Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Sandiwara Salsa
Tiba-tiba, suara Kevandra kembali dingin dan datar saat teringat kejadian Salsa bersama Raka di kafe tadi siang.
Dengan tetap memasang wajah seolah ia adalah wanita lemah lembut, Salsa kembali memainkan mimik wajahnya. "Mas, bukankah aku sudah mengatakan sebelum kamu berangkat ke kantor bahwa aku akan pergi berbelanja? Kami hanya kebetulan bertemu dan sekalian makan siang bersama. Apakah semua itu membuatmu langsung berpikir aku melakukan yang tidak-tidak?" lirih Salsa dengan suara paraunya.
Kalimat lirih dan suara parau Salsa mulai meruntuhkan pertahanan Kevandra. Ia tersentak, teringat bahwa istrinya memang sempat meminta izin tadi pagi.
"Bagaimana aku tidak berpikir buruk, Sa! Kamu sendiri bersikap acuh tak acuh pada hubungan kita. Apa aku juga salah mempertanyakan hubungan kita?" jelas Kevandra dengan suara yang sedikit melembut.
Tiba-tiba, Salsa teringat bisikan Liora di kafe siang tadi. Ketakutan akan ancaman Liora membuat Salsa bergerak cepat. Ia menghambur ke pelukan Kevandra, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu. Pikirannya kalut: ia harus mengunci kepercayaan Kevandra sebelum Liora sempat membongkar semuanya.
"Mas... maafkan aku kalau selama ini aku terlalu dingin dan acuh tak acuh. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan pernikahan ini." Salsa berbisik dengan nada paling tulus yang bisa ia buat. "Tapi sekarang aku sadar... aku ingin mencoba menerima pernikahan kita sepenuhnya."
Seketika wajah Kevandra yang tadinya tampak curiga langsung berbinar saat mendengar Salsa mengatakan hal itu.
"Apa kamu serius, Sa?" tanya Kevandra. memegang kedua bahu Salsa, mencoba meyakinkan dirinya sendiri atas apa yang baru saja Salsa katakan. menatapnya dengan binar bahagia yang membuat hati siapa pun yang melihatnya akan merasa iba—karena ia sedang dibohongi dengan begitu rapi.
"Aku serius ingin memperbaiki semuanya, Mas. Tapi, aku punya satu permintaan." Salsa menjeda kalimatnya, memberikan tatapan paling meyakinkan yang ia punya. "Jangan pernah dengarkan omongan orang luar tentang aku atau kita. Aku takut hubungan yang baru saja akan aku bangun denganmu ini hancur karena fitnah orang lain. Berjanjilah hanya akan percaya padaku."
Kevandra tertegun, merasa sangat tersentuh karena mengira Salsa sedang mencoba melindungi pernikahan mereka. Ia tidak tahu bahwa di balik mata indah itu, Salsa sedang merayakan kemenangannya.
"Raka benar, aktingku memang kelas atas. Percayalah padaku, Kevandra, teruslah jadi pria bodoh yang mudah tertipu sebelum Liora sempat menghancurkan segalanya." batin Salsa dengan senyum licik yang tersembunyi rapat.
"Aku berjanji, Sa. Selagi kamu tidak mengkhianatiku, aku akan selalu mendukung dan berada di sampingmu." janji Kevandra dengan tulus. Ia kemudian menarik Salsa ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Sa! Kamu sudah mau menerima pernikahan kita."
Salsa hanya mengangguk pelan di dalam pelukan Kevandra.
"Lihatlah Liora, aku sudah berada satu langkah di depanmu. Aku sudah memiliki kepercayaan suamiku dan secara tidak langsung kamu memberiku izin secara terang-terangan bermain dengan tunanganmu." batin Salsa tersenyum penuh kemenangan.
Kevandra perlahan melepaskan dekapannya, lalu menatap Salsa dengan binar mata yang begitu tulus. "Aku bersih-bersih dulu, ya? Kamu turunlah, temani Mama di bawah." bisiknya begitu lembut, membuat jantung Salsa berdesir aneh.
Tanpa bisa dicegah, semburat merah muncul di pipi Salsa. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya menerima perlakuan manis itu, walaupun ia tahu semua ini bermula dari sandiwara yang ia susun sendiri.
"Iya, Mas. Aku turun ke bawah dulu. Nanti kalau sudah selesai, cepat turun ya, aku buatkan kopi kesukaanmu." sahut Salsa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil agar perannya sebagai istri yang perhatian tidak hancur oleh kegugupannya sendiri.
Salsa melangkah keluar kamar dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan. "Sandiwara yang cukup bagus." gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Sambil menuruni tangga menuju lantai bawah, ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Jemarinya dengan lincah menekan sebuah nama yang sudah sangat akrab di hatinya: Raka.
Dengan tatapan penuh kelicikan, ia mengetikkan sebuah pesan:
[Sayang, sandiwaranya berjalan dengan sangat baik. Dia benar-benar masuk ke dalam perangkapku.]
Sementara dari arah bawah tangga Almaira mengerutkan keningnya, saat melihat gelagat aneh dari Salsa.
"Sa!" panggil Almaira, dari arah bawah tangga. Seketika membuyarkan ketenangan Salsa yang sedang bertukar pesan dengan Raka.
"Ee-eh... Iya Ma! ada apa?" jawab Salsa, sedikit gugup. Namun dengan cepat ia mengubah mimik wajahnya kembali.
"Tidak! Mama hanya sedikit khawatir saja." ujar Almaira, dengan cepat ia menepis kecurigaannya terhadap Salsa.
Kini Salsa menuruni anak tangga dan langsung menghampiri Almaira.
"Mama mau aku buatkan teh." tawar Salsa, mencoba mengalihkan perhatian Almaira. "Aku sekalian mau membuat kopi untuk Mas Kevan." jelas Salsa, dengan nada lembut. Ia mencoba memperlihatkan bahwa ia adalah menantu dan istri idaman.
"Tidak usah Sa! Mama hanya ingin istirahat sebentar." ucap Almaira.
"Ya sudah, kalau begitu biar nanti Bi Ratih yang bersihkan kamar untuk Mama." jawab Salsa, dengan nada yang lemah lembut.
"Kalau boleh, Mama minta kamar lantai atas saja ya Sa! untuk istirahatnya. Entah kenapa? Mama tiba-tiba ingin tidur di kamar tamu yang berada di lantai atas." pinta Almaira, dengan nada lembut. Tanpa ia ketahui kamar lantai atas adalah bukti dari pengkhianatan menantunya, dan tersimpan bukti yang kini masih tersembunyi dengan baik tanpa di ketahui siapapun.
"Boleh kok Ma! nanti aku suruh bi Ratih bersihkan dulu." balas Salsa.
Sementara di tempat lain diam-diam Bi Ratih menghubungi seseorang.
"Hallo, Non!" sapa Bi Ratih, yang kini berada di tempat yang tidak jauh dari Salsa dan Almaira.
Ia memperhatikan Salsa dalam diam, atas perintah seseorang.
"Bagaimana Bi!" tanya seseorang di sebrang telepon.
"Di sini, ada ibu tuan Kevandra Non! dan ia barusan meminta kamar lantai atas, untuk beristirahat." jelas Bi Ratih, memberi informasi tersebut. Pada seseorang yang berada di telpon. "Lalu saya mendengar, Non Salsa menyuruh saya untuk membersihkan kamar yang berada di lantai atas." lanjut Bi Ratih.
"Bagus Bi! saya minta, saat Bibi membersihkan kamar lantai atas. Usahakan alat itu mudah di temukan." perintah seseorang di sebrang sana.
"Baik, Non! sesuai perintah Non. Apakah masih ada perintah lain yang harus Bibi kerjakan?" tanya Bi Ratih.
"Tidak, Bi! untuk sekarang hanya itu saja, ingat Bi harus mudah di temukan." ucapnya Lagi, memberi intruksi tersebut agar tepat sasaran.
"Baik, Non! Bibi mengerti apa yang Non katakan."
"Terima kasih, Bibi! sudah mau membantu saya, saya tidak akan lupa membalas kebaikan Bibi." ujar seseorang di sebrang sana.
"Sama-sama Non! kalau begitu Bibi tutup dulu teleponnya Non, Assalamualaikum." ucap Bi Ratih.
"Walaikum Salaam Bi!" jawab seseorang di sebrang sana, kemudian Bi Ratih menutup panggilan yang tersambung. Setelah itu Bi Ratih melangkah menuju Salsa dan Almaira. Berusaha bersikap normal kembali, seakan-akan ia barusan tidak pernah memberi informasi pada seseorang.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag