Zahra Aulia, putri Lili Kirana, tumbuh dengan dendam setelah ibunya meninggalkannya di hari ulang tahunnya yang ke-5. Lili dipaksa menikah dengan Bara Hendra, tapi akhirnya ditinggalkan. Zahra diusir keluarga Hendra dan berjanji membalas dendam. Dia mendekati tuan muda Henderson, orang terkaya dan kejam, untuk perlindungan dan balas dendam. Tapi, apakah dia bisa menaklukkan hati Henderson dan mencapai tujuannya?"
mendekati tuan muda Henderson bukan lah sesuatu yang gampang, selain kejam dia juga tidak suka wanita yang sengaja datang karena tujuan tertentu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan nenek.
" bawa dia..! " ujar pemimpin yang berseragam hitam itu.
" siapa nak..? " ibu Nevi langsung keluar melihat.
" kalian siapa..? kenapa cari saya..? " tanya nevi yang di genggam oleh kedua orang berbaju hitam.
" mau diapain anak saya..? ngomong dulu dong, jangan main bawa bawa saja. Lepaskan tangan Kalian..!" ujar ibu Herlina yang langsung melepaskan kedua tangan orang orang itu.
" baik kami akan melepaskan tangan kami. Tapi mas nya , ikut dengan kami. "
" gak bisa gitu. Kasi tau dulu alasannya . "
" iya, saya gak kenal sama kalian. Kenapa malah langsung bawa saya..? "
" kami sangat disiplin waktu ,tidak ada penjelasan . Ikut kami atau kami akan maksa..! "
" Bu , bagaimana..? Saya ikut saja sama mereka, Nevi bisa jaga diri kok. "
" gak bisa ,ibu harus ikut. Siapa tau orang orang ini jahat sama kamu. "
" cepat..! "
Nevi dan ibunya menutup pintu dan mengikuti orang orang itu masuk ke mobil.
tidak ada pembicaraan di dalam mobil .
" nak , kamu gak kenal sama mereka..? "
" gak Bu. Saya pun terkejut saat melihat mereka datang. "
" mereka ini seperti yang bekerja di kantor kantor. "
" saya pikir juga begitu Bu. Seperti nya mereka bukan orang jahat. "
Tidak lama kemudian ,mobil berhenti di rumah sakit.
" rumah sakit..? Nak kenapa mereka bawa kita ke rumah sakit..? "
" apa mungkin nenek yang Nevi selamat kan tadi sudah meninggal..? Dan saya di minta pertanggungjawaban.." ujar Nevi ketakutan.
" nenek siapa..? ibu tidak mengerti."
" tadi Nevi tidak sengaja selamat kan nenek nenek Bu, dia tergeletak di tanah saat Nevi dalam perjalanan pulang. Lalu Nevi bawa dia ke rumah sakit, saat itu belum sadarkan diri. Apakah dia sudah meninggal makanya kita di panggil..? "
" aduh , bisa jadi kamu dituduh karena kamu yang bawa di rumah sakit. Bagaimana ini..? Kamu harus menjelaskan secara jujur pada mereka. Kenapa Masalah muncul lagi sih nak..? Kita bahkan belum lama disini tapi Masalah sudah datang lagi. "
" ngomong apa kalian..? Cepat turun.. "
Nevi dan ibunya turun dari mobil dan mengikuti orang orang itu masuk di Sebuah ruangan pasien kelas VIP.
Orang orang itu membuka pintu dan masuk .
" nona , nyonya orang orang nya sudah datang.."
" persilahkan masuk. "
Nevi dan ibunya takut untuk masuk di ruangan pasien VIP itu.
" masuk.."
Nevi dan ibunya perlahan lahan masuk dan melihat ke wanita tua yang masih terbaring diatas ranjang sambil tersenyum kepada mereka.
" anak muda , ayo masuk. Jangan takut.." ujar nyonya Luther.
" nenek , bagaimana keadaan nenek..? Sudah sembuh..? " tanya nevi yang langsung mendekati wanita tua itu.
" nenek sudah sembuh ini berkat kamu nak ,siapa namamu..? "
" saya Nevi nek. Oh iya maaf bawa ibu saya kesini. "
wanita tua itu melihat ke arah ibu Herlina ibunya Nevi sambil tersenyum.
" mendekat lah, saya tidak akan jahat pada kalian. Anakmu adalah anak yang baik. Kalau bukan dia yang selamat kan aku ,mungkin saja kita tidak bisa jumpa , apalagi tidak akan bisa bertemu dengan cucu kesayangan ku ini. "
Ibu Herlina mendekat dan berdiri disamping Nevi.
" Jesica..."
" iya nek.."
" ini pemuda yang nenek ceritakan sama kamu. Dialah yang selamat kan nenek. "
Jesica tersenyum kepada Nevi , senyuman nya itu membuat dia semakin cantik dan manis.
" saya Jesica mas, cucu nenek. " Jesica mengulurkan tangannya kepada Nevi yang juga membalas nya sambil tersenyum.
" saya Nevi, dan ini ibu saya.."
" Bu.." Jesica menganggukan kepalanya kepada ibu Herlina yang membalas nya dengan tersenyum.
" saya sebagai cucunya nenek ,akan memberikan kompensasi kepada mas Nevi dan ibu. Sebagai ucapan terimakasih atas bantuan nya. " Jesica mengambil sebuah amplop didalam tas nya dan memberikan amplop itu kepada Nevi.
" ini uang sebagai kompensasi. Kami ikhlas memberikan nya. Harap di terima. "
" gak usah non, anak saya tulus menolong nenek. Uangnya simpan saja. " ujar ibu Herlina.
" iya nona.. Simpan saja uangnya. berbuat baik itu tidak harus dibalas dengan uang. Di perlakukan baik dan ucapan terimakasih dari nona dan nenek sudah membuat hati kami senang. " ujar Nevi sambil tersenyum.
" nak , terima lah. Saya akan senang sekali jika kalian menerima nya. "
" gak usah nek.."
" yasudah, apakah saya harus berlutut untuk memberikan nya kepada kalian..? " tanya nenek mengancam.
" jangan, jangan nek. Itu tidak perlu dilakukan. " ujar Nevi.
" maka terimalah. " ujar nenek.
" terima saja mas , ini tidak seberapa. Sebagai ucapan terimakasih kami atas bantuannya. "
" baiklah, saya menerima nya. terimakasih "
" um .. "
" seperti nya kita pernah bertemu..? " tanya Jesica
" bukan kah nona yang menabrak saya di pintu depan tadi..?"
" oh iya , ternyata kamu. tadi saya memang gak sengaja. Mendengar nenek masuk rumah sakit saya langsung khawatir dan buru buru ke rumah sakit. " ujar Jesica.
" kalian saling kenal..? " tanya nyonya Luther.
" gak juga sih nek. Cuman pernah bertemu sekali itupun bertemu nya karena sebuah kesalahan. "
" hahaha, baguslah. Mungkin kalian Memang jodoh "
" hah..? Maksudnya nek..? "
nenek tidak menjawab dan malah melihat ke arah Nevi.
" anak ini tampan, baik lagi. tidak ada salahnya jika saya memilih nya untuk menjadi pengganti Fikri dan menjadikannya sebagai calon suami buat Jesica." gumam nenek dalam hati sambil senyum-senyum.
" nek.. Nenek gak sakit kan..? " tanya Jesica melihat Nevi sambil senyum-senyum.
" apaan sih Jesica. Nenek gak sakit kok..."
" kenapa nenek senyum manyun begitu..? Ada apa..? " tanya Jesica yang menurut nya sikap neneknya agak aneh.
" nak Nevi sudah punya pacar belum atau sudah nikah ..?" tanya nenek
" kenapa nenek tiba-tiba nanya begitu..? " tanya nevi heran.
" cuman mastiin saja. " ujar nenek.
" belum nikah nek. Saya cuman punya pacar tapi sepertinya kita tidak bisa bersama, karena perbedaan status. Mungkin saja dia juga sudah nikah sekarang.." ujar Nevi menunduk sedih jika mengingat hubungan nya dengan lili.
" baguslah, bagaimana kalau kamu nikahi cucu saya ini. Dia anak baik dan manis. " ujar nenek tiba tiba membuat Jesica dan Nevi beserta ibunya mengerutkan keningnya.
" nenek, jangan bercanda deh. Malu tau.." ujar Jesica.
" Jesica,nenek lagi bicara serius. Tidak lagi bercanda. Nenek menyukai Nevi, lagipula kamu sudah putus kan sama vikri..? "
" tapi nek, tidak secepat itu. Kita juga baru kenal mereka. "
nyonya Luther memegang dadanya dan berpura- pura kesakitan.
" nek , ada apa..? kambuh lagi..? " Jesica mulai panik.
" Jesica, seperti nya waktu nenek tidak lama. Menikah lah dengan Nevi. nenek hanya punya permintaan itu nak.."
" tapi nek.. "
" kabulkan permintaan nenek yang terakhir Jesica. "
" okey, Jesica akan mengabulkan permintaan itu. Tapi bagaimana dengan mas Nevi..? Kita tidak bisa memaksa mereka.."
" nak Nevi, kamu mau kan..? "
Nevi melihat ke arah ibunya yang menggelengkan kepalanya.
" maaf bu ,kita beda derajat. Saya gak mau terulang untuk kedua kalinya. "
Nyonya Luther semakin berakting kesakitan membuat Jesica makin khawatir dan memohon kepada Nevi untuk menyetujui nya.
" mas , saya mohon setujui saja. Ini demi kebaikan nenek saya. keluarga kami tidak mempermasalahkan derajat. Saya mohon, saya gak mau kehilangan nenek.." Jesica menunduk dan mau berlutut di depan Nevi dan ibunya.
Melihat itu Nevi langsung mencegah nya dan mengiyakan permintaan nenek itu.
" baiklah, saya setuju. "
" terimakasih.." ujar Jesica sambil menangis.