NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Us

---

Hannah memasuki usia satu bulan.

Bayi mungil itu mulai menunjukkan kepribadiannya. Ia lebih sering terjaga di siang hari, matanya yang bulat selalu mengikuti ke mana pun orang bergerak. Ia juga mulai mengenali suara-suara di sekitarnya—suara Bunda, suara Papa, dan yang paling penting: suara dua kakak kecil yang selalu ribut di dekatnya.

Amora dan Rafa.

Sejak Hannah lahir, kedua bocah itu seperti punya misi hidup baru: menjadi kakak terbaik.

---

Amora: Kakak Sepupu yang Paling Bertanggung Jawab

Amora, yang kini berusia lima tahun, merasa dirinya adalah kakak sepupu yang paling bertanggung jawab. Setiap kali berkunjung ke rumah Tante Jane, ia selalu duduk di samping boks Hannah dengan sikap paling serius.

"Ma, Amora jagain adek, ya," katanya pada Jisoo.

"Iya, Sayang. Tapi jangan dibangunin kalau lagi tidur."

"Amora tahu. Amora kan udah gede."

Jisoo tersenyum, mengelus kepala Amora. Anaknya memang tumbuh menjadi pribadi yang penyayang. Mungkin karena ia tumbuh tanpa ayah, ia belajar untuk merawat dan melindungi sejak dini.

Hari itu, Hannah bangun dan mulai rewel. Jane sedang di dapur menyiapkan susu. Amora, yang setia menjaga, langsung bereaksi.

"Tante Jane! Adek bangun! Dia nangis!"

Jane dari dapur menjawab, "Iya, Sayang. Tante lagi buatin susu."

Amora menatap Hannah yang mulai menangis lebih keras. Ia berpikir sejenak, lalu meraih boneka beruang kesayangannya—yang selalu ia bawa ke mana-mana.

"Ini, Dek. Pinjem Punky. Biar nggak nangis." Amora menaruh boneka beruang di samping Hannah.

Hannah berhenti menangis. Matanya menatap boneka beruang itu dengan rasa ingin tahu. Tangannya yang mungil meraih, mencengkeram telinga Punky erat-erat.

Amora tersenyum bangga. "Dia suka Punky, Ma!"

Jisoo yang baru masuk ikut tersenyum. "Iya, Sayang. Hannah suka Punky."

Jane datang dengan botol susu, menemukan Hannah sudah tenang dengan boneka beruang di sampingnya. "Wah, Amora yang nolongin?"

"Iya, Tante. Amora pinjemin Punky."

Jane mencium pipi Amora. "Makasih, Sayang. Kamu kakak sepupu terbaik."

Amora tersenyum lebar, dadanya membusung bangga.

---

Rafa: Kakak Angkat yang Paling Antusias

Rafa, yang kini berusia tiga setengah tahun, juga tidak mau kalah. Ia tidak mengerti konsep "kakak sepupu" atau "kakak angkat". Yang ia tahu, Hannah adalah bayi kecil yang lucu dan ia harus menjadi kakak yang baik.

Masalahnya, versi Rafa tentang "kakak yang baik" kadang agak... ekstrem.

Suatu sore, Irene dan Rafa berkunjung ke rumah Jane. Begitu melihat Hannah di gendongan Jane, Rafa langsung berlari.

"ADEK! ADEK! RAFA MAU GENDONG!"

Irene menahan Rafa. "Ra, sabar. Hannah masih kecil. Belum bisa digendong Rafa."

"Tapi Rafa mau!"

"Nanti kalau udah gede, ya. Sekarang lihat aja dari jauh."

Rafa cemberut, tapi menurut. Ia duduk di lantai, menatap Hannah dengan mata berbinar.

"Ma, kenapa adek kecil banget?"

"Karena baru lahir, Ra. Dulu Rafa juga kecil."

"Rafa dulu sekecil itu?"

"Iya, lebih kecil lagi."

Rafa mengernyitkan dahi, mencoba membayangkan dirinya sekecil Hannah. Sepertinya sulit.

Diam-diam, Rafa mendekat. Ia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh tangan Hannah dengan hati-hati.

Tangan Hannah yang mungil langsung mencengkeram jari Rafa.

Rafa terbelalak. "MA! DIA PEGANG RAFAA!"

Irene dan Jane tertawa melihat ekspresi Rafa yang campur aduk antara kaget, senang, dan bangga.

"Dia suka sama Rafa," kata Jane.

"Beneran, Tante?"

"Beneran. Lihat, dia pegang jari Rafa."

Rafa tersenyum lebar. Sejak saat itu, ia mengklaim diri sebagai "kakak kesayangan Hannah".

---

Persaingan Sehat

Masalah muncul saat Amora dan Rafa menyadari bahwa mereka "bersaing" untuk menjadi kakak terbaik.

Suatu hari, saat kumpul di taman, Amora duduk di bangku dengan Hannah di gendongan Jane. Rafa datang membawa mainan.

"Ra, lihat! Hannah pegang boneka Punky-ku!" pamer Amora.

Rafa mendengus. "Hannah juga suka sama Rafa! Kemarin dia pegang jari Rafa!"

"Iya, tapi dia pegang Punky-ku setiap hari."

"Tapi dia senyum sama Rafa!"

Irene dan Jisoo yang mendengar percakapan itu hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Mereka bersaing," bisik Irene.

"Iya. Padahal Hannah masih bayi, belum bisa milih." Jisoo tertawa.

Jane ikut nimbrung. "Nanti kalau udah gede, Hannah bisa punya dua kakak. Untung banget."

"Tapi mereka harus belajar berbagai," tambah Soo Young yang ikut mendengar.

Mereka memutuskan untuk mengajarkan konsep "berbagi" pada Amora dan Rafa.

"Amora, Ra, dengar." Irene memanggil kedua bocah itu. "Hannah itu punya banyak kakak. Ada Amora, ada Rafa. Kalian berdua sayang Hannah, kan?"

"Iya!" jawab mereka kompak.

"Nah, Hannah juga sayang kalian berdua. Dia seneng kalau Amora jagain dia. Dia seneng kalau Rafa main sama dia. Jadi kalian nggak usah bersaing."

Jisoo menambahkan, "Hannah butuh kalian berdua. Amora sebagai kakak sepupu yang penyayang, Rafa sebagai kakak angkat yang ceria."

Amora dan Rafa saling pandang.

"Jadi, kita sama-sama jadi kakak?" tanya Amora.

"Iya. Sama-sama."

Rafa tersenyum. "Rafa mau!"

Amora mengangguk setuju. "Amora juga mau."

Mereka berdua berjabat tangan—dengan gaya anak kecil yang lucu. Semua yang melihat tersenyum.

---

Petualangan Baru

Sejak saat itu, Amora dan Rafa menjadi tim yang solid. Mereka sering datang bersama ke rumah Jane, bergantian "menjaga" Hannah.

Suatu sore, mereka memutuskan untuk "mengajak Hannah jalan-jalan" di dalam rumah. Amora mendorong boks bayi pelan-pelan, Rafa berjalan di samping sambil membunyikan mainan kerincingan.

"Hannah, ini pemandangan rumah," jelas Amora serius. "Ini ruang tamu. Ini tempat Tante Jane dan Om Mario duduk."

"Ini dapur!" tambah Rafa. "Di sini tempat makan enak!"

Hannah, yang terbangun, hanya menatap mereka dengan mata bingung. Tapi ia tidak menangis. Mungkin ia menikmati "tur" dadakan itu.

Jane dan Mario mengawasi dari kejauhan, tersenyum.

"Mereka baik banget sama Hannah," bisik Mario.

"Iya. Hannah beruntung punya kakak-kakak kayak mereka."

"Amora juga beruntung. Dulu dia cuma punya Mama. Sekarang punya adek sepupu, punya temen kayak Rafa, punya keluarga besar."

Jane meraih tangan Mario. "Kita semua beruntung, Mas."

---

Momen Mengharukan

Satu bulan kemudian, saat Hannah ulang bulan pertama, Amora dan Rafa memberikan "hadiah spesial" yang mereka buat sendiri.

Amora memberikan sebuah buku gambar. Setiap halamannya berisi gambar Hannah—versi Amora. Ada Hannah tidur, Hannah minum susu, Hannah digendong Mama. Semua digambar dengan krayon warna-warni.

"Ini buat Hannah," kata Amora malu-malu. "Amora gambar sendiri."

Jane membuka buku itu, hatinya meleleh. "Amora... ini bagus banget. Hannah pasti suka."

Rafa memberikan mainan kerincingan yang ia bawa sejak bayi. Mainan itu sudah lusuh, tapi jelas sangat berarti baginya.

"Ini mainan kesayangan Rafa. Buat Hannah." Rafa menyerahkannya dengan ragu. "Biar Hannah inget Rafa."

Jane hampir menangis. "Ra, ini mainan kesayangan kamu. Kamu yakin mau kasih ke Hannah?"

Rafa mengangguk mantap. "Iya. Hannah adek Rafa."

Mario menggendong Rafa, mencium pipinya. "Makasih, Ra. Hannah pasti seneng."

Hannah, yang ada di gendongan Jane, tiba-tiba mengeluarkan suara kecil—bukan tangisan, tapi semacam ocehan. Matanya menatap Amora dan Rafa bergantian.

"Dia bilang makasih," kata Jisoo tersenyum.

Amora dan Rafa tersenyum lebar. Mereka berdiri di samping Hannah, dan Leon mengabadikan momen itu dengan kameranya.

Tiga anak kecil. Satu bayi, dua balita. Mungkin mereka tidak terikat darah. Tapi ikatan yang tumbuh di antara mereka lebih kuat dari apa pun.

Mereka adalah kakak-adik. Kakak-adik dalam keluarga pilihan. Keluarga yang dibangun bukan oleh hubungan darah, tapi oleh cinta yang tulus dari orang-orang di sekitar mereka.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!