NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Satu Porsi untuk Berdua

​Jantung Della terasa berhenti berdetak, Jemari pucat yang melingkar di perutnya itu terasa sedingin es batu yang baru keluar dari freezer. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya seperti tersumbat gumpalan kapas basah.

​"Sha... Sasha..." suara Della parau, hampir hilang ditelan deru mesin Scoopy.

​"Apaan sih, Del? Tiba-tiba pelan banget bawanya. Takut ketilang polisi ya?" suara Sasha terdengar santai dari belakang.

​Tunggu. 

Kalau Sasha bicara sejelas itu di belakangnya, lalu tangan siapa yang sedang memeluk pinggang Della sekarang?

​Della memberanikan diri melirik ke bawah sekali lagi. Tangan pucat itu masih di sana, mencengkeram erat jaketnya hingga kainnya lecek. 

Namun, saat Della melihat melalui bahunya, ia melihat Sasha sedang asyik membalas pesan di HP dengan kedua tangan sama sekali tidak memegang Della.

​Tangan ketiga. 

Ada tangan ketiga yang memeluknya dari sela-sela tubuh Sasha.

​Della tidak berani berhenti. 

Sesuai pesan Geri: Jangan berhenti di tempat sepi. Ia memacu motornya sekuat tenaga menuju pusat kota Sukabumi, tempat yang lebih terang dan ramai. Ia baru berani mengerem saat sampai di depan sebuah kedai Martabak legendaris yang antriannya cukup panjang.

​Begitu motor berhenti, tekanan di pinggangnya mendadak hilang. Della hampir terjungkal saat turun dari motor.

​"Lo kenapa sih, Del? Kayak orang dikejar setan!" Sasha turun dengan santai, mengelap layar HP-nya yang terkena gerimis.

​"Gue... gue laper lagi. Kita beli martabak dulu," alibi Della sambil berusaha menormalkan nafasnya yang memburu.

​Mereka duduk di kursi kayu panjang di depan kedai martabak itu. Bau mentega Wisman yang harum biasanya akan membuat Della langsung nafsu makan, tapi kali ini ia terus-terusan melirik jok motornya yang basah.

​"Satu porsi martabak manis keju, satu martabak telor spesial ya, Ko!" seru Sasha kepada penjualnya.

​Tahun 2017, martabak dengan topping melimpah lagi sangat booming di Sukabumi. 

Sasha sibuk memotret proses pembuatan martabak itu untuk diunggah ke Snapgram.

​"Del, lihat deh, lighting-nya bagus banget di sini," ujar Sasha sambil menyodorkan HP-nya.

​Della melihat ke layar HP Sasha. Kamera HP itu menangkap pantulan kaca besar di belakang tukang martabak. Di dalam pantulan itu, Della melihat sosok jaket hujan transparan itu tidak lagi di motor.

​Sosok itu berdiri tepat di samping Sasha.

​Lebih mengerikan lagi, sosok pria itu sedang menunduk, lidahnya yang panjang dan hitam terlihat menjilat permukaan martabak yang baru saja diangkat dari loyang panas. 

Setiap kali lidah itu menyentuh makanan, uap panas dari martabak itu seolah terserap masuk ke mulut sang hantu.

​"Sha, jangan dimakan... martabaknya... jangan," bisik Della, tangannya gemetar hebat.

​"Hah? Lo kenapa sih? Ini kan martabak favorit lo!" Sasha bingung. Saat martabak itu disajikan di depan mereka, Sasha langsung mengambil sepotong.

​Plak!

​Della menepis tangan Sasha hingga potongan martabak itu jatuh ke tanah.

​"DELLA! Lo apa-apaan sih?!" Sasha berdiri, wajahnya merah padam karena marah. "Lo dari tadi aneh banget! Kalau lo nggak mau makan, ya udah, nggak usah ngerusak makanan gue!"

​Orang-orang di antrian martabak mulai menoleh ke arah mereka. Della merasa semua mata menatapnya, termasuk mata pria penjual martabak seorang pria keturunan Tionghoa tua bernama Koh Alung.

​Koh Alung berhenti memotong martabak. Ia menatap Della, lalu menatap potongan martabak yang jatuh di tanah. Semut-semut yang biasanya langsung mengerubungi gula, anehnya malah menjauh dari potongan martabak itu. Martabak yang baru matang itu tiba-tiba berubah warna menjadi keabu-abuan, seperti makanan yang sudah basi berhari-hari.

​"Neng," panggil Koh Alung dengan suara berat. "Bener kata temen kamu. Jangan dimakan. Rejeki malam ini bukan buat kalian."

​Koh Alung mengambil sapu dan langsung membuang sisa martabak itu ke tempat sampah seolah itu adalah racun.

​Sasha tertegun, Ia melihat martabaknya sendiri. Bau harum mentega yang tadi menggoda, mendadak berubah menjadi bau anyir yang menusuk hidung.

​"Kok... kok baunya kayak gini?" Sasha menutup hidungnya, wajahnya mendadak pucat.

​Della tidak menjawab. Ia menarik tangan Sasha. "Kita pulang sekarang, Sha. Ke rumah loe. Gue nggak mau lo sendirian malam ini."

​Saat mereka berjalan kembali ke motor, Della sengaja tidak melihat ke arah spion kiri yang tertutup lakban hitam. 

Namun, ia bisa mendengar suara jerit dari baut spion itu, seolah ada sesuatu yang mencoba memutarnya paksa dari dalam.

​Tepat saat Della menyalakan mesin, sebuah suara bisikan terdengar sangat jelas di lubang telinganya, dingin dan basah:

​"Masih... lapar..."

Della tidak menunggu jawaban Sasha. Ia langsung menghentakkan kick starter motornya karena mesin Scoopy-nya tiba-tiba terasa mati total. Sekali, dua kali, mesin itu hanya batuk kecil. 

Della bisa merasakan hawa dingin di belakang punggungnya semakin pekat, seolah pria berjaket hujan itu sedang bersandar di pundaknya, ikut menunggu motor itu menyala.

​"Del, ayo! Gue takut!" Sasha merengek, suaranya sudah bergetar. Dia baru sadar kalau bau anyir dari martabak tadi bukan sekedar perasaan saja.

​Pada hentakan ketiga, mesin akhirnya menderu. 

Della memutar gas dalam-dalam, meninggalkan kedai Koh Alung tanpa menoleh lagi.

​Sepanjang perjalanan menuju rumah Sasha di daerah Benteng, Della merasa motornya seperti ditarik dari belakang. Kecepatannya tidak bisa lebih dari 40 km/jam padahal ia sudah menarik gas sampai mentok. Lakban hitam di spion kirinya mulai mengelupas di bagian pinggir, tertiup angin kencang.

​"Sha, lo pegangan yang kuat!" teriak Della.

​Sasha tidak menyahut. 

Dia hanya memeluk Della dengan sangat erat, kepalanya disembunyikan di punggung Della. Della merasa aneh, pelukan Sasha kali ini terasa... sangat berat. Terlalu berat untuk ukuran gadis sekecil Sasha.

​Mereka sampai di depan gerbang rumah Sasha yang bergaya kolonial bangunan tua tinggi dengan pilar-pilar besar yang terlihat angker di bawah cahaya bulan yang tertutup awan mendung Sukabumi.

​"Turun, Sha! Cepet!"

​Sasha turun dengan gerakan yang kaku. Della buru-buru memarkirkan motornya di garasi samping yang terbuka. Saat ia mematikan mesin, kesunyian mendadak mencekik. Lampu teras rumah Sasha berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total.

​"Lampu nyokap gue emang sering gini, sensornya rusak kali," kata Sasha pelan, tapi dia tetap berdiri mepet di samping Della.

​Della melepas helm Bogonya. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Di jok belakang motornya, ada bekas genangan air berbentuk telapak kaki yang besar, lengkap dengan sisa-sisa lumpur merah yang masih basah.

​"Sha, nyokap lo ada di rumah?"

​"Harusnya ada, kan jam segini biasanya lagi nonton sinetron," Sasha membuka pintu jati rumahnya yang berat.

 Kreeeeek…

​Suara pintu itu bergema di ruang tamu yang luas dan gelap. Bau harum bunga sedap malam yang dipajang Sasha di meja tamu bercampur dengan sesuatu yang busuk.

​"Mah? Sasha pulang!"

​Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara TV yang menyala di ruang tengah, hanya menampilkan semut putih dengan suara shhh... shhh... yang konstan.

​Della dan Sasha berjalan pelan menuju ruang tengah. Cahaya dari TV yang berkedip-kedip memantul di dinding-dinding yang penuh dengan foto keluarga Sasha. Della melirik salah satu bingkai foto yang dilewati mereka.

​Di dalam foto itu, Sasha sedang tersenyum bareng nyokapnya. Tapi di pantulan kaca bingkai foto itu, Della melihat sosok jaket hujan transparan itu sedang berdiri di pojok ruangan, di belakang lemari kaca tempat Sasha menyimpan koleksi tas-tasnya.

​Sosok itu tidak lagi diam. Tangannya yang pucat perlahan membuka lemari kaca itu.

​"Sasha... nyokap lo dimana?" bisik Della.

​"Mungkin di dapur, lagi bikin teh," Sasha berjalan menuju dapur.

​Della ingin melarang, tapi kakinya terasa berat. Saat mereka sampai di ambang pintu dapur, mereka melihat seorang wanita sedang berdiri membelakangi mereka di depan kompor yang menyala.

​"Mah? Kok gelap-gelapan?" tanya Sasha sambil meraih saklar lampu.

​Klik.

​Lampu dapur menyala. 

Wanita itu menoleh perlahan. Itu memang mamanya Sasha, tapi wajahnya sangat pucat dan matanya tampak kosong. Di tangannya, ia memegang sebuah piring yang berisi martabak telor yang tadi mereka beli di kedai Koh Alung.

​"Ini... enak banget, Sha. Cobain," kata Mama Sasha dengan suara datar, seolah-olah suaranya berasal dari dalam sumur yang dalam.

​Sasha mendekat, tapi Della menarik tangannya. "Sha, jangan! Itu martabak yang tadi gue tepis!"

​Della melihat ke arah piring itu. Martabak itu tidak lagi berbentuk makanan. 

Di mata batin Della, piring itu berisi tumpukan tanah basah dengan potongan-potongan kain kafan yang menghitam.

​"Mah, itu kotor!" teriak Sasha mulai menangis.

​Tiba-tiba, dari arah belakang mereka, terdengar suara derit pintu yang dibuka paksa. Itu suara pintu garasi. Della teringat sesuatu; dia lupa menutup lakban spion kirinya yang tadi sempat mengelupas.

​Brak!

​Pintu dapur tertutup sendiri dengan keras. Suara TV di ruang tengah mendadak volumenya naik maksimal, menyiarkan suara statis yang memekakkan telinga. Dan di tengah suara itu, Della bisa mendengar suara langkah kaki yang basah... plok... plok... plok... berjalan dari ruang tamu menuju ke arah mereka.

​"Dia masuk, Sha," bisik Della sambil merogoh kunci motor di sakunya, berharap benda logam itu bisa menjadi pelindung. "Dia masuk lewat spion tadi."

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!