Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 8
"Rumah mereka kosong! Menurut security perumahan tempat mereka tinggal, semalam mereka pindah dan membawa barang menggunakan truk. Bahkan dari hari sebelumnya kalau barang sudah di cicil dan di bawa dengan menggunakan truk dan mobil box," ujar Cakra setelah mendapat laporan dari anak buahnya.
"Kan kalau sudah begini yang pusing siapa? Jadi anak tuh denger dikit ucapan orang tau bis anggak sih, Vin? Kalau udh gini, mami dan papi yang malu. apalagi para tamu sudah mulai berdatangan. Tak mungkin kan kita batalkan atau kamu berdiri sendirian di pelaminan tanpa pengantin wanita. Apa amu kamu mempermalukan kami? Astaga! Anak macam apa yang sudah aku lahirkan ini. Kenapa otaknya malah di simpan di dengkul?" oceh Mami Tanisa membuat Ayana menahan tawa.
Gavin bisa melihat Ayana terlihat menahan tawa, dia fikir Ayana sedang mentertawakan dirinya yang sedang dalam keadaan sulit seperti ini. Bisa-bisanya sang asisten pilihan maminya itu mentertawakan kesusahan dirinya. Baiklah, bukan hanya dia yang harus ikut susah, tapi Ayana juga harus merasakan kesusahannya.
"Pernikahan akan tetap berjalan dengan mempelai wanita. Hanya mempelai wanitanya di ganti. Cakra, hubungi toko perhiasan dan minta dia kirimkan satu set perhiasan terbaru untuk maharku!" perintah Gavin kepada Cakra membuat semua orang kaget di buatnya.
"Apa kamu mulai gila, Gavin? Kamu mau nikah sama siapa? Siapa yang akan menggantikan wanita itu untuk menjadi memperlakukan wanitamu? Jangan main-main dengan pernikahan Gavin! Ini adalah hal yang sakral!" tegur Papi Evan.
"Ga un sedang tak main-main Pah! Dan pernikahan memang sakral, tapi sekarang kita dalam keadaan terdesak!" jawab Gavin.
",Lalu siapa calon pengantin penggantimu?" tanya Mami Tanisa.
"Ayana," jawab Gavin membuat Ayana yang akan kembali mengecek ballroom harus berbalik badan. Begitupun dengan Cakra yang sedang menelepon terlihat menghentikan pembicaraannya.
"Apa? Kenapa aku? Aku nggak mau! Nikah sama kamu sama aja masuk neraka!" tolak Ayana membuat rahang Gavin mengeras karena mendapat penolakan dari wanita dan wanita itu adalah Ayana. Wanita yang selalu membuatnya kesal setiap hari. Dan wanita yang sudah menertawakan keadaannya saat ini. Enak saja dia mau kabur, dia harus ikut menanggungnya.
"Iya, kenapa Ayana? Bukannya kamu benci sama Ayana?" tanya mami Tanisa memicingkan matanya penuh curiga.
"Iya, lagian aku juga sudah akan bebas tugas menjadi asisten. Setelah Pak Gavin menikah dengan Bu Vania. Maaf menikah dengan anda tak ada dalam konteks saya bersama dengan Bu Tanisa dan Pak Evan. Cari saja wanita lain yang mau anda ajak untuk main nikah-nikahan! Saya nggak mau!" tolak Ayana tegas.
"ck! Ayolah Ayana. Tak ada waktu lagi, kamu mau melihat keluarga besar aku di permalukan?" kesal Gavin.
"Idih, anda yang salah karena bulol sama Vania segala si berikan, padahal sudah di kasih tahu TPI otaknya bandel. Sekarang giliran sudah begini malah ngajak-ngajak orang untuk ikut susah menanggung semuanya!" jawab Ayana tetap pada pendiriannya.
"Apa? Bulol? apa Itu?" tanya Mami Tanisa.
"Bucin tolol ... "jawab Ayana.
Seketika membuat wajah Gavin memerah sedangkan Papi Evan dan Mami Tanisa malah tertawa terbahak mendengarnya. Ada saja perkataan dan kelakuan Ayana yang membuat mereka tertawa dan bahagia. Walau sebenarnya dia sedikit kaku, tapi Ayana itu sangat manis dan juga menyenangkan. Namun, sepertinya Ayana adalah pengimbang bagi Gavin. Buktinya selama ini omelan Ayana mampu membuat Gavin bekerja dengan teratur setiap hari. Walau kadang anak mereka itu sering kabur-kaburan untuk menemui Vania.
"Kenapa harus Ayana, Pak Gavin?" tanya Cakra pada akhirnya setelah mengerjakan pekerjaannya untuk memesan perhiasan.
"Karena tak ada lagi wanita yang aku kenal selain dia kan?" jawab Gavin santai namun raut wajah Cakra berubah menjadi Sendu.
"Kenapa? Kamu menyukai Ayana?" tanya Gavin kepada Cakra.
"Jangan sakiti dia, aku tahu anda tak benar-benar ingin menikah dengannya. Jangan jadikan pernikahan kalian menjadi ajang balas dendam Anda kepada Ayana yang sering mengatur kehidupan anda beberapa bulan ini. Dia terlalu baik untuk anda sakiti," jawab Cakra pelan tapi Gavin tak peduli.
"Bagaimana? Apa mami dan papi setuju kalau Ayana yang menjadi istri Gavin menggantikan Vania?" tanya Gavin kepada kedua orang tuanya yang sedang saling pandang.
"Baiklah! Kami setuju, tapi kami tak ingin mendengar setelah acara pernikahan ini kalian melakukan atau ada perjanjian tertulis Antara kalian. Ingat, pernikahan Ini sakral dan sah di mata Tuhan. Kamu jangan main-main Gavin! Jangan pernah bilang kalau kamu hanya ingin membalas Ayana yang selalu membuat hidup kamu mulai teratur. Atau jangan pernah kalian membuat kesepakatan jika wanita itu datang kalian bercerai. Jika sampai kamu kembali kepada wanita itu, atau berselingkuh dari Ayana. Maka semua fasilitas kamu akan Papi cabut! termasuk pekerjaan kamu, silahkan kamu menggembel jika sampai kamu menyakiti hati dan fisik Ayana!" ujar Papi Evan tegas.
degh
Jantung keduanya berdetak tak karuan dengan alasan yang berbeda. Ayana tak mengira jika kedua orang tua Gavin begitu memikirkan perasaannya yang sebatang kara itu. Bahkan jika sampai Gavin permainkan pernikahan dan menyakitinya, maka Gavin tidak akan mendapatkan apa-apa. Sedangkan untuk Gavin, dia merasa terjebak dengan pilihannya sendiri. Padahal niat hati memilih Ayana adalah untuk menyakiti Ayana yang sudah berani mentertawakan kesusahannya. Tapi kalau papinya sudah mengancam apa yang akan dia lakukan setelah ini? Dia menikah dengan Ayana wanita yang dia tunjuk karena kesal tanpa fikir panjang. Rasanya Gavin ingin berteriak kesal.
"Nak, mami mohon, terimalah Gavin menjadi suamimu. Walau sekarang belum ada cinta di antar kalian, tapi Mami yakin seiring berjalannya waktu bersama, kalian pasti akan memahami satu sama lain. Dan cinta akan tumbuh di antara kalian," ucap Mami Tanisa menggenggam tangan Ayana dengan erat.
Kedua netra wanita paru baya itu begitu penuh pengharapan. Ayana tak mampu menolak keinginan Mami Tanisa walau dia tahu setelah ini kehidupannya akan semakin sulit. Semua rencananya harus dia jadwal ulang. Semoga saja setelah menikah, Gavin tak mempersulit hidupnya. Dia tahu, Gavin punya alasan lain memilih dirinya menjadi pengantin pengganti. Apa dia mau balas dendam karena selama ini selalu ku recoki setiap hari.
"Astaga, padahal aku sudah sangat senang karena besok hari terakhirku bekerja dengannya. Tapi sekarang malah di ikat dalam pernikahan yang tak pernah terpikirkan sama sekali," batin Ayana.