.]**

Mata Genevieve memancarkan kilau perhitungan. Di tempat terbuang yang dipenuhi keputusasaan ini, obat-obatan berharga justru tumbuh subur memakan kematian.

Tanpa ragu, ia mengikis lumut biru keperakan itu dari permukaan batu menggunakan pakunya, mengumpulkannya di telapak tangan. Ia menghancurkan lumut-lumut itu dengan batu obsidian, menumbuknya hingga menghasilkan cairan kental berwarna biru pekat yang berbau tajam seperti pinus yang terbakar.

Ia memandangi pergelangan kaki kirinya yang membengkak parah di balik sepatu kulit usangnya. Ia harus berjalan. Bertahan di satu titik hanya akan mengundang predator lain yang mencium bau bangkai serigala ini. Genevieve melepaskan sepatunya, memperlihatkan pergelangan kakinya yang memar keunguan. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia mengoleskan pasta lumut biru itu langsung ke area yang terkilir dan luka gores yang paling parah di lututnya.

Reaksinya nyaris instan.

Sensasi panas yang membakar kulit menyengat pergelangan kakinya, seolah ada seseorang yang menempelkan besi panas langsung ke nadinya. Otot rahang Genevieve mengeras hingga menonjol. Ia memalingkan wajahnya, mencengkeram paku besinya, dan membiarkan rasa sakit itu mencuci bersih sisa-sisa kepanikannya. Perlahan, di balik rasa terbakar itu, ia bisa merasakan pembengkakannya mulai menyusut, jaringan ototnya bereaksi agresif terhadap sifat obat dari lumut tersebut.

Setelah membalut kembali kakinya dengan robekan kain gaunnya dan memakai sepatunya dengan ikatan yang sangat kencang, Genevieve berdiri.

Prosesnya lambat dan penuh dengan guncangan tubuh, tetapi ia berhasil memaksakan kedua kakinya untuk menopang berat badannya. Ia berdiri tegak di tengah padang salju abadi. Mantel bulu serigala putih raksasa membungkus tubuhnya yang kurus, menutupi gaun linennya yang tercabik. Di tangan kanannya, ia memegang paku besi berkarat, sementara wajahnya yang sepucat mayat menatap lurus ke arah tebing curam tempat ia dilemparkan semalam.

Tebing itu menjulang ratusan meter ke udara, dindingnya vertikal, licin oleh es hitam. Mustahil untuk dipanjat. Kastil Ravenscroft berada jauh di atas sana, dipenuhi oleh orang-orang yang merayakan kematiannya pagi ini.

Gideon, Tabib Silas, dan Nyonya Besar di ibukota mengira mereka telah membuang sebuah masalah ke dalam kehampaan. Mereka tidak menyadari bahwa jurang ini tidak menghancurkan Lady Genevieve; jurang ini baru saja menanggalkan sisa-sisa kelemahannya.

Genevieve memalingkan wajahnya dari tebing itu. Ia menatap ke arah pedalaman Jurang Hitam yang semakin gelap, dipenuhi siluet pepohonan besi yang rapat dan kabut beku yang mengambang misterius. Sesuatu di dalam kabut itu menyembunyikan jalan keluar. Ia akan menemukannya, walau harus memakan daging mentah dan merangkak di atas tumpukan mayat monster Aethelgard.

Dengan langkah pertama yang sedikit terpincang namun diisi oleh determinasi absolut, Genevieve menyeret mantel bulunya, melangkah menembus salju, masuk semakin dalam ke dalam perut Jurang Hitam. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!