Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring-jaring yang Menyempit
Pagi itu, udara Kota Fauna terasa lebih menggigit dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti jalanan, seolah membawa pertanda bahwa ketenangan yang dinikmati selama beberapa hari terakhir hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.
Di dalam mobil SUV hitamnya, Arlan mencengkeram kemudi dengan erat. Meski suasana di dalam kabin cukup hangat karena suara ocehan Keira, kewaspadaan Arlan justru berada di titik tertinggi.
Sejak percakapan mendalamnya dengan Om Arman di Jalan Bunga saat dirinya berkunjung tanpa sepengetahuan Gisel, Arlan menyadari bahwa musuh yang ia hadapi bukanlah preman biasa.
“Kamu tidak akan bisa melawannya, Arlan. Tapi setidaknya, kamu memiliki sumber daya untuk membentengi Gisel,” begitu pesan Om Arman yang terus terngiang.
Atas saran itulah, Arlan menyewa dua orang pengawal profesional yang kini membuntuti mereka dari jarak yang aman.
Mobil berhenti sekitar seratus meter dari gerbang sekolah. Gisel sendiri yang meminta agar mereka tidak berhenti tepat di depan gerbang. Ia tidak ingin menarik perhatian lebih jauh karena di sekolah tidak ada yang mengetahui status pernikahannya, kecuali wali kelasnya.
"Terima kasih, Om," ucap Gisel sembari menyandang tas ranselnya.
Gisel menoleh ke arah kursi belakang, mengusap puncak kepala Keira dengan lembut.
"Keira sayang, yang nurut dengan Papa hari ini, oke? Kakak sekolah dulu."
Keira, dengan binar mata yang kini jauh lebih hidup sejak kehadiran Gisel, memberikan hormat dengan tangan kecilnya.
"Siap, Mama!"
Deg. Panggilan "Mama" itu masih menyentak nurani Gisel, namun ia hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis. Sebelum ia membuka pintu, Arlan menahan lengannya sebentar.
"Gisel, jika ada sesuatu yang terasa ganjil, sekecil apa pun itu, langsung hubungi aku atau Om Arman. Jangan mencoba menghadapinya sendiri," pesan Arlan dengan nada yang tak terbantah.
Gisel mengangguk.
"Baik, Om."
Gisel melangkah memasuki gerbang sekolah, disambut oleh Sena dan Diana, dua sahabatnya yang setia. Mereka masuk ke dalam kelas sambil bergurau, mencoba mencairkan ketegangan yang hanya Gisel yang merasakannya.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit. Seorang siswa utusan datang membawa pesan: Bu Indah, sang wali kelas, memanggil Gisel ke ruang guru.
Langkah Gisel terasa berat saat memasuki ruangan yang dipenuhi aroma kertas dan kopi itu. Bu Indah sedang sibuk memilah tumpukan file saat Gisel mendekat.
"Permisi, Bu. Ada apa Ibu memanggil saya?" tanya Gisel setelah dipersilakan duduk.
Bu Indah tidak langsung menjawab. Ia merapikan filenya selama satu menit yang terasa seperti satu jam bagi Gisel. Akhirnya, wanita paruh baya itu menatap Gisel dengan sorot mata yang sulit diartikan campuran antara kasihan dan kekecewaan.
"Sel, Ibu tahu kamu sudah menikah. Secara hukum mungkin sudah sah, tapi tolong, ingatlah bahwa kamu masih seorang siswi," buka Bu Indah tanpa basa-basi.
"Ujian akhir sebentar lagi. Jangan sampai status barumu menurunkan fokusmu dan membuatmu kehilangan beasiswa perguruan tinggi yang sudah kamu perjuangkan selama tiga tahun ini." Gisel mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Saya tetap belajar seperti biasa, Bu. Nilai ujian harian terakhir saya tidak turun, bahkan meningkat di beberapa mata pelajaran." Bu Indah menghela napas panjang.
"Bukan hanya soal nilai, Sel. Ibu mendengar desas-desus... orang-orang mulai membicarakan mu. Mereka bilang kamu mulai ikut tenggelam di Jalan Bunga."
"Saya tidak melakukan hal-hal negatif seperti yang mereka bicarakan, Bu," jawab Gisel dengan suara bergetar namun tegas.
"Ibu mempercayaimu, Sel. Tapi Ibu tidak bisa meyakinkan guru-guru lain atau komite sekolah hanya dengan kata-kata. Latar belakangmu membuat mereka sangat mudah menghakimi. Untuk sementara, Ibu mohon... jangan melakukan hal-hal yang memicu keributan. Berdiam dirilah, fokus pada buku, dan jangan berikan mereka alasan untuk mengeluarkan mu."
Gisel keluar dari ruang guru dengan kepala tertunduk. Ia merasa seperti mawar yang sedang berusaha mekar di tengah padang duri. Sejak sekolah dasar, ia selalu mendapatkan beasiswa berkat kecerdasannya. Namun, sekeras apa pun ia berlari, "Jalan Bunga" seolah menjadi bayangan hitam yang siap menelan prestasinya kapan saja.
Sementara Gisel berjuang dengan stigma di sekolah, Arlan menghadapi badai di dunianya sendiri. Di kantor bank pusat Kota Fauna, tumpukan berkas di meja Arlan bukan lagi soal angka pertumbuhan, melainkan soal kebocoran likuiditas yang tidak masuk akal.
Rey, pengacara sekaligus orang kepercayaannya, masuk dengan wajah tegang. Ia menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan grafik penurunan dana yang curam.
"Ada yang tidak beres, Lan. Sudah seminggu ini, terjadi penarikan dana besar-besaran secara misterius dari beberapa rekening utama. Bukan hanya itu, pinjaman dari proyek-proyek real estate yang kita biayai di utara mendadak macet total," ujar Rey.
Arlan memindai data itu dengan cermat. Matanya yang tajam langsung menangkap sebuah pola.
"Ini bukan kebetulan, Rey. Pola penarikan dana dan kemacetan ini sangat terorganisir. Mereka tidak hanya ingin mengambil uang, mereka ingin menguras likuiditas kita sampai kering. Mereka ingin membangkrutkan bank ini."
"Aku sudah menelusuri aliran dana dan kepemilikan proyek yang macet itu," tambah Rey dengan suara rendah.
"Hampir semuanya memiliki benang merah ke satu entitas yang sama."
"Jaringan bisnis milik Sanjaya," ucap Arlan dan Rey secara bersamaan.
"Sial!" Arlan menggebrak meja di depannya.
Braakk!
Suara itu membuat Keira, yang sedang asyik menyusun puzzle di pojok ruangan, tersentak dan menjatuhkan kepingan mainannya. Arlan segera tersadar, wajah kerasnya melunak seketika saat melihat putrinya ketakutan.
"Maaf, Sayang... Papa tidak sengaja menabrak meja. Keira lanjutkan saja mainnya, ya?" ucap Arlan dengan nada lembut yang dipaksakan.
Setelah Keira kembali tenang, Arlan kembali menatap Rey dengan mata yang berkilat penuh amarah.
"Ini sudah bukan lagi sekadar masalah pribadi, Lan," bisik Rey.
"Aldi Sanjaya tidak hanya ingin mengambil Gisel. Dia ingin melumpuhkan mu secara finansial, menghancurkan reputasi mu, dan meruntuhkan pijakanmu. Dia ingin memastikan bahwa ketika dia datang untuk mengambil Gisel, kamu sudah tidak punya apa-apa lagi untuk melindunginya."
Arlan bersandar di kursinya, mengembuskan napas panjang yang terasa panas. Ia menyadari strategi Aldi Sanjaya. Aldi ingin membuatnya tidak berdaya, mengubahnya menjadi pria tanpa harta dan kuasa, sehingga ia tidak bisa mempertahankan Gisel di sisinya.
"Dia pikir aku akan menyerah begitu saja?" Arlan bergumam, matanya menatap tajam ke arah jendela yang memperlihatkan langit Kota Fauna yang kian mendung.
"Dia mungkin punya ribuan cara untuk menghancurkan bank cabang ini dan reputasiku, tapi dia lupa satu hal. Aku sudah kehilangan terlalu banyak di masa lalu. Kali ini, aku akan melakukan apapun, jika itu perlu aku akan bertaruh nyawa untuk menjaga keluargaku."
Arlan meraih ponselnya, seseorang di jaringan bawah tanah yang selama ini ia hindari mungkin menjadi solusinya. Jika Aldi Sanjaya ingin bermain kotor di luar aturan, maka Arlan akan melayani permainan itu dengan cara yang sama.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏