Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Bayang-Bayang Masa Lalu
Pagi itu, suasana di kediaman Kyai Muhammad tampak sangat sibuk. Para santri senior terlihat berlalu-lalang mengangkut hantaran yang telah dihias rapi. Ada rasa heran dan tanya di hati para santri, namun wibawa Gus Azkar membuat tak ada satu pun yang berani bertanya. Sesuai kesepakatan keluarga, hari ini akan dilangsungkan akad nikah secara agama (siri) terlebih dahulu, mengingat usia Rina yang baru 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA.
Gus Azkar telah siap dengan jas putih bersih dan sorban yang melingkar di lehernya. Wajahnya tetap datar, namun matanya memancarkan tekad yang kuat. Ia akan menjemput takdirnya di sebuah desa yang letaknya tak jauh dari bibir pantai, tempat orang tua Rina tinggal.
Debur ombak terdengar lamat-lamat dari balik jendela kamar Rina. Di rumah ibunya, Rina duduk bersimpuh di depan cermin. Ia sudah mengenakan gaun putih sederhana namun sangat anggun. Cadar putih senada sudah menutupi wajahnya. Namun, di balik kain itu, air mata Rina mengalir deras tanpa bisa dibendung.
"Aku takut... aku takut..." bisiknya lirih dengan tubuh gemetar
Ingatannya ditarik paksa ke masa lalu, saat ia masih kelas 8 SMP. Saat itu, ia belum mengenal cadar. Ia adalah gadis ceria yang terjatuh dalam pesona cinta pertama. Delapan bulan ia jalani hubungan itu dengan penuh harapan. Laki-laki itu berjanji akan setia, berjanji akan menikahinya suatu saat nanti. Namun, semua janji itu hancur dalam semalam ketika Rina mendapati dirinya diselingkuhi dan ditinggalkan begitu saja saat rasa sayangnya sedang dalam puncaknya.
Luka itu begitu dalam. Luka itulah yang membuatnya memutuskan memakai cadar, menutup diri, dan menjadi pendiam karena takut dikecewakan lagi. Bagaimana jika Gus Azkar sama saja? Bagaimana jika nanti dia bosan padaku? pikiran-pikiran buruk itu terus menghantuinya.
"Rina... Gus Azkar sudah datang, Nak," suara Ibunya lembut memanggil dari balik pintu.
Rina menghapus air matanya sekuat tenaga. Ia harus kuat. Ini adalah jalan yang dipilihkan orang tuanya, dan ia sudah berjanji untuk patuh. Ia melangkah keluar dengan kaki yang terasa berat menuju ruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat akad nikah.
Di sana, Gus Azkar sudah duduk berhadapan dengan ayah Rina. Penghulu dan para saksi sudah siap. Suasana seketika menjadi sangat sakral. Gus Azkar menoleh sekilas saat Rina muncul, dan meskipun hanya melihat mata Rina yang sembab, ia tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
Ayah Rina menjabat tangan Gus Azkar dengan erat. Prosesi akad dimulai. Sesuai permintaan keluarga pesantren, akad dilakukan menggunakan bahasa Arab untuk menjaga kesakralan.
"Ankah-tuka wa zawwaj-tuka makhthubataka, Rina, binti Bapak [Rina hu], alal mahri... hallan!" seru Ayah Rina dengan suara mantap.
Tanpa jeda, tanpa ragu sedikit pun, Gus Azkar menjawab dengan suara yang menggelegar di ruangan itu, memenuhi setiap sudut rumah dengan kepastian.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha linafsi bil mahril madzkur hallan!"
"Sah?"
"Sah!"
Air mata Rina jatuh lagi, tapi kali ini rasanya berbeda. Ada rasa hangat yang menjalar saat Gus Azkar membacakan doa di atas kepalanya. Gus Azkar berbisik sangat pelan, hanya untuk didengar oleh Rina.
"Jangan takut pada masa lalu. Saya bukan dia. Mulai hari ini, kamu adalah tanggung jawab saya di dunia dan akhirat."
Rina tersentak. Bagaimana Gus Azkar bisa tahu apa yang ia takutkan? Namun, sentuhan tangan suaminya yang dingin namun menenangkan itu perlahan-lahan mulai mengusir bayangan pahit dari masa SMP-nya dulu.
Pernikahan ini rahasia bagi para santri, namun bagi Gus Azkar, ini adalah awal dari perjuangannya untuk menyembuhkan luka di hati istrinya.