Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Kaisar
Gemuruh guntur membelah kehampaan kosmik. Di Puncak Ilahi Primordial, tempat di mana bintang-bintang lahir dan mati hanya dalam satu tarikan napas, lautan darah menggenang.
"Luo Xue... kenapa?!"
Suara itu serak, dipenuhi dengan keputusasaan yang mampu membuat langit menangis.
Jian Chen, Kaisar Pedang Kekosongan yang namanya menggetarkan Sembilan Surga, berlutut dengan satu kaki. Pedang ilahinya yang dulunya mampu membelah galaksi kini patah menjadi dua. Di dadanya, sebuah pedang es sebening kristal menancap tepat di jantungnya, membekukan sumber kehidupannya dan menghancurkan lautan jiwanya.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan kecantikan yang melampaui konsep fana. Gaun putihnya berkibar anggun di tengah badai energi kosmik. Dia adalah Luo Xue, Permaisuri Surgawi, wanita yang telah menemaninya mendaki puncak kultivasi selama tiga ribu tahun. Tunangannya.
Dan di samping wanita itu, berdiri seorang pria berjubah naga emas, menatap Jian Chen dengan senyum tipis yang penuh ejekan. Dia adalah Mo Tian, saudara angkat yang pernah bertukar cawan darah dengannya.
"Maafkan aku, Chen," suara Luo Xue terdengar dingin, tanpa emosi, layaknya dewa yang menatap semut. "Jalan menuju Alam Penguasa Primordial hanya bisa dilalui oleh satu orang. Pengetahuan dari Reruntuhan Kekacauan yang kau temukan... itu terlalu berharga untuk kau kuasai sendiri. Aku dan Tian membutuhkan Darah Primordial itu."
"Hanya... demi sebuah takdir ilahi... kau mengkhianati sepuluh ribu tahun ikatan kita?" Mata Jian Chen memerah, meneteskan darah, bukan air mata. Jiwanya mulai retak. Segel es dari pedang Luo Xue merayap, menghancurkan kultivasi tingkat Kaisar Ilahi miliknya secara perlahan namun pasti.
Mo Tian melangkah maju, tawanya menggema di kehampaan. "Yang kuat memangsa yang lemah, Saudaraku. Kau terlalu naif. Serahkan Darah Primordial itu, dan kami akan membiarkan sisa jiwamu bereinkarnasi ke dunia fana."
"Hahaha! Hahahahaha!"
Tawa Jian Chen meledak, memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga ruang dan waktu di sekitarnya terdistorsi. Matanya yang perlahan meredup tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang gila.
"Luo Xue! Mo Tian! Bahkan jika jiwaku hancur menjadi debu, bahkan jika aku harus jatuh ke dalam Api Api Penyucian selama sembilan reinkarnasi, aku, Jian Chen, bersumpah! Aku akan merangkak kembali dari neraka, membelah surga kesembilan, dan mencabut jantung kalian dengan tanganku sendiri!"
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Jian Chen tidak menyerang mereka. Alih-alih, ia meledakkan Dantiannya sendiri. Ledakan energi dari seorang Kaisar Ilahi menyapu Puncak Ilahi Primordial. Dalam kekacauan ledakan itu, setetes darah berwarna merah kehitaman yang memancarkan aura kuno berdenyut keras, membungkus satu fragmen jiwa terkecil milik Jian Chen, lalu merobek ruang angkasa dan menghilang ke dalam kekosongan tanpa batas.
"Uh..."
Rasa sakit yang menyengat adalah hal pertama yang dirasakan Jian Chen. Rasanya seperti jutaan jarum beracun ditusukkan ke setiap inci otot dan tulangnya.
Matanya terbuka perlahan. Tidak ada lagi lautan bintang. Tidak ada lagi energi kosmik yang melimpah. Yang menyambut pandangannya adalah langit-langit kayu yang lapuk, berhiaskan jaring laba-laba. Aroma obat penawar yang murah dan bau apak menguar di udara.
Di mana aku? Bukankah aku sudah mati? Bukankah jiwaku hancur?
Jian Chen mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang tajam dari perutnya memaksanya kembali berbaring. Tiba-tiba, rasa sakit yang jauh lebih hebat menyerang kepalanya. Aliran ingatan yang asing membanjiri benaknya secara paksa.
Benua Bintang Jatuh... Kerajaan Angin Langit... Kota Daun Gugur... Klan Jian.
Dan nama pemuda pemilik tubuh ini juga... Jian Chen.
Kaisar Pedang Kekosongan terdiam sejenak, membiarkan ingatan itu menyatu dengan jiwanya. Setelah beberapa menit, seutas senyum sinis yang bercampur dengan kelegaan yang luar biasa terbentuk di bibirnya yang pucat.
"Sepuluh ribu tahun... Aku tertidur selama sepuluh ribu tahun," gumam Jian Chen. Suaranya lemah, tetapi mengandung dominasi yang tak terbantahkan.
Melalui ingatan tubuh ini, ia tahu bahwa Luo Xue dan Mo Tian kini telah menjadi Penguasa Sembilan Surga yang disembah oleh triliunan makhluk. Mereka menyebut diri mereka Dewi Surga Bersalju dan Kaisar Surgawi Kekacauan. Nama "Kaisar Pedang Kekosongan" telah dihapus dari sejarah, dianggap sebagai pengkhianat umat manusia.
"Luo Xue... Mo Tian... Kalian pikir kalian telah menang? Surga tidak buta. Takdir mengizinkanku kembali. Tunggu saja saat pedangku kembali menunjuk ke arah surga kesembilan!"
Setelah menenangkan emosinya yang bergejolak, Jian Chen mulai memeriksa kondisi tubuh barunya. Sebagai mantan kultivator puncak, hal pertama yang ia lakukan adalah memindai Dantian (pusat energi) dan meridian (saluran energi) di tubuhnya.
Wajahnya segera menjadi gelap.
"Benar-benar tubuh yang menyedihkan," desahnya pelan.
Pemuda bernama Jian Chen ini dulunya adalah putra tunggal dari Patriark Klan Jian di Kota Daun Gugur. Ayahnya menghilang secara misterius tiga tahun lalu saat menjelajahi Reruntuhan Kuno, meninggalkan Jian Chen yang baru berusia dua belas tahun sendirian.
Lebih buruk lagi, sejak lahir, Jian Chen memiliki kondisi langka: Sembilan Meridian Absolut yang Terputus. Ini berarti, saluran energi di tubuhnya bagaikan pipa yang hancur. Sebanyak apa pun energi spiritual (Qi) yang ia serap dari langit dan bumi, energi itu akan bocor dan keluar dari tubuhnya. Di dunia yang menjunjung tinggi kekuatan bela diri ini, ia adalah lambang dari kata "Sampah Bawaan".
Kematiannya hari ini pun bukan sebuah kecelakaan. Kemarin, ia didorong dari tebing di belakang kediaman klan oleh antek-antek sepupunya, Jian Hu. Jian Hu telah lama mengincar posisi Tuan Muda dan sumber daya bulanan yang masih diterima oleh Jian Chen secara nominal.
Jian Chen memejamkan mata, memindai lebih dalam ke lautan jiwanya yang kini sangat kecil dan rapuh. Di tengah kegelapan jiwa fana itu, melayang diam setetes darah merah kehitaman. Darah Primordial.
"Jadi ini yang menyelamatkanku. Sepuluh ribu tahun melintasi ruang dan waktu untuk mencari wadah yang tepat. Ironisnya, Darah Primordial ini yang selama ini menyerap sisa-sisa Qi di tubuh pemuda ini, memperburuk kondisi meridiannya, hanya untuk mempertahankan fragmen jiwaku agar tidak musnah."
Meskipun meridiannya hancur, mata Jian Chen tidak menunjukkan sedikit pun keputusasaan. Di kehidupan masa lalunya, ia memulai segalanya dari bawah. Ia membunuh, merampas, meracik alkimia, dan memanjat tumpukan mayat jenius surgawi. Meridian hancur? Itu hanyalah lelucon kecil bagi seorang Kaisar.
Di kehidupan masa lalunya, bersama dengan Darah Primordial, ia juga memperoleh sebuah teknik kultivasi terlarang dari Reruntuhan Kekacauan yang belum sempat ia praktikkan.
Seni Melahap Surga Primordial.
Teknik ini dikabarkan mampu melahap segala bentuk energi di alam semesta—baik itu Qi yang murni, racun, esensi darah binatang iblis, bahkan karma dan nyawa musuh—untuk ditempa menjadi kultivasi pribadi dan memperbaiki cacat tubuh apa pun.
"Jika aku tidak memiliki meridian, maka aku akan menjadikan setiap tulang, daging, dan darah di tubuhku sebagai meridian! Aku akan melahap langit dan bumi ini untuk membangun kembali fondasiku!"
Brak!
Pikiran Jian Chen terputus ketika pintu kamarnya yang reyot ditendang terbuka dengan kasar, hingga engselnya hampir lepas.
Seorang pemuda berpakaian pelayan abu-abu melangkah masuk dengan angkuh. Wajahnya dipenuhi bopeng, dan matanya memancarkan rasa jijik yang tidak ditutupi. Dia adalah Wang Lu, seorang pelayan tingkat rendah dari faksi Paman Kedua, tetapi bahkan pelayan pun berani menginjak-injak Tuan Muda yang kehilangan pelindungnya.
"Hei, Sampah! Kau belum mati juga rupanya?" Wang Lu mendengus kasar, meludah ke lantai di dekat tempat tidur Jian Chen. "Kudengar dari Tuan Muda Jian Hu kau jatuh dari tebing. Sayang sekali nyawamu sekeras kecoak."
Jian Chen tidak menjawab. Ia hanya menoleh perlahan, menatap pelayan itu.
Wang Lu berjalan mendekat, meraih botol porselen kecil di atas meja nakas yang berisi jatah Pil Pengumpul Qi bulanan milik Jian Chen. "Berhubung kau sudah cacat dan hampir mati, pil ini hanya akan sia-sia di perutmu. Tuan Muda Jian Hu menyuruhku mengambil jatah bulan ini untuk anjing peliharaannya. Kurasa itu jauh lebih berguna!"
Wang Lu tertawa mengejek dan berbalik untuk pergi.
"Taruh kembali."
Dua kata itu diucapkan dengan nada yang sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin. Namun, entah mengapa, ruangan itu tiba-tiba terasa beberapa derajat lebih dingin.
Wang Lu menghentikan langkahnya dan menoleh, mengerutkan kening. "Apa kau bilang, Sampah? Kau berani memerintahku? Kau pikir kau masih Tuan Muda yang dihormati saat ayahmu masih ada? Hari ini aku akan mematahkan kakimu agar kau tahu tempat—"
Ucapan Wang Lu terhenti di tenggorokannya.
Ia menatap mata Jian Chen. Mata yang biasanya penuh ketakutan dan keputusasaan itu kini berubah total. Mata itu dalam, gelap, dan setajam pedang yang baru saja dicabut dari sarungnya. Di dalam kedalaman pupil hitam itu, Wang Lu seolah melihat lautan darah, tumpukan mayat setinggi gunung, dan aura kehancuran yang tak terbatas.
Itu bukan tatapan manusia. Itu adalah tatapan dewa kematian yang memandang seekor serangga. Niat Membunuh (Killing Intent) yang dikumpulkan dari sepuluh ribu tahun pembantaian di kehidupan sebelumnya, meskipun dipancarkan dari tubuh tanpa kekuatan, adalah sesuatu yang menekan jiwa itu sendiri.
Deg!
Jantung Wang Lu seakan berhenti berdetak. Kakinya gemetar hebat, kehilangan semua tenaganya. Wajahnya pucat pasi seperti kertas. Napasnya tercekat, seolah ada tangan kasat mata yang mencekik lehernya dengan kuat. Rasa takut purba, rasa takut yang melekat pada naluri hewan saat menghadapi predator puncak, menguasai pikirannya.
Klang.
Botol porselen berisi pil itu terlepas dari tangannya yang gemetar dan jatuh ke lantai kayu, berguling pelan ke arah tempat tidur Jian Chen.
"E-eek..." Wang Lu hanya bisa mengeluarkan suara tercekik, air mata ketakutan menggenang di matanya, dan tanpa sadar, celananya menjadi basah oleh noda kekuningan. Ia telah mengompol.
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku untuk orang mati," suara Jian Chen terdengar lagi, sedingin es abadi. "Tapi karena tanganku saat ini terlalu kotor untuk menyentuh darah anjing sepertimu... Enyahlah."
Seketika tekanan ilusi itu menghilang.
Wang Lu terkesiap menghirup udara, lalu berbalik dan merangkak keluar dari kamar secepat anjing yang ketakutan, bahkan tidak berani menoleh ke belakang sedetik pun, meninggalkan bau pesing di ambang pintu.
Jian Chen mendengus pelan, rasa pusing yang hebat kembali menyerang kepalanya. Menggunakan 'Niat Membunuh' tingkat Kaisar pada tubuh fana dan jiwa yang sangat lemah memberikan beban balik (backlash) yang cukup besar. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya.
"Hanya menggunakan aura saja sudah menguras staminaku sampai seperti ini," Jian Chen tersenyum kecut sambil mengambil botol porselen di lantai.
Ia membuka sumbatnya dan menuangkan dua butir pil berwarna cokelat seukuran kacang polong. Itu adalah Pil Pengumpul Qi tingkat rendah. Bagi kultivator biasa, kualitasnya sangat buruk, penuh dengan kotoran (impurities).
Namun, bagi Jian Chen saat ini, itu adalah kunci pertamanya untuk bertahan hidup.
Ia memasukkan kedua pil itu ke dalam mulutnya dan duduk bersila, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Matanya terpejam, dan ia mulai merapal mantra pertama dari teknik kultivasi nomor satu di alam semesta.
"Mari kita mulai melahap."