"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: DI AMBANG MAUT DAN API PEMBALASAN
BAB 31: DI AMBANG MAUT DAN API PEMBALASAN
Uap kimia yang menyengat memenuhi rongga paru-paru Alana, menciptakan rasa terbakar di setiap embusan napasnya. Di atas platform besi yang berkarat, di ketinggian sepuluh meter di atas lantai pabrik, Alana Roseline berdiri di tepi maut. Di hadapannya, Raka Ardiansyah tampak seperti iblis yang merangkak dari dasar neraka. Matanya yang merah melotot penuh kebencian, dan tangannya yang gemetar mencengkeram erat bahu Alana, mendorongnya perlahan ke arah mulut tangki terbuka yang berisi cairan asam pekat.
"Lihat ke bawah, Alana!" raung Raka, suaranya parau terkena sisa gas di ruangan itu. "Cairan itu akan melumatkan kecantikanmu dalam hitungan detik. Kau tidak akan lagi menjadi mawar kebanggaan Adiwangsa. Kau akan menjadi tumpukan daging yang tidak dikenali!"
Alana merasakan tumit sepatunya sudah berada di bibir tangki. Suara desisan cairan kimia di bawah sana terdengar seperti bisikan kematian. Namun, di tengah ketakutan yang luar biasa itu, sesuatu di dalam diri Alana patah—bukan semangatnya, melainkan rasa takutnya. Rasa sakit dari pengkhianatan Bram, Bi Sumi, dan siksaan Raka selama bertahun-tahun seolah memadat menjadi satu titik api yang membara di dadanya.
"Kau pikir... kau bisa menghancurkanku hanya dengan cairan ini, Raka?" Alana berbisik, suaranya sangat tenang hingga membuat Raka tertegun sejenak. "Kau sudah menghancurkan jiwaku selama tiga tahun pernikahan kita, dan aku masih berdiri di sini. Kau tidak akan pernah menang, karena kau adalah pengecut yang hanya berani menyerang wanita yang terikat."
"DIAM!" Raka mendorong Alana lebih kuat.
Di Lantai Bawah Pabrik.
Kenzo bergerak seperti badai di tengah kepulan asap gas. Bahunya yang terluka mengeluarkan darah segar yang merembes ke kemeja putihnya, namun ia seolah tidak merasakannya. Fokusnya hanya satu: Alana.
Bram, si pengkhianat, mencoba bangkit setelah tertembak di bahu. Ia meraih pistolnya dengan tangan kiri, namun sebelum ia sempat membidik, sebuah tendangan keras dari sepatu bot Kenzo menghantam wajahnya.
"Kau menghancurkan kepercayaan keluarga yang memberimu makan, Bram!" geram Kenzo. Ia mencengkeram kerah baju Bram, matanya berkilat mematikan. "Ke mana Raka membawa Alana?!"
Bram terbatuk, darah menyembur dari mulutnya. "Sudah... terlambat, Kenzo. Raka sudah kehilangan akal sehatnya. Dia akan terjun bersama Alana ke dalam tangki asam itu... Mereka akan mati bersama."
Kenzo melepaskan Bram dengan kasar dan menoleh ke arah tangga besi yang menuju ke platform atas. Di sana, ia melihat Siska sedang merangkak naik sambil memegang pisau bedah, tujuannya jelas: membantu Raka menghabisi Alana.
"SISKA!" teriak Kenzo.
Siska menoleh, wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan dengan senyum gila. "Jangan ikut campur, Kenzo! Ini adalah pesta pernikahan ulang yang kami siapkan untuk Alana! Dia harus mati agar aku bisa memiliki sisa harta Raka!"
Siska terus memanjat dengan kecepatan yang tidak wajar, didorong oleh adrenalin dan kegilaan. Kenzo segera mengejarnya, mengabaikan rasa perih yang luar biasa di jahitan operasinya.
Kembali ke Platform Atas.
Raka sudah hampir berhasil mendorong Alana jatuh. Namun, Alana menggunakan berat tubuhnya sendiri untuk melakukan gerakan yang tidak terduga. Ia sengaja menjatuhkan diri ke arah depan, menyeret Raka bersamanya ke lantai platform daripada jatuh ke dalam tangki.
Keduanya berguling di atas besi yang kasar. Alana tidak menunggu; ia langsung meraih sebuah pipa besi pendek yang tergeletak di dekatnya dan menghantamkannya ke arah kaki Raka.
KRAK!
Raka menjerit kesakitan saat tulang keringnya dihantam. Alana segera berdiri, napasnya memburu. Namun, dari arah tangga, Siska muncul dan langsung menerjang Alana. Pisau bedah di tangan Siska menggores lengan Alana, menciptakan luka panjang yang mengeluarkan darah segar.
"Kau wanita jalang!" teriak Siska sambil mencoba menusuk leher Alana. "Kau punya segalanya! Kau punya kakak-kakak yang kaya, kau punya Kenzo! Sedangkan aku?! Aku hanya sampah di matamu!"
Alana menangkis tangan Siska, mereka bergulat hebat di tepi platform yang sempit. "Kau sampah karena pilihanmu sendiri, Siska! Kau memilih untuk menjadi selingkuhan pria sosiopat dan sekarang kau memilih untuk menjadi pembunuh!"
Alana mencengkeram pergelangan tangan Siska dan memutarnya dengan teknik bela diri yang pernah diajarkan Arya. Siska menjerit, pisaunya terjatuh dan masuk ke dalam tangki asam, langsung lenyap dalam suara desisan yang mengerikan.
Pada saat yang sama, Raka berhasil bangkit kembali meski terpincang-pincang. Ia melihat Kenzo yang sudah sampai di ujung tangga. Raka menyadari posisinya terjepit.
"JANGAN MENDEKAT, KENZO!" Raka menarik Siska dan menjadikannya tameng, sambil memegang sebuah korek api gas di dekat katup gas yang tadi dibuka Alana. "Satu percikan api, dan seluruh tempat ini akan meledak! Kita semua akan terbakar hidup-hidup!"
Kenzo berhenti melangkah. Ia mengangkat tangannya, mencoba menenangkan Raka. "Raka, lepaskan mereka. Ini sudah berakhir. Polisi dan pasukan Adiwangsa sudah mengepung tempat ini. Kau tidak punya jalan keluar."
"Aku tidak butuh jalan keluar!" Raka tertawa histeris. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor. "Aku sudah kehilangan segalanya! Perusahaanku disita, namaku busuk, dan wanita yang aku cintai—Alana—ternyata hanya mencintaimu! Aku akan membawa kalian semua bersamaku!"
Siska, yang kini berada dalam cengkeraman Raka, mulai merasa takut. "Raka... apa yang kau lakukan? Kau bilang kita akan pergi ke Swiss! Kau bilang kita akan kaya!"
"Swiss hanyalah mimpi, Siska!" bentak Raka di telinga Siska. "Kau pikir aku akan membawamu? Kau hanyalah saksi yang harus dilenyapkan! Kita akan mati di sini, sekarang!"
Siska menyadari bahwa pria yang ia puja selama ini benar-benar telah berubah menjadi monster yang tidak peduli pada nyawanya. "Lepaskan aku, Raka! Tolong! Alana, Kenzo, selamatkan aku!"
Alana menatap Siska dengan rasa iba yang tipis, namun fokus utamanya adalah Raka. "Raka, kau tidak perlu melakukan ini. Jika kau menyerah sekarang, kau masih punya kesempatan untuk hidup."
"HIDUP SEBAGAI APA?! SEBAGAI NARAPIDANA?!" Raka menyalakan pemantik apinya. Api kecil itu menari-nari di udara yang penuh dengan gas yang mudah terbakar.
Momen Penentuan.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari kejauhan, tapi bukan dari Kenzo. Itu adalah tembakan peringatan dari Elvan yang baru saja tiba di lantai bawah bersama Satya. Suara itu membuat Raka terkejut dan sedikit kehilangan keseimbangan.
Alana melihat celah itu. Tanpa memedulikan nyawanya sendiri, ia menerjang Raka, mencoba merebut pemantik api itu. Kenzo juga bergerak maju untuk menangkap Alana.
Dalam kekacauan itu, Siska meronta sekuat tenaga dan berhasil lepas dari cengkeraman Raka. Namun, dorongan Siska membuat Raka terpeleset ke arah belakang—tepat ke arah mulut tangki asam yang terbuka.
"TIDAAAK!" jerit Raka.
Tangannya mencoba menggapai apa pun, dan ia sempat mencengkeram ujung gaun Siska. Siska yang panik mencoba melepaskan diri, namun berat tubuh Raka menariknya.
"Siska! Tolong aku!" teriak Raka.
"LEPASKAN AKU, RAKA! LEPASKAN!" Siska menendang-nendang tangan Raka dengan brutal. Ia tidak peduli Raka jatuh, ia hanya ingin dirinya selamat. Namun, platform itu terlalu licin karena tumpahan cairan.
SPLASH!
Suara itu menghantui ingatan Alana selamanya. Raka terjatuh ke dalam tangki asam. Teriakan memilukannya hanya terdengar selama tiga detik sebelum berubah menjadi suara desisan yang mengerikan. Raka Ardiansyah, pria yang menghancurkan hidup Alana, tewas oleh obsesinya sendiri.
Siska terduduk di tepi tangki, menatap ke dalam dengan wajah kosong dan pucat pasi. Ia gemetar hebat, menyadari betapa dekatnya ia dengan kematian yang sama.
Alana jatuh ke pelukan Kenzo, tubuhnya lemas luar biasa. Kenzo mendekapnya sangat erat, menyembunyikan wajah Alana di dadanya agar ia tidak melihat pemandangan mengerikan di dalam tangki tersebut.
"Sudah berakhir, Alana... sudah berakhir," bisik Kenzo dengan suara bergetar.
Satu Jam Kemudian – Di Luar Pabrik.
Polisi telah memasang garis kuning di seluruh area. Raka dinyatakan tewas, sementara Siska dibawa dengan borgol menuju mobil tahanan. Sebelum masuk ke mobil, Siska sempat menatap Alana dari kejauhan. Matanya tidak lagi menunjukkan kegilaan, melainkan kekosongan yang dalam. Ia telah kehilangan segalanya—kekasihnya, hartanya, dan kewarasannya.
Bram juga dibawa dengan tandu menuju rumah sakit tahanan. Elvan berdiri di samping Alana, wajahnya tampak sangat menyesal.
"Maafkan aku, Al," ucap Elvan. "Aku yang membawa Bram ke dalam keluarga kita. Aku yang gagal melindungimu dari orang dalam."
Alana menggeleng, ia menggenggam tangan kakaknya. "Bukan salahmu, Kak. Pengkhianatan selalu datang dari orang yang paling kita percayai. Tapi sekarang kita tahu siapa yang harus kita hadapi selanjutnya."
Alana menatap ke arah Kenzo yang sedang dirawat oleh tim medis. Kenzo menoleh dan memberikan senyum tipis yang penuh kelegaan. Namun, di tengah kelegaan itu, Satya mendekat dengan wajah yang sangat serius.
"Alana, Kenzo... ada sesuatu yang harus kalian lihat," ujar Satya sambil menyodorkan sebuah rekaman suara yang baru saja ia sadap dari ponsel Bram yang tertinggal.
Di dalam rekaman itu, terdengar suara Tuan Besar Dirgantara sedang berbicara dengan Wilhelm von Heist.
"Raka sudah gagal. Saatnya kita menggunakan rencana B. Aktifkan unit 'Mawar Putih'. Jika Alana tidak bisa kita dapatkan hidup-hidup, maka pastikan tidak ada satu pun anggota keluarga Adiwangsa yang tersisa untuk melindunginya."
Alana dan Kenzo saling berpandangan. Mereka baru saja memenangkan satu pertempuran kecil, namun perang besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Musuh mereka kini bukan lagi pecundang seperti Raka atau pelakor seperti Siska, melainkan dua imperium raksasa yang siap menghancurkan apa saja demi ambisi mereka.
"Mereka tidak akan berhenti sampai kita benar-benar hancur," bisik Alana.
Kenzo berdiri, meskipun tubuhnya masih lemah, auranya kembali menjadi kuat dan tegas. "Maka kita tidak akan memberi mereka kesempatan. Satya, siapkan semua aset Dirgantara yang ada di bawah kendaliku secara rahasia. Kita akan menyerang mereka dari tempat yang tidak mereka duga: dari dalam sistem mereka sendiri."
Malam itu, di bawah guyuran hujan Jakarta, Alana Roseline menyadari bahwa mawar di dalam dirinya telah benar-benar berubah menjadi hitam—bukan karena jahat, tapi karena ia harus menjadi kuat untuk bertahan hidup di dunia yang penuh dengan serigala berbulu domba.