NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.

"Ayah mau ke luar negeri lagi?"

"Anak Om yang barusan bertanya ini adalah kembar ke dua, namanya adalah Natan, dia sosok yang ceria, jahil dan suka bercanda. Sedangkan yang itu," kata Abraham sembari menunjuk ke arah putra nya yang lain.

"Dia adalah Noah, anak laki laki Om yang terlahir paling terakhir," imbuh Abraham.

Qiara hanya menanggapi ucapan Abraham dengan ber oh ria saja.

"Karena Om akan pergi ke luar negeri dan waktunya sangat terbatas. Om menyiapkan beberapa tugas yang harus nak Qiara lakukan, ini daftarnya. Kalau begitu Om pamit." Abraham terlihat berpamitan sembari menyerahkan sebuah buku catatan yang berisi hal hal yang harus Qiara pelajari dan lakukan saat berada di rumah.

"Tapi Om, maaf ... Qiara bukanlah orang yang pintar. Bahkan Qiara juga selalu mendapatkan rangking satu dari belakang saat berada di sekolah," jelas Qiara dengan wajah jujur dan juga suara yang terdengar begitu polos.

Hal itu langsung mendapatkan respon tawa keras dari Natan.

"Ha ha ha, rangking satu dari belakang di kelas! Bodoh sekali," kata Natan di sertai dengan suara tawa yang keras.

"Natan ... Diam!" Suara Abraham yang meninggi langsung membuat suara tawa Natan terhenti.

Jika Natan nampak menertawakan kebodohan Qiara, hal yang berbeda di tunjukkan oleh Noah, ia nampak memasang wajah syok. Sedangkan Nolan sendiri memasang wajah cuek serta tidak peduli.

Bagi Nolan, Qiara benar benar tidak akan berpengaruh pada kesehariannya.

"Tidak apa apa Nak Qiara, yang terpenting Nak Qiara harus terus melaporkan apa yang anak anak Om itu lakukan di sekolah."

"Tapi bagaimana caranya saya melaporkan tingkah anak-anak Om saat berada di sekolah? Karena saya sendiri tidak memiliki ponsel," gumam Qiara sambil memegang wajahnya yang bingung.

"Ini, Om berikan ponsel baru. Ponsel ini sudah aktif dan berisi aplikasi-aplikasi yang kamu butuhkan untuk memantau anak-anak Om di sekolah. Jadi, tugas mu hanya menjadi pengasuh saat di rumah, dengan memasak makanan dan membersihkan tempat tidur mereka. Dan mengawasi jika mereka pergi bersama teman-teman, meninggalkan rumah entah ke klub malam atau pun nongkrong di kafe. Di sekolah, Om juga tidak meminta mu untuk menjadi murid pintar, Om hanya meminta mu untuk mengawasi mereka. Sekalian kamu bersekolah," jelas Abraham sembari menyerahkan ponsel yang masih berada dalam kardus, serta sebuah kartu ATM dan juga kartu kredit.

"Terus ini apa, Om?" tanya Qiara penasaran, sambil menunjukkan dua buah kartu yang kini berada di tangannya.

"Apakah benda ini juga akan membantu dalam tugas mengawasi mereka? Atau ada tugas tambahan yang perlu saya lakukan dengan kartu-kartu ini?" Selama menjelaskan kebingungannya, Qiara tidak menyadari bahwa rasa cemas dan ragu mulai merayapi hatinya, akan tetapi tekadnya untuk menyelesaikan tugas ini dengan baik tetap terlihat jelas di wajahnya.

"Ini adalah kartu ATM dan juga kartu kredit. Kamu bebas menggunakan uang yang ada di dalam sana," jawab Abraham. Qiara menatap kartu yang ada di tangannya dengan pandangan takjub.

"Uang di dalam sini?" gumam Qiara polos sembari membolak-balikkan kartu ATM di tangannya.

"Mana mungkin, benda ini sangat tipis. Tidak mungkin ada uang di dalamnya," imbuh Qiara heran.

"Apakah aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang dunia ini? Ternyata masih banyak yang harus ku sesali, bahkan dalam hal sepele seperti ini," pikir Qiara dalam hati, merasa begitu bodoh.

Sementara itu, Natan berbisik pada Nolan, "Ternyata dia itu bodoh sekali Kak, ayah bisa mendapatkan orang ini dari mana sih?"

Dengan cuek, Nolan malah pergi menjauh dan tidak menanggapi ucapan adiknya.

Melihat kepolosan Qiara, ada guratan rasa bersalah di wajah Abraham. Hal itu tak luput dari tatapan Noah, putra ketiganya, yang memiliki hati paling baik dan memiliki sifat peduli sesama.

"Semoga, dengan tinggal di sini! Bisa sedikit mengurangi kesalahan yang keluarga ku perbuat pada mu Nak Qiara."

**

"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ayah pernah mengenal Qiara sebelumnya?" tanya Noah dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Beberapa pertanyaan memang terus berkecamuk di benaknya, sejak ia melihat ayahnya bersiap pergi dengan mobilnya.

Tanpa ragu, Noah buru-buru mengejar mobil ayahnya, takut melewatkan kesempatan untuk menggali informasi yang ia butuhkan. Ayahnya, Abraham, menatap Noah dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Maaf Noah... Sekarang ini ayah sedang tergesa-gesa, penerbangan ayah satu jam lagi," ujarnya, mencoba mengelak dari pertanyaan anaknya.

Namun, Noah tak ingin melepaskan ayahnya begitu saja. Dia harus tahu jawabannya, atau setidaknya mendapatkan kepastian mengenai masa lalu ayah dan hubungannya dengan Qiara.

"Ayah... Rumah kita dengan bandara itu sangat dekat, ayah hanya perlu menjawab dengan kata 'iya' atau 'tidak'," desak Noah dengan penuh penekanan. Dia merasa bertanggung jawab untuk mencari kebenaran, dan itu bisa dimulai dengan jawaban sederhana dari ayahnya.

"Kenapa harus gadis itu, Ayah? Bukankah kita bertiga bisa hidup tanpa dia?" gumam Noah, tidak mampu menahan rasa ingin tahu dan kecewa yang tiba-tiba meluap.

Feeling-nya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres yang sekarang ini di sembunyikan oleh ayahnya. Noah benar benar merasa begitu penasaran dan ingin mengetahui nya.

"Walaupun kami sering bolos sekolah, kami bertiga selalu berhasil menghindari tinggal kelas. Lalu, apa alasan Ayah sampai-sampai mempekerjakan gadis itu untuk menjaga kami?" tanya Noah dengan ekspresi wajah serius.

Serius? Ya, Noah benar-benar yakin. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan ayahnya. Tapi apa, ya? Rasa penasaran semakin menyerang hatinya.

Noah berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya, berharap ia bisa memecahkan teka-teki yang telah mengganggunya.

Ayahnya, Abraham, menghela nafas berat. "Sebenarnya, aku berharap rahasia ini tetap tersembunyi," katanya dengan nada menyesal.

"Tapi sepertinya kamu sudah bisa menebak sesuatu. Baiklah, aku akan jelaskan kenapa aku mempekerjakan Qiara di rumah ini, meski hanya secara singkat." Wajah ayahnya tampak sulit diuraikan. Beban yang selama ini ia pendam, akhirnya akan terkuak.

Noah menunggu dengan hati berdebar, mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Apakah ayahnya menyimpan rahasia besar yang akan menghancurkan segalanya? Tak sabar ingin tahu, Noah melihat ayahnya lebih tajam dan menantang.

Baik ayah maupun anak itu akhirnya nampak berbicara dengan wajah serius di depan rumah. Saking seriusnya, sampai ke duanya tidak menyadari. Jika ada seseorang yang sedang memperhatikan ke duanya di atas balkon.

"Apakah yang Ayah katakan perihal Qiara itu benar?" gumam seseorang yang berdiri di atas balkon. Sedikit demi sedikit dirinya bisa mendengar percakapan yang di lakukan Noah maupun Abraham.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!