NovelToon NovelToon
DI BALIK SOROT LAMPU

DI BALIK SOROT LAMPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Model / Karir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.

Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ROTI BAKAR DAN BARANG MEWAH

Pagi itu, suasana di rumah produksi terasa berbeda. Biasanya, Adrina harus mengetuk pintu kamar Elvario berkali-kali atau menyiapkan kopi sebagai "umpan" agar pria itu mau beranjak dari tempat tidur. Namun, saat Adrina baru saja keluar dari kamar dengan rambut yang masih terikat asal, ia mendapati pintu kamar Elvario sudah terbuka lebar.

Di dalamnya, Elvario sedang sibuk. Ia tidak lagi bergelung di balik selimut. Sebaliknya, pria itu tampak lincah memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper besar. Semua perlengkapan syutingnya sudah tertata rapi di dekat pintu.

Adrina berdiri terpaku di ambang pintu, mengerutkan dahi. "Lho, Mas? Kok sudah bangun?"

Elvario menoleh sekilas, lalu kembali fokus melipat jaketnya. "Syuting kita kan selesai hari ini. Cuma tinggal beberapa shot tambahan yang nggak butuh gue lama-lama di sini. Gue mau langsung balik ke apartemen siang nanti."

Adrina melirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul enam pagi. "Tapi biasanya Mas paling susah kalau disuruh packing pagi-pagi. Biasanya Mas minta aku atau Rizal yang beresin."

Elvario menghentikan gerakannya. Ia berdiri tegak, menatap Adrina dengan tatapan yang sulit diartikan—ada binar yang lebih cerah dari biasanya. "Gue cuma ngerasa... segar aja pagi ini. Nggak mau buang-buang waktu."

Adrina melangkah masuk sedikit, merasa ada yang aneh. Ia memperhatikan Elvario yang sekarang tampak begitu mandiri. "Aneh banget. Mas nggak lagi sakit, kan?"

Elvario tertawa pendek, tawa yang terdengar ringan. "Enggak, Drin. Gue cuma mau kasih kamu waktu istirahat lebih cepat. Kalau gue beres-beres sendiri, lo tinggal fokus cek jadwal terakhir sama Rizal, kan?"

Adrina terdiam, matanya menyipit penuh selidik. Ini bukan Elvario yang biasanya manja dan suka memerintah. Perubahan ini terlalu mendadak. Ia curiga ini ada hubungannya dengan pengakuan Elvario pada Rizal semalam—yang tentu saja belum Adrina ketahui.

"Tapi sarapan belum siap, Mas. Biar aku—"

"Gue udah bikin roti bakar," potong Elvario sambil menunjuk ke arah dapur. "Buat lo juga. Tadi gue liat ada sisa roti di meja."

Adrina nyaris menjatuhkan tablet yang dipegangnya. "Mas El... bikin sarapan sendiri? Buat aku?"

Elvario berdeham, wajahnya sedikit memerah—entah karena hawa pagi atau karena malu. "Cuma roti bakar, Drin. Nggak usah dilebih-lebihkan. Sana makan, keburu dingin."

Adrina menatap punggung Elvario yang kembali sibuk dengan kopernya. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya. Elvario yang arogan kini mulai berusaha melakukan hal-hal kecil yang manis, meski masih dibalut dengan gaya bicaranya yang kaku.

Dia benar-benar berubah, batin Adrina sambil melangkah menuju dapur dengan senyum kecil yang mulai tak tertahan.

Ketukan pintu yang tiba-tiba itu merusak suasana hangat di antara mereka. Seorang laki-laki—asisten Adrian Ghani—berdiri di sana dengan napas sedikit terengah.

"Mbak Adrina, dicari Mas Adrian di depan. Katanya ada yang mau diomongin sebentar," ucap asisten itu sopan.

Adrina menoleh ke arah Elvario, lalu mengangguk. "Aku keluar dulu ya, Mas. Mas Adrian manggil, mungkin soal teknis scene terakhir nanti," ucapnya sambil berjalan meninggalkan kamar.

Elvario terdiam di tempatnya, tapi tangannya yang sedang memegang baju mendadak kaku. Ada rasa tidak suka yang merayap di hatinya, sesuatu yang terasa panas dan menyesakkan. Tanpa sadar, ia meletakkan bajunya dan melangkah pelan mengikuti Adrina, berusaha tetap tersembunyi di balik pilar ruang tengah.

Dari tempat persembunyiannya, ia mengintip. Di sana, Adrian Ghani berdiri dengan gaya santainya yang menyebalkan, memegang sebuah kotak besar dan satu tas belanja bermerek.

"Ini buat lo, Drin. Kenang-kenangan karena udah sabar ngadepin tim gue selama seminggu ini," ucap Adrian sambil menyerahkan isinya—sebuah jaket bomber eksklusif dan sepatu limited edition dari fans club-nya yang harganya selangit. "Jaket ini cuma ada sepuluh di dunia. Gue mau lo simpen satu."

Adrina tampak sungkan, namun ia menerimanya dengan sopan. "Aduh, Mas Adrian... ini berlebihan banget. Makasih banyak ya."

Melihat pemandangan itu, Elvario mendengus sinis. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok, melipat tangan di dada dengan wajah yang mendung.

"Cih, gitu doang?" gumam Elvario pelan, mencoba meremehkan hadiah yang jelas-jelas mahal itu. "Mainnya barang limited. Norak."

"Panas ya kayaknya?" suara Rizal tiba-tiba muncul tepat di samping telinga Elvario.

Elvario tersentak, hampir saja ia melompat karena kaget. Rizal berdiri di sana dengan senyum mengejek, memegang gelas kopi yang masih mengepul.

"Apaan sih lo! Ngagetin aja," semprot Elvario ketus.

"Gue bilang juga apa. Saingan lo itu berat, El. Adrian itu pangerannya barang mewah," kata Rizal sambil melirik ke arah luar. "Tapi kok ada yang mukanya jadi ditekuk gitu ya? Padahal tadi pagi udah rajin beres-beres sendiri."

Elvario membuang muka, mencoba kembali ke kamarnya dengan langkah gusar. "Gue cuma nggak suka ada orang pamer di rumah produksi orang lain. Nggak etis."

"Bilang aja cemburu, repot banget," sahut Rizal santai sambil menyesap kopinya. "Mending lo mikir deh, kado apa yang bisa ngalahin sepatu limited itu. Roti bakar gosong lo tadi kayaknya nggak cukup buat saingan, El."

Elvario tidak menjawab, tapi dalam hatinya ia mulai memutar otak. Ia tidak akan membiarkan Adrian Ghani merasa menang hanya karena sepasang sepatu.

1
Selfi Polin
mampir thor, awal yg bagus😍
Joice Sandri
bagus...tertata dg baik kisah n bhsnya
Ros Ani
mampir ah siapa tau suka dg karyamu thor
Dinna Wullan: terimakasih ka saran sarannya
total 1 replies
Tismar Khadijah
bahasanya hmm👍
Tismar Khadijah
lanjuut💪
Tismar Khadijah
baguus
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya ka
total 1 replies
Mar lina
aku mampir, thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!