Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Menyebar Virus Kecurigaan!
***
Ruang Dimensi Seribu Racun bergetar pelan, seakan merespon apa yang baru saja Mo Yuyan gumamkan dalam hatinya.
Angin berdesir lembut, menyapu ujung pakaiannya yang berwarna ungu terang.
Sementara Duan Xue, dia menatap Mo Yuyan dengan tatapan mata yang tajam.
"Jika kita melawan Kota Hitam, itu bukanlah lawan yang mudah. Orang-orang yang bermukim disana, bagian luarnya saja sudah kultivator tahap enam, bagaimana dengan yang bagian 'tersembunyinya'? Jadi, pikirkan baik-baik sebelum kita salah langkah ..." ujar Duan Xue panjang kali lebar.
Mo Yuyan hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.
"Oleh karena itu, aku berniat menyerang mereka secara diam-diam, tidak langsung menyerang begitu saja!" sahut Mo Yuyan dengan nada misterius.
"Jadi, bagaimana caranya, Kak?" tanya Li Shen.
Nenek Du memutar pelan tongkatnya di atas tanah, membuat sebuah lingkaran yang utuh.
"Dia ingin menyerang dari dalam ..." ujar Nenek Du.
"Wah! Nenek memang yang paling pintar diantara mereka! Jawaban Nenek sangat tepat sekali!" sahut Mo Yuyan dengan nada antusias.
"Menurut kamu, aku dan Li Shen itu bodoh, gitu?" tanya Duan Xue.
"Hmmp! Pikir saja sendiri! Dasar LOLA!" jawab Mo Yuyan dengan nada ketus.
"Sudahlah! Lanjut ke rencana ..." ujar Nenek Du menengahi perdebatan mereka.
"Aku akan membuat mereka saling curiga satu sama lain ... Kota Hitam itu dibangun di atas 'kepercayaan' yang sangat rapuh antar fraksi-nya. Selama ini, mereka terlihat damai karena tidak ada ancaman yang berarti dari pihak luar," jawab Mo Yuyan, menjelaskan rencananya.
"Jadi .... Kamu ingin menjadi ancaman itu?" tanya Duan Xue sambil menyeringai.
"Bukan seperti itu juga ..." jawab Mo Yuyan.
"Aku hanya ingin membuat mereka berpikir, jika ada pengkhianat diantara mereka ..." lanjut Mo Yuyan menjelaskan.
Li Shen mengedipkan matanya, tanda dia bingung dengan jawaban Mo Yuyan.
"Bagaimana caranya, Kak?" tanya Li Shen.
Mo Yuyan mengangkat tangannya, dan dari ujung jemarinya, muncul sebuah kabut ungu samar yang sangat tipis.
"Racun tidak selalu membunuh orang, kadang dia bisa digunakan untuk ... memicu paranoia seseorang," jawab Mo Yuyan sambil tersenyum licik.
Nenek Du tertawa pelan, saat mengetahui rencana Mo Yuyan.
"Hahahahahaha! Jadi kamu ingin menyebarkan 'Racun Bayangan' kepada mereka?" tanya Nenek Du.
"Benar sekali! Dan ini adalah 'Racun Bayangan' versi modifikasi. Tidak mematikan, hanya akan membuat syaraf indera mereka membesar ... emosi tidak stabil, dan kecurigaan yang berlipat ganda kepada setiap orang yang ada di sana," jawab Mo Yuyan sambil memainkan kabut racun itu ditangannya.
"Jadi, kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Duan Xue sambil mengangkat alisnya.
Mo Yuyan menatap kolam 'Inti Racun" yang ada dibelakangnya.
"Selama beberapa bulan bermeditasi, aku tidak hanya fokus dalam memperbaiki meridian dan mempersiapkan untuk naik tahap ..." jawabnya dengan wajah datar.
Stekah terdiam beberapa saat, Li Shen akhirnya bertanya dengan suara pelan.
"Itu artinya ... kita kan masuk ke dalam Kota Hitam, dan memulainya dari dalam?"
"Ya," jawab Mo Yuyan singkat.
"Datang dengan identitas kita?"
"Tentu saja tidak! Kita akan datang sebagai 'tamu' ..." jawab Mo Yuyan sambil tersenyum dingin.
"Tamu ...?!" beo Li Shen.
Duan Xue tertawa sambil mengelengkan kepalanya.
"Hahahahaha ... Aku suka 'drama' bagian ini!"
_
Tiga hari kemudian, dimensi 'Seribu Racun' membuka celah tipis di udara.
Swiiing!
Keempat sosok itu melangkah keluar dari sana, dan muncul di dalam hutan gelap, yang hanya beberapa li dari gerbang masuk ke dalam wilayah Kota Hitam.
Kegelapan malam menyelimuti sekitarnya, sementara cahaya bulan terlihat redup tertutup oleh awan.
Duan Xue menghirup napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.
"Huuuft ... haaah! Sudah lama sekali aku tidak mencium bau dunia luar ..." ujarnya dengan gaya dramatis.
Sementara Li Shen, dia mengepalkan tangannya saat merasakan aura aneh yang baru pertama kali dia rasakan.
"Aku bisa merasakan 'Aura' para pembunuh hebat di kejauhan ..." ujarnya pelan.
Mo Yuyan menatap siluet kota yang samar dari balik bukit tempat mereka berdiri.
"Kita tidak perlu masuk sampai ke dalam sana," ujar Mo Yuyan.
"Lalu, kamu ingin memancing mereka keluar, begitu?" tanya Nenek Du sambil menyipitkan matanya.
"Benar, Nek ..." jawab Mo Yuyan.
Dia mengeluarkan tanda pengenal giok yang berbentuk bunga plum dari dalam saku lengan bajunya.
"I-itu adalah simbol Klan Shang, Kak! Untuk apa dikeluarkan?" tanya Li Shen dengan wajah terkejut.
"Untuk memancing orang yang ada di dalam kegelapan keluar. Jika orang-orang di dalam Kota Hitam itu mengetahui garis darah keturunan Shang masih ada, pasti ada mata-mata orang itu yang akan mengawasi simbol ini ..." jawab Mo Yuyan.
"Jadi kita akan 'pamer', begitu?" tanya Duan Xue.
"Bukan pamer, tapi melempar umpan ..." jawab Mo Yuyan.
Dia menggantungkan tanda pengenal itu dipinggangnya, membiarkan tanda itu terlihat dengan jelas.
"Li Shen, kamu jalan bersamaku. Duan Xue, sembunyikan aura Iblismu. Dan Nenek, tolong waspadai arah belakang kita," perintah Mo Yuyan, mengatur posisi mereka masing-masing.
Mereka semua langsung menjawab dengan serempak.
"Baik!"
_
Mereka berempat berjalan perlahan menyusuri jalan bebatuan, menuju ke arah gerbang luar Kota Hitam.
Terlihat santai ... namun sangat waspada.
Belum sampai setengah perjalanan, tiba-tiba~
Swosssh!
Sebuah bayangan hitam melintas begitu saja dari arah belakang mereka.
Nenek Du langsung bertelepati dengan mereka bertiga.
"Ada tiga orang di kegelapan. Semuanya ditahap lima menengah!" peringat Nenek Du di benak mereka masing-masing.
"Berpura-pura tidak mengetahui keberadaan mereka ..." sahut Mo Yuyan melalui telepati juga.
Mo Yuyan tetap melangkah anggun dengan wajah tenang, seolah-olah tidak menyadari keberadaan orang-orang itu.
Sret! ... Sret! ... Sret!
Tiga sosok berjubah hitam muncul di depan mereka, dan langsung mengurung mereka.
"Berhenti, kalian!" perintah salah satu dari mereka dengan nada dingin.
Li Shen langsung ingin mengeluarkan pedangnya, namun tangan Mo Yuyan menahannya.
"Ada apa? Kami hanyalah 'pelancong' ..." ujar Mo Yuyan dengan suara lembut.
Tatapan pria berjubah pertama, jatuh pada giok yang ada dipinggang Mo Yuyan.
"Darimana kamu mendapatkan giok pengenal itu?" tanya pria pertama dengan nada dingin.
Mo Yuyan melirik simbol giok yang ada dipinggangnya, lalu dia memiringkan kepalanya ke arah pria itu.
"Kenapa memangnya? Apakah giok ini milikmu?" tanya Mo Yuyan dengan wajah polos.
Aura membunuh langsung melonjak naik dari ketiga pria itu, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.
"Beraninya kamu mempermainkan kami! Sudah tidak sayang nyawa, ya?!" bentak pria nomor dua dengan garang.
"Jaga bicaramu, Badjingan! Jangan asal tuduh sembarangan!" balas Li Shen.
Ketiga pria itu mencibir sinis, mereka meremehkan keempat orang yang dihadangnya itu.
"Dua bocah tanpa tingkatan kultivasi tinggi, dan dua dewasa yang hanya berada di tahap empat berani mendekati Kota Hitam, heh?! Katakan ... apa tujuan kalian?!" ujar pria nomor tiga dengan nada membentak.
"Kalian benar, kami memang mempunyai tujuan. Kami ingin bertemu dengan pemimpin kalian ..." sahut Mo Yuyan sambil tersenyum tipis.
Tiga pria itu terdiam sejenak, lalu mereka tertawa sangat kencang.
"Hahahahahaha! Ingin bertemu pemimpin kami?! Kualifikasi apa yang kamu punya, sampai ingin menemuinya?! Siapa kamu sebenarnya?" ujar pria nomor satu dengan nada sombong.
Mo Yuyan menatap lurus ke arah pria nomor satu, dan aura kepemimpinannya langsung melonjak keluar.
"Aku adalah ... Mo Yuyan ..."
Suasana langsung hening, saat mendengar nama itu.
Salah satu dari mereka langsung memundurkan langkahnya menjauh dari Mo Yuyan.
"Apakah dia 'Mo Yuyan' ... Si pewaris Istana Racun???"
Duan Xue menundukkan kepalanya, lalu dia tersenyum samar.
"Ternyata namanya sudah mulai 'bergaung' indah di dunia persilatan ..."
Pria berjubah nomor satu langsung memberi isyarat kepada kedua rekannya.
"Tangkap mereka semua!"
Tidak lama kemudian, Aura ungu pekat langsung meledak dari dalam tubuh Mo Yuyan, saat perintah itu jatuh.
BLAAAR!
Tanah yang mereka pijak langsung membentuk retakan, membuat wajah ketiga pria itu langsung pucat-pasi.
"I-ini adalah Aura tahap enam ... tingkat sembilan?!" bisik salah satu pria itu kepada rekannya.
Mo Yuyan melangkahkan kakinya dengan perlahan ke arah mereka.
"Sebenarnya ... aku tidak datang untuk bertarung ..."
Suaranya terdengar mengalun lembut, namun tekanan yang dia keluarkan membuat napas ketiga pria itu merasa sesak.
"Aku datang untuk memperingatkan Kota Hitam ..." lanjutnya dengan mata ungu yang berkilat indah.
"P-peringatan ... apa ...?" tanya pria nomor satu dengan suara terbata.
Mo Yuyan mengangkat jarinya perlahan, dan kabut tipis warna ungu menyebar tanpa mereka sadari.
"Di dalam Kota Hitam ... ada seseorang yang menjual informasi tentang kota itu kepada Sekte Abadi," ujar Mo Yuyan dengan wajah serius.
Mata ketiga pria itu membeliak sempurna, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Mustahil! Itu sangat tidak mungkin!" seru pria nomor tiga.
"Apakah kalian seyakin dan sepercaya itu dengan para penghuni dalam Kota Hitam?" tanya Mo Yuyan dengan tenang.
Li Shen menahan napasnya, saat dia menyadari jika kabut tersebut telah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh mereka.
Racun Ilusi Bayangan ...
Pria nomor satu menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak pernah mengetahui ada yang berkhianat~"
"Itu karena dia berada di dalam lingkaran kalian sendiri!" potong Mo Yuyan cepat.
Duan Xue dan Nenek Du hanya bisa menahan tawanya, saat melihat aksi Mo Yuyan yang polos.
"Jika kalian mempunyai keberanian, laporkan saja kepada atasan kalian. Bilang padanya, jika Mo Yuyan datang ... dan mengetahui tentang si pengkhianat itu," lanjut Mo Yuyan dengan nada menantang.
"Kenapa kami harus percaya dengan semua ucapanmu?"
"Karena ... jika aku ingin berniat membunuh kalian, maka kalian sudah mati sejak tadi ..." jawab Mo Yuyan sambil tersenyum tipis.
Keheningan melanda, dan ketiga pria itu saling pandang dengantatapan waspada.
Benih kecurigaan mulai merayap di dalam diri mereka masing-masing.
Akhirnya, si pria nomor satu pun berkata:
"Baiklah! Kami akan menyampaikan pesanmu!"
"Baiklah ..."
Setelah itu, Mo Yuyan membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana.
"Tunggu dulu!" panggil pria nomor tiga, menahan langkah Mo Yuyan.
"Bagaimana jika kamu berbohong?" tanya pria itu.
Mo Yuyan menghentikan langkahnya, namun dia tidak menoleh.
"Kalau aku berbohong, maka ... Kota Hitam akan tetap utuh!"
Setelah menjawab pria itu, dia melangkah pergi bersama Li Shen.
_
Beberapa ratus langkah kemudian, Li Shen bertanya kepada Mo Yuyan dengan suara pelan.
"Apakah mereka akan saling mencurigai sekarang, Kak?"
"Ya."
"Berapa lama efeknya akan bekerja?"
"Tiga hari."
Duan Xue dan Nenek Du langsung menyusul Mo Yuyan dari arah belakang.
"Dalam waktu tiga hari itu, mereka akan saling menyelidiki ..." ujar Duan Xue.
Nenek Du menganggukkan kepalanya dengan wajah puas.
"Jika keadaan sudah cukup kacau, maka kita bisa masuk tanpa melakukan perlawanan besar."
"Kak Yuyan ... kamu benar-benar menakutkan!" ujar Li Shen sambil tersenyum kecil.
"Aku hanya memanfaatkan sisi ketakutan manusia saja, kok! Hehehehe ..." sahut Mo Yuyan sambil terkekeh.
"Dan bagaimana setelah mereka benar-benar saling curiga?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan menghentikan langkahnya, dan wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Setelah itu ... baru kita hantam 'jantung' mereka!"
"Maksud Kakak si pemimpin Kota Hitam itu?" tanya Li Shen.
"Bukan," jawab Mo Yuyan.
"Lalu siapa?" tanya Duan Xue.
"Aku ingin bertemu dengan 'seseorang', yang tahu tentang orangtuaku ..." jawab Mo Yuyan.
Angi malam berdesir kencang, membuat siapapun merasakan kedinginan.
"Apa kamu yakin, jika informasi itu ada di sana?" tanya Nenek Du.
"Sangat yakin, Nek ..." jawabnya dengan mantap.
"Kenapa bisa sangat yakin?"
Mo Yuyan menatap sendu bulan yang bersinar redup malam itu.
"Saat aku menembus tahap enam awal, aku merasakan sebuah resonansi yang sama dengan da-rah Klan Shang, datang dari arah dalam Kota Hitam ..." jawab Mo Yuyan.
Tubuh Li Shen menegang, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Apakah ada da-rah keturunan lain yang tidak kita ketahui?" tanya Li Shen.
"Entahlah ... entah itu keturunan atau ... ada seseorang dari keturunan Klan Shang yang ditawan di sana ..." jawab Mo Yuyan.
Duan Xue menghela napas panjang.
"Haaah! ... jadi, semua ini bukan hanya tentang perang ..."
"Ya, perjalanan ini tentang pencarian ..." jawab Mo Yuyan sambil tersenyum dingin.
"Kami semua berada dibelakangmu, Kak!" ujar Li Shen dengan nada mantap.
"Benar! Kami akan berjalan bersamamu sampai akhir, Ratuku!" sahut Nenek Du sambil menghentakkan tongkatnya ke atas tanah.
"Kita tunggu kekacauan itu datang dari dalam Kota Hitam, setelah kita masuk, baru kita buat rencana selanjutnya!"
Mo Yuyan berdiri tegak menatap Kota Hitam dari kejauhan.
Kabut tipis mulai menyelimuti gerbang utama kota itu.
"Jika mereka ingin melihat 'Badai' yang berevolusi ... biarkan mereka bersiap untuk menghadapi 'Topan' yang membawa racun serta ... kebenaran."
_
Whurrrllll ...!
Terdengar suara langit malam yang bergemuruh lirih, seolah merespon semua ucapan Mo Yuyan.
Sementara itu, nun jauh di dalam Kota Hitam~
Seorang pria yang memakai jubah berwarna merah, perlahan membuka matanya.
Pengawal bayangan yang baru datang langsung menekuk salah satu kakinya untuk melaporkan sesuatu.
"Keturunan langsung da-rah Shang telah muncul, Tuan ..."
Pria itu tersenyum tipis, namun terlihat sangat berbahaya.
"Hm ... Menarik!"
☣☣☣