Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — My Dangerous Kenzo
...****************...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...****************...
Senin pagi di rumah Ramadhani selalu berjalan dengan pola yang sama. Meja makan rapi, menu sarapan tertata sempurna, dan suasana yang… sunyi tapi penuh tekanan.
Naya duduk di kursinya seperti biasa. Tegak. Tenang.
Di seberangnya—Kenzo.
Itu saja sudah cukup membuat pagi ini terasa tidak biasa.
Kenzo terlihat santai dengan seragam sekolaj dan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru terlihat effortless. Berbanding terbalik dengan Naya yang serba rapi dan menjaga jarak.
Saat semua orang fokus menyantap sarapan, Kenzo menurunkan pandangannya ke bawah meja.
Lalu—
kakinya bergerak.
Pelan.
Tapi sengaja.
Ujung sepatunya menyenggol kaki Naya.
Naya langsung menegang. Sendoknya berhenti di udara. Ia mendongak, menatap Kenzo. Tatapan mereka bertemu beberapa detik—cukup lama untuk membuat dada Naya berdebar tanpa izin.
Kenzo tersenyum kecil, lalu mengedipkan sebelah matanya.
Dalam hati Naya mendengus, 'Sebel deh… dasar cowok hyper. Iihhh.'
Ia bergidik kecil, memalingkan wajah. Playboy banget.
“Naya berangkat sama Reno yaa,” suara Pappi memecah suasana. “Ikut Kenzo aja. Pappi ada rapat pagi-pagi.”
Naya refleks mendongak.
“Hah?”
Mommy ikut menoleh, ekspresinya datar.
“Loh, emang Kenzo sudah punya SIM?”
Kenzo langsung duduk lebih tegak.
“Punya, Tante,” katanya sopan. Ia mengeluarkan dompet, menunjukkan SIM dan KTP-nya. “Lengkap.”
Mommy menatap kartu-kartu itu beberapa detik, lalu mengangguk singkat.
“Oke. Tapi jangan ngebut.”
“Iya, Tante.”
“Oke, Pappi berangkat duluan yaa,” kata Pappi sambil berdiri.
Ia mengecup kening Mommy, lalu Naya. Tangannya mengusap rambut Reno dengan lembut.
“Belajar yang bener.”
Sebelum keluar, Pappi menoleh ke Kenzo.
“Ken? Om titip yaa.”
“Oke, Om,” jawab Kenzo mantap.
Pintu depan tertutup. Udara di ruang makan terasa berubah.
Mommy melirik Naya.
“Naya, duduk yang benar. Jangan bengong.”
“Iya, Mom,” jawab Naya cepat.
Kenzo menahan senyum.
Tak lama kemudian, mereka sudah berada di depan rumah. Mobil Kenzo terparkir rapi di halaman—hitam, bersih, dan jelas bukan mobil biasa.
Reno langsung membuka pintu depan dan duduk di kursi penumpang.
“Nay, lo di belakang aja,” katanya sambil memasang sabuk pengaman.
Naya mengangguk pelan, lalu masuk ke kursi belakang. Ia duduk tegak, menjaga jarak, tangannya bertumpu di pangkuan.
Kenzo masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, lalu melirik sekilas ke spion tengah.
“Semua udah?”
“Udah,” jawab Reno.
Mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Suasana di dalam mobil cukup hening. Hanya suara mesin dan lalu lintas pagi yang menemani.
Beberapa menit kemudian, Kenzo melirik ke spion lagi. Tatapannya bertemu dengan mata Naya.
“Nyaman?” tanyanya santai.
“Iya,” jawab Naya singkat, cepat memalingkan wajah ke jendela.
Reno melirik ke arah mereka.
“Fokus nyetir, Ken.”
Kenzo terkekeh kecil.
“Tenang, gue aman.”
Mobil melewati polisi tidur. Tubuh Naya sedikit terdorong ke depan. Ia refleks menahan sandaran kursi depan.
Reno menoleh cepat.
“Nay, pegangan yang bener.”
“Iya, Kak,” jawab Naya pelan.
Kenzo menginjak pedal gas pelan, memastikan laju mobil tetap halus.
“Sorry.”
Naya menggeleng kecil, kembali menatap ke luar jendela. Jantungnya masih berdetak tidak karuan—bukan karena mobil, tapi karena suasana di dalamnya.
Pagi itu, di antara jalanan menuju sekolah, Naya mulai sadar—
kedekatannya dengan Kenzo, meski tak disengaja, perlahan mengubah banyak hal.
'Bisa nyetir nggak sih…' batin Naya sambil menatap sandaran kursi depan.
'Kayak disengaja gitu deh.'
Ia menghela napas pelan, lalu mendengus sendiri.
'Kenzo emang ganteng, tinggi, badan bagus—eh… lah kok gue malah inget lagi sih.'
Kesal pada pikirannya sendiri, Naya menoyor kepalanya pelan.
Reno yang duduk di depan langsung menoleh.
“Kenapa, Nay?”
“Hah? Nggak papa,” jawab Naya cepat. “Tadi kayak ada yang kelupaan aja.”
Kenzo melirik lewat spion.
“Mau putar balik?”
“Hah? Nggak usah,” Naya buru-buru menimpali. “Bukan apa-apa kok.”
“Oke,” jawab Kenzo singkat, lalu kembali fokus ke jalan.
Mobil melaju lagi dengan kecepatan stabil. Naya menyandarkan punggungnya, menatap keluar jendela, mencoba mengusir pikirannya sendiri. Tapi entah kenapa, bayangan Kenzo—cara duduknya, cara bicaranya, bahkan wangi parfumnya—terus saja muncul tanpa diundang.
'Gila,' batinnya. 'Ini cowok bahaya.'
Dan pagi itu, Naya sadar satu hal kecil yang mengganggu:
bukan Kenzo yang terlalu dekat…
tapi pikirannya yang mulai terlalu sering ke sana.
...----------------...
“Nay!!”
Suara Citra terdengar nyaring dari seberang lapangan. Naya langsung menoleh dan melambaikan tangan.
“Tumben barengan ginih datangnya?” tanya Citra heran begitu mereka berdiri bersebelahan.
“Biasanya kan lo dianter Pappi, Reno naik motor sendiri.”
Citra melirik ke arah mobil yang baru mereka turuni.
“Ini malah satu mobil bertiga. Reno, lo, sama…,” matanya berhenti ke Kenzo, “wow.”
“Haii, Kak Reno,” sapa Citra ceria.
Reno mengangguk singkat.
“Iiihh, kakak lo ganteng,” lanjut Citra tanpa dosa.
Naya langsung nyengir.
“Gue aja cakep, ya jelas lah kakak gue ganteng.”
“Mulai deh narsisnya,” Citra terkekeh.
“Hayu cepetan,” kata Naya sambil menarik lengan Citra. “Pak Abdul keburu masuk kelas nih.”
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sekolah. Di belakang mereka, Reno dan Kenzo menyusul santai.
Tiba-tiba, seorang cewek mendekati Kenzo dengan senyum manis.
“Nih, yang kamu minta,” ucap Gisel sambil menyerahkan flashdisk.
“Thanks, cantik,” jawab Kenzo ringan, lalu—tanpa ragu—mencolek pipi Gisel.
Gisel terkekeh.
“Apa sih yang nggak buat lo,” katanya sambil menggandeng tangan Kenzo.
Naya dan Citra yang melihat dari depan spontan berhenti sejenak, saling pandang.
“Iihhh… ngeri,” ucap mereka barengan, lalu mempercepat langkah menuju kelas.
Di belakang, Reno melirik tajam ke arah Kenzo.
“Lo berdua bisa nggak di sekolah jangan mesra-mesra?”
“Sirik aja lo,” Kenzo santai.
“Makanya cari cewek, Ren,” timpal Gisel sambil nyengir.
Reno menatap Gisel sekilas.
“Kalo ceweknya macam lo, gue ogah.”
Tanpa nunggu balasan, Reno langsung berjalan duluan menuju kelas.
Kenzo tertawa kecil, sementara Gisel mendengus kesal.
Dan tanpa mereka sadari, dari ujung lorong, Naya sempat menoleh sekali—
bukan karena cemburu.
Hanya… merasa aneh.
'Kenzo emang cowok ribet,' batinnya.
Dan entah kenapa, itu bikin dadanya sedikit tidak nyaman.
...****************...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...****************...