NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Mimpi Biasa

Malam itu Fariz tidak punya pakaian yang pantas untuk ke masjid.

Ia duduk di tepi kasur tipis, menatap lantai berubin kusam yang retak di sana-sini. Buku-buku Islam yang biasa menemaninya sudah tidak ada — Sucipto membawanya kembali ke masjid sore tadi, tanpa bertanya apakah Fariz sudah selesai membacanya.

Mengosongkan, pikir Fariz. Bukan melarang. Hanya mengosongkan, sedikit demi sedikit, sampai tidak ada yang tersisa untuk kamu pegang.

Ia berbaring. Memejamkan mata. Membiarkan sunyi mengisi ruangan.

Tidur datang lebih cepat dari yang ia sangka.

Bisikan itu yang pertama.

"Semua akan kita kuasai bersama."

Fariz tertegun di dalam tidurnya — kesadaran setengah hadir, setengah tidak.

"Jangan hari ini... belum waktunya."

Suara perempuan. Lembut tapi mengeram di bawah kelembutannya, seperti sesuatu yang belajar berbicara manis setelah lama tidak perlu. Bulu kuduk Fariz meremang — ia mencoba membuka mata, tapi kelopaknya tidak menurut.

Kilasan masa kecil muncul tanpa diundang — tangan Kyai Salman membimbing jarinya menyusuri huruf-huruf Al-Qur'an, suaranya hangat, sabar. Alif. Ba. Ta. Fariz waktu itu belum hafal urutan selanjutnya, dan Kyai Salman tidak menjawab — hanya menunggu, sampai lidah itu menemukan jalannya sendiri. Tidak memaksa. Tidak mengisi kekosongan sebelum kekosongan itu siap diisi.

Berbeda dari semua orang lain dalam hidupnya.

"Pergi sekarang!"

Bisikan itu menghantam — lebih dekat, lebih keras. Fariz berusaha bangun. Bola matanya bergerak liar di balik kelopak yang tidak bisa terbuka. Kesadarannya terasa ditarik perlahan, menjauh dari kamar sempit itu, menuju sesuatu yang gelap dan tidak punya nama.

Ia mendapati dirinya berdiri di jalan desa.

Bukan jalan yang ia kenal.

Rumah-rumah di kiri kanan gelap semua — tidak ada lampu, tidak ada suara. Atapnya berlumut, dindingnya kusam dengan cara yang membutuhkan lebih dari satu malam untuk bisa menjadi sekusam ini. Jalanan di bawah kakinya asing.

"Pak!" panggilnya. Suaranya menggema di udara kosong, memantul kembali tanpa jawaban.

Gemerisik kecil di telinga kirinya. Ia menoleh — tidak ada. Lalu di kanan — tidak ada. Tapi ia bisa merasakannya: sesuatu bergerak di antara rumah-rumah gelap itu, tepat di luar jangkauan matanya, mengikuti dengan sabar.

Bau busuk menyergap tanpa peringatan. Fariz menutup hidung dan berlari.

Masjid di ujung jalan bukan masjid yang ia kenal. Pintunya lapuk. Kaca-kacanya buram ditumbuhi sesuatu dari dalam. Dari kegelapan di balik pintu yang setengah terbuka, sepasang mata menatapnya.

Tidak berkedip.

"Tolong!"

Suaranya menggema. Memantul. Kembali ke telinganya sendiri.

Fariz berlari terus hingga kakinya memilih berhenti sendiri di bawah pohon besar di ujung jalan. Ia terduduk.

"Pak..." suaranya tinggal setengah. "Aku takut."

Kehangatan itu datang tanpa permisi — menyusup dari dalam dadanya, dari tempat yang tidak punya alamat.

"Tuhanmu itu Allah, Nak."

Suara Kyai Salman.

Fariz mendongak — dan menemukan sepasang kaki beralas sandal terompah di hadapannya. Aroma yang langsung ia kenali: harum yang menenangkan, membuat dadanya terasa lapang untuk pertama kali sejak ia berbaring tadi.

"Kyai—" Fariz bangkit, melangkah mendekat.

"Cukup, Nak." Tangan itu terangkat. "Ikuti aku."

Langkah Kyai Salman cepat untuk tubuh setua itu.

Dari atap-atap rumah yang gelap, bayangan-bayangan hitam mulai merayap turun — pelan, tanpa suara, mengikuti dari jarak yang tidak berubah. Tidak mendekat. Tidak menjauh.

Hanya mengikuti.

Mereka tiba di sawah. Kyai Salman berhenti.

"Apa yang kau lihat?" tanyanya.

"Sawah, Kyai," jawab Fariz.

"Lihat lagi."

Angin besar menyapu — dan pandangan Fariz berubah.

Sawah itu penuh warga yang sedang bekerja. Tapi di belakang setiap orang, menempel sesuatu — makhluk kecil berkulit gelap, bermata licin, berbisik di telinga para petani yang tidak tahu mereka sedang dibisiki. Beberapa warga memberi makan makhluk-makhluk itu dari telapak tangan mereka sendiri, dengan ekspresi orang yang tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Di sudut sawah, Sucipto berdiri bersama Darma Wijaya.

Ayahnya menggenggam rantai besi. Di ujung rantai, seekor anjing — tubuhnya bergetar tidak stabil di tepinya, seperti gambar yang belum selesai digambar.

"Ba... Bapak..." suara Fariz tercekat.

Di balik punggung Darma Wijaya, bayangan putih tinggi menjulang. Tidak bergerak. Tidak perlu bergerak.

Darma Wijaya dan Sucipto menoleh bersamaan. Ke arah Fariz.

"Jangan coba-coba ikut campur, FARIZ!"

Darma Wijaya melayang mendekat — kakinya tidak menyentuh tanah. Fariz mundur. Tumitnya menemukan tepi pematang dan ia jatuh—

Pondok Al Mukhlisin.

Fariz mengenal setiap sudutnya. Rasa aman menyelimutinya sejenak — lalu Kyai Salman berjalan memasuki sebuah kamar.

"Kyai, tunggu!" Fariz berlari, menahan pintu itu.

Kosong.

Hanya sajadah terlipat rapi di sudut, dan lampu minyak yang hampir padam.

"Allâh bersamamu, Nak."

Suara itu dari arah pintu langgar — jauh, seperti seseorang yang berbicara dari seberang sungai yang tidak bisa diseberangi.

"Jangan mencariku."

Lenyap.

Fariz terbangun.

Napasnya terengah. Dadanya naik turun. Keringat di lehernya dingin.

Jam dinding — jarumnya menunjuk pukul tiga. Fariz menatapnya beberapa detik, mengingat Kyai Salman yang wafat pada jam yang sama malam sebelumnya.

Ia bangkit. Ke kamar mandi. Air wudu dingin menyentuh kulitnya — lebih dingin dari yang ia perkirakan, membuat semuanya terasa nyata kembali.

Shalat malam bukan untuk meminta jawaban, suara Kyai Salman terngiang dari suatu tempat dalam ingatannya. Tapi untuk dikuatkan saat jawaban itu datang.

Fariz menggelar sajadah yang sudah tipis.

Berdiri. Mengangkat tangan.

Dua rakaat Tahajud. Lalu tiga witir — gerakannya kaku di awal, bukan karena lupa, tapi karena terlalu lama tidak dilakukan hingga tubuhnya perlu beberapa detik untuk mengingat. Seperti otot yang dipakai kembali setelah lama istirahat.

Saat duduk di akhir, ia tidak langsung berdoa.

Ia hanya diam. Mendengarkan malam.

Lalu bibirnya bergerak.

"Ya Allah..." Suaranya hampir tidak keluar. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi."

Berhenti. Menelan ludah.

"Jika apa yang kulihat tadi hanya mimpi biasa... biarkan ia berlalu." Napas pendek. "Tapi jika itu isyarat dari-Mu..." ia tidak menyelesaikan kalimat itu segera. "Kuatkan aku. Karena aku tidak merasa kuat."

Wajah Kyai Salman terlintas. Lalu — tanpa ia undang — wajah Aisyah. Cara matanya menatap lantai di pendopo tadi. Cara jarinya menggenggam kain bajunya sendiri.

Seseorang yang tidak boleh memilih, pikirnya. Seperti aku.

"Ya Rabb..." suaranya turun lebih rendah. "Jangan biarkan aku terus berjalan dengan mata terbuka tapi hati tertutup. Aku sudah terlalu lama melakukan itu."

Doa itu sederhana. Tidak rapi. Bukan doa orang yang tahu apa yang ia minta — lebih seperti doa orang yang hanya tahu bahwa ia perlu meminta, dan belum tahu cara melakukannya dengan benar, dan memutuskan bahwa mungkin tidak ada cara yang benar, dan melakukannya saja.

Fariz mengangkat wajahnya.

Di luar, desa masih gelap. Malam masih panjang.

Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang tadi bergerak liar kini diam — bukan karena pergi, melainkan karena memilih menunggu. Seperti air yang berhenti bergolak bukan karena tenang, tapi karena tahu ke mana ia akan mengalir.

Sajadah itu ia lipat dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Ia berbaring. Menatap langit-langit gelap.

Dan di luar jendela kamarnya, di kegelapan halaman rumah, sesuatu berdiri diam — menunggu ia tertidur, menunggu dengan kesabaran sesuatu yang tidak mengenal waktu, menunggu dengan cara yang lebih menakutkan dari serangan apa pun.

Fariz tidak tahu itu ada di sana.

Belum.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!