Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Pasutri canggung
"Hmm!" Revan menjawab pertanyaan Abel dari seberang sana.
"Sepupu gue emang cantik, Van! Tapi nggak harus dikekepin sepanjang hari juga kali!" ledek Abel sambil cekikikan.
"Bacot asal aja kalau ngomong! Gue habis beli kulkas, masa gue suruh Amel yang dorong-dorong tuh kulkas?! Otak disapu biar nggak mikirin selangkangann mulu!" omel Revan ketus.
"Gue masih perjiki ya?!" Abel dari seberang sana memprotes tuduhan Revan.
"Gue nggak nanya!" Setelah mengatakan itu Revan mematikan sambungan telepon mereka.
"Padahal nggak papa juga kalau lo mau kerja lho, Van!" Amel dari dalam dapur sana menyahuti.
"Aman!" sahut Revan lalu tenggelam dalam pekerjaannya lagi.
Amel melanjutkan aktivitas memasaknya, tak lama tumis kangkung, nugget dan telur dadar tersaji di hadapan Revan.
"Makan dulu, udah siang banget ini!"
Revan menatap Amel dengan tatapan berbeda. "Kenapa? Ada makanan yang nggak lo suka?" tanya Amel salah tingkah.
Revan menggeleng, hatinya tiba-tiba menghangat menerima perhatian seperti ini, hatinya yang kosong setelah sekian lama terasa ada denyut lagi.
Amel kembali masuk ke dapur dan mengangkat dalaman majic com dari tempatnya.
"Auw!" Amel menjerit.
Revan bergegas menghampiri. "Kenapa?" tanya Revan saat Amel mengibaskan tangannya yang terkena wadah panas itu.
Dengan reflek Revan menarik tangan Amel dan meniupnya lembut. Amel ketap-ketip, dadanya berdegup dengan kencang mendapat perlakuan manis itu.
"Lain kali minta tolong gue kalau emang lo nggak bisa!" Revan melepaskan tangan Amel yang diberada di genggamannya. Revan salah tingkah karena berlaku terlalu absurd dan memilih mengangkat majic com itu ke depan.
Amel membuntuti di belakangnya sambil membawa piring dan gelas berisi teh untuk mereka.
Mereka makan dalam diam, kecanggungan kembali menguasai keduanya, padahal Amel bukan tipe gadis pendiam, tapi melihat Revan yang cool dan berbicara dengan irit itu membuat Amel mendadak ikutan gagu.
"Van, besok gue boleh ke toko nggak?" tanya Amel.
Revan menatap Amel lagi-lagi dengan tatapan berbeda, tak ingin membandingkan tapi entah kenapa Revan jadi membandingkan Amel dan Lula.
Amel jelas sangat berbeda dengan Lula, meskipun hubungan Amel dan Revan masih baru banget dan tanpa perencanaan tapi Amel justru sudah serespect itu sama Revan.
Berbeda sekali dengan Lula yang kemanapun tak pernah minta ijin, makanya Lula bisa selingkuh sama Soni.
"Nggak boleh ya?" gumam Amel pelan.
"Eh, boleh, Mel, boleh kok!" jawab Revan.
"Habisnya dari tadi diem aja, kirain nggak ngebolehin!" ucap Amel.
"Gue kaget aja waktu lo minta ijin ke gue, rasanya gue kek dihargai banget!"
"Lo kan suami gue meskipun gue nggak tahu kemana arah pernikahan kita berlabuh, tapi emang gue harus minta ijin lo kemanapun gue pergi. Om Tama sama Tante Wening selalu nasehatin gitu!"
"Lo mau pernikahan kita berlabuh kemana? Gue ngikut! Tapi gue sih berharap kita tetep sama-sama dan menjaga pernikahan kita ini!" Setelah mengatakan hal itu Revan merapikan piring-piring itu dan membawanya ke dapur.
Kok dia bisa sedewasa itu sih pemikirannya? Padahal usianya lebih muda dua tahun dari gue, apa iya dia mau serius dengan pernikahan ini? Kita kan nggak pernah punya hubungan romantisme sebelumnya? Tapi kalau Abel percaya sama dia, gue harus percaya juga kan? Mungkin ini yang dinamakan takdir.
Amel masih tenggelam dalam pikirannya sendiri saat Revan menyodorkan ponselnya. "Tulis nomor ponsel lo!" perintah Revan santai lalu duduk di depan laptop lagi.
Amel memasukkan nomor ponselnya ke ponsel Revan lalu mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.
"Gue misscall!" ucap Revan dan Amel pun mengangguk lalu memasukkan nomor Revan ke nomornya.
Amel memilih beranjak ke kamar dan mengambil notebooknya, Amel mulai mendesign perhiasan dari customernya yang dipesan customer tersebut sebelum Amel menikah.
Amel duduk di samping Revan dan mulai serius dengan notebooknya. Pesona perempuan cantik yang duduk di sampingnya dalam mode serius itu membuat mata Revan seringkali melirik.
Sekali lagi tak ingin membandingkan dengan pasangan sebelumnya, tapi Revan rasa Amel itu lebih dewasa, lebih baik, lebih mandiri dan lebih cantik daripada Lula.
Lula itu memang tak kalah cantik daripada Amel tapi Lula itu manja dan seringkali ingin menang sendiri dan matre.
Merasa diperhatikan oleh Revan, Amel pun menatap Revan. Keduanya saling tatap dengan sangat intens. Namanya juga sudah memiliki ketertarikan satu dengan yang lainnya dan ditunjang pula bahwa keduanya telah sah sebagai suami istri meskipun masih secara agama, akhirnya Revan mengikis jarak dan mencecap bibir tipis itu dengan lembut.
Amel sempat terkejut dengan hal itu tapi otak warasnya pun telah pergi entah kemana hingga membuat Amel memejamkan mata dan menikmati sentuhan itu.
Gerakan Amel masih sangat kaku, bukti bahwa apa yang diucapkan Abel waktu itu adalah benar adanya, Amel memberi batasan yang jelas akan sentuhan fisik dari pacarnya dulu.
Gubrak! Suara notebook jatuh dari pangkuan Amel membuat keduanya tergagap dan memisahkan diri. Wajah Amel sudah mirip kepiting rebus karena terhipnotis oleh pesona Revan.
Sementara Revan juga menjadi salah tingkah dan menggaruk jidatnya yang mendadak gatal.
Keduanya memilih kembali menekuri pekerjaan mereka sambil meredakan debaran dada mereka yang menggila.
Untung saja dari depan sana ada mobil pick up yang berhenti di depan rumah kontrakan itu.
Revan berdiri dan membukakan pintu sambil dalam hati memaki dirinya sendiri.
Bego banget gue!
"Mas, bener ini rumahnya Mas Revan?" tanya orang itu.
"Iya, Pak! Mau anter kulkas ya?" sahut Revan.
"Iya, Mas."
Kedua karyawan dari toko elektronik itu menurunkan kulkas dari atas mobil pick up lalu membawanya ke tempat yang ditunjukan Revan untuk meletakkan kulkas itu.
Amel memilih masuk ke dalam kamar dan mengambil uang lima puluh ribu untuk diberikan kepada kedua orang tersebut.
"Nyalainnya tunggu delapan jam dulu ya, Mas!" ucap orang tersebut sambil menyerahkan nota pengiriman barang untuk ditanda tangani oleh Revan.
Revan mengangguk lalu menandatangani nota itu dan menyerahkan kembali ke orang tersebut.
"Buat makan siang, Pak!" Amel menyodorkan uang tersebut ke tangan orang itu.
"Makasih, Mbak!" ucap orang itu dengan rasa syukur karena diberikan tip oleh Amel.
"Iya sama-sama!" Amel mengangguk sopan.
"Pengantin baru ya, Mbak?" celetuk orang satunya melihat penampakan rumah itu yang sangat minimalis dan tampak beberapa barang baru disana.
Amel hanya tersenyum manis menjawab pertanyaan itu. Dan suasana menjadi kembali canggung setelah kedua orang itu pergi dari sana.
Amel menggeleng pelan karena lagi-lagi bibir basah dan kenyal itu mampir lagi ke ingatannya. Amel tahu dia tak akan bisa tertidur nyenyak nanti karena pesona Revan sudah masuk ke dalam hatinya.