NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

“Tuangkan tehnya lebih rendah lagi, atau kau akan mencipratkan noda keatas gaun sutra mahalku,” ucap Raina Sagara terdengar melengking di tengah taman mawar yang sedang bermekaran.

Ia duduk di kursi besi tempa berwarna putih dengan bantal beludru yang terlihat empuk. Di sekelilingnya, empat wanita sosialita dengan perhiasan mencolok duduk melingkar. Mereka semua mengenakan topi lebar dan kacamata hitam yang menyembunyikan tatapan menghina.

Alisha berdiri di samping meja bundar, memegang teko porselen putih yang berat dengan tangan yang mulai terasa kaku.

“Maaf, Nyonya Raina,” ujar Alisha pelan.

“Jangan hanya minta maaf, lakukan dengan benar,” titah salah satu tamu, wanita dengan kalung mutiara tiga lapis.

“Seorang pelayan seharusnya tahu bagaimana cara melayani tamu tanpa harus diajari setiap detiknya.”

“Dia bukan pelayan, Jeng Miranda,” sela Raina dengan senyum yang tidak sampai ke mata. “Dia adalah calon istri putraku yang masih perlu banyak belajar tentang etika kelas atas.”

Miranda tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. “Oh, jadi ini wanita yang menjadi pembicaraan di klub minggu lalu? Aku pikir dia memiliki selera yang lebih baik.”

Miranda memperhatikan penampilan Alisha dengan teliti. Alisha mengenakan gaun katun berwarna krem yang ia jahit sendiri sebelum pindah ke mansion ini. Gaun itu memiliki potongan bersih dengan detail garis leher yang rapi. Namun di mata para wanita ini, ketiadaan label desainer ternama adalah sebuah dosa besar.

“Pakaiannya tampak begitu menyedihkan,” bisik tamu lainnya sambil menutup mulut dengan kipas.

“Apakah Damian sedang mengalami krisis keuangan hingga membiarkan calon istrinya memakai kain serbet seperti itu?”

Alisha merasakan panas menjalar di pipinya. Ia bukan malu karena pakaiannya, melainkan marah karena kesombongan yang tak berdasar di depannya. Damian sedang berada di kantor pusat sejak pagi hari. Raina sengaja memilih waktu ini untuk mengundang teman-temannya tanpa memberitahu siapa pun. Raina ingin menjatuhkan mental Alisha tepat di jantung kepercayaan dirinya yaitu identitasnya sebagai seorang perajin.

“Tuangkan teh untuk Jeng Sandra sekarang!” perintah Raina dengan nada otoriter.

Alisha melangkah menuju meja Sandra. Matanya yang tajam tanpa sengaja menangkap detail pada blus sutra yang dikenakan Sandra. Ia melihat tarikan benang yang tidak rata pada bagian bahu. Alisha menuangkan teh dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang.

“Sutranya indah, Nyonya Sandra,” ujar Alisha tiba-tiba.

Sandra mendongak dengan angkuh. “Tentu saja. Ini adalah koleksi terbatas dari rumah mode di Milan.”

“Sayang sekali.” Alisha meletakkan tekonya kembali. “Mereka menggunakan teknik overclock yang terlalu kencang pada sambungan lengannya. Lihatlah, kainnya mulai berkerut dan merusak siluet tubuh Anda.”

Suasana di taman mawar itu mendadak sunyi senyap. Sandra menoleh ke arah bahunya dengan ekspresi panik.

“Apa kau bilang?” tanya Sandra dengan nada tinggi.

“Jika Anda bergerak sedikit lebih lebar, jahitan di bawah ketiak itu akan robek karena mereka memotong pola tidak searah dengan serat kain,” lanjut Alisha dengan nada profesional. “Mereka menjual merek pada Anda, bukan kualitas jahitan.”

Alisha kemudian menoleh ke arah Miranda yang tadi menghinanya.

“Dan gaun lace Anda, Nyonya Miranda. Itu bukan Chantilly lace asli. Itu adalah hasil mesin bordir industri yang ujungnya mulai berjumbai karena tidak diselesaikan dengan teknik french seam.”

Miranda terperangah hingga menjatuhkan biskuitnya ke atas piring. “Kau berani menghina seleraku?”

“Aku hanya menunjukkan fakta teknis,” sahut Alisha sambil tersenyum tipis. “Pakaian yang aku pakai mungkin tidak memiliki label. Tapi gaun ini dijahit dengan benang sutra ganda dan menggunakan teknik tusuk jelujur tersembunyi yang tidak akan Anda temukan di butik mana pun di Jakarta.”

Raina memukul meja dengan tangannya hingga cangkir-cangkir teh berdenting. “Alisha! Jaga bicaramu!”

“Kenapa, Nyonya?” Alisha menatap Raina dengan berani. “Bukankah Anda ingin aku menunjukkan bakatku di depan teman-teman Anda?”

Di ujung meja, seorang wanita tua yang sedari tadi hanya diam mulai memperhatikan Alisha dengan minat yang besar. Wanita itu adalah Ibu Sofia, seorang kolektor mode yang sangat dihormati dan pemilik beberapa galeri seni di Singapura. Sofia melepaskan kacamata hitamnya, menampakkan mata yang masih sangat tajam meski sudah berkerut.

“Kemari sebentar, Nak,” panggil Sofia.

Alisha melangkah mendekati Sofia dengan ragu. Sofia menarik sedikit ujung kain gaun Alisha dan merasakannya di antara ibu jari dan telunjuknya. Ia membalik bagian kelim bawah gaun itu dan mengangguk perlahan.

“Jahitan tangan yang luar biasa,” gumam Sofia. “Teknik blind hem ini sangat langka sekarang. Sangat rapi hingga tidak terlihat satu pun titik benang dari luar.”

“Terima kasih, Nyonya,” ujar Alisha tulus.

Sofia menoleh ke arah Raina yang wajahnya sudah mulai memerah karena malu dan marah.

“Raina, kau bilang wanita ini tidak mengerti etika? Bagiku, pemahamannya tentang struktur pakaian jauh lebih beradab daripada semua tamu di meja ini.”

“Tapi Sofia, dia hanya penjahit dari desa nelayan!” protes Raina dengan suara serak.

“Bakat tidak peduli soal alamat tempat tinggal,” sanggah Sofia tenang. Ia kembali menatap Alisha.

“Siapa namamu?”

“Alisha, Nyonya.”

“Dengarkan aku, Alisha.” Sofia mengeluarkan kartu namanya dari tas kulit buaya miliknya. “Aku sedang mencari kurator untuk pameran tekstil tradisional di Galeri Nasional bulan depan. Aku ingin kau datang ke kantorku besok.”

Raina merasa seolah-olah baru saja disiram air es di depan umum. Rencananya untuk mempermalukan Alisha justru berbalik menjadi panggung bagi Alisha untuk mendapatkan koneksi yang paling kuat di industri mode.

“Sofia, jangan bercanda,” ujar Raina dengan tawa yang dipaksakan. “Dia masih sangat hijau untuk posisi itu.”

“Aku tidak pernah bercanda soal kualitas,” balas Sofia sambil berdiri.

“Jamuan teh ini sudah cukup bagiku. Miranda, Sandra, sebaiknya kalian periksa kembali lemari pakaian kalian sebelum bertemu denganku lagi.”

Sofia berjalan meninggalkan taman dengan keanggunan yang absolut. Miranda dan tamu lainnya segera menyusul dengan wajah yang sangat merah, menahan malu karena rahasia jahitan baju mereka dibongkar di depan umum.

Kini hanya tersisa Raina dan Alisha di tengah taman mawar. Angin sore bertiup, menerbangkan beberapa kelopak mawar merah ke atas meja teh yang kini berantakan. Raina berdiri dengan nafas yang memburu. Ia mendekati Alisha dan menunjuk wajah wanita itu dengan jarinya yang gemetar.

“Kau pikir kau menang?” desis Raina dengan suara penuh kebencian.

“Aku tidak sedang bertanding, Nyonya Raina,” jawab Alisha sambil mulai membereskan cangkir-cangkir teh.

“Aku hanya sedang mempertahankan diri.”

“Kau mempermalukanku di depan teman-temanku!” Raina menyapu teko teh hingga jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai batu. “Kau akan membayar mahal untuk kelancanganmu hari ini!”

“Silakan,” sahut Alisha tanpa rasa takut. “Tapi ingatlah satu hal. Aku bukan pelayan Anda. Dan mulai sekarang, jangan pernah mencoba mengujiku lagi dengan cara rendahan seperti ini.”

Alisha berbalik dan berjalan menuju bangunan utama mansion. Ia merasa kakinya bergetar, namun ia tidak membiarkan Raina melihatnya. Di balik pilar besar, Arka berdiri sambil memegang tabletnya. Bocah itu merekam seluruh kejadian tersebut sejak awal.

“Kerja bagus, Ibu,” bisik Arka saat Alisha melewatinya.

“Kau melihat semuanya?” tanya Alisha sambil mengusap air mata yang nyaris jatuh.

“Semuanya.” Arka tersenyum kecil.

“Termasuk saat Nyonya Miranda hampir menangis karena bajunya disebut palsu. Aku sudah mengirimkan rekaman ini ke ponsel Ayah.”

Alisha terbelalak. “Arka! Kenapa kau melakukannya?”

“Agar Ayah tahu monster apa yang sedang ia biarkan berkeliaran di taman rumahnya,” jawab Arka dingin.

Beberapa menit kemudian, suara deru mesin mobil yang sangat kencang terdengar dari arah gerbang. Mobil sport hitam milik Damian Sagara berhenti tepat di depan lobi. Damian keluar dari mobil dengan wajah yang sangat gelap. Ia melangkah masuk dan langsung menuju ke arah taman mawar.

Damian melihat ibunya yang masih berdiri di sana dengan wajah hancur. Ia melihat pecahan porselen di lantai. Ia kemudian melihat Alisha yang berdiri di dekat Arka dengan sudut mata yang masih sedikit merah.

“Ibu.” Suara Damian terdengar sangat rendah dan berbahaya.

Raina menoleh dengan wajah penuh drama. “Damian! Lihat apa yang dilakukan calon istrimu! Dia sangat tidak sopan kepada tamu-tamuku!”

Damian tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman video yang dikirim oleh Arka. Suara penghinaan teman-teman Raina terdengar jelas di udara terbuka. Raina membeku saat melihat wajahnya sendiri yang sedang memerintah Alisha layaknya budak.

“Sejak kapan rumahku menjadi tempat untuk menindas orang lain, Ibu?” tanya Damian dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun.

“Aku hanya ingin mengujinya!” bela Raina.

“Ujianmu sudah selesai.” Damian melangkah mendekati ibunya. “Dan hasilnya adalah Ibu yang gagal. Mulai besok, tidak akan ada lagi jamuan teh di rumah ini tanpa izin tertulis dariku. Dan jika Ibu berani memanggil Alisha dengan sebutan pelayan lagi, aku akan memastikan Ibu kehilangan seluruh akses pada rekening yayasan Sagara malam ini juga.”

Raina ternganga. “Kau mengancam ibumu demi wanita ini?”

“Wanita ini adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih sudi bicara pada Ibu,” sahut Damian dingin.

Damian berjalan menghampiri Alisha. Ia merangkul bahu Alisha dengan protektif. “Ayo masuk. Kau tidak perlu membereskan sampah di sini.”

Alisha mengikuti langkah Damian masuk ke dalam rumah. Ia merasa beban di bahunya sedikit terangkat. Meskipun ia tahu peperangan dengan Raina belum benar-benar berakhir, setidaknya ia tahu bahwa ia tidak akan pernah lagi bertarung sendirian di bawah atap ini.

Di belakang mereka, Raina Sagara berdiri sendirian di tengah taman mawar yang mulai gelap. Ia meremas kartu nama Ibu Sofia yang tertinggal di atas meja. Matanya berkilat dengan amarah yang tidak akan pernah padam. Ia tidak akan membiarkan penjahit itu mencuri segalanya darinya.

“Ini belum selesai, Alisha,” gumam Raina pada angin malam. “Kau belum tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang ibu yang merasa dikhianati.”

Arka memperhatikan neneknya dari balik jendela lantai dua. Ia mencatat satu hal lagi di dalam buku catatan digitalnya. Musuh yang terluka adalah musuh yang paling berbahaya.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!